alexametrics
25.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Napi Binaan Dikabarkan Bisa Pelesiran

Mencuat setelah Muncul Dugaan Pemerasan oleh Wartawan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar miring menimpa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jember. Jelang purnatugas, Kepala Lapas Yandi Suyandi diwartakan menjadi korban pemerasan oleh wartawan. Informasi itu mencuat setelah ada salah seorang mantan narapidana (napi) yang mengadukan perkara itu ke Polres Jember.

Santernya kabar dugaan pemerasan ini menjadi kado hitam bagi Yandi di hari dia purnatugas. Sebab, di dalam surat pengaduan yang sama, tabir gelap praktik pengistimewaan napi di dalam lapas seolah terbuka. Ditengarai, ada napi kasus obat keras berbahaya (okerbaya) asal Sumbersari yang bebas pelesiran keluar lapas. Dia mendapatkan privilese lantaran mendapat bantuan dari oknum petugas. Padahal di waktu yang sama, dia masih menjadi warga binaan alias belum bebas.

Dari surat yang beredar, pengaduan itu atas nama Anton Hartono Sukardi, warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Dalam warkat tertanggal 26 Juni itu, dia mengadukan Eveline Christanty alias Eva, seorang wartawan media daring. Eva diadukan atas dugaan pengancaman dan pemerasan terhadap Kepala Lapas Yandi Suyandi.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA : Belasan Anak Tertular Virus Korona

Surat itu juga menjelaskan kronologi dugaan pemerasan. Awalnya, Eva bersama sejumlah teman wartawan lain menyampaikan surat somasi kepada Kepala Lapas Kelas II A Jember Yandi Suyandi (sekarang sudah purnatugas) pada 11 April lalu. Somasi itu dikirim melalui W, yang disebut sebagai kepala pengamanan lapas. Isinya berupa ancaman akan mempublikasikan informasi ke beberapa media lantaran ada praktik pengistimewaan napi berinisial MS, napi kasus okerbaya.

Eva disebut meminta bantuan W agar menyampaikan kepada MS supaya menyiapkan duit Rp 300 juta sebagai uang tutup mulut. Sebab, MS mendapatkan hak istimewa dengan bebas keluar masuk lapas. Padahal tidak sedang dalam program asimilasi. Surat pengaduan itu juga menerangkan, Eva kembali menghubungi W melalui pesan WhatsApp pada 13 April untuk memastikan uang tutup mulut tersebut.

Lebih lanjut, Eva juga dituding menemui MS di lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang tutup mulut secara langsung. Hingga berhasil mendapatkan sebanyak Rp 12 juta dari Rp 300 juta yang diminta. Duit itu diserahkan sebanyak tiga kali. Yakni pada 22 April, 25 April, dan 26 April.

Jawa Pos Radar Jember berusaha menghubungi nomor kontak dalam surat yang disebut milik Anton. Hal ini untuk memastikan apakah surat pengaduan itu benar-benar dia yang membuat, atau ada orang lain yang membikin dengan mencatut namanya. Namun, upaya meminta penjelasan tidak membuahkan hasil. Meski tersambung, sambungan telepon yang masuk itu tak diangkat. Pesan singkat yang dikirim juga tak dibalas.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Eva membantah hal tersebut. Dia menampik semua tudingan seperti yang disebut dalam surat pengaduan. Bahkan, dia bersedia dikonfrontasi dengan pengadu jika kasus itu masuk ke meja polisi. “Intinya, saya tidak pernah melakukan pemerasan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (30/6).

Eva memberi beberapa argumentasi. Menurutnya, apa yang disebutkan dalam surat pengaduan itu tidak masuk akal dan janggal. Pertama, kata dia, pengadu adalah mantan napi yang dia yakini tidak paham terkait dengan bahasa hukum. Kedua, disebutkan dalam surat pengaduan bahwa dirinya keluar masuk lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang.

“Mana mungkin saya bisa keluar masuk seenaknya. Kan ada petugas. Tentu saja, ada mekanisme koordinasi dengan petugas dulu karena takut salah. Jadi, mana mungkin saya bisa memeras,” ujarnya. Ditanya tentang perolehan uang sebanyak Rp 12 juta, dia juga menampik. Sebab, Eva mengaku sama sekali tidak menerima uang itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar miring menimpa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jember. Jelang purnatugas, Kepala Lapas Yandi Suyandi diwartakan menjadi korban pemerasan oleh wartawan. Informasi itu mencuat setelah ada salah seorang mantan narapidana (napi) yang mengadukan perkara itu ke Polres Jember.

Santernya kabar dugaan pemerasan ini menjadi kado hitam bagi Yandi di hari dia purnatugas. Sebab, di dalam surat pengaduan yang sama, tabir gelap praktik pengistimewaan napi di dalam lapas seolah terbuka. Ditengarai, ada napi kasus obat keras berbahaya (okerbaya) asal Sumbersari yang bebas pelesiran keluar lapas. Dia mendapatkan privilese lantaran mendapat bantuan dari oknum petugas. Padahal di waktu yang sama, dia masih menjadi warga binaan alias belum bebas.

Dari surat yang beredar, pengaduan itu atas nama Anton Hartono Sukardi, warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Dalam warkat tertanggal 26 Juni itu, dia mengadukan Eveline Christanty alias Eva, seorang wartawan media daring. Eva diadukan atas dugaan pengancaman dan pemerasan terhadap Kepala Lapas Yandi Suyandi.

BACA JUGA : Belasan Anak Tertular Virus Korona

Surat itu juga menjelaskan kronologi dugaan pemerasan. Awalnya, Eva bersama sejumlah teman wartawan lain menyampaikan surat somasi kepada Kepala Lapas Kelas II A Jember Yandi Suyandi (sekarang sudah purnatugas) pada 11 April lalu. Somasi itu dikirim melalui W, yang disebut sebagai kepala pengamanan lapas. Isinya berupa ancaman akan mempublikasikan informasi ke beberapa media lantaran ada praktik pengistimewaan napi berinisial MS, napi kasus okerbaya.

Eva disebut meminta bantuan W agar menyampaikan kepada MS supaya menyiapkan duit Rp 300 juta sebagai uang tutup mulut. Sebab, MS mendapatkan hak istimewa dengan bebas keluar masuk lapas. Padahal tidak sedang dalam program asimilasi. Surat pengaduan itu juga menerangkan, Eva kembali menghubungi W melalui pesan WhatsApp pada 13 April untuk memastikan uang tutup mulut tersebut.

Lebih lanjut, Eva juga dituding menemui MS di lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang tutup mulut secara langsung. Hingga berhasil mendapatkan sebanyak Rp 12 juta dari Rp 300 juta yang diminta. Duit itu diserahkan sebanyak tiga kali. Yakni pada 22 April, 25 April, dan 26 April.

Jawa Pos Radar Jember berusaha menghubungi nomor kontak dalam surat yang disebut milik Anton. Hal ini untuk memastikan apakah surat pengaduan itu benar-benar dia yang membuat, atau ada orang lain yang membikin dengan mencatut namanya. Namun, upaya meminta penjelasan tidak membuahkan hasil. Meski tersambung, sambungan telepon yang masuk itu tak diangkat. Pesan singkat yang dikirim juga tak dibalas.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Eva membantah hal tersebut. Dia menampik semua tudingan seperti yang disebut dalam surat pengaduan. Bahkan, dia bersedia dikonfrontasi dengan pengadu jika kasus itu masuk ke meja polisi. “Intinya, saya tidak pernah melakukan pemerasan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (30/6).

Eva memberi beberapa argumentasi. Menurutnya, apa yang disebutkan dalam surat pengaduan itu tidak masuk akal dan janggal. Pertama, kata dia, pengadu adalah mantan napi yang dia yakini tidak paham terkait dengan bahasa hukum. Kedua, disebutkan dalam surat pengaduan bahwa dirinya keluar masuk lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang.

“Mana mungkin saya bisa keluar masuk seenaknya. Kan ada petugas. Tentu saja, ada mekanisme koordinasi dengan petugas dulu karena takut salah. Jadi, mana mungkin saya bisa memeras,” ujarnya. Ditanya tentang perolehan uang sebanyak Rp 12 juta, dia juga menampik. Sebab, Eva mengaku sama sekali tidak menerima uang itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar miring menimpa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Jember. Jelang purnatugas, Kepala Lapas Yandi Suyandi diwartakan menjadi korban pemerasan oleh wartawan. Informasi itu mencuat setelah ada salah seorang mantan narapidana (napi) yang mengadukan perkara itu ke Polres Jember.

Santernya kabar dugaan pemerasan ini menjadi kado hitam bagi Yandi di hari dia purnatugas. Sebab, di dalam surat pengaduan yang sama, tabir gelap praktik pengistimewaan napi di dalam lapas seolah terbuka. Ditengarai, ada napi kasus obat keras berbahaya (okerbaya) asal Sumbersari yang bebas pelesiran keluar lapas. Dia mendapatkan privilese lantaran mendapat bantuan dari oknum petugas. Padahal di waktu yang sama, dia masih menjadi warga binaan alias belum bebas.

Dari surat yang beredar, pengaduan itu atas nama Anton Hartono Sukardi, warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Dalam warkat tertanggal 26 Juni itu, dia mengadukan Eveline Christanty alias Eva, seorang wartawan media daring. Eva diadukan atas dugaan pengancaman dan pemerasan terhadap Kepala Lapas Yandi Suyandi.

BACA JUGA : Belasan Anak Tertular Virus Korona

Surat itu juga menjelaskan kronologi dugaan pemerasan. Awalnya, Eva bersama sejumlah teman wartawan lain menyampaikan surat somasi kepada Kepala Lapas Kelas II A Jember Yandi Suyandi (sekarang sudah purnatugas) pada 11 April lalu. Somasi itu dikirim melalui W, yang disebut sebagai kepala pengamanan lapas. Isinya berupa ancaman akan mempublikasikan informasi ke beberapa media lantaran ada praktik pengistimewaan napi berinisial MS, napi kasus okerbaya.

Eva disebut meminta bantuan W agar menyampaikan kepada MS supaya menyiapkan duit Rp 300 juta sebagai uang tutup mulut. Sebab, MS mendapatkan hak istimewa dengan bebas keluar masuk lapas. Padahal tidak sedang dalam program asimilasi. Surat pengaduan itu juga menerangkan, Eva kembali menghubungi W melalui pesan WhatsApp pada 13 April untuk memastikan uang tutup mulut tersebut.

Lebih lanjut, Eva juga dituding menemui MS di lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang tutup mulut secara langsung. Hingga berhasil mendapatkan sebanyak Rp 12 juta dari Rp 300 juta yang diminta. Duit itu diserahkan sebanyak tiga kali. Yakni pada 22 April, 25 April, dan 26 April.

Jawa Pos Radar Jember berusaha menghubungi nomor kontak dalam surat yang disebut milik Anton. Hal ini untuk memastikan apakah surat pengaduan itu benar-benar dia yang membuat, atau ada orang lain yang membikin dengan mencatut namanya. Namun, upaya meminta penjelasan tidak membuahkan hasil. Meski tersambung, sambungan telepon yang masuk itu tak diangkat. Pesan singkat yang dikirim juga tak dibalas.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Eva membantah hal tersebut. Dia menampik semua tudingan seperti yang disebut dalam surat pengaduan. Bahkan, dia bersedia dikonfrontasi dengan pengadu jika kasus itu masuk ke meja polisi. “Intinya, saya tidak pernah melakukan pemerasan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (30/6).

Eva memberi beberapa argumentasi. Menurutnya, apa yang disebutkan dalam surat pengaduan itu tidak masuk akal dan janggal. Pertama, kata dia, pengadu adalah mantan napi yang dia yakini tidak paham terkait dengan bahasa hukum. Kedua, disebutkan dalam surat pengaduan bahwa dirinya keluar masuk lapas sebanyak tiga kali untuk meminta uang.

“Mana mungkin saya bisa keluar masuk seenaknya. Kan ada petugas. Tentu saja, ada mekanisme koordinasi dengan petugas dulu karena takut salah. Jadi, mana mungkin saya bisa memeras,” ujarnya. Ditanya tentang perolehan uang sebanyak Rp 12 juta, dia juga menampik. Sebab, Eva mengaku sama sekali tidak menerima uang itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/