alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Korban Pelecehan Daring Berpotensi Dieksploitasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kekerasan gender berbasis online (KGBO) yang menyasar mahasiswi di beberapa kampus di Jember mengundang perhatian masyarakat. Seusai mencuatnya perkara tersebut, banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Jember yang juga mengaku sebagai korban kejahatan yang sama.

Secara psikologi, munculnya pengakuan korban yang semakin marak bisa menjadi jembatan bagi pegiat maupun aparat untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan di dunia maya itu. Sebab, dengan terbukanya korban dan adanya pendampingan dari lembaga profesional, maka korban akan merasa terlindungi.

Pakar Psikologi Indah Roziah Cholilah mengatakan, jika tidak ada korban yang berani mengakui adanya tindakan kejahatan yang dialami, maka korban yang lain juga akan diam. Sebab, sebagian orang masih mengira tindakan KGBO ini adalah hal sepele. Ada juga yang menganggap, KGBO tersebut merupakan hal yang tabu atau aib, jika dibicarakan kepada orang lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Bisa jadi, sebagian korban masih malu mengakui bahwa dia korban KGBO. Karena sebagian masih menganggap ini aib. Ini akibat kurangnya pendidikan seks yang dimiliki korban, sehingga dia akan diam saja,” tutur Indah.

Pengabaian dari korban ini, kata dia, justru dapat diterjemahkan sebagai sinyal baik bagi sang pelaku. Jika korban pasif, maka pelaku akan melakukan perbuatan cabul itu berulang-ulang. “Bahkan, bisa saja mengirim video atau foto yang lebih erotis daripada sebelumnya,” imbuh dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember tersebut.

Untuk itu, Indah menyarankan, perlu adanya tindakan atau penolakan yang tegas dari korban. Seperti pemblokiran nomor telepon, kalimat penolakan keras, atau bahkan pelaporan terhadap pihak yang berwenang.

Hal itu karena tindakan kekerasan seksual daring ini memberi dampak yang mengganggu ketenangan korban. Korban bisa merasa khawatir terhadap datangnya pesan daring dari orang lain. Kemudian, juga menurunkan tingkat konsentrasi dan berpikir korban. Bahkan, dampak negatif lainnya, bisa mengakibatkan korban kecanduan akan kiriman foto atau video dari pelaku.

“Kalau korban tidak bisa bertindak dan tidak kuat pendirian, bisa jadi dia justru tertarik dan meladeni si pelaku. Sehingga, dia (korban, Red) juga berpotensi dieksploitasi secara online,” terangnya.

 

Alami Kelainan Seksual

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kekerasan gender berbasis online (KGBO) yang menyasar mahasiswi di beberapa kampus di Jember mengundang perhatian masyarakat. Seusai mencuatnya perkara tersebut, banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Jember yang juga mengaku sebagai korban kejahatan yang sama.

Secara psikologi, munculnya pengakuan korban yang semakin marak bisa menjadi jembatan bagi pegiat maupun aparat untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan di dunia maya itu. Sebab, dengan terbukanya korban dan adanya pendampingan dari lembaga profesional, maka korban akan merasa terlindungi.

Pakar Psikologi Indah Roziah Cholilah mengatakan, jika tidak ada korban yang berani mengakui adanya tindakan kejahatan yang dialami, maka korban yang lain juga akan diam. Sebab, sebagian orang masih mengira tindakan KGBO ini adalah hal sepele. Ada juga yang menganggap, KGBO tersebut merupakan hal yang tabu atau aib, jika dibicarakan kepada orang lain.

“Bisa jadi, sebagian korban masih malu mengakui bahwa dia korban KGBO. Karena sebagian masih menganggap ini aib. Ini akibat kurangnya pendidikan seks yang dimiliki korban, sehingga dia akan diam saja,” tutur Indah.

Pengabaian dari korban ini, kata dia, justru dapat diterjemahkan sebagai sinyal baik bagi sang pelaku. Jika korban pasif, maka pelaku akan melakukan perbuatan cabul itu berulang-ulang. “Bahkan, bisa saja mengirim video atau foto yang lebih erotis daripada sebelumnya,” imbuh dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember tersebut.

Untuk itu, Indah menyarankan, perlu adanya tindakan atau penolakan yang tegas dari korban. Seperti pemblokiran nomor telepon, kalimat penolakan keras, atau bahkan pelaporan terhadap pihak yang berwenang.

Hal itu karena tindakan kekerasan seksual daring ini memberi dampak yang mengganggu ketenangan korban. Korban bisa merasa khawatir terhadap datangnya pesan daring dari orang lain. Kemudian, juga menurunkan tingkat konsentrasi dan berpikir korban. Bahkan, dampak negatif lainnya, bisa mengakibatkan korban kecanduan akan kiriman foto atau video dari pelaku.

“Kalau korban tidak bisa bertindak dan tidak kuat pendirian, bisa jadi dia justru tertarik dan meladeni si pelaku. Sehingga, dia (korban, Red) juga berpotensi dieksploitasi secara online,” terangnya.

 

Alami Kelainan Seksual

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kekerasan gender berbasis online (KGBO) yang menyasar mahasiswi di beberapa kampus di Jember mengundang perhatian masyarakat. Seusai mencuatnya perkara tersebut, banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Jember yang juga mengaku sebagai korban kejahatan yang sama.

Secara psikologi, munculnya pengakuan korban yang semakin marak bisa menjadi jembatan bagi pegiat maupun aparat untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan di dunia maya itu. Sebab, dengan terbukanya korban dan adanya pendampingan dari lembaga profesional, maka korban akan merasa terlindungi.

Pakar Psikologi Indah Roziah Cholilah mengatakan, jika tidak ada korban yang berani mengakui adanya tindakan kejahatan yang dialami, maka korban yang lain juga akan diam. Sebab, sebagian orang masih mengira tindakan KGBO ini adalah hal sepele. Ada juga yang menganggap, KGBO tersebut merupakan hal yang tabu atau aib, jika dibicarakan kepada orang lain.

“Bisa jadi, sebagian korban masih malu mengakui bahwa dia korban KGBO. Karena sebagian masih menganggap ini aib. Ini akibat kurangnya pendidikan seks yang dimiliki korban, sehingga dia akan diam saja,” tutur Indah.

Pengabaian dari korban ini, kata dia, justru dapat diterjemahkan sebagai sinyal baik bagi sang pelaku. Jika korban pasif, maka pelaku akan melakukan perbuatan cabul itu berulang-ulang. “Bahkan, bisa saja mengirim video atau foto yang lebih erotis daripada sebelumnya,” imbuh dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri KH Achmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember tersebut.

Untuk itu, Indah menyarankan, perlu adanya tindakan atau penolakan yang tegas dari korban. Seperti pemblokiran nomor telepon, kalimat penolakan keras, atau bahkan pelaporan terhadap pihak yang berwenang.

Hal itu karena tindakan kekerasan seksual daring ini memberi dampak yang mengganggu ketenangan korban. Korban bisa merasa khawatir terhadap datangnya pesan daring dari orang lain. Kemudian, juga menurunkan tingkat konsentrasi dan berpikir korban. Bahkan, dampak negatif lainnya, bisa mengakibatkan korban kecanduan akan kiriman foto atau video dari pelaku.

“Kalau korban tidak bisa bertindak dan tidak kuat pendirian, bisa jadi dia justru tertarik dan meladeni si pelaku. Sehingga, dia (korban, Red) juga berpotensi dieksploitasi secara online,” terangnya.

 

Alami Kelainan Seksual

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/