alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Kita Harus Saling Jaga

Polisi, TNI, dan Banser Amankan Gereja

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pengeboman di Gereja Katedral Makasar dan penembakan di Markas Besar Polri baru-baru ini, memantik keprihatinan semua umat. Atas nama kemanusiaan, mereka terdorong merawat persaudaraan dan kerukunan dengan berbagai aksi kemanusiaan. Sebab, sebagai bangsa yang majemuk, kita harus saling jaga.

Seperti yang dilakukan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Cabang Kencong. Mereka melakukan pengamanan pelaksanaan Jumat Agung di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Puger Kulon dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepathan Mojomulyo, kemarin (2/4).

Bersama TNI dan Polri, Banser melakukan pengamanan sejak pagi sekaligus mensterilkan lokasi sebelum gereja digunakan para jemaat. “Kekhawatiran pasti ada dari beberapa aksi yang memperkeruh keadaan, kemarin. Karena kelompok-kelompok radikal masih berkeliaran, kami minta semua personel tetap waspada,” beber Agus Nur Yasin, Ketua PC GP Ansor Kencong.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kendati muncul insiden teror, beberapa hari lalu, pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Tetap melaksanakan aktivitas seperti sediakala. Ia optimistis, kerukunan umat beragama di Jember bisa terjalin berkat sinergisitas polisi, TNI, dan Banser.

Pengaman serupa juga dilakukan aparat gabungan dari TNI, polisi, dan Banser pada sejumlah gereja di kawasan Jember lainnya. Seperti di Gereja SPM Kaliwates, GKJW Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro, Gereja Katolik Santo Yusup Jalan Kartini Jember, GKJW Sumbersari, dan Gereja GPIB Getsemani Patrang. Bahkan, sejak H-1 jelang perayaan Paskah tersebut, pengamanan sudah dilakukan Banser dan aparat gabungan di tempat peribadatan itu.

“Kami telah meminta semua Ansor tiap kecamatan yang memiliki gereja agar melakukan pengamanan. Dan berkoordinasi dengan kepolisian di tiap kecamatan,” kata Izzul Ashlah, Ketua PC GP Ansor Jember. Keterlibatan Ansor dan Banser dalam kegiatan peribadatan itu dinilainya tidak sekadar untuk pengamanan, tapi lebih jauh dari itu. Ia meyakini, ada hal yang lebih penting untuk terus dijaga dan dirawat, yakni kerukunan.

Wakapolres Jember Kompol Kadek Aru Mahardika menambahkan, kegiatan pengamanan yang dilakukan itu semata-mata untuk mendukung umat agar lebih tenang dalam menjalankan ibadah Paskah. Selain melakukan pengamanan, pihaknya juga melakukan sterilisasi sebelum pelaksanaan Paskah. Ini untuk memastikan bahwa di gereja tersebut aman, atau tidak ada benda-benda berbahaya. “Dengan demikian, bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat yang akan merayakan Hari Raya Paskah ini,” jelasnya kepada awak media, kemarin.

Selama pelaksanaan Paskah, kemarin, hampir semua jemaat di tiap gereja berjalan penuh khidmat dan lancar. Beberapa gereja juga menggelar secara virtual dan tatap muka langsung dengan penerapan protokol kesehatan.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Gereja Santo Yusup, pengetatan keamanan juga dilakukan dalam peribadatan Jumat Agung tersebut. Selain dari aparat keamanan dan Banser, pihak gereja juga melakukan pengamanan secara internal dengan memperketat sistem untuk masuk ke gereja. Para jemaat yang hadir dibatasi. Yakni 25 persen dari kapasitas jemaat. Di hari biasanya, gereja dapat diisi oleh 800-1000 orang.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pengeboman di Gereja Katedral Makasar dan penembakan di Markas Besar Polri baru-baru ini, memantik keprihatinan semua umat. Atas nama kemanusiaan, mereka terdorong merawat persaudaraan dan kerukunan dengan berbagai aksi kemanusiaan. Sebab, sebagai bangsa yang majemuk, kita harus saling jaga.

Seperti yang dilakukan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Cabang Kencong. Mereka melakukan pengamanan pelaksanaan Jumat Agung di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Puger Kulon dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepathan Mojomulyo, kemarin (2/4).

Bersama TNI dan Polri, Banser melakukan pengamanan sejak pagi sekaligus mensterilkan lokasi sebelum gereja digunakan para jemaat. “Kekhawatiran pasti ada dari beberapa aksi yang memperkeruh keadaan, kemarin. Karena kelompok-kelompok radikal masih berkeliaran, kami minta semua personel tetap waspada,” beber Agus Nur Yasin, Ketua PC GP Ansor Kencong.

Kendati muncul insiden teror, beberapa hari lalu, pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Tetap melaksanakan aktivitas seperti sediakala. Ia optimistis, kerukunan umat beragama di Jember bisa terjalin berkat sinergisitas polisi, TNI, dan Banser.

Pengaman serupa juga dilakukan aparat gabungan dari TNI, polisi, dan Banser pada sejumlah gereja di kawasan Jember lainnya. Seperti di Gereja SPM Kaliwates, GKJW Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro, Gereja Katolik Santo Yusup Jalan Kartini Jember, GKJW Sumbersari, dan Gereja GPIB Getsemani Patrang. Bahkan, sejak H-1 jelang perayaan Paskah tersebut, pengamanan sudah dilakukan Banser dan aparat gabungan di tempat peribadatan itu.

“Kami telah meminta semua Ansor tiap kecamatan yang memiliki gereja agar melakukan pengamanan. Dan berkoordinasi dengan kepolisian di tiap kecamatan,” kata Izzul Ashlah, Ketua PC GP Ansor Jember. Keterlibatan Ansor dan Banser dalam kegiatan peribadatan itu dinilainya tidak sekadar untuk pengamanan, tapi lebih jauh dari itu. Ia meyakini, ada hal yang lebih penting untuk terus dijaga dan dirawat, yakni kerukunan.

Wakapolres Jember Kompol Kadek Aru Mahardika menambahkan, kegiatan pengamanan yang dilakukan itu semata-mata untuk mendukung umat agar lebih tenang dalam menjalankan ibadah Paskah. Selain melakukan pengamanan, pihaknya juga melakukan sterilisasi sebelum pelaksanaan Paskah. Ini untuk memastikan bahwa di gereja tersebut aman, atau tidak ada benda-benda berbahaya. “Dengan demikian, bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat yang akan merayakan Hari Raya Paskah ini,” jelasnya kepada awak media, kemarin.

Selama pelaksanaan Paskah, kemarin, hampir semua jemaat di tiap gereja berjalan penuh khidmat dan lancar. Beberapa gereja juga menggelar secara virtual dan tatap muka langsung dengan penerapan protokol kesehatan.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Gereja Santo Yusup, pengetatan keamanan juga dilakukan dalam peribadatan Jumat Agung tersebut. Selain dari aparat keamanan dan Banser, pihak gereja juga melakukan pengamanan secara internal dengan memperketat sistem untuk masuk ke gereja. Para jemaat yang hadir dibatasi. Yakni 25 persen dari kapasitas jemaat. Di hari biasanya, gereja dapat diisi oleh 800-1000 orang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Insiden pengeboman di Gereja Katedral Makasar dan penembakan di Markas Besar Polri baru-baru ini, memantik keprihatinan semua umat. Atas nama kemanusiaan, mereka terdorong merawat persaudaraan dan kerukunan dengan berbagai aksi kemanusiaan. Sebab, sebagai bangsa yang majemuk, kita harus saling jaga.

Seperti yang dilakukan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Cabang Kencong. Mereka melakukan pengamanan pelaksanaan Jumat Agung di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Puger Kulon dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepathan Mojomulyo, kemarin (2/4).

Bersama TNI dan Polri, Banser melakukan pengamanan sejak pagi sekaligus mensterilkan lokasi sebelum gereja digunakan para jemaat. “Kekhawatiran pasti ada dari beberapa aksi yang memperkeruh keadaan, kemarin. Karena kelompok-kelompok radikal masih berkeliaran, kami minta semua personel tetap waspada,” beber Agus Nur Yasin, Ketua PC GP Ansor Kencong.

Kendati muncul insiden teror, beberapa hari lalu, pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Tetap melaksanakan aktivitas seperti sediakala. Ia optimistis, kerukunan umat beragama di Jember bisa terjalin berkat sinergisitas polisi, TNI, dan Banser.

Pengaman serupa juga dilakukan aparat gabungan dari TNI, polisi, dan Banser pada sejumlah gereja di kawasan Jember lainnya. Seperti di Gereja SPM Kaliwates, GKJW Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro, Gereja Katolik Santo Yusup Jalan Kartini Jember, GKJW Sumbersari, dan Gereja GPIB Getsemani Patrang. Bahkan, sejak H-1 jelang perayaan Paskah tersebut, pengamanan sudah dilakukan Banser dan aparat gabungan di tempat peribadatan itu.

“Kami telah meminta semua Ansor tiap kecamatan yang memiliki gereja agar melakukan pengamanan. Dan berkoordinasi dengan kepolisian di tiap kecamatan,” kata Izzul Ashlah, Ketua PC GP Ansor Jember. Keterlibatan Ansor dan Banser dalam kegiatan peribadatan itu dinilainya tidak sekadar untuk pengamanan, tapi lebih jauh dari itu. Ia meyakini, ada hal yang lebih penting untuk terus dijaga dan dirawat, yakni kerukunan.

Wakapolres Jember Kompol Kadek Aru Mahardika menambahkan, kegiatan pengamanan yang dilakukan itu semata-mata untuk mendukung umat agar lebih tenang dalam menjalankan ibadah Paskah. Selain melakukan pengamanan, pihaknya juga melakukan sterilisasi sebelum pelaksanaan Paskah. Ini untuk memastikan bahwa di gereja tersebut aman, atau tidak ada benda-benda berbahaya. “Dengan demikian, bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat yang akan merayakan Hari Raya Paskah ini,” jelasnya kepada awak media, kemarin.

Selama pelaksanaan Paskah, kemarin, hampir semua jemaat di tiap gereja berjalan penuh khidmat dan lancar. Beberapa gereja juga menggelar secara virtual dan tatap muka langsung dengan penerapan protokol kesehatan.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Gereja Santo Yusup, pengetatan keamanan juga dilakukan dalam peribadatan Jumat Agung tersebut. Selain dari aparat keamanan dan Banser, pihak gereja juga melakukan pengamanan secara internal dengan memperketat sistem untuk masuk ke gereja. Para jemaat yang hadir dibatasi. Yakni 25 persen dari kapasitas jemaat. Di hari biasanya, gereja dapat diisi oleh 800-1000 orang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/