alexametrics
23.4 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Puncak Bela Diri Itu Bukan Hebat atau Sakti, tapi Tahu Diri

Ibarat padi, makin berisi makin merunduk. Begitulah seyogianya seni bela diri. Doktrin itu cukup penting. Bahkan, levelnya wajib bagi setiap pesilat. Jawa Pos Radar Jember pun merangkum filosofi seni bela diri dari sejumlah pesilat sepuh di Jember. Seperti apa?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seni bela diri cukup banyak peminatnya. Di Jember, ada puluhan perguruan pencak silat dari berbagai aliran. Sebagian besar di antaranya telah berusia cukup lama. Bahkan sudah ada sejak sebelum era Hindia Belanda.

Selain dikenal usianya yang telah lama, pencak silat juga dikenal dengan nilai-nilai luhur yang terus dirawatnya. Dari didikan mental, spiritual, sampai olah fisik. Dari sekian didikan itu, ada hal utama yang dianggap jauh lebih penting ketimbang sekadar hebat atau sakti, yakni tahu diri. “Kalau sekadar bela diri, itu nomor seratus dua puluh lima,” sebut Muhammad Anang Jainuri, salah satu Pembina Tjimande Jawa Timur asal Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu.

Kakek 59 tahun ini cukup lama menekuni pencak silat. Tepatnya sejak ia masih duduk di bangku SD, sekitar era 60-an silam. Ia mengisahkan, di era itu, pencak silat cukup tenar dan disegani mayoritas masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ada banyak sebab. Di antaranya pencak silat dianggap sebagai warisan leluhur nenek moyang asli Indonesia yang dikenal santun dalam bersikap, luwes dalam berkepribadian, dan tegas dalam menentukan setiap keputusan. Karena itu, pendekar-pendekar silat kala itu memiliki wibawa. “Seperti yang saya sampaikan di awal, didikan fisik (sakti, hebat, Red) itu nomor sekian. Yang utama tetap pada spiritual dan mental,” terang Mbah Jainuri, sapaan akrabnya.

Meski hanya mendalami satu perguruan pencak silat, ia meyakini, semua perguruan silat sebenarnya memiliki tujuan luhur. Sama persis dengan perguruan silat yang diikutinya. Hal yang membedakan hanya bentuk pelaksanaan didikannya. Ia mencontohkan, seperti halnya didikan mental saat awal belajar bela diri. Terlebih dahulu perlu meluruskan niat dan tujuannya.

Caranya, dia mengungkapkan, dengan disumpah atau baiat. Isinya berjanji akan melestarikan ajaran dan menjaga beberapa pantangan. Seperti tidak boleh durhaka kepada orang tua dan guru, malah wajib menghormati keduanya. Tidak boleh takabur atau sombong, dan guyub antarsesama perguruan silat. “Jika ini dilanggar, urusannya langsung ke Tuhan Yang Mahakuasa. Sebab, baiat itu atas nama Allah SWT,” sambungnya.

Pencak silat yang diikutinya sendiri, sebenarnya sudah ada sejak sekitar tahun 1760 silam. Sebagai salah satu seni bela diri yang cukup tua di Indonesia, Tjimande dianggapnya masih menerapkan didikan-didikan semacam itu. Bahkan, hal itu juga yang dijaga dan dirawat oleh setiap perguruan silat. Sebab, dari situlah awal mentalitas anggota silat bisa terbangun. Lebih-lebih untuk anggota baru. “Dulu kami seperti itu. Malah harus dijamas dulu (disucikan, Red), dengan serangkaian wirid dan tirakat. Kalaupun beda, hanya caranya saja,” kata kakek yang biasa menjamas anggota Tjimande baru ini.

Sementara itu, didikan spiritual, lanjut dia, adalah pengalaman spiritual yang dijalankan oleh pendekar silat. Bertawasul (berkirim doa) ke pendiri, nenek moyang, atau sesepuh. Lalu, melakukan tirakat seperti berpuasa, membatasi diri dari perkara haram, dan rutin mengamalkan wirid. “Muaranya itu mengantarkan pendekar silat benar-benar menyelami keislamannya,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seni bela diri cukup banyak peminatnya. Di Jember, ada puluhan perguruan pencak silat dari berbagai aliran. Sebagian besar di antaranya telah berusia cukup lama. Bahkan sudah ada sejak sebelum era Hindia Belanda.

Selain dikenal usianya yang telah lama, pencak silat juga dikenal dengan nilai-nilai luhur yang terus dirawatnya. Dari didikan mental, spiritual, sampai olah fisik. Dari sekian didikan itu, ada hal utama yang dianggap jauh lebih penting ketimbang sekadar hebat atau sakti, yakni tahu diri. “Kalau sekadar bela diri, itu nomor seratus dua puluh lima,” sebut Muhammad Anang Jainuri, salah satu Pembina Tjimande Jawa Timur asal Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu.

Kakek 59 tahun ini cukup lama menekuni pencak silat. Tepatnya sejak ia masih duduk di bangku SD, sekitar era 60-an silam. Ia mengisahkan, di era itu, pencak silat cukup tenar dan disegani mayoritas masyarakat.

Ada banyak sebab. Di antaranya pencak silat dianggap sebagai warisan leluhur nenek moyang asli Indonesia yang dikenal santun dalam bersikap, luwes dalam berkepribadian, dan tegas dalam menentukan setiap keputusan. Karena itu, pendekar-pendekar silat kala itu memiliki wibawa. “Seperti yang saya sampaikan di awal, didikan fisik (sakti, hebat, Red) itu nomor sekian. Yang utama tetap pada spiritual dan mental,” terang Mbah Jainuri, sapaan akrabnya.

Meski hanya mendalami satu perguruan pencak silat, ia meyakini, semua perguruan silat sebenarnya memiliki tujuan luhur. Sama persis dengan perguruan silat yang diikutinya. Hal yang membedakan hanya bentuk pelaksanaan didikannya. Ia mencontohkan, seperti halnya didikan mental saat awal belajar bela diri. Terlebih dahulu perlu meluruskan niat dan tujuannya.

Caranya, dia mengungkapkan, dengan disumpah atau baiat. Isinya berjanji akan melestarikan ajaran dan menjaga beberapa pantangan. Seperti tidak boleh durhaka kepada orang tua dan guru, malah wajib menghormati keduanya. Tidak boleh takabur atau sombong, dan guyub antarsesama perguruan silat. “Jika ini dilanggar, urusannya langsung ke Tuhan Yang Mahakuasa. Sebab, baiat itu atas nama Allah SWT,” sambungnya.

Pencak silat yang diikutinya sendiri, sebenarnya sudah ada sejak sekitar tahun 1760 silam. Sebagai salah satu seni bela diri yang cukup tua di Indonesia, Tjimande dianggapnya masih menerapkan didikan-didikan semacam itu. Bahkan, hal itu juga yang dijaga dan dirawat oleh setiap perguruan silat. Sebab, dari situlah awal mentalitas anggota silat bisa terbangun. Lebih-lebih untuk anggota baru. “Dulu kami seperti itu. Malah harus dijamas dulu (disucikan, Red), dengan serangkaian wirid dan tirakat. Kalaupun beda, hanya caranya saja,” kata kakek yang biasa menjamas anggota Tjimande baru ini.

Sementara itu, didikan spiritual, lanjut dia, adalah pengalaman spiritual yang dijalankan oleh pendekar silat. Bertawasul (berkirim doa) ke pendiri, nenek moyang, atau sesepuh. Lalu, melakukan tirakat seperti berpuasa, membatasi diri dari perkara haram, dan rutin mengamalkan wirid. “Muaranya itu mengantarkan pendekar silat benar-benar menyelami keislamannya,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seni bela diri cukup banyak peminatnya. Di Jember, ada puluhan perguruan pencak silat dari berbagai aliran. Sebagian besar di antaranya telah berusia cukup lama. Bahkan sudah ada sejak sebelum era Hindia Belanda.

Selain dikenal usianya yang telah lama, pencak silat juga dikenal dengan nilai-nilai luhur yang terus dirawatnya. Dari didikan mental, spiritual, sampai olah fisik. Dari sekian didikan itu, ada hal utama yang dianggap jauh lebih penting ketimbang sekadar hebat atau sakti, yakni tahu diri. “Kalau sekadar bela diri, itu nomor seratus dua puluh lima,” sebut Muhammad Anang Jainuri, salah satu Pembina Tjimande Jawa Timur asal Dusun Sumberan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu.

Kakek 59 tahun ini cukup lama menekuni pencak silat. Tepatnya sejak ia masih duduk di bangku SD, sekitar era 60-an silam. Ia mengisahkan, di era itu, pencak silat cukup tenar dan disegani mayoritas masyarakat.

Ada banyak sebab. Di antaranya pencak silat dianggap sebagai warisan leluhur nenek moyang asli Indonesia yang dikenal santun dalam bersikap, luwes dalam berkepribadian, dan tegas dalam menentukan setiap keputusan. Karena itu, pendekar-pendekar silat kala itu memiliki wibawa. “Seperti yang saya sampaikan di awal, didikan fisik (sakti, hebat, Red) itu nomor sekian. Yang utama tetap pada spiritual dan mental,” terang Mbah Jainuri, sapaan akrabnya.

Meski hanya mendalami satu perguruan pencak silat, ia meyakini, semua perguruan silat sebenarnya memiliki tujuan luhur. Sama persis dengan perguruan silat yang diikutinya. Hal yang membedakan hanya bentuk pelaksanaan didikannya. Ia mencontohkan, seperti halnya didikan mental saat awal belajar bela diri. Terlebih dahulu perlu meluruskan niat dan tujuannya.

Caranya, dia mengungkapkan, dengan disumpah atau baiat. Isinya berjanji akan melestarikan ajaran dan menjaga beberapa pantangan. Seperti tidak boleh durhaka kepada orang tua dan guru, malah wajib menghormati keduanya. Tidak boleh takabur atau sombong, dan guyub antarsesama perguruan silat. “Jika ini dilanggar, urusannya langsung ke Tuhan Yang Mahakuasa. Sebab, baiat itu atas nama Allah SWT,” sambungnya.

Pencak silat yang diikutinya sendiri, sebenarnya sudah ada sejak sekitar tahun 1760 silam. Sebagai salah satu seni bela diri yang cukup tua di Indonesia, Tjimande dianggapnya masih menerapkan didikan-didikan semacam itu. Bahkan, hal itu juga yang dijaga dan dirawat oleh setiap perguruan silat. Sebab, dari situlah awal mentalitas anggota silat bisa terbangun. Lebih-lebih untuk anggota baru. “Dulu kami seperti itu. Malah harus dijamas dulu (disucikan, Red), dengan serangkaian wirid dan tirakat. Kalaupun beda, hanya caranya saja,” kata kakek yang biasa menjamas anggota Tjimande baru ini.

Sementara itu, didikan spiritual, lanjut dia, adalah pengalaman spiritual yang dijalankan oleh pendekar silat. Bertawasul (berkirim doa) ke pendiri, nenek moyang, atau sesepuh. Lalu, melakukan tirakat seperti berpuasa, membatasi diri dari perkara haram, dan rutin mengamalkan wirid. “Muaranya itu mengantarkan pendekar silat benar-benar menyelami keislamannya,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/