alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tak Terlibat Perkara, Diminta Ganti Rugi hingga Puluhan Juta

Idealnya, antara kewajiban dan hak itu sebanding. Namun, bagaimana jika dua hal itu timpang? Inilah yang dirasakan Nofi Cahyo Hariyadi, mantan ketua serikat buruh di perusahaan toko waralaba. Dia pun ogah diam dan memilih menyuarakan keadilan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman yang terjadi sekitar tahun 2013 itu begitu melekat di benak Nofi Cahyo Hariyadi. Menjelang petang, ada sebuah truk yang keluar dari gudang distributor centre (DC) pada sebuah perusahaan toko waralaba di Jember. Seperti biasa, dia melakukan pengecekan secara detail. Memutari badan truk, naik ke atas truk, hingga memeriksa barang-barang yang dimuat.

Tiba-tiba, pria 41 tahun itu kaget lantaran menemukan rak besi yang biasa digunakan untuk meletakan barang dagangan di toko. Dia langsung mengambil gambar dan memanggil beberapa satpam lain supaya menyaksikan. Serta memproses si pengemudi truk tersebut.

Setelah dilaporkan ke pimpinan, dia bercerita, perusahaan mengalami kerugian sekitar Rp 75 juta karena kehilangan besi-besi yang berasal dari rak toko itu. Selanjutnya, Nofi dan 15 rekannya ditugaskan untuk mencari siapa pelakunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Jika tidak menemukan, kami harus mengganti kerugian itu dengan cara potong gaji,” terang Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Sektor Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di perusahaan toko berjaringan ini. Bahkan, Nofi secara terang-terangan diancam tidak akan pernah naik jabatan.

Nofi pun menolak. Sebab, timnya bukanlah pelaku. Beruntung, dia telah mengumpulkan barang bukti, saksi, hingga foto salah seorang pelaku yang mengambil rak besi itu. Bahkan, dirinya juga melakukan penelusuran hingga ke rumah pelaku. Pihaknya begitu kesal saat mendapati salah satu perabotan rumah milik pelaku berasal dari rak besi yang telah hilang. Lalu, bagaimana keadaan pelaku saat ini?

Warga di Jalan MT Haryono, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tersebut memaparkan, si pelaku masih bebas bekerja hingga saat ini. “Soalnya, dia dapat perlakuan khusus dari pimpinan,” ujarnya. Bahkan, alibi mengambil besi-besi itu ditengarai lantaran pelaku tidak punya modal untuk memperbaiki rumah dan mendapat pembenaran dari pimpinan. “Kan konyol,” tuturnya.

Menurut dia, hal itu berbanding terbalik jika pelakunya adalah para karyawan toko atau pegawai gudang. Pernah sekali, ada kisah yang memilukan hingga berujung duka. Kala itu, salah seorang pekerja asal Surabaya kedapatan mencuri parfum. Pihak manajemen langsung melaporkannya ke Polsek Sumbersari.

Selanjutnya, kabar duka datang dari ibu pelaku saat mengetahui anaknya masuk penjara. “Ibunya meninggal kena serangan jantung saat mengetahui anaknya dipenjara,” ungkap pria yang bekerja di perusahaan waralaba sejak April 2006 hingga April 2020 itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman yang terjadi sekitar tahun 2013 itu begitu melekat di benak Nofi Cahyo Hariyadi. Menjelang petang, ada sebuah truk yang keluar dari gudang distributor centre (DC) pada sebuah perusahaan toko waralaba di Jember. Seperti biasa, dia melakukan pengecekan secara detail. Memutari badan truk, naik ke atas truk, hingga memeriksa barang-barang yang dimuat.

Tiba-tiba, pria 41 tahun itu kaget lantaran menemukan rak besi yang biasa digunakan untuk meletakan barang dagangan di toko. Dia langsung mengambil gambar dan memanggil beberapa satpam lain supaya menyaksikan. Serta memproses si pengemudi truk tersebut.

Setelah dilaporkan ke pimpinan, dia bercerita, perusahaan mengalami kerugian sekitar Rp 75 juta karena kehilangan besi-besi yang berasal dari rak toko itu. Selanjutnya, Nofi dan 15 rekannya ditugaskan untuk mencari siapa pelakunya.

“Jika tidak menemukan, kami harus mengganti kerugian itu dengan cara potong gaji,” terang Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Sektor Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di perusahaan toko berjaringan ini. Bahkan, Nofi secara terang-terangan diancam tidak akan pernah naik jabatan.

Nofi pun menolak. Sebab, timnya bukanlah pelaku. Beruntung, dia telah mengumpulkan barang bukti, saksi, hingga foto salah seorang pelaku yang mengambil rak besi itu. Bahkan, dirinya juga melakukan penelusuran hingga ke rumah pelaku. Pihaknya begitu kesal saat mendapati salah satu perabotan rumah milik pelaku berasal dari rak besi yang telah hilang. Lalu, bagaimana keadaan pelaku saat ini?

Warga di Jalan MT Haryono, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tersebut memaparkan, si pelaku masih bebas bekerja hingga saat ini. “Soalnya, dia dapat perlakuan khusus dari pimpinan,” ujarnya. Bahkan, alibi mengambil besi-besi itu ditengarai lantaran pelaku tidak punya modal untuk memperbaiki rumah dan mendapat pembenaran dari pimpinan. “Kan konyol,” tuturnya.

Menurut dia, hal itu berbanding terbalik jika pelakunya adalah para karyawan toko atau pegawai gudang. Pernah sekali, ada kisah yang memilukan hingga berujung duka. Kala itu, salah seorang pekerja asal Surabaya kedapatan mencuri parfum. Pihak manajemen langsung melaporkannya ke Polsek Sumbersari.

Selanjutnya, kabar duka datang dari ibu pelaku saat mengetahui anaknya masuk penjara. “Ibunya meninggal kena serangan jantung saat mengetahui anaknya dipenjara,” ungkap pria yang bekerja di perusahaan waralaba sejak April 2006 hingga April 2020 itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengalaman yang terjadi sekitar tahun 2013 itu begitu melekat di benak Nofi Cahyo Hariyadi. Menjelang petang, ada sebuah truk yang keluar dari gudang distributor centre (DC) pada sebuah perusahaan toko waralaba di Jember. Seperti biasa, dia melakukan pengecekan secara detail. Memutari badan truk, naik ke atas truk, hingga memeriksa barang-barang yang dimuat.

Tiba-tiba, pria 41 tahun itu kaget lantaran menemukan rak besi yang biasa digunakan untuk meletakan barang dagangan di toko. Dia langsung mengambil gambar dan memanggil beberapa satpam lain supaya menyaksikan. Serta memproses si pengemudi truk tersebut.

Setelah dilaporkan ke pimpinan, dia bercerita, perusahaan mengalami kerugian sekitar Rp 75 juta karena kehilangan besi-besi yang berasal dari rak toko itu. Selanjutnya, Nofi dan 15 rekannya ditugaskan untuk mencari siapa pelakunya.

“Jika tidak menemukan, kami harus mengganti kerugian itu dengan cara potong gaji,” terang Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Sektor Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di perusahaan toko berjaringan ini. Bahkan, Nofi secara terang-terangan diancam tidak akan pernah naik jabatan.

Nofi pun menolak. Sebab, timnya bukanlah pelaku. Beruntung, dia telah mengumpulkan barang bukti, saksi, hingga foto salah seorang pelaku yang mengambil rak besi itu. Bahkan, dirinya juga melakukan penelusuran hingga ke rumah pelaku. Pihaknya begitu kesal saat mendapati salah satu perabotan rumah milik pelaku berasal dari rak besi yang telah hilang. Lalu, bagaimana keadaan pelaku saat ini?

Warga di Jalan MT Haryono, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tersebut memaparkan, si pelaku masih bebas bekerja hingga saat ini. “Soalnya, dia dapat perlakuan khusus dari pimpinan,” ujarnya. Bahkan, alibi mengambil besi-besi itu ditengarai lantaran pelaku tidak punya modal untuk memperbaiki rumah dan mendapat pembenaran dari pimpinan. “Kan konyol,” tuturnya.

Menurut dia, hal itu berbanding terbalik jika pelakunya adalah para karyawan toko atau pegawai gudang. Pernah sekali, ada kisah yang memilukan hingga berujung duka. Kala itu, salah seorang pekerja asal Surabaya kedapatan mencuri parfum. Pihak manajemen langsung melaporkannya ke Polsek Sumbersari.

Selanjutnya, kabar duka datang dari ibu pelaku saat mengetahui anaknya masuk penjara. “Ibunya meninggal kena serangan jantung saat mengetahui anaknya dipenjara,” ungkap pria yang bekerja di perusahaan waralaba sejak April 2006 hingga April 2020 itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/