alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Bermula dari Sang Anak, Kini Berencana Dirikan Lembaga Terpadu

Sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di Jember bisa dihitung jari. Apalagi yang swasta, hanya satu saja. Rupanya, perjalanan mendirikan sekolah ini tidak mudah. Ada kisah yang sangat personal di dalamnya. Bagaimana ceritanya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk, tenang, dan asri. Inilah kesan pertama saat mendatangi sekolah luar biasa (SLB) di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi. Lembaga yang baru diresmikan awal Maret 2021 lalu itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 1,3 hektare. Lokasinya yang berada di lereng Pegunungan Argopuro membuat lembaga ini menjadi pilihan tepat untuk belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK. Mereka bisa belajar dengan media yang langsung dari alam. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan seperti sekolah-sekolah kebanyakan.

Sekolah inklusi swasta ini juga merupakan lembaga di bawah naungan Yayasan Matahariku Jember yang telah lebih dulu berdiri, sekitar 2008-2009 lalu. Sekolah ini administrasinya langsung ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bahkan sejak berdiri, menjadi satu-satunya lembaga inklusi swasta di Jember.

Namun, di balik itu semua, ada cerita yang mengiringi berdirinya lembaga pendidikan ini. Dari yang awalnya bentuk keprihatinan ke sang buah hati, hingga berujung pada desakan wali murid untuk bisa mendirikan sekolah di jenjang lanjut, juga khusus untuk ABK.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adalah Adenovita Bantilan, perempuan yang berada di balik berdirinya lembaga ini. Inisiator sekaligus Ketua Yayasan Matahariku itu mengisahkan awal kali berdirinya lembaga yang saat itu masih berbentuk yayasan.

Jauh sebelum mendirikan yayasan, ia memiliki seorang anak perempuan yang baru mau memasuki usia dua tahun. Saat itu buah hatinya diketahui autis. Ia tidak tinggal diam. Ade bersama suaminya kerap melakukan pengobatan-pengobatan dan terapi untuk kesembuhan anaknya. Di berbagai daerah dan tempat.

Suatu ketika, ia membawa anaknya ke sebuah klinik pengobatan di Malang. Dari sana, naluri keibuannya kian terketuk saat Ade melihat banyak ABK yang kondisinya lebih memprihatinkan dari anaknya. Batinnya pun gusar tak karuan. “Saya saat itu berpikir, anak-anak ini yaapa sekolahnya. Mereka juga harus mendapat pendidikan layak dan sesuai dengan kondisinya,” kenang Ade.

Sepulang dari pengobatan itu, kemudian muncul keinginan kuat untuk mendirikan lembaga. Ia sangat memahami bagaimana khawatirnya orang tua jika pendidikan anak saat kondisi perekonomian mereka pas-pasan. Sebab, biaya pendidikan untuk ABK di lembaga inklusi negeri tidaklah murah. “Pinginnya saya satu, anak-anak ABK selalu berada di lingkungan yang tepat,” katanya.

Sejak itulah, ia mulai mengurus pendirian yayasan. Awal berdiri itu, yayasannya sebagai klinik tumbuh kembang. Ia juga membuka terapi dan bekerja sama dengan dokter ahli di bidangnya. Saat itu masih beberapa anak yang ikut. Namun, lambat laun, yang mendaftar makin banyak.

Pada 2017 lalu, Ade melanjutkan mendirikan sekolah luar biasa (SLB) untuk TK dan PAUD. “Sejak itu, anak-anak mulai tumbuh besar. Dan banyak desakan, usulan wali murid mereka agar mendirikan SLB itu. Katanya, sudah kadung nyaman dengan lingkungannya,” kata Ade mengisahkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk, tenang, dan asri. Inilah kesan pertama saat mendatangi sekolah luar biasa (SLB) di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi. Lembaga yang baru diresmikan awal Maret 2021 lalu itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 1,3 hektare. Lokasinya yang berada di lereng Pegunungan Argopuro membuat lembaga ini menjadi pilihan tepat untuk belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK. Mereka bisa belajar dengan media yang langsung dari alam. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan seperti sekolah-sekolah kebanyakan.

Sekolah inklusi swasta ini juga merupakan lembaga di bawah naungan Yayasan Matahariku Jember yang telah lebih dulu berdiri, sekitar 2008-2009 lalu. Sekolah ini administrasinya langsung ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bahkan sejak berdiri, menjadi satu-satunya lembaga inklusi swasta di Jember.

Namun, di balik itu semua, ada cerita yang mengiringi berdirinya lembaga pendidikan ini. Dari yang awalnya bentuk keprihatinan ke sang buah hati, hingga berujung pada desakan wali murid untuk bisa mendirikan sekolah di jenjang lanjut, juga khusus untuk ABK.

Adalah Adenovita Bantilan, perempuan yang berada di balik berdirinya lembaga ini. Inisiator sekaligus Ketua Yayasan Matahariku itu mengisahkan awal kali berdirinya lembaga yang saat itu masih berbentuk yayasan.

Jauh sebelum mendirikan yayasan, ia memiliki seorang anak perempuan yang baru mau memasuki usia dua tahun. Saat itu buah hatinya diketahui autis. Ia tidak tinggal diam. Ade bersama suaminya kerap melakukan pengobatan-pengobatan dan terapi untuk kesembuhan anaknya. Di berbagai daerah dan tempat.

Suatu ketika, ia membawa anaknya ke sebuah klinik pengobatan di Malang. Dari sana, naluri keibuannya kian terketuk saat Ade melihat banyak ABK yang kondisinya lebih memprihatinkan dari anaknya. Batinnya pun gusar tak karuan. “Saya saat itu berpikir, anak-anak ini yaapa sekolahnya. Mereka juga harus mendapat pendidikan layak dan sesuai dengan kondisinya,” kenang Ade.

Sepulang dari pengobatan itu, kemudian muncul keinginan kuat untuk mendirikan lembaga. Ia sangat memahami bagaimana khawatirnya orang tua jika pendidikan anak saat kondisi perekonomian mereka pas-pasan. Sebab, biaya pendidikan untuk ABK di lembaga inklusi negeri tidaklah murah. “Pinginnya saya satu, anak-anak ABK selalu berada di lingkungan yang tepat,” katanya.

Sejak itulah, ia mulai mengurus pendirian yayasan. Awal berdiri itu, yayasannya sebagai klinik tumbuh kembang. Ia juga membuka terapi dan bekerja sama dengan dokter ahli di bidangnya. Saat itu masih beberapa anak yang ikut. Namun, lambat laun, yang mendaftar makin banyak.

Pada 2017 lalu, Ade melanjutkan mendirikan sekolah luar biasa (SLB) untuk TK dan PAUD. “Sejak itu, anak-anak mulai tumbuh besar. Dan banyak desakan, usulan wali murid mereka agar mendirikan SLB itu. Katanya, sudah kadung nyaman dengan lingkungannya,” kata Ade mengisahkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejuk, tenang, dan asri. Inilah kesan pertama saat mendatangi sekolah luar biasa (SLB) di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi. Lembaga yang baru diresmikan awal Maret 2021 lalu itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 1,3 hektare. Lokasinya yang berada di lereng Pegunungan Argopuro membuat lembaga ini menjadi pilihan tepat untuk belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK. Mereka bisa belajar dengan media yang langsung dari alam. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan seperti sekolah-sekolah kebanyakan.

Sekolah inklusi swasta ini juga merupakan lembaga di bawah naungan Yayasan Matahariku Jember yang telah lebih dulu berdiri, sekitar 2008-2009 lalu. Sekolah ini administrasinya langsung ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bahkan sejak berdiri, menjadi satu-satunya lembaga inklusi swasta di Jember.

Namun, di balik itu semua, ada cerita yang mengiringi berdirinya lembaga pendidikan ini. Dari yang awalnya bentuk keprihatinan ke sang buah hati, hingga berujung pada desakan wali murid untuk bisa mendirikan sekolah di jenjang lanjut, juga khusus untuk ABK.

Adalah Adenovita Bantilan, perempuan yang berada di balik berdirinya lembaga ini. Inisiator sekaligus Ketua Yayasan Matahariku itu mengisahkan awal kali berdirinya lembaga yang saat itu masih berbentuk yayasan.

Jauh sebelum mendirikan yayasan, ia memiliki seorang anak perempuan yang baru mau memasuki usia dua tahun. Saat itu buah hatinya diketahui autis. Ia tidak tinggal diam. Ade bersama suaminya kerap melakukan pengobatan-pengobatan dan terapi untuk kesembuhan anaknya. Di berbagai daerah dan tempat.

Suatu ketika, ia membawa anaknya ke sebuah klinik pengobatan di Malang. Dari sana, naluri keibuannya kian terketuk saat Ade melihat banyak ABK yang kondisinya lebih memprihatinkan dari anaknya. Batinnya pun gusar tak karuan. “Saya saat itu berpikir, anak-anak ini yaapa sekolahnya. Mereka juga harus mendapat pendidikan layak dan sesuai dengan kondisinya,” kenang Ade.

Sepulang dari pengobatan itu, kemudian muncul keinginan kuat untuk mendirikan lembaga. Ia sangat memahami bagaimana khawatirnya orang tua jika pendidikan anak saat kondisi perekonomian mereka pas-pasan. Sebab, biaya pendidikan untuk ABK di lembaga inklusi negeri tidaklah murah. “Pinginnya saya satu, anak-anak ABK selalu berada di lingkungan yang tepat,” katanya.

Sejak itulah, ia mulai mengurus pendirian yayasan. Awal berdiri itu, yayasannya sebagai klinik tumbuh kembang. Ia juga membuka terapi dan bekerja sama dengan dokter ahli di bidangnya. Saat itu masih beberapa anak yang ikut. Namun, lambat laun, yang mendaftar makin banyak.

Pada 2017 lalu, Ade melanjutkan mendirikan sekolah luar biasa (SLB) untuk TK dan PAUD. “Sejak itu, anak-anak mulai tumbuh besar. Dan banyak desakan, usulan wali murid mereka agar mendirikan SLB itu. Katanya, sudah kadung nyaman dengan lingkungannya,” kata Ade mengisahkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/