alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Alat Ukur Sampah Eror

Penambahan Volume Limbah Gunakan Perkiraan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah di Jember rupanya tak hanya soal BBM truk sampah yang sempat mencuat, beberapa waktu lalu. Tapi, juga rusaknya jembatan timbang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Akibatnya, perhitungan limbah rumah tangga yang dihasilkan tiap hari terganggu. Jumlah penambahan sampah tak bisa dihitung secara terperinci, karena dinas hanya memakai perkiraan.

Kepala Bidang Pengolahan Kebersihan dan Sampah Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Adrian S Sapnadi mengakui, jumlah sampah yang masuk ke TPA Pakusari tidak bisa terperinci. “Tidak bisa diperinci setiap hari berapa sampah yang masuk ke TPA. Kami hanya memakai rata-rata dengan menghitung secara manual saja,” jelasnya.

Menurut dia, selama jembatan timbang itu rusak, cara menghitungnya adalah setiap truk sampah yang masuk dalam sehari berapa. Selanjutnya, dicatat manual dan dihitung berdasarkan kapasitas truk pengangkut sampah. Diperkirakan, setiap truk hanya mampu mengangkut antara 3-4 ton sampah. Data dari DKLH Jember, pada Januari sampai Februari, rata-rata mencapai 145 ton per hari. Ini artinya, truk yang membuang sampah di TPA Pakusari sekitar 36 armada.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengapa tidak bisa mencatat secara terperinci, dan hanya memakai ukuran rata-rata truk yang masuk? Adrian menjelaskan, karena alat timbang tidak berfungsi optimal. “Alat timbangnya bukan rusak, melainkan tidak bisa connect ke aplikasi. Sehingga, secara keseluruhan pencatatan sampai di TPA Pakusari tetap berjalan, tapi tidak optimal,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah di Jember rupanya tak hanya soal BBM truk sampah yang sempat mencuat, beberapa waktu lalu. Tapi, juga rusaknya jembatan timbang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Akibatnya, perhitungan limbah rumah tangga yang dihasilkan tiap hari terganggu. Jumlah penambahan sampah tak bisa dihitung secara terperinci, karena dinas hanya memakai perkiraan.

Kepala Bidang Pengolahan Kebersihan dan Sampah Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Adrian S Sapnadi mengakui, jumlah sampah yang masuk ke TPA Pakusari tidak bisa terperinci. “Tidak bisa diperinci setiap hari berapa sampah yang masuk ke TPA. Kami hanya memakai rata-rata dengan menghitung secara manual saja,” jelasnya.

Menurut dia, selama jembatan timbang itu rusak, cara menghitungnya adalah setiap truk sampah yang masuk dalam sehari berapa. Selanjutnya, dicatat manual dan dihitung berdasarkan kapasitas truk pengangkut sampah. Diperkirakan, setiap truk hanya mampu mengangkut antara 3-4 ton sampah. Data dari DKLH Jember, pada Januari sampai Februari, rata-rata mencapai 145 ton per hari. Ini artinya, truk yang membuang sampah di TPA Pakusari sekitar 36 armada.

Mengapa tidak bisa mencatat secara terperinci, dan hanya memakai ukuran rata-rata truk yang masuk? Adrian menjelaskan, karena alat timbang tidak berfungsi optimal. “Alat timbangnya bukan rusak, melainkan tidak bisa connect ke aplikasi. Sehingga, secara keseluruhan pencatatan sampai di TPA Pakusari tetap berjalan, tapi tidak optimal,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah di Jember rupanya tak hanya soal BBM truk sampah yang sempat mencuat, beberapa waktu lalu. Tapi, juga rusaknya jembatan timbang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Akibatnya, perhitungan limbah rumah tangga yang dihasilkan tiap hari terganggu. Jumlah penambahan sampah tak bisa dihitung secara terperinci, karena dinas hanya memakai perkiraan.

Kepala Bidang Pengolahan Kebersihan dan Sampah Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Adrian S Sapnadi mengakui, jumlah sampah yang masuk ke TPA Pakusari tidak bisa terperinci. “Tidak bisa diperinci setiap hari berapa sampah yang masuk ke TPA. Kami hanya memakai rata-rata dengan menghitung secara manual saja,” jelasnya.

Menurut dia, selama jembatan timbang itu rusak, cara menghitungnya adalah setiap truk sampah yang masuk dalam sehari berapa. Selanjutnya, dicatat manual dan dihitung berdasarkan kapasitas truk pengangkut sampah. Diperkirakan, setiap truk hanya mampu mengangkut antara 3-4 ton sampah. Data dari DKLH Jember, pada Januari sampai Februari, rata-rata mencapai 145 ton per hari. Ini artinya, truk yang membuang sampah di TPA Pakusari sekitar 36 armada.

Mengapa tidak bisa mencatat secara terperinci, dan hanya memakai ukuran rata-rata truk yang masuk? Adrian menjelaskan, karena alat timbang tidak berfungsi optimal. “Alat timbangnya bukan rusak, melainkan tidak bisa connect ke aplikasi. Sehingga, secara keseluruhan pencatatan sampai di TPA Pakusari tetap berjalan, tapi tidak optimal,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/