alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Ditolak Warga, Sekeluarga Tinggal di Balai Desa

Sebuah keluarga di Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, harus tinggal sementara di balai desa. Mereka ditolak warga karena sang kepala keluarga, Jumari, dinilai meresahkan. Dia dianggap sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus keluarga Jumari yang terpaksa tinggal di Kantor Desa Petung ini bukan tanpa alasan. Jumari dinilai oleh warga di sekitarnya kurang waras. Dia juga dianggap beberapa kali meresahkan warga karena melukai warga setempat. “Jumari ini ditolak warga di lingkungan tempat tinggalnya, karena dinilai kurang waras. Sebab dulu, dia itu pernah meresahkan,” kata Ridwan, Kepala Desa Petung.

Puncak keresahan warga, menurut Ridwan, terjadi pada 22 Desember 2020. “Informasi yang saya terima, Jumari membacok warga tanpa alasan jelas. Diduga mengalami gangguan kejiwaan,” ucap Ridwan, yang juga menyebut kasusnya juga telah dilaporkan kepada polisi.

Menurutnya, Jumari diduga mengalami gangguan kejiwaan dan sempat menjalani perawatan di Lingkungan Pondok Sosial Dinas Sosial (Liposos Dinsos) Jember di Kaliwates. Namun, warga kembali resah sepulang Jumari.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dua hari lalu saya diminta warga untuk musyawarah. Hasilnya, seluruh warga menolak kehadiran Jumari beserta keluarganya di Desa Petung. Sehingga dengan terpaksa, saya izinkan tinggal di balai desa,” ucap Ridwan sambil menunggu solusi terbaik.

Ridwan menyadari, keresahan warga bukan saja terjadi pada saat terjadi insiden pembacokan. Tapi, Jumari juga kerap melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan meresahkan. “Dulu Jumari sering berbuat tidak patut. Maaf saja, Jumari juga sering membuang kotorannya sembarangan dan melempar ke tembok rumah warga. Ini tidak disukai warga,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus keluarga Jumari yang terpaksa tinggal di Kantor Desa Petung ini bukan tanpa alasan. Jumari dinilai oleh warga di sekitarnya kurang waras. Dia juga dianggap beberapa kali meresahkan warga karena melukai warga setempat. “Jumari ini ditolak warga di lingkungan tempat tinggalnya, karena dinilai kurang waras. Sebab dulu, dia itu pernah meresahkan,” kata Ridwan, Kepala Desa Petung.

Puncak keresahan warga, menurut Ridwan, terjadi pada 22 Desember 2020. “Informasi yang saya terima, Jumari membacok warga tanpa alasan jelas. Diduga mengalami gangguan kejiwaan,” ucap Ridwan, yang juga menyebut kasusnya juga telah dilaporkan kepada polisi.

Menurutnya, Jumari diduga mengalami gangguan kejiwaan dan sempat menjalani perawatan di Lingkungan Pondok Sosial Dinas Sosial (Liposos Dinsos) Jember di Kaliwates. Namun, warga kembali resah sepulang Jumari.

“Dua hari lalu saya diminta warga untuk musyawarah. Hasilnya, seluruh warga menolak kehadiran Jumari beserta keluarganya di Desa Petung. Sehingga dengan terpaksa, saya izinkan tinggal di balai desa,” ucap Ridwan sambil menunggu solusi terbaik.

Ridwan menyadari, keresahan warga bukan saja terjadi pada saat terjadi insiden pembacokan. Tapi, Jumari juga kerap melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan meresahkan. “Dulu Jumari sering berbuat tidak patut. Maaf saja, Jumari juga sering membuang kotorannya sembarangan dan melempar ke tembok rumah warga. Ini tidak disukai warga,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus keluarga Jumari yang terpaksa tinggal di Kantor Desa Petung ini bukan tanpa alasan. Jumari dinilai oleh warga di sekitarnya kurang waras. Dia juga dianggap beberapa kali meresahkan warga karena melukai warga setempat. “Jumari ini ditolak warga di lingkungan tempat tinggalnya, karena dinilai kurang waras. Sebab dulu, dia itu pernah meresahkan,” kata Ridwan, Kepala Desa Petung.

Puncak keresahan warga, menurut Ridwan, terjadi pada 22 Desember 2020. “Informasi yang saya terima, Jumari membacok warga tanpa alasan jelas. Diduga mengalami gangguan kejiwaan,” ucap Ridwan, yang juga menyebut kasusnya juga telah dilaporkan kepada polisi.

Menurutnya, Jumari diduga mengalami gangguan kejiwaan dan sempat menjalani perawatan di Lingkungan Pondok Sosial Dinas Sosial (Liposos Dinsos) Jember di Kaliwates. Namun, warga kembali resah sepulang Jumari.

“Dua hari lalu saya diminta warga untuk musyawarah. Hasilnya, seluruh warga menolak kehadiran Jumari beserta keluarganya di Desa Petung. Sehingga dengan terpaksa, saya izinkan tinggal di balai desa,” ucap Ridwan sambil menunggu solusi terbaik.

Ridwan menyadari, keresahan warga bukan saja terjadi pada saat terjadi insiden pembacokan. Tapi, Jumari juga kerap melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan meresahkan. “Dulu Jumari sering berbuat tidak patut. Maaf saja, Jumari juga sering membuang kotorannya sembarangan dan melempar ke tembok rumah warga. Ini tidak disukai warga,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/