alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Bangunan Kebanggaan, tapi Tak Digunakan Maksimal

Setelah sepi pertandingan akibat pandemi, Jember Sport Garden (JSG) sempat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai tempat isolasi. Namun kini, stadion standar FIFA kelas B itu sepi lagi. Lalu, apa guna bangunan sebesar itu, tapi miskin fungsi?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari belum lama bergeser dari atas kepala. Sinarnya perlahan bergerak dan cahayanya tak lagi membuat panas seluruh lapangan. Maklum, ada bangunan atap tinggi yang menjulang ke langit. Sehingga, pukul 13.00, sudah ada tempat teduh di pinggir lapangan.

Hampir 30 menit, Jawa Pos Radar Jember bersantai di lapangan itu. Sejak masuk ke areal JSG, belum satu pun orang yang menunjukkan batang hidungnya. Hanya ada satu sepeda motor yang terparkir di luar lapangan.

Suasana sepi seperti itu setidaknya bukan hal baru di JSG. Sebelumnya, selama beberapa bulan, JSG memang sempat dipakai sebagai tempat isolasi akibat hadirnya wabah korona. Namun, setelah isolasi tak ada lagi sejak Maret lalu, kini JSG kesepian lagi. Bangunan itu jarang ditempati. Baik oleh para pemain sepak bola, atlet, ataupun kegiatan yang lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sepinya JSG nyaris seperti gambaran sepinya event olahraga, khususnya di Jember, berapa tahun terakhir. Namun, apakah stadion sebesar itu hanya untuk gagah-gagahan, tanpa dimanfaatkan secara maksimal? Sebab, sejauh ini kegiatan di dalamnya masih sangat jarang. Catatan Jawa Pos Radar Jember, event besar terakhir yang pernah berlangsung yakni kampanye Presiden Joko Widodo saat pencalonan kali kedua lalu.

Setelah 30 menit berlalu, suasana dan keadaan JSG tak sesuai dengan arsitekturnya yang modern. Rumputnya tinggi. Bahkan, beberapa rumput mencapai selutut orang dewasa. Tanaman liar pun terlihat di beberapa bagian lapangan.

Tak lama setelah itu, ketika masuk ke ruangan yang dulu dipakai menjadi tempat isolasi, pintunya tak terkunci. Lampu-lampu menyala dan jumlahnya ada banyak. Sempat bermaksud menghitungnya, tetapi urung. Sebab, keburu melihat lift dan ingin naik ke lantai dua. Setelah berkeliling, tak ada satu pun orang yang ditemui di beberapa ruang yang dilewati.

Kondisi JSG memprihatinkan. Bangunan yang dulu menjadi kebanggaan, tak dimanfaatkan dengan baik. Dana besar yang mencapai Rp 200 miliar habis untuk membangunnya. Kini, justru harus keluar uang terus untuk merawatnya. Lantas, kapan JSG dimanfaatkan?

Setelah berjalan di lantai dua, selanjutnya beranjak keluar gedung. Di lantai bawah, ada pemandangan yang sama. Sepi. Sesegera menuju ke sepeda motor dan tancap gas meninggalkan lapangan hijau nan cukup gersang tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari belum lama bergeser dari atas kepala. Sinarnya perlahan bergerak dan cahayanya tak lagi membuat panas seluruh lapangan. Maklum, ada bangunan atap tinggi yang menjulang ke langit. Sehingga, pukul 13.00, sudah ada tempat teduh di pinggir lapangan.

Hampir 30 menit, Jawa Pos Radar Jember bersantai di lapangan itu. Sejak masuk ke areal JSG, belum satu pun orang yang menunjukkan batang hidungnya. Hanya ada satu sepeda motor yang terparkir di luar lapangan.

Suasana sepi seperti itu setidaknya bukan hal baru di JSG. Sebelumnya, selama beberapa bulan, JSG memang sempat dipakai sebagai tempat isolasi akibat hadirnya wabah korona. Namun, setelah isolasi tak ada lagi sejak Maret lalu, kini JSG kesepian lagi. Bangunan itu jarang ditempati. Baik oleh para pemain sepak bola, atlet, ataupun kegiatan yang lain.

Sepinya JSG nyaris seperti gambaran sepinya event olahraga, khususnya di Jember, berapa tahun terakhir. Namun, apakah stadion sebesar itu hanya untuk gagah-gagahan, tanpa dimanfaatkan secara maksimal? Sebab, sejauh ini kegiatan di dalamnya masih sangat jarang. Catatan Jawa Pos Radar Jember, event besar terakhir yang pernah berlangsung yakni kampanye Presiden Joko Widodo saat pencalonan kali kedua lalu.

Setelah 30 menit berlalu, suasana dan keadaan JSG tak sesuai dengan arsitekturnya yang modern. Rumputnya tinggi. Bahkan, beberapa rumput mencapai selutut orang dewasa. Tanaman liar pun terlihat di beberapa bagian lapangan.

Tak lama setelah itu, ketika masuk ke ruangan yang dulu dipakai menjadi tempat isolasi, pintunya tak terkunci. Lampu-lampu menyala dan jumlahnya ada banyak. Sempat bermaksud menghitungnya, tetapi urung. Sebab, keburu melihat lift dan ingin naik ke lantai dua. Setelah berkeliling, tak ada satu pun orang yang ditemui di beberapa ruang yang dilewati.

Kondisi JSG memprihatinkan. Bangunan yang dulu menjadi kebanggaan, tak dimanfaatkan dengan baik. Dana besar yang mencapai Rp 200 miliar habis untuk membangunnya. Kini, justru harus keluar uang terus untuk merawatnya. Lantas, kapan JSG dimanfaatkan?

Setelah berjalan di lantai dua, selanjutnya beranjak keluar gedung. Di lantai bawah, ada pemandangan yang sama. Sepi. Sesegera menuju ke sepeda motor dan tancap gas meninggalkan lapangan hijau nan cukup gersang tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari belum lama bergeser dari atas kepala. Sinarnya perlahan bergerak dan cahayanya tak lagi membuat panas seluruh lapangan. Maklum, ada bangunan atap tinggi yang menjulang ke langit. Sehingga, pukul 13.00, sudah ada tempat teduh di pinggir lapangan.

Hampir 30 menit, Jawa Pos Radar Jember bersantai di lapangan itu. Sejak masuk ke areal JSG, belum satu pun orang yang menunjukkan batang hidungnya. Hanya ada satu sepeda motor yang terparkir di luar lapangan.

Suasana sepi seperti itu setidaknya bukan hal baru di JSG. Sebelumnya, selama beberapa bulan, JSG memang sempat dipakai sebagai tempat isolasi akibat hadirnya wabah korona. Namun, setelah isolasi tak ada lagi sejak Maret lalu, kini JSG kesepian lagi. Bangunan itu jarang ditempati. Baik oleh para pemain sepak bola, atlet, ataupun kegiatan yang lain.

Sepinya JSG nyaris seperti gambaran sepinya event olahraga, khususnya di Jember, berapa tahun terakhir. Namun, apakah stadion sebesar itu hanya untuk gagah-gagahan, tanpa dimanfaatkan secara maksimal? Sebab, sejauh ini kegiatan di dalamnya masih sangat jarang. Catatan Jawa Pos Radar Jember, event besar terakhir yang pernah berlangsung yakni kampanye Presiden Joko Widodo saat pencalonan kali kedua lalu.

Setelah 30 menit berlalu, suasana dan keadaan JSG tak sesuai dengan arsitekturnya yang modern. Rumputnya tinggi. Bahkan, beberapa rumput mencapai selutut orang dewasa. Tanaman liar pun terlihat di beberapa bagian lapangan.

Tak lama setelah itu, ketika masuk ke ruangan yang dulu dipakai menjadi tempat isolasi, pintunya tak terkunci. Lampu-lampu menyala dan jumlahnya ada banyak. Sempat bermaksud menghitungnya, tetapi urung. Sebab, keburu melihat lift dan ingin naik ke lantai dua. Setelah berkeliling, tak ada satu pun orang yang ditemui di beberapa ruang yang dilewati.

Kondisi JSG memprihatinkan. Bangunan yang dulu menjadi kebanggaan, tak dimanfaatkan dengan baik. Dana besar yang mencapai Rp 200 miliar habis untuk membangunnya. Kini, justru harus keluar uang terus untuk merawatnya. Lantas, kapan JSG dimanfaatkan?

Setelah berjalan di lantai dua, selanjutnya beranjak keluar gedung. Di lantai bawah, ada pemandangan yang sama. Sepi. Sesegera menuju ke sepeda motor dan tancap gas meninggalkan lapangan hijau nan cukup gersang tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/