alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Benarkah akan Ada Tsunami?

Mobile_AP_Rectangle 1

“Kami melakukan konsolidasi bersama dengan pemangku wilayah seperti Muspika, dan instruksional ke kades untuk mengambil langkah-langkah sesuai prinsip mitigasi,” kata Jamil yang juga menyebut bahwa peringatan itu juga menjadi review sehingga semua pihak tetap waspada.

BPBD Jember bersama sejumlah pihak lain juga memetakan jalur dan lokasi evakuasi. Hal ini juga dikomunikasikan kepada sejumlah relawan yang tersebar di tujuh kecamatan yang ada di pesisir pantai selatan. “BMKG Jember juga terus melakukan analisis, mengupgrade para relawan, serta melanjutkan pembentukan destana di desa-desa sebagai langkah mitigasi,”tegasnya.

Sementara itu, Plt Sekretaris BPBD JEmber Heru Widagdo mengungkapkan, hasil kajian dan analisis potensi gempa dan tsunami sejatinya ada setiap tahun. “Tahun 2020 juga ada hasil kajian mengenai gempa, tahun ini pun kajian itu ada. Ini harus dimaknai sebagai langkah mitigasi untuk meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Heru menegaskan, datangnya tsunami maupun musibah lain tidak ada yang tau. Namun, diprediksi yang disampaikan berdasar kajian ilmiah harus menjadi sarana meningkatkan kesadaran bahwa bencana bisa datang kapan saja. “BPBD Jember juga melakukan sosialisasi dengan para relawan. Bahwa kewaspadaan harus tetap ada pada diri siapa saja keselamatan semua,” paparnya.

Dengan demikian, hasil kajian BMKG diharapkan agar tidak diartikan yang macam-macam atau menggambarkan sesuatu yang membuat orang menjadi panic. “Maknai peringatan tsunami itu sebagai upaya mitigasi demi meningkatkan kewaspadaan. Datangnya bencana hanya bisa diprediksi, tanpa diketahui kapan akan terjadi. Semoga tidak ada tsunami,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Jumai

- Advertisement -

“Kami melakukan konsolidasi bersama dengan pemangku wilayah seperti Muspika, dan instruksional ke kades untuk mengambil langkah-langkah sesuai prinsip mitigasi,” kata Jamil yang juga menyebut bahwa peringatan itu juga menjadi review sehingga semua pihak tetap waspada.

BPBD Jember bersama sejumlah pihak lain juga memetakan jalur dan lokasi evakuasi. Hal ini juga dikomunikasikan kepada sejumlah relawan yang tersebar di tujuh kecamatan yang ada di pesisir pantai selatan. “BMKG Jember juga terus melakukan analisis, mengupgrade para relawan, serta melanjutkan pembentukan destana di desa-desa sebagai langkah mitigasi,”tegasnya.

Sementara itu, Plt Sekretaris BPBD JEmber Heru Widagdo mengungkapkan, hasil kajian dan analisis potensi gempa dan tsunami sejatinya ada setiap tahun. “Tahun 2020 juga ada hasil kajian mengenai gempa, tahun ini pun kajian itu ada. Ini harus dimaknai sebagai langkah mitigasi untuk meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Heru menegaskan, datangnya tsunami maupun musibah lain tidak ada yang tau. Namun, diprediksi yang disampaikan berdasar kajian ilmiah harus menjadi sarana meningkatkan kesadaran bahwa bencana bisa datang kapan saja. “BPBD Jember juga melakukan sosialisasi dengan para relawan. Bahwa kewaspadaan harus tetap ada pada diri siapa saja keselamatan semua,” paparnya.

Dengan demikian, hasil kajian BMKG diharapkan agar tidak diartikan yang macam-macam atau menggambarkan sesuatu yang membuat orang menjadi panic. “Maknai peringatan tsunami itu sebagai upaya mitigasi demi meningkatkan kewaspadaan. Datangnya bencana hanya bisa diprediksi, tanpa diketahui kapan akan terjadi. Semoga tidak ada tsunami,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Jumai

“Kami melakukan konsolidasi bersama dengan pemangku wilayah seperti Muspika, dan instruksional ke kades untuk mengambil langkah-langkah sesuai prinsip mitigasi,” kata Jamil yang juga menyebut bahwa peringatan itu juga menjadi review sehingga semua pihak tetap waspada.

BPBD Jember bersama sejumlah pihak lain juga memetakan jalur dan lokasi evakuasi. Hal ini juga dikomunikasikan kepada sejumlah relawan yang tersebar di tujuh kecamatan yang ada di pesisir pantai selatan. “BMKG Jember juga terus melakukan analisis, mengupgrade para relawan, serta melanjutkan pembentukan destana di desa-desa sebagai langkah mitigasi,”tegasnya.

Sementara itu, Plt Sekretaris BPBD JEmber Heru Widagdo mengungkapkan, hasil kajian dan analisis potensi gempa dan tsunami sejatinya ada setiap tahun. “Tahun 2020 juga ada hasil kajian mengenai gempa, tahun ini pun kajian itu ada. Ini harus dimaknai sebagai langkah mitigasi untuk meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Heru menegaskan, datangnya tsunami maupun musibah lain tidak ada yang tau. Namun, diprediksi yang disampaikan berdasar kajian ilmiah harus menjadi sarana meningkatkan kesadaran bahwa bencana bisa datang kapan saja. “BPBD Jember juga melakukan sosialisasi dengan para relawan. Bahwa kewaspadaan harus tetap ada pada diri siapa saja keselamatan semua,” paparnya.

Dengan demikian, hasil kajian BMKG diharapkan agar tidak diartikan yang macam-macam atau menggambarkan sesuatu yang membuat orang menjadi panic. “Maknai peringatan tsunami itu sebagai upaya mitigasi demi meningkatkan kewaspadaan. Datangnya bencana hanya bisa diprediksi, tanpa diketahui kapan akan terjadi. Semoga tidak ada tsunami,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Jumai

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/