alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Perlu Kajian Keretakan Fondasi Jembatan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menghantam sebagian permukiman di kawasan bawah Gladak Kembar yang menuju Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, disebut sebagai banjir terparah yang disebabkan luapan Sungai Bedadung. Dampaknya, tak hanya merusak rumah-rumah penduduk, tapi juga membuat fondasi jembatan tersebut retak.

Kondisi ini membuat warga yang tinggal di bantaran sungai bawah jembatan khawatir. Mereka waswas jika dampak banjir belum usai dan berpotensi menimbulkan petaka susulan. Ambruknya jembatan menjadi bayang-bayang yang menghantui warga. Imam, salah satu penduduk setempat, mengungkapkan, warga merasa takut jika terjadi longsor tiba-tiba. Seperti tragedi runtuhnya pertokoan di Jembatan Jompo, tahun lalu.

Melihat kondisi itu, akademisi Universitas Jember (Unej) Bidang Keahlian Geoteknik, Indra Nurtjahningtyas menjelaskan, adanya keretakan di aspal dan fondasi jembatan belum tentu mengindikasikan kerusakan yang serupa seperti Jembatan Jompo. Sebab, secara umum jembatan memiliki cukup banyak bagian dan strukturnya pun berbeda. “Adanya keretakan tidak bisa disimpulkan secara merata. Macam keretakan pun cukup banyak,” imbuh dosen yang akrab disapa Indra tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih jauh, Indra menyebut, posisi retak juga menjadi pertimbangan. Bisa jadi keretakan jalan yang berada di tengah jembatan disebabkan oleh konstruksi atas. Akan menjadi berbeda, kata dia, jika keretakan tersebut ditimbulkan dari struktur bawah jembatan.

Namun, Indra tidak menjelentrehkan lebih dalam mengenai kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Sumatera ini. Sebab, pihaknya belum melakukan investigasi terhadap kondisi jembatan. “Perlu ada kajian lebih dalam,” tandasnya.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menghantam sebagian permukiman di kawasan bawah Gladak Kembar yang menuju Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, disebut sebagai banjir terparah yang disebabkan luapan Sungai Bedadung. Dampaknya, tak hanya merusak rumah-rumah penduduk, tapi juga membuat fondasi jembatan tersebut retak.

Kondisi ini membuat warga yang tinggal di bantaran sungai bawah jembatan khawatir. Mereka waswas jika dampak banjir belum usai dan berpotensi menimbulkan petaka susulan. Ambruknya jembatan menjadi bayang-bayang yang menghantui warga. Imam, salah satu penduduk setempat, mengungkapkan, warga merasa takut jika terjadi longsor tiba-tiba. Seperti tragedi runtuhnya pertokoan di Jembatan Jompo, tahun lalu.

Melihat kondisi itu, akademisi Universitas Jember (Unej) Bidang Keahlian Geoteknik, Indra Nurtjahningtyas menjelaskan, adanya keretakan di aspal dan fondasi jembatan belum tentu mengindikasikan kerusakan yang serupa seperti Jembatan Jompo. Sebab, secara umum jembatan memiliki cukup banyak bagian dan strukturnya pun berbeda. “Adanya keretakan tidak bisa disimpulkan secara merata. Macam keretakan pun cukup banyak,” imbuh dosen yang akrab disapa Indra tersebut.

Lebih jauh, Indra menyebut, posisi retak juga menjadi pertimbangan. Bisa jadi keretakan jalan yang berada di tengah jembatan disebabkan oleh konstruksi atas. Akan menjadi berbeda, kata dia, jika keretakan tersebut ditimbulkan dari struktur bawah jembatan.

Namun, Indra tidak menjelentrehkan lebih dalam mengenai kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Sumatera ini. Sebab, pihaknya belum melakukan investigasi terhadap kondisi jembatan. “Perlu ada kajian lebih dalam,” tandasnya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang menghantam sebagian permukiman di kawasan bawah Gladak Kembar yang menuju Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, disebut sebagai banjir terparah yang disebabkan luapan Sungai Bedadung. Dampaknya, tak hanya merusak rumah-rumah penduduk, tapi juga membuat fondasi jembatan tersebut retak.

Kondisi ini membuat warga yang tinggal di bantaran sungai bawah jembatan khawatir. Mereka waswas jika dampak banjir belum usai dan berpotensi menimbulkan petaka susulan. Ambruknya jembatan menjadi bayang-bayang yang menghantui warga. Imam, salah satu penduduk setempat, mengungkapkan, warga merasa takut jika terjadi longsor tiba-tiba. Seperti tragedi runtuhnya pertokoan di Jembatan Jompo, tahun lalu.

Melihat kondisi itu, akademisi Universitas Jember (Unej) Bidang Keahlian Geoteknik, Indra Nurtjahningtyas menjelaskan, adanya keretakan di aspal dan fondasi jembatan belum tentu mengindikasikan kerusakan yang serupa seperti Jembatan Jompo. Sebab, secara umum jembatan memiliki cukup banyak bagian dan strukturnya pun berbeda. “Adanya keretakan tidak bisa disimpulkan secara merata. Macam keretakan pun cukup banyak,” imbuh dosen yang akrab disapa Indra tersebut.

Lebih jauh, Indra menyebut, posisi retak juga menjadi pertimbangan. Bisa jadi keretakan jalan yang berada di tengah jembatan disebabkan oleh konstruksi atas. Akan menjadi berbeda, kata dia, jika keretakan tersebut ditimbulkan dari struktur bawah jembatan.

Namun, Indra tidak menjelentrehkan lebih dalam mengenai kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Sumatera ini. Sebab, pihaknya belum melakukan investigasi terhadap kondisi jembatan. “Perlu ada kajian lebih dalam,” tandasnya.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/