alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Kedaruratan Gedung Perkantoran Masih Rendah

UPS di Lantai III Bank Mandiri Terbakar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa terbakarnya perangkat uninterruptible power supply (UPS) di Kantor Cabang Bank Mandiri Alun-Alun Jember, Senin (3/5) malam, menggugah kesadaran publik tentang pentingnya manajemen rencana keselamatan gedung pada situasi darurat. Sebab sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi, akhir Januari lalu. Api sempat membakar ruang operasi Covid-19 di RSD Soebandi. Berangkat dari dua kejadian ini, Pemadam Kebakaran (Damkar) Jember menyebut, akses keselamatan kebakaran di gedung dan perkantoran masih rendah.

Dwi Atmoko, Komandan Regu B Damkar Kota Jember, yang terjun dalam memadamkan api di Kantor Cabang Bank Mandiri, mengatakan, kebakaran itu terjadi Senin malam sekitar pukul 20.00. “Yang kebakaran itu di lantai III ruang server, yaitu berupa UPS komputer yang terbakar,” jelasnya.

Walau tidak ada korban jiwa, tapi menurut Dwi Atmoko, saat masuk ruangan dipenuhi asap. “Mau jalan saja tertutup asap tebal,” terangnya. Beruntung, antara Bank Mandiri dengan posko damkar lokasinya tidak begitu jauh. Sehingga, bisa teratasi dengan cepat. Bila tidak ditangani dengan cepat, bisa berpotensi terjadi kebakaran hebat. “Kalau tidak secepatnya, itu bisa merembet. Karena sebelahnya bukan tembok, tapi pakai pembatas papan,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, walau jumlah gedung dan perkantoran di Jember jarang terjadi kasus kebakaran, namun tidak dimungkiri punya potensi besar. Apalagi, menurutnya, sistem proteksi gedung dan perkantoran di Jember terkait kebakaran itu masih rendah.

Menurutnya, setidaknya kantor tidak hanya ada alat pemadam api ringan (APAR) saja. Lebih dari itu, juga perlu ada hydrant, peranti pendeteksi asap, alarm, hingga sprinkler, yaitu sebuah alat pemadam kebakaran otomatis. Tak cukup sekadar peralatan, tapi setidaknya juga ada pelatihan bagi satpam ataupun karyawan terkait pemakaian alat pemadam dan keselamatan saat terjadi kebakaran. “Jadi, kalau ada kebakaran langsung ditangani dengan cepat. Karena untuk mengatasi kebakaran paling cepat adalah orang yang paling dekat. Setidaknya mereka, satpam dan karyawan itu, paham cara memakai APAR,” tuturnya.

Bahkan, Dwi Atmoko menuturkan, sedikit sekali ada perkantoran yang konsultasi tentang keselamatan kebakaran ke damkar. “Kalau konsultasi bagaimana sistem pengamanan kebakaran sebuah perkantoran kami siap membantu,” ujarnya.

Dia mengatakan, proteksi keamanan perkantoran dan gedung di Jember terhadap kebakaran masih rendah. Dwi Atmoko juga tidak paham, apakah ada atau tidak manajemen pencegahan dini ketika awal pembangunan gedung. Dia sendiri sering mengimbau bila kantor butuh pelatihan, pihaknya siap membantu. Namun, hanya segelintir yang merespons tentang pelatihan tanggap kebakaran di perkantoran ataupun gedung. Hanya satu mall di daerah Jalan Gajah Mada yang rutin pelatihan. Setidaknya setahun dua kali. “Saat pelatihan, petugas damkar juga pasti mengecek kondisi tentang sistem keamanan kebakaran yang sudah ada di kantor atau gedung tersebut,” pungkasnya.

 

Klaim Keamanan Mencukupi

Sementara itu, pihak Bank Mandiri menyangkal adanya insiden kebakaran tersebut. Jawa Pos Radar Jember mencoba untuk mengonfirmasinya, kemarin (4/5). Rohmat, Subbagian Umum Bank Mandiri melalui satpamnya mengungkapkan, peristiwa yang terjadi itu bukanlah kebakaran. Melainkan hanya korsleting UPS. Sebab, tidak ada api yang menyala, hanya asap pekat karena dampak korsleting tersebut.

Menurutnya, korsleting terjadi pada hubungan arus pendek UPS. Sehingga menimbulkan asap pekat. Kejadian itu berlangsung di ruang server kredit lantai 3. Imbasnya, sesaat setelah kejadian tersebut mesin ATM mati beberapa saat. “Bukan kebakaran. Tapi korsleting pada UPS. Terjadi api kecil. Reda. Lalu, UPS-nya menimbulkan asap,” kata Rohmat.

Dia mengaku, insiden ini tidak berpengaruh pada operasional secara mendasar. Sebab, menurut Rohmat, hakikatnya UPS merupakan bagian daya yang dicadangkan ketika terjadi pemadaman. UPS juga berfungsi sebagai bantuan operasional pelayanan. Alternatifnya, pihaknya melakukan sambungan langsung ke PLN. “Untuk peralihan listrik meluruskan dari ke PLN. Jadi, posisinya di ATM menggunakan arus murni PLN. Bukan UPS lagi,” jelasnya.

Rohmat mengungkapkan, peristiwa ini juga tidak berpengaruh pada proses input kredit serta material mendasar berupa uang. Mengenai sistem, dia menegaskan, selama ini pihaknya sudah melakukan kontrol secara rutin. Seminggu tiga kali. Bagian yang dikontrol berupa aktif tidaknya alarm, APAR, dan hydrant. “Itu kami kontrol selama tiga kali dalam sepekan,” ujarnya.

Menurut pakar konstruksi Universitas Muhammadiyah Jember, Taufan Abadi, manajemen rencana keselamatan harus dilakukan secara berkala. Idealnya, di dalam lembaga terkait ada tim yang mendapat pelatihan tentang kondisi darurat. Dengan begitu, jika ada insiden kebakaran atau korsleting, tidak melulu bergantung pada petugas damkar. “Seharusnya ada tim khusus yang mendapat pelatihan dan pembinaan berdasarkan SOP (standard operating procedure), sehingga bisa sigap,” ungkapnya.

Di samping itu, menurut Taufan, sebuah perkantoran seharusnya memiliki sistem untuk menghindari atau meminimalisasi adanya kebakaran. Karena bisa jadi kebakaran tersebut bermula dari adanya korsleting.

Beberapa hal yang harus dimiliki oleh gedung berkenaan dengan sistem keamanan, kata dia, adalah sensor yang mampu mendeteksi adanya gumpalan asap (smoke detector), sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya peningkatan suhu (heat detector), alarm apidan APAR.

Selain itu, dia menambahkan, juga tersedia hydrant, pintu darurat, jalur evakuasi, area aman, lampu darurat, dan SOP yang dianut atas seluruh sistem. “Ada Standar Nasional Indonesia atau SNI-nya. Itu yang menjamin life safety. Semua gedung perlu melengkapi standar keamanan itu,” pungkas Taufan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa terbakarnya perangkat uninterruptible power supply (UPS) di Kantor Cabang Bank Mandiri Alun-Alun Jember, Senin (3/5) malam, menggugah kesadaran publik tentang pentingnya manajemen rencana keselamatan gedung pada situasi darurat. Sebab sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi, akhir Januari lalu. Api sempat membakar ruang operasi Covid-19 di RSD Soebandi. Berangkat dari dua kejadian ini, Pemadam Kebakaran (Damkar) Jember menyebut, akses keselamatan kebakaran di gedung dan perkantoran masih rendah.

Dwi Atmoko, Komandan Regu B Damkar Kota Jember, yang terjun dalam memadamkan api di Kantor Cabang Bank Mandiri, mengatakan, kebakaran itu terjadi Senin malam sekitar pukul 20.00. “Yang kebakaran itu di lantai III ruang server, yaitu berupa UPS komputer yang terbakar,” jelasnya.

Walau tidak ada korban jiwa, tapi menurut Dwi Atmoko, saat masuk ruangan dipenuhi asap. “Mau jalan saja tertutup asap tebal,” terangnya. Beruntung, antara Bank Mandiri dengan posko damkar lokasinya tidak begitu jauh. Sehingga, bisa teratasi dengan cepat. Bila tidak ditangani dengan cepat, bisa berpotensi terjadi kebakaran hebat. “Kalau tidak secepatnya, itu bisa merembet. Karena sebelahnya bukan tembok, tapi pakai pembatas papan,” terangnya.

Dia menjelaskan, walau jumlah gedung dan perkantoran di Jember jarang terjadi kasus kebakaran, namun tidak dimungkiri punya potensi besar. Apalagi, menurutnya, sistem proteksi gedung dan perkantoran di Jember terkait kebakaran itu masih rendah.

Menurutnya, setidaknya kantor tidak hanya ada alat pemadam api ringan (APAR) saja. Lebih dari itu, juga perlu ada hydrant, peranti pendeteksi asap, alarm, hingga sprinkler, yaitu sebuah alat pemadam kebakaran otomatis. Tak cukup sekadar peralatan, tapi setidaknya juga ada pelatihan bagi satpam ataupun karyawan terkait pemakaian alat pemadam dan keselamatan saat terjadi kebakaran. “Jadi, kalau ada kebakaran langsung ditangani dengan cepat. Karena untuk mengatasi kebakaran paling cepat adalah orang yang paling dekat. Setidaknya mereka, satpam dan karyawan itu, paham cara memakai APAR,” tuturnya.

Bahkan, Dwi Atmoko menuturkan, sedikit sekali ada perkantoran yang konsultasi tentang keselamatan kebakaran ke damkar. “Kalau konsultasi bagaimana sistem pengamanan kebakaran sebuah perkantoran kami siap membantu,” ujarnya.

Dia mengatakan, proteksi keamanan perkantoran dan gedung di Jember terhadap kebakaran masih rendah. Dwi Atmoko juga tidak paham, apakah ada atau tidak manajemen pencegahan dini ketika awal pembangunan gedung. Dia sendiri sering mengimbau bila kantor butuh pelatihan, pihaknya siap membantu. Namun, hanya segelintir yang merespons tentang pelatihan tanggap kebakaran di perkantoran ataupun gedung. Hanya satu mall di daerah Jalan Gajah Mada yang rutin pelatihan. Setidaknya setahun dua kali. “Saat pelatihan, petugas damkar juga pasti mengecek kondisi tentang sistem keamanan kebakaran yang sudah ada di kantor atau gedung tersebut,” pungkasnya.

 

Klaim Keamanan Mencukupi

Sementara itu, pihak Bank Mandiri menyangkal adanya insiden kebakaran tersebut. Jawa Pos Radar Jember mencoba untuk mengonfirmasinya, kemarin (4/5). Rohmat, Subbagian Umum Bank Mandiri melalui satpamnya mengungkapkan, peristiwa yang terjadi itu bukanlah kebakaran. Melainkan hanya korsleting UPS. Sebab, tidak ada api yang menyala, hanya asap pekat karena dampak korsleting tersebut.

Menurutnya, korsleting terjadi pada hubungan arus pendek UPS. Sehingga menimbulkan asap pekat. Kejadian itu berlangsung di ruang server kredit lantai 3. Imbasnya, sesaat setelah kejadian tersebut mesin ATM mati beberapa saat. “Bukan kebakaran. Tapi korsleting pada UPS. Terjadi api kecil. Reda. Lalu, UPS-nya menimbulkan asap,” kata Rohmat.

Dia mengaku, insiden ini tidak berpengaruh pada operasional secara mendasar. Sebab, menurut Rohmat, hakikatnya UPS merupakan bagian daya yang dicadangkan ketika terjadi pemadaman. UPS juga berfungsi sebagai bantuan operasional pelayanan. Alternatifnya, pihaknya melakukan sambungan langsung ke PLN. “Untuk peralihan listrik meluruskan dari ke PLN. Jadi, posisinya di ATM menggunakan arus murni PLN. Bukan UPS lagi,” jelasnya.

Rohmat mengungkapkan, peristiwa ini juga tidak berpengaruh pada proses input kredit serta material mendasar berupa uang. Mengenai sistem, dia menegaskan, selama ini pihaknya sudah melakukan kontrol secara rutin. Seminggu tiga kali. Bagian yang dikontrol berupa aktif tidaknya alarm, APAR, dan hydrant. “Itu kami kontrol selama tiga kali dalam sepekan,” ujarnya.

Menurut pakar konstruksi Universitas Muhammadiyah Jember, Taufan Abadi, manajemen rencana keselamatan harus dilakukan secara berkala. Idealnya, di dalam lembaga terkait ada tim yang mendapat pelatihan tentang kondisi darurat. Dengan begitu, jika ada insiden kebakaran atau korsleting, tidak melulu bergantung pada petugas damkar. “Seharusnya ada tim khusus yang mendapat pelatihan dan pembinaan berdasarkan SOP (standard operating procedure), sehingga bisa sigap,” ungkapnya.

Di samping itu, menurut Taufan, sebuah perkantoran seharusnya memiliki sistem untuk menghindari atau meminimalisasi adanya kebakaran. Karena bisa jadi kebakaran tersebut bermula dari adanya korsleting.

Beberapa hal yang harus dimiliki oleh gedung berkenaan dengan sistem keamanan, kata dia, adalah sensor yang mampu mendeteksi adanya gumpalan asap (smoke detector), sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya peningkatan suhu (heat detector), alarm apidan APAR.

Selain itu, dia menambahkan, juga tersedia hydrant, pintu darurat, jalur evakuasi, area aman, lampu darurat, dan SOP yang dianut atas seluruh sistem. “Ada Standar Nasional Indonesia atau SNI-nya. Itu yang menjamin life safety. Semua gedung perlu melengkapi standar keamanan itu,” pungkas Taufan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa terbakarnya perangkat uninterruptible power supply (UPS) di Kantor Cabang Bank Mandiri Alun-Alun Jember, Senin (3/5) malam, menggugah kesadaran publik tentang pentingnya manajemen rencana keselamatan gedung pada situasi darurat. Sebab sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi, akhir Januari lalu. Api sempat membakar ruang operasi Covid-19 di RSD Soebandi. Berangkat dari dua kejadian ini, Pemadam Kebakaran (Damkar) Jember menyebut, akses keselamatan kebakaran di gedung dan perkantoran masih rendah.

Dwi Atmoko, Komandan Regu B Damkar Kota Jember, yang terjun dalam memadamkan api di Kantor Cabang Bank Mandiri, mengatakan, kebakaran itu terjadi Senin malam sekitar pukul 20.00. “Yang kebakaran itu di lantai III ruang server, yaitu berupa UPS komputer yang terbakar,” jelasnya.

Walau tidak ada korban jiwa, tapi menurut Dwi Atmoko, saat masuk ruangan dipenuhi asap. “Mau jalan saja tertutup asap tebal,” terangnya. Beruntung, antara Bank Mandiri dengan posko damkar lokasinya tidak begitu jauh. Sehingga, bisa teratasi dengan cepat. Bila tidak ditangani dengan cepat, bisa berpotensi terjadi kebakaran hebat. “Kalau tidak secepatnya, itu bisa merembet. Karena sebelahnya bukan tembok, tapi pakai pembatas papan,” terangnya.

Dia menjelaskan, walau jumlah gedung dan perkantoran di Jember jarang terjadi kasus kebakaran, namun tidak dimungkiri punya potensi besar. Apalagi, menurutnya, sistem proteksi gedung dan perkantoran di Jember terkait kebakaran itu masih rendah.

Menurutnya, setidaknya kantor tidak hanya ada alat pemadam api ringan (APAR) saja. Lebih dari itu, juga perlu ada hydrant, peranti pendeteksi asap, alarm, hingga sprinkler, yaitu sebuah alat pemadam kebakaran otomatis. Tak cukup sekadar peralatan, tapi setidaknya juga ada pelatihan bagi satpam ataupun karyawan terkait pemakaian alat pemadam dan keselamatan saat terjadi kebakaran. “Jadi, kalau ada kebakaran langsung ditangani dengan cepat. Karena untuk mengatasi kebakaran paling cepat adalah orang yang paling dekat. Setidaknya mereka, satpam dan karyawan itu, paham cara memakai APAR,” tuturnya.

Bahkan, Dwi Atmoko menuturkan, sedikit sekali ada perkantoran yang konsultasi tentang keselamatan kebakaran ke damkar. “Kalau konsultasi bagaimana sistem pengamanan kebakaran sebuah perkantoran kami siap membantu,” ujarnya.

Dia mengatakan, proteksi keamanan perkantoran dan gedung di Jember terhadap kebakaran masih rendah. Dwi Atmoko juga tidak paham, apakah ada atau tidak manajemen pencegahan dini ketika awal pembangunan gedung. Dia sendiri sering mengimbau bila kantor butuh pelatihan, pihaknya siap membantu. Namun, hanya segelintir yang merespons tentang pelatihan tanggap kebakaran di perkantoran ataupun gedung. Hanya satu mall di daerah Jalan Gajah Mada yang rutin pelatihan. Setidaknya setahun dua kali. “Saat pelatihan, petugas damkar juga pasti mengecek kondisi tentang sistem keamanan kebakaran yang sudah ada di kantor atau gedung tersebut,” pungkasnya.

 

Klaim Keamanan Mencukupi

Sementara itu, pihak Bank Mandiri menyangkal adanya insiden kebakaran tersebut. Jawa Pos Radar Jember mencoba untuk mengonfirmasinya, kemarin (4/5). Rohmat, Subbagian Umum Bank Mandiri melalui satpamnya mengungkapkan, peristiwa yang terjadi itu bukanlah kebakaran. Melainkan hanya korsleting UPS. Sebab, tidak ada api yang menyala, hanya asap pekat karena dampak korsleting tersebut.

Menurutnya, korsleting terjadi pada hubungan arus pendek UPS. Sehingga menimbulkan asap pekat. Kejadian itu berlangsung di ruang server kredit lantai 3. Imbasnya, sesaat setelah kejadian tersebut mesin ATM mati beberapa saat. “Bukan kebakaran. Tapi korsleting pada UPS. Terjadi api kecil. Reda. Lalu, UPS-nya menimbulkan asap,” kata Rohmat.

Dia mengaku, insiden ini tidak berpengaruh pada operasional secara mendasar. Sebab, menurut Rohmat, hakikatnya UPS merupakan bagian daya yang dicadangkan ketika terjadi pemadaman. UPS juga berfungsi sebagai bantuan operasional pelayanan. Alternatifnya, pihaknya melakukan sambungan langsung ke PLN. “Untuk peralihan listrik meluruskan dari ke PLN. Jadi, posisinya di ATM menggunakan arus murni PLN. Bukan UPS lagi,” jelasnya.

Rohmat mengungkapkan, peristiwa ini juga tidak berpengaruh pada proses input kredit serta material mendasar berupa uang. Mengenai sistem, dia menegaskan, selama ini pihaknya sudah melakukan kontrol secara rutin. Seminggu tiga kali. Bagian yang dikontrol berupa aktif tidaknya alarm, APAR, dan hydrant. “Itu kami kontrol selama tiga kali dalam sepekan,” ujarnya.

Menurut pakar konstruksi Universitas Muhammadiyah Jember, Taufan Abadi, manajemen rencana keselamatan harus dilakukan secara berkala. Idealnya, di dalam lembaga terkait ada tim yang mendapat pelatihan tentang kondisi darurat. Dengan begitu, jika ada insiden kebakaran atau korsleting, tidak melulu bergantung pada petugas damkar. “Seharusnya ada tim khusus yang mendapat pelatihan dan pembinaan berdasarkan SOP (standard operating procedure), sehingga bisa sigap,” ungkapnya.

Di samping itu, menurut Taufan, sebuah perkantoran seharusnya memiliki sistem untuk menghindari atau meminimalisasi adanya kebakaran. Karena bisa jadi kebakaran tersebut bermula dari adanya korsleting.

Beberapa hal yang harus dimiliki oleh gedung berkenaan dengan sistem keamanan, kata dia, adalah sensor yang mampu mendeteksi adanya gumpalan asap (smoke detector), sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya peningkatan suhu (heat detector), alarm apidan APAR.

Selain itu, dia menambahkan, juga tersedia hydrant, pintu darurat, jalur evakuasi, area aman, lampu darurat, dan SOP yang dianut atas seluruh sistem. “Ada Standar Nasional Indonesia atau SNI-nya. Itu yang menjamin life safety. Semua gedung perlu melengkapi standar keamanan itu,” pungkas Taufan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/