alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Cek-cok Soal Warisan Rumah, Pemuda Asal Sukorambi Bacok Dua Familinya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER.RADARJEMBER.ID – Hanya gara-gara persoalan warisan berupa rumah, Dian Tulus, 26, warga Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi, hampir membuat dua nyawa familinya sendiri melayang karena sabetan celurit.

Korbannya adalah Sniwi, 58, kakek asal Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi yang menjadi korban kebrutalan pelaku yang masih cucu dari kerabat korban. Bahkan anak korban, Syamsudin, 25, juga ikut menjadi sasaran amukan pelaku saat berusaha menghalang-halangi sabetan clurit yang membabi buta ke arah bapaknya.

Menurut polisi, kasus itu terjadi Sabtu (5/2) petang, sekitar pukul 6.00 sore. “Saat itu pelaku mendatangi rumah korban dan menyuruh korban agar mengosongkan rumahnya. Karena rumah tersebut diklaim sebagai warisan pelaku,” kata Iptu Brisan Imman, Kasi Humas Polres Jember, Minggu (6/2).

Mobile_AP_Rectangle 2

Polisi menjelaskan, peristiwa ini bermula saat pelaku mendatangi rumah korban dan meminta agar segera dikosongkan. Karena rumah yang dimaksudkan itu, akan ditempati oleh pelaku yang mengaku sebagai ahli waris.

Setelah memberikan peringatan itu, pelaku kemudian pergi meninggalkan korban. Namun baru berjalan beberapa meter, pelaku kembali menghampiri korban karena tersulut kata-kata yang dilontarkan korban, menggunakan Bahasa Madura. “Burung se nata’ah ?” (Tidak jadi yang mau bacok?)”. Demikian kalimat yang memantik emosi pelaku.

Akhirnya, pelaku yang kadung emosi, seketika naik pitam dan mengambil celurit yang disimpannya di jok sepeda motor. Tanpa berpikir panjang, pelaku langsung mengayunkan celurit dan menyabet sejumlah bagian tubuh korban.

- Advertisement -

JEMBER.RADARJEMBER.ID – Hanya gara-gara persoalan warisan berupa rumah, Dian Tulus, 26, warga Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi, hampir membuat dua nyawa familinya sendiri melayang karena sabetan celurit.

Korbannya adalah Sniwi, 58, kakek asal Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi yang menjadi korban kebrutalan pelaku yang masih cucu dari kerabat korban. Bahkan anak korban, Syamsudin, 25, juga ikut menjadi sasaran amukan pelaku saat berusaha menghalang-halangi sabetan clurit yang membabi buta ke arah bapaknya.

Menurut polisi, kasus itu terjadi Sabtu (5/2) petang, sekitar pukul 6.00 sore. “Saat itu pelaku mendatangi rumah korban dan menyuruh korban agar mengosongkan rumahnya. Karena rumah tersebut diklaim sebagai warisan pelaku,” kata Iptu Brisan Imman, Kasi Humas Polres Jember, Minggu (6/2).

Polisi menjelaskan, peristiwa ini bermula saat pelaku mendatangi rumah korban dan meminta agar segera dikosongkan. Karena rumah yang dimaksudkan itu, akan ditempati oleh pelaku yang mengaku sebagai ahli waris.

Setelah memberikan peringatan itu, pelaku kemudian pergi meninggalkan korban. Namun baru berjalan beberapa meter, pelaku kembali menghampiri korban karena tersulut kata-kata yang dilontarkan korban, menggunakan Bahasa Madura. “Burung se nata’ah ?” (Tidak jadi yang mau bacok?)”. Demikian kalimat yang memantik emosi pelaku.

Akhirnya, pelaku yang kadung emosi, seketika naik pitam dan mengambil celurit yang disimpannya di jok sepeda motor. Tanpa berpikir panjang, pelaku langsung mengayunkan celurit dan menyabet sejumlah bagian tubuh korban.

JEMBER.RADARJEMBER.ID – Hanya gara-gara persoalan warisan berupa rumah, Dian Tulus, 26, warga Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi, hampir membuat dua nyawa familinya sendiri melayang karena sabetan celurit.

Korbannya adalah Sniwi, 58, kakek asal Dusun Krajan Desa/Kecamatan Sukorambi yang menjadi korban kebrutalan pelaku yang masih cucu dari kerabat korban. Bahkan anak korban, Syamsudin, 25, juga ikut menjadi sasaran amukan pelaku saat berusaha menghalang-halangi sabetan clurit yang membabi buta ke arah bapaknya.

Menurut polisi, kasus itu terjadi Sabtu (5/2) petang, sekitar pukul 6.00 sore. “Saat itu pelaku mendatangi rumah korban dan menyuruh korban agar mengosongkan rumahnya. Karena rumah tersebut diklaim sebagai warisan pelaku,” kata Iptu Brisan Imman, Kasi Humas Polres Jember, Minggu (6/2).

Polisi menjelaskan, peristiwa ini bermula saat pelaku mendatangi rumah korban dan meminta agar segera dikosongkan. Karena rumah yang dimaksudkan itu, akan ditempati oleh pelaku yang mengaku sebagai ahli waris.

Setelah memberikan peringatan itu, pelaku kemudian pergi meninggalkan korban. Namun baru berjalan beberapa meter, pelaku kembali menghampiri korban karena tersulut kata-kata yang dilontarkan korban, menggunakan Bahasa Madura. “Burung se nata’ah ?” (Tidak jadi yang mau bacok?)”. Demikian kalimat yang memantik emosi pelaku.

Akhirnya, pelaku yang kadung emosi, seketika naik pitam dan mengambil celurit yang disimpannya di jok sepeda motor. Tanpa berpikir panjang, pelaku langsung mengayunkan celurit dan menyabet sejumlah bagian tubuh korban.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/