alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Dosen Sosiologi Universitas Jember (Unej), Baiq Lily Handayani menengarai, konflik di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, dapat terjadi karena dipicu perebutan status sosial, ekonomi, atau pengaruh. Tiga hal tersebut yang kerap kali menjadi pemicu konflik di beberapa daerah.

Konflik yang berujung pada pembakaran di Desa Mulyorejo tersebut juga menyita perhatian Baiq dan beberapa alumnus Sosiologi Unej yang tinggal di daerah Silo. Dari tinjauannya, Desa Mulyorejo, yaitu di Dusun Tetelan Darungan, merupakan suatu kawasan yang tidak hanya dihuni oleh warga asli Jember. Melainkan juga ditempati oleh para pendatang seperti dari Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Banyuwangi. “Jadi, saya menganalisis, permasalahan di situ (Desa Mulyorejo, Red) adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh,” ucapnya.

BACA JUGA: Silo Jember Makin Mencekam, Kapolres Pulang Dua Rumah Kembali Dibakar

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mendapatkan kabar bahwa warga pendatang yang semakin sejahtera daripada warga asli. Terlebih, hasil kopi luar biasa, ditambah lagi komoditas kopi juga naik daun. Sehingga secara internal warga setempat itu tidak solid. “Terlebih kan mereka pendatang dan memiliki kumpulannya sendiri. Seperti yang datang dari satu daerah akan berkumpul dengan daerah yang sama. Sehingga, memicu sistem berebut pengaruh karena persaingan ekonomi,” ungkapnya.

“Jadi, saya menganalisis, permasalahan di Desa Mulyorejo adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh.”

Dosen Sosiologi Unej, Baiq Lily Handayani.

Baiq menambahkan bahwa persaingan antarpihak maupun kelompok menyebabkan terciptanya ketidaksolidan. Serta tidak terbentuk bonding atau disebut tidak ada ikatan emosional antarwarga setempat. Apalagi dengan kondisi banyaknya para pendatang, semakin rumit untuk melekatkan emosional seluruh warga desa.

“Dapat terjadi karena mungkin ada yang merasa tidak dihargai status sosialnya. Ada yang merasa tidak dihargai secara ekonomi karena mereka merasa ingin dihormati dan sebagainya. Sehingga menyebabkan di internal warga itu terpecah,” paparnya.

BACA JUGA: Problem Warga Silo Jember Tidak Tunggal, Mereka Butuh Jaminan Keamanan

Menurut perempuan asal Mataram itu, secara umum karakteristik masyarakat di desa terdapat orang yang prinsipnya ingin dihormati, ingin dijadikan tokoh, dan ingin dituakan. Melihat juga kondisi masyarakat di Desa Mulyorejo tersebut yang masih baru menata diri menjadi sebuah wilayah, sehingga memerlukan penokohan, ketua, atau pemimpin.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Dosen Sosiologi Universitas Jember (Unej), Baiq Lily Handayani menengarai, konflik di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, dapat terjadi karena dipicu perebutan status sosial, ekonomi, atau pengaruh. Tiga hal tersebut yang kerap kali menjadi pemicu konflik di beberapa daerah.

Konflik yang berujung pada pembakaran di Desa Mulyorejo tersebut juga menyita perhatian Baiq dan beberapa alumnus Sosiologi Unej yang tinggal di daerah Silo. Dari tinjauannya, Desa Mulyorejo, yaitu di Dusun Tetelan Darungan, merupakan suatu kawasan yang tidak hanya dihuni oleh warga asli Jember. Melainkan juga ditempati oleh para pendatang seperti dari Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Banyuwangi. “Jadi, saya menganalisis, permasalahan di situ (Desa Mulyorejo, Red) adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh,” ucapnya.

BACA JUGA: Silo Jember Makin Mencekam, Kapolres Pulang Dua Rumah Kembali Dibakar

Dia mendapatkan kabar bahwa warga pendatang yang semakin sejahtera daripada warga asli. Terlebih, hasil kopi luar biasa, ditambah lagi komoditas kopi juga naik daun. Sehingga secara internal warga setempat itu tidak solid. “Terlebih kan mereka pendatang dan memiliki kumpulannya sendiri. Seperti yang datang dari satu daerah akan berkumpul dengan daerah yang sama. Sehingga, memicu sistem berebut pengaruh karena persaingan ekonomi,” ungkapnya.

“Jadi, saya menganalisis, permasalahan di Desa Mulyorejo adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh.”

Dosen Sosiologi Unej, Baiq Lily Handayani.

Baiq menambahkan bahwa persaingan antarpihak maupun kelompok menyebabkan terciptanya ketidaksolidan. Serta tidak terbentuk bonding atau disebut tidak ada ikatan emosional antarwarga setempat. Apalagi dengan kondisi banyaknya para pendatang, semakin rumit untuk melekatkan emosional seluruh warga desa.

“Dapat terjadi karena mungkin ada yang merasa tidak dihargai status sosialnya. Ada yang merasa tidak dihargai secara ekonomi karena mereka merasa ingin dihormati dan sebagainya. Sehingga menyebabkan di internal warga itu terpecah,” paparnya.

BACA JUGA: Problem Warga Silo Jember Tidak Tunggal, Mereka Butuh Jaminan Keamanan

Menurut perempuan asal Mataram itu, secara umum karakteristik masyarakat di desa terdapat orang yang prinsipnya ingin dihormati, ingin dijadikan tokoh, dan ingin dituakan. Melihat juga kondisi masyarakat di Desa Mulyorejo tersebut yang masih baru menata diri menjadi sebuah wilayah, sehingga memerlukan penokohan, ketua, atau pemimpin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Dosen Sosiologi Universitas Jember (Unej), Baiq Lily Handayani menengarai, konflik di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, dapat terjadi karena dipicu perebutan status sosial, ekonomi, atau pengaruh. Tiga hal tersebut yang kerap kali menjadi pemicu konflik di beberapa daerah.

Konflik yang berujung pada pembakaran di Desa Mulyorejo tersebut juga menyita perhatian Baiq dan beberapa alumnus Sosiologi Unej yang tinggal di daerah Silo. Dari tinjauannya, Desa Mulyorejo, yaitu di Dusun Tetelan Darungan, merupakan suatu kawasan yang tidak hanya dihuni oleh warga asli Jember. Melainkan juga ditempati oleh para pendatang seperti dari Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Banyuwangi. “Jadi, saya menganalisis, permasalahan di situ (Desa Mulyorejo, Red) adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh,” ucapnya.

BACA JUGA: Silo Jember Makin Mencekam, Kapolres Pulang Dua Rumah Kembali Dibakar

Dia mendapatkan kabar bahwa warga pendatang yang semakin sejahtera daripada warga asli. Terlebih, hasil kopi luar biasa, ditambah lagi komoditas kopi juga naik daun. Sehingga secara internal warga setempat itu tidak solid. “Terlebih kan mereka pendatang dan memiliki kumpulannya sendiri. Seperti yang datang dari satu daerah akan berkumpul dengan daerah yang sama. Sehingga, memicu sistem berebut pengaruh karena persaingan ekonomi,” ungkapnya.

“Jadi, saya menganalisis, permasalahan di Desa Mulyorejo adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh.”

Dosen Sosiologi Unej, Baiq Lily Handayani.

Baiq menambahkan bahwa persaingan antarpihak maupun kelompok menyebabkan terciptanya ketidaksolidan. Serta tidak terbentuk bonding atau disebut tidak ada ikatan emosional antarwarga setempat. Apalagi dengan kondisi banyaknya para pendatang, semakin rumit untuk melekatkan emosional seluruh warga desa.

“Dapat terjadi karena mungkin ada yang merasa tidak dihargai status sosialnya. Ada yang merasa tidak dihargai secara ekonomi karena mereka merasa ingin dihormati dan sebagainya. Sehingga menyebabkan di internal warga itu terpecah,” paparnya.

BACA JUGA: Problem Warga Silo Jember Tidak Tunggal, Mereka Butuh Jaminan Keamanan

Menurut perempuan asal Mataram itu, secara umum karakteristik masyarakat di desa terdapat orang yang prinsipnya ingin dihormati, ingin dijadikan tokoh, dan ingin dituakan. Melihat juga kondisi masyarakat di Desa Mulyorejo tersebut yang masih baru menata diri menjadi sebuah wilayah, sehingga memerlukan penokohan, ketua, atau pemimpin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/