alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Ada yang Dirakit di Jember, Minat Jadi Pilot Bisa Belajar

Parade pesawat terbang memperingati Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni, menyimpan harapan yang belum tereksekusi. Di balik keseruan itu, ternyata ada pesawat gantole trike yang dirakit di Jember. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ribuan warga Jember yang ikut menyaksikan parade pesawat terbang merasa terhibur. Bisa jadi, model dan bentuk pesawat yang dilihatnya kemarin itu masih tergambar dalam angan dan pikiran. Rupanya, dari sekian burung besi yang mengitari langit Kota Suwar-Suwir itu, ada yang dirakit di Kabupaten Jember.

Pesawat yang dirakit di Jember itu adalah gantole jenis trike Quik GT-450. Secara kebetulan, dari sekian banyak pesawat yang ada, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Jember Mirfano sempat menaikinya. Beberapa orang pun, termasuk anggota dewan, ada yang naik pesawat yang dulu dirakit di Kota Tembakau ini.

Ceritanya, pada awal bandara masih proses akan dibuka, ada seseorang yang membelinya. Sekitar tahun 2013-2014, pesawat gantole merah ini dirakit di Jember hingga selesai. Pesawat ini bahkan sempat dipakai mengitari langit Jember, kala itu. “Dirakit di Jember sekitar tujuh tahun lalu,” kata Lilik Saputra, pilot nomor 51 asal Jogjakarta yang ikut meramaikan peringatan 1 Juni bersama Tim Garuda dari TNI AU dan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), serta Pemkab Jember tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, benih-benih pehobi gantole di Jember kala itu sudah mulai terlihat. Bahkan, beberapa orang sempat naik ke angkasa dan menaruh ketertarikannya. Akan tetapi, karena pada saat itu olahraga tersebut belum bisa tereksekusi, pesawat merah itu pun terbang ke Jogja. Sejak saat itu, di Jember tidak ada gantole. “Setelah dari Jogja, sempat ke kota lain, kemudian sekarang ada di Jogja lagi. Pesawat ini ada di bawah JFC atau Jogja Flaying Club,” ucap Saputra.

Menurut dia, perkumpulan orang yang menyukai olahraga itu sudah cukup banyak. Hanya, ada di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Jogja sendiri menjadi percontohan karena memiliki pilot khusus pesawat gantole yang jumlahnya mencapai puluhan orang.

Nah, bagaimana jika ada olahraga pesawat terbang ini bisa menjadi bagian yang mewarnai Jember? Saputra menyebut, hal itu bisa saja dilakukan, mengingat Jember memiliki potensi. “Tetapi, tidak otomatis bisa terbang sendiri. perlu training dengan instruktur yang sudah pengalaman,” ungkapnya.

Untuk bisa belajar menjadi pilot pesawat gantole, menurut Saputra, dibutuhkan pelatihan. Mulai dari teori, menjalankan pesawat di darat, hingga melakukan training terbang di udara. “Kalau untuk terbang sendiri, dibutuhkan paling cepat harus terbang minimal 15 jam terbang sampai 20 jam terbang. Baru bisa terbang sendiri. Tetapi, belajarnya harus dengan orang yang benar-benar instruktur,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ribuan warga Jember yang ikut menyaksikan parade pesawat terbang merasa terhibur. Bisa jadi, model dan bentuk pesawat yang dilihatnya kemarin itu masih tergambar dalam angan dan pikiran. Rupanya, dari sekian burung besi yang mengitari langit Kota Suwar-Suwir itu, ada yang dirakit di Kabupaten Jember.

Pesawat yang dirakit di Jember itu adalah gantole jenis trike Quik GT-450. Secara kebetulan, dari sekian banyak pesawat yang ada, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Jember Mirfano sempat menaikinya. Beberapa orang pun, termasuk anggota dewan, ada yang naik pesawat yang dulu dirakit di Kota Tembakau ini.

Ceritanya, pada awal bandara masih proses akan dibuka, ada seseorang yang membelinya. Sekitar tahun 2013-2014, pesawat gantole merah ini dirakit di Jember hingga selesai. Pesawat ini bahkan sempat dipakai mengitari langit Jember, kala itu. “Dirakit di Jember sekitar tujuh tahun lalu,” kata Lilik Saputra, pilot nomor 51 asal Jogjakarta yang ikut meramaikan peringatan 1 Juni bersama Tim Garuda dari TNI AU dan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), serta Pemkab Jember tersebut.

Menurutnya, benih-benih pehobi gantole di Jember kala itu sudah mulai terlihat. Bahkan, beberapa orang sempat naik ke angkasa dan menaruh ketertarikannya. Akan tetapi, karena pada saat itu olahraga tersebut belum bisa tereksekusi, pesawat merah itu pun terbang ke Jogja. Sejak saat itu, di Jember tidak ada gantole. “Setelah dari Jogja, sempat ke kota lain, kemudian sekarang ada di Jogja lagi. Pesawat ini ada di bawah JFC atau Jogja Flaying Club,” ucap Saputra.

Menurut dia, perkumpulan orang yang menyukai olahraga itu sudah cukup banyak. Hanya, ada di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Jogja sendiri menjadi percontohan karena memiliki pilot khusus pesawat gantole yang jumlahnya mencapai puluhan orang.

Nah, bagaimana jika ada olahraga pesawat terbang ini bisa menjadi bagian yang mewarnai Jember? Saputra menyebut, hal itu bisa saja dilakukan, mengingat Jember memiliki potensi. “Tetapi, tidak otomatis bisa terbang sendiri. perlu training dengan instruktur yang sudah pengalaman,” ungkapnya.

Untuk bisa belajar menjadi pilot pesawat gantole, menurut Saputra, dibutuhkan pelatihan. Mulai dari teori, menjalankan pesawat di darat, hingga melakukan training terbang di udara. “Kalau untuk terbang sendiri, dibutuhkan paling cepat harus terbang minimal 15 jam terbang sampai 20 jam terbang. Baru bisa terbang sendiri. Tetapi, belajarnya harus dengan orang yang benar-benar instruktur,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ribuan warga Jember yang ikut menyaksikan parade pesawat terbang merasa terhibur. Bisa jadi, model dan bentuk pesawat yang dilihatnya kemarin itu masih tergambar dalam angan dan pikiran. Rupanya, dari sekian burung besi yang mengitari langit Kota Suwar-Suwir itu, ada yang dirakit di Kabupaten Jember.

Pesawat yang dirakit di Jember itu adalah gantole jenis trike Quik GT-450. Secara kebetulan, dari sekian banyak pesawat yang ada, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Jember Mirfano sempat menaikinya. Beberapa orang pun, termasuk anggota dewan, ada yang naik pesawat yang dulu dirakit di Kota Tembakau ini.

Ceritanya, pada awal bandara masih proses akan dibuka, ada seseorang yang membelinya. Sekitar tahun 2013-2014, pesawat gantole merah ini dirakit di Jember hingga selesai. Pesawat ini bahkan sempat dipakai mengitari langit Jember, kala itu. “Dirakit di Jember sekitar tujuh tahun lalu,” kata Lilik Saputra, pilot nomor 51 asal Jogjakarta yang ikut meramaikan peringatan 1 Juni bersama Tim Garuda dari TNI AU dan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), serta Pemkab Jember tersebut.

Menurutnya, benih-benih pehobi gantole di Jember kala itu sudah mulai terlihat. Bahkan, beberapa orang sempat naik ke angkasa dan menaruh ketertarikannya. Akan tetapi, karena pada saat itu olahraga tersebut belum bisa tereksekusi, pesawat merah itu pun terbang ke Jogja. Sejak saat itu, di Jember tidak ada gantole. “Setelah dari Jogja, sempat ke kota lain, kemudian sekarang ada di Jogja lagi. Pesawat ini ada di bawah JFC atau Jogja Flaying Club,” ucap Saputra.

Menurut dia, perkumpulan orang yang menyukai olahraga itu sudah cukup banyak. Hanya, ada di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Jogja sendiri menjadi percontohan karena memiliki pilot khusus pesawat gantole yang jumlahnya mencapai puluhan orang.

Nah, bagaimana jika ada olahraga pesawat terbang ini bisa menjadi bagian yang mewarnai Jember? Saputra menyebut, hal itu bisa saja dilakukan, mengingat Jember memiliki potensi. “Tetapi, tidak otomatis bisa terbang sendiri. perlu training dengan instruktur yang sudah pengalaman,” ungkapnya.

Untuk bisa belajar menjadi pilot pesawat gantole, menurut Saputra, dibutuhkan pelatihan. Mulai dari teori, menjalankan pesawat di darat, hingga melakukan training terbang di udara. “Kalau untuk terbang sendiri, dibutuhkan paling cepat harus terbang minimal 15 jam terbang sampai 20 jam terbang. Baru bisa terbang sendiri. Tetapi, belajarnya harus dengan orang yang benar-benar instruktur,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/