alexametrics
23.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Perlu Kajian Keretakan Fondasi Jembatan

Mobile_AP_Rectangle 1

Langkah Pencegahan

Sementara itu, Akademisi Unej yang lain, Gusfan Halik menyatakan, masih ada kemungkinan terjadi banjir yang lebih parah ketimbang bencana akhir Januari kemarin. Sebab, air berpotensi lebih besar ketika curah hujan tinggi mencapai 100 mililiter hingga 150 mililiter. “Nantinya akan ada kejadian serupa,” kata Gusfan.

Menurut dia, sepintas banjir itu menjadi bencana terbesar. Namun, jika ditinjau secara akademik, resapan di Bedadung itu hanya 15 persen. Hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan yang semakin marak di kawasan perkotaan. “Di bawah itu kan ada Dam Bedadung yang meluap. Berarti wilayah yang lebih tinggi, misalnya Maesan, curah hujan juga tinggi. Karena hujan itu sifatnya merambat, maka bakal ada kejadian serupa,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Gusfan menuturkan, untuk menghindari adanya banjir, situasi ini dapat dicegah dengan adanya perluasan penghijauan. Penghijuan dapat dilakukan hingga 25 persen dari luas Bedadung. “Harus ada reboisasi. Tapi, ini pun waktunya tidaklah singkat. Bertahun-tahun,” ucapnya.

Selain alternatif tersebut, pembangunan waduk juga dapat dilakukan sebagai pembuangan luapan air. Sebelumnya, harus ada survei untuk menentukan titik mana saja yang dapat dijadikan waduk pembuangan air. Sehingga, ketika air turun langsung ke waduk tidak meluap ke permukiman. “Jadi, dibuat master plan sumber daya air. Bisa dibuat waduk kecil-kecil. Tidak apa-apa. Ini upaya secara struktural mengalirkan air dari atas ke kota secara perlahan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Langkah Pencegahan

Sementara itu, Akademisi Unej yang lain, Gusfan Halik menyatakan, masih ada kemungkinan terjadi banjir yang lebih parah ketimbang bencana akhir Januari kemarin. Sebab, air berpotensi lebih besar ketika curah hujan tinggi mencapai 100 mililiter hingga 150 mililiter. “Nantinya akan ada kejadian serupa,” kata Gusfan.

Menurut dia, sepintas banjir itu menjadi bencana terbesar. Namun, jika ditinjau secara akademik, resapan di Bedadung itu hanya 15 persen. Hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan yang semakin marak di kawasan perkotaan. “Di bawah itu kan ada Dam Bedadung yang meluap. Berarti wilayah yang lebih tinggi, misalnya Maesan, curah hujan juga tinggi. Karena hujan itu sifatnya merambat, maka bakal ada kejadian serupa,” imbuhnya.

Gusfan menuturkan, untuk menghindari adanya banjir, situasi ini dapat dicegah dengan adanya perluasan penghijauan. Penghijuan dapat dilakukan hingga 25 persen dari luas Bedadung. “Harus ada reboisasi. Tapi, ini pun waktunya tidaklah singkat. Bertahun-tahun,” ucapnya.

Selain alternatif tersebut, pembangunan waduk juga dapat dilakukan sebagai pembuangan luapan air. Sebelumnya, harus ada survei untuk menentukan titik mana saja yang dapat dijadikan waduk pembuangan air. Sehingga, ketika air turun langsung ke waduk tidak meluap ke permukiman. “Jadi, dibuat master plan sumber daya air. Bisa dibuat waduk kecil-kecil. Tidak apa-apa. Ini upaya secara struktural mengalirkan air dari atas ke kota secara perlahan,” pungkasnya.

Langkah Pencegahan

Sementara itu, Akademisi Unej yang lain, Gusfan Halik menyatakan, masih ada kemungkinan terjadi banjir yang lebih parah ketimbang bencana akhir Januari kemarin. Sebab, air berpotensi lebih besar ketika curah hujan tinggi mencapai 100 mililiter hingga 150 mililiter. “Nantinya akan ada kejadian serupa,” kata Gusfan.

Menurut dia, sepintas banjir itu menjadi bencana terbesar. Namun, jika ditinjau secara akademik, resapan di Bedadung itu hanya 15 persen. Hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan yang semakin marak di kawasan perkotaan. “Di bawah itu kan ada Dam Bedadung yang meluap. Berarti wilayah yang lebih tinggi, misalnya Maesan, curah hujan juga tinggi. Karena hujan itu sifatnya merambat, maka bakal ada kejadian serupa,” imbuhnya.

Gusfan menuturkan, untuk menghindari adanya banjir, situasi ini dapat dicegah dengan adanya perluasan penghijauan. Penghijuan dapat dilakukan hingga 25 persen dari luas Bedadung. “Harus ada reboisasi. Tapi, ini pun waktunya tidaklah singkat. Bertahun-tahun,” ucapnya.

Selain alternatif tersebut, pembangunan waduk juga dapat dilakukan sebagai pembuangan luapan air. Sebelumnya, harus ada survei untuk menentukan titik mana saja yang dapat dijadikan waduk pembuangan air. Sehingga, ketika air turun langsung ke waduk tidak meluap ke permukiman. “Jadi, dibuat master plan sumber daya air. Bisa dibuat waduk kecil-kecil. Tidak apa-apa. Ini upaya secara struktural mengalirkan air dari atas ke kota secara perlahan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/