alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Benarkah akan Ada Tsunami?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya video peringatan potensi tsunami di selatan laut Jawa memantik banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Apalagi, di dalam video itu menyebut bahwa potensi tsunami terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur. Hal itu benar atau tidak?.

Kepala Data dan Informasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Kelas I Surabaya Jawa Timur, Teguh Tri Santoso membenarkan beredarnya video tersebut. Bukan video hoax atau video untuk membuat panik masyarakat. Video tersebut merupakan hasil kajian tim ahli BMKG yang disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. “Itu hasil kajian tim ahli BMKG,” ulasnya.

Teguh selanjutnya mengirimkan sebuah video yang berasal dari sebuah webinar tentang Kajian Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami yang digelar Jumat (28/5) pekan lalu. Dalam video itu dijelaskan bahwa terjadinya gempa mengalami peningkatan yang signifikan. Di mana, dalam lima tahun terakhir, biasanya terjadi gempa antara 300 sampai 400 kali dalam setahun. Tetapi, sejak Januari hingga Mei 2021, gempa yang terjadi mencapai lebih dari 600 kali. (baca grafis)

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu lah yang selanjutnya membuat BMKG melakukan simulasi dengan skenario terburuk. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan, skenario terburuk yang dibuat BMKG yaitu simulasi terjadinya gempa magnitude (M) 8,7. Apabila kekuatan gempa mencamap M 8,7 dalam simulasi terburuk, maka potensi tsunami akan terjadi.

Skenario terjadinya kemungkinan terburuk itu pun dilanjutkan dengan kajian terhadap daerah-daerah dengan potensi bencana tsunami. Paling tinggi dari hasil kajian BMKG yakni terjadi di laut lepas Kabupaten Trenggalek dengan tinggi tsunami mencapai antara 26 sampai 29 meter. (selengkapnya baca grafis).

Tak hanya disitu, kajian tersebut juga menghitung kemungkinan-kemungkinan terjadinya tsunami yang terjadi di Jawa Timur. Sebab, dari hasil analisis BMKG, seluruh pesisir pantai di Jawa Timur berpotensi tsunami. Dengan hasil kajian itu, BMKG mengharapkan agar seluruh kabupaten di Jawa Timur utamanya yang berada di kawasan pantai selatan agar melakukan langkah-langkah antisipatif, jika skenario terburuk itu terjadi. “Sehingga yang kami cek itu kesiapan aparat setempat, dan juga pemerintah daerah setempat, serta kesiapan sarana prasarana untuk evakuasi,” kata Dwikorita Karnawati melalui rekaman videonya yang dikirim Teguh, kemarin (5/6).

Menyikapi beredarnya video tersebut, Plt Kepala BPBD Jember M Jamil menyampaikan, video yang beredar sejatinya merupakan sebuah peringatan yang didasarkan pada kajian ilmiah BMKG. Untuk itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi penting untuk terus dilakukan siapa saja. Langkah-langkah mitigasi pun dilakukan agar semua pihak waspada karena datangnya bencana tidak ada yang tahu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya video peringatan potensi tsunami di selatan laut Jawa memantik banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Apalagi, di dalam video itu menyebut bahwa potensi tsunami terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur. Hal itu benar atau tidak?.

Kepala Data dan Informasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Kelas I Surabaya Jawa Timur, Teguh Tri Santoso membenarkan beredarnya video tersebut. Bukan video hoax atau video untuk membuat panik masyarakat. Video tersebut merupakan hasil kajian tim ahli BMKG yang disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. “Itu hasil kajian tim ahli BMKG,” ulasnya.

Teguh selanjutnya mengirimkan sebuah video yang berasal dari sebuah webinar tentang Kajian Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami yang digelar Jumat (28/5) pekan lalu. Dalam video itu dijelaskan bahwa terjadinya gempa mengalami peningkatan yang signifikan. Di mana, dalam lima tahun terakhir, biasanya terjadi gempa antara 300 sampai 400 kali dalam setahun. Tetapi, sejak Januari hingga Mei 2021, gempa yang terjadi mencapai lebih dari 600 kali. (baca grafis)

Hal itu lah yang selanjutnya membuat BMKG melakukan simulasi dengan skenario terburuk. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan, skenario terburuk yang dibuat BMKG yaitu simulasi terjadinya gempa magnitude (M) 8,7. Apabila kekuatan gempa mencamap M 8,7 dalam simulasi terburuk, maka potensi tsunami akan terjadi.

Skenario terjadinya kemungkinan terburuk itu pun dilanjutkan dengan kajian terhadap daerah-daerah dengan potensi bencana tsunami. Paling tinggi dari hasil kajian BMKG yakni terjadi di laut lepas Kabupaten Trenggalek dengan tinggi tsunami mencapai antara 26 sampai 29 meter. (selengkapnya baca grafis).

Tak hanya disitu, kajian tersebut juga menghitung kemungkinan-kemungkinan terjadinya tsunami yang terjadi di Jawa Timur. Sebab, dari hasil analisis BMKG, seluruh pesisir pantai di Jawa Timur berpotensi tsunami. Dengan hasil kajian itu, BMKG mengharapkan agar seluruh kabupaten di Jawa Timur utamanya yang berada di kawasan pantai selatan agar melakukan langkah-langkah antisipatif, jika skenario terburuk itu terjadi. “Sehingga yang kami cek itu kesiapan aparat setempat, dan juga pemerintah daerah setempat, serta kesiapan sarana prasarana untuk evakuasi,” kata Dwikorita Karnawati melalui rekaman videonya yang dikirim Teguh, kemarin (5/6).

Menyikapi beredarnya video tersebut, Plt Kepala BPBD Jember M Jamil menyampaikan, video yang beredar sejatinya merupakan sebuah peringatan yang didasarkan pada kajian ilmiah BMKG. Untuk itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi penting untuk terus dilakukan siapa saja. Langkah-langkah mitigasi pun dilakukan agar semua pihak waspada karena datangnya bencana tidak ada yang tahu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beredarnya video peringatan potensi tsunami di selatan laut Jawa memantik banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Apalagi, di dalam video itu menyebut bahwa potensi tsunami terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur. Hal itu benar atau tidak?.

Kepala Data dan Informasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Kelas I Surabaya Jawa Timur, Teguh Tri Santoso membenarkan beredarnya video tersebut. Bukan video hoax atau video untuk membuat panik masyarakat. Video tersebut merupakan hasil kajian tim ahli BMKG yang disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. “Itu hasil kajian tim ahli BMKG,” ulasnya.

Teguh selanjutnya mengirimkan sebuah video yang berasal dari sebuah webinar tentang Kajian Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami yang digelar Jumat (28/5) pekan lalu. Dalam video itu dijelaskan bahwa terjadinya gempa mengalami peningkatan yang signifikan. Di mana, dalam lima tahun terakhir, biasanya terjadi gempa antara 300 sampai 400 kali dalam setahun. Tetapi, sejak Januari hingga Mei 2021, gempa yang terjadi mencapai lebih dari 600 kali. (baca grafis)

Hal itu lah yang selanjutnya membuat BMKG melakukan simulasi dengan skenario terburuk. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan, skenario terburuk yang dibuat BMKG yaitu simulasi terjadinya gempa magnitude (M) 8,7. Apabila kekuatan gempa mencamap M 8,7 dalam simulasi terburuk, maka potensi tsunami akan terjadi.

Skenario terjadinya kemungkinan terburuk itu pun dilanjutkan dengan kajian terhadap daerah-daerah dengan potensi bencana tsunami. Paling tinggi dari hasil kajian BMKG yakni terjadi di laut lepas Kabupaten Trenggalek dengan tinggi tsunami mencapai antara 26 sampai 29 meter. (selengkapnya baca grafis).

Tak hanya disitu, kajian tersebut juga menghitung kemungkinan-kemungkinan terjadinya tsunami yang terjadi di Jawa Timur. Sebab, dari hasil analisis BMKG, seluruh pesisir pantai di Jawa Timur berpotensi tsunami. Dengan hasil kajian itu, BMKG mengharapkan agar seluruh kabupaten di Jawa Timur utamanya yang berada di kawasan pantai selatan agar melakukan langkah-langkah antisipatif, jika skenario terburuk itu terjadi. “Sehingga yang kami cek itu kesiapan aparat setempat, dan juga pemerintah daerah setempat, serta kesiapan sarana prasarana untuk evakuasi,” kata Dwikorita Karnawati melalui rekaman videonya yang dikirim Teguh, kemarin (5/6).

Menyikapi beredarnya video tersebut, Plt Kepala BPBD Jember M Jamil menyampaikan, video yang beredar sejatinya merupakan sebuah peringatan yang didasarkan pada kajian ilmiah BMKG. Untuk itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi penting untuk terus dilakukan siapa saja. Langkah-langkah mitigasi pun dilakukan agar semua pihak waspada karena datangnya bencana tidak ada yang tahu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/