alexametrics
26.5 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Anak Korban Banjir Perlu Pendampingan

Karena Sering Menangis dan Cemas

Mobile_AP_Rectangle 1

Seusai membantu, Mario enggan bermain di sungai lantaran masih takut. Hingga saat ini, Mario memilih tidak mandi di sungai. Dia hanya melihat teman sepantarannya mandi di sungai. Ia mengaku masih takut. Padahal dulu, sebelum banjir melanda, Mario nyaris tidak pernah absen mandi di sungai tersebut. Sepertinya apa yang menimpa bocah korban banjir ini butuh penanganan lebih lanjut. Mereka perlu mendapatkan pendampingan psikologis.

Psikolog Marisa Selvy Helphina membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan, idealnya penanganan psikologi pada korban bencana banjir itu dilakukan sesaat setelah evakuasi. Namun, saat ini proses penyelamatan masih terbatas pada fisik dan barang-barang saja. “Harusnya juga konsentrasi ke trauma psikis. Apalagi pada anak lebih susah dibandingkan dengan orang dewasa,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (2/2).

Sebenarnya, kata dia, waktu yang lebih dari tiga hari pascabencana terjadi sudah terlambat. Meski begitu, masih bisa dikejar dengan melakukan langkah-langkah untuk menghindari trauma tersebut. “Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan sama sekali,” ujar perempuan yang karib disapa Icha ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia memaparkan, jika trauma pada anak tidak lekas ditangani, maka akan berdampak pada perubahan perilaku. Paling parah, dapat mengganggu kejiwaan anak. “Panik dan cemas itu adalah gangguan psikologis,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari trauma healing, anak bisa diberi ruang untuk menyampaikan rasa takut dan cemas. Ini agar kondisi mental yang seperti itu tidak mengendap dalam alam bawah sadar mereka. Untuk itu, Icha menegaskan, orang tua harus andil dengan mendengarkan keluh kesah anak-anak mereka. Juga disertai dengan respons dan alasan yang logis. “Memberikan ruang pada anak itu maksudnya biarkan mereka menangis. Jelaskan bahwa perasaan itu juga dialami oleh orang lain,” pungkasnya.

- Advertisement -

Seusai membantu, Mario enggan bermain di sungai lantaran masih takut. Hingga saat ini, Mario memilih tidak mandi di sungai. Dia hanya melihat teman sepantarannya mandi di sungai. Ia mengaku masih takut. Padahal dulu, sebelum banjir melanda, Mario nyaris tidak pernah absen mandi di sungai tersebut. Sepertinya apa yang menimpa bocah korban banjir ini butuh penanganan lebih lanjut. Mereka perlu mendapatkan pendampingan psikologis.

Psikolog Marisa Selvy Helphina membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan, idealnya penanganan psikologi pada korban bencana banjir itu dilakukan sesaat setelah evakuasi. Namun, saat ini proses penyelamatan masih terbatas pada fisik dan barang-barang saja. “Harusnya juga konsentrasi ke trauma psikis. Apalagi pada anak lebih susah dibandingkan dengan orang dewasa,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (2/2).

Sebenarnya, kata dia, waktu yang lebih dari tiga hari pascabencana terjadi sudah terlambat. Meski begitu, masih bisa dikejar dengan melakukan langkah-langkah untuk menghindari trauma tersebut. “Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan sama sekali,” ujar perempuan yang karib disapa Icha ini.

Dia memaparkan, jika trauma pada anak tidak lekas ditangani, maka akan berdampak pada perubahan perilaku. Paling parah, dapat mengganggu kejiwaan anak. “Panik dan cemas itu adalah gangguan psikologis,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari trauma healing, anak bisa diberi ruang untuk menyampaikan rasa takut dan cemas. Ini agar kondisi mental yang seperti itu tidak mengendap dalam alam bawah sadar mereka. Untuk itu, Icha menegaskan, orang tua harus andil dengan mendengarkan keluh kesah anak-anak mereka. Juga disertai dengan respons dan alasan yang logis. “Memberikan ruang pada anak itu maksudnya biarkan mereka menangis. Jelaskan bahwa perasaan itu juga dialami oleh orang lain,” pungkasnya.

Seusai membantu, Mario enggan bermain di sungai lantaran masih takut. Hingga saat ini, Mario memilih tidak mandi di sungai. Dia hanya melihat teman sepantarannya mandi di sungai. Ia mengaku masih takut. Padahal dulu, sebelum banjir melanda, Mario nyaris tidak pernah absen mandi di sungai tersebut. Sepertinya apa yang menimpa bocah korban banjir ini butuh penanganan lebih lanjut. Mereka perlu mendapatkan pendampingan psikologis.

Psikolog Marisa Selvy Helphina membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan, idealnya penanganan psikologi pada korban bencana banjir itu dilakukan sesaat setelah evakuasi. Namun, saat ini proses penyelamatan masih terbatas pada fisik dan barang-barang saja. “Harusnya juga konsentrasi ke trauma psikis. Apalagi pada anak lebih susah dibandingkan dengan orang dewasa,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (2/2).

Sebenarnya, kata dia, waktu yang lebih dari tiga hari pascabencana terjadi sudah terlambat. Meski begitu, masih bisa dikejar dengan melakukan langkah-langkah untuk menghindari trauma tersebut. “Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan sama sekali,” ujar perempuan yang karib disapa Icha ini.

Dia memaparkan, jika trauma pada anak tidak lekas ditangani, maka akan berdampak pada perubahan perilaku. Paling parah, dapat mengganggu kejiwaan anak. “Panik dan cemas itu adalah gangguan psikologis,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari trauma healing, anak bisa diberi ruang untuk menyampaikan rasa takut dan cemas. Ini agar kondisi mental yang seperti itu tidak mengendap dalam alam bawah sadar mereka. Untuk itu, Icha menegaskan, orang tua harus andil dengan mendengarkan keluh kesah anak-anak mereka. Juga disertai dengan respons dan alasan yang logis. “Memberikan ruang pada anak itu maksudnya biarkan mereka menangis. Jelaskan bahwa perasaan itu juga dialami oleh orang lain,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/