27.8 C
Jember
Monday, 27 March 2023

Toleransi Tinggi, Warga Muslim Panti Jaga Perayaan Imlek Klenteng Pay Lien

Indahnya Toleransi Warga di Sekitar Kelenteng Pay Lien San

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap toleransi warga di sekitar Klenteng Pay Lien San, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, tak perlu diragukan. Sikap mereka layak ditiru oleh semua umat beragama. Dalam peringatan Tahun Baru Imlek kemarin (1/2), sejumlah umat Islam bergabung bersama Polri dan TNI guna memastikan kelancaran ibadah warga Jember tersebut.

Menurut Suryo, tokoh agama setempat, penjagaan keamanan Imlek di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Bahkan, mereka menganggap perayaan Imlek sudah seperti hari raya juga bagi mereka. Apalagi, kelenteng tersebut dulunya memang dibangun bersama masyarakat suku Jawa yang tinggal di wilayah tersebut.

Suryo menyebut, pendiri TITD itu juga merupakan sosok yang ramah dan menganggap tetangganya sebagai saudara sendiri. “Nenek moyang kita sama-sama orang Jawa, dan kita mau tidak mau harus ikut menjaga tanpa disuruh,” ungkapnya saat ditemui awak media, Selasa (1/2).

Mobile_AP_Rectangle 2

Baginya, semua umat Konghucu juga menjadi saudara bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TITD. “Kita ini masih saudara semua. Cuma, kan beda agama, dan itu sudah hal biasa,” tuturnya.

Penjagaan perayaan Imlek bahkan dilakukan sejak sehari sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga warga yang sudah lanjut usia (lansia).

Penjagaan itu dilakukan dengan cara mempersilakan para pengunjung yang memasuki TITD. Ibaratnya, mereka menjadi tuan rumah yang menyambut kedatangan para jamaah. Di sisi lain, ada juga umat muslim yang menertibkan area parkiran. Bahkan, ada pula yang turut membantu membawa perlengkapan peribadatan seperti menata lilin dan menyapu halaman kelenteng. Mereka semua melakukannya dengan sukarela dan tetap tampil dengan ciri khas Islam Indonesia. Yakni memakai peci, baju koko, juga sarung.

Nah, selama ibadah pada perayaan Imlek berlangsung, suasana di sekitar kelenteng cukup ramai. Bahkan, umat Islam dan Konghucu saling bercengkerama. Maklum, sebagian besar dari para jamaah adalah tetangga warga umat muslim yang ikut berjaga bersama Polri dan TNI.

Jurnalis: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Nur Hariri

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap toleransi warga di sekitar Klenteng Pay Lien San, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, tak perlu diragukan. Sikap mereka layak ditiru oleh semua umat beragama. Dalam peringatan Tahun Baru Imlek kemarin (1/2), sejumlah umat Islam bergabung bersama Polri dan TNI guna memastikan kelancaran ibadah warga Jember tersebut.

Menurut Suryo, tokoh agama setempat, penjagaan keamanan Imlek di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Bahkan, mereka menganggap perayaan Imlek sudah seperti hari raya juga bagi mereka. Apalagi, kelenteng tersebut dulunya memang dibangun bersama masyarakat suku Jawa yang tinggal di wilayah tersebut.

Suryo menyebut, pendiri TITD itu juga merupakan sosok yang ramah dan menganggap tetangganya sebagai saudara sendiri. “Nenek moyang kita sama-sama orang Jawa, dan kita mau tidak mau harus ikut menjaga tanpa disuruh,” ungkapnya saat ditemui awak media, Selasa (1/2).

Baginya, semua umat Konghucu juga menjadi saudara bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TITD. “Kita ini masih saudara semua. Cuma, kan beda agama, dan itu sudah hal biasa,” tuturnya.

Penjagaan perayaan Imlek bahkan dilakukan sejak sehari sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga warga yang sudah lanjut usia (lansia).

Penjagaan itu dilakukan dengan cara mempersilakan para pengunjung yang memasuki TITD. Ibaratnya, mereka menjadi tuan rumah yang menyambut kedatangan para jamaah. Di sisi lain, ada juga umat muslim yang menertibkan area parkiran. Bahkan, ada pula yang turut membantu membawa perlengkapan peribadatan seperti menata lilin dan menyapu halaman kelenteng. Mereka semua melakukannya dengan sukarela dan tetap tampil dengan ciri khas Islam Indonesia. Yakni memakai peci, baju koko, juga sarung.

Nah, selama ibadah pada perayaan Imlek berlangsung, suasana di sekitar kelenteng cukup ramai. Bahkan, umat Islam dan Konghucu saling bercengkerama. Maklum, sebagian besar dari para jamaah adalah tetangga warga umat muslim yang ikut berjaga bersama Polri dan TNI.

Jurnalis: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Nur Hariri

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap toleransi warga di sekitar Klenteng Pay Lien San, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, tak perlu diragukan. Sikap mereka layak ditiru oleh semua umat beragama. Dalam peringatan Tahun Baru Imlek kemarin (1/2), sejumlah umat Islam bergabung bersama Polri dan TNI guna memastikan kelancaran ibadah warga Jember tersebut.

Menurut Suryo, tokoh agama setempat, penjagaan keamanan Imlek di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Bahkan, mereka menganggap perayaan Imlek sudah seperti hari raya juga bagi mereka. Apalagi, kelenteng tersebut dulunya memang dibangun bersama masyarakat suku Jawa yang tinggal di wilayah tersebut.

Suryo menyebut, pendiri TITD itu juga merupakan sosok yang ramah dan menganggap tetangganya sebagai saudara sendiri. “Nenek moyang kita sama-sama orang Jawa, dan kita mau tidak mau harus ikut menjaga tanpa disuruh,” ungkapnya saat ditemui awak media, Selasa (1/2).

Baginya, semua umat Konghucu juga menjadi saudara bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TITD. “Kita ini masih saudara semua. Cuma, kan beda agama, dan itu sudah hal biasa,” tuturnya.

Penjagaan perayaan Imlek bahkan dilakukan sejak sehari sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga warga yang sudah lanjut usia (lansia).

Penjagaan itu dilakukan dengan cara mempersilakan para pengunjung yang memasuki TITD. Ibaratnya, mereka menjadi tuan rumah yang menyambut kedatangan para jamaah. Di sisi lain, ada juga umat muslim yang menertibkan area parkiran. Bahkan, ada pula yang turut membantu membawa perlengkapan peribadatan seperti menata lilin dan menyapu halaman kelenteng. Mereka semua melakukannya dengan sukarela dan tetap tampil dengan ciri khas Islam Indonesia. Yakni memakai peci, baju koko, juga sarung.

Nah, selama ibadah pada perayaan Imlek berlangsung, suasana di sekitar kelenteng cukup ramai. Bahkan, umat Islam dan Konghucu saling bercengkerama. Maklum, sebagian besar dari para jamaah adalah tetangga warga umat muslim yang ikut berjaga bersama Polri dan TNI.

Jurnalis: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca