alexametrics
24.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Idap Tiga Penyakit Ganas, Berusaha Sembuh dengan Musik

Musik tak hanya bisa dinikmati, tapi juga jadi sarana menumbuhkan semangat dan kebahagiaan. Inilah yang tergambar dari Dewi Irani, penggemar musik K-Pop. Musik asal Korea itu rupanya bisa membangkitkan semangatnya bertarung melawan tiga penyakit ganas di tubuhnya. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lagu Boy with Love yang dinyanyikan oleh boy band asal Korea, BTS, menjadikan rumah Dewi Irani cukup riuh. Rupanya, setiap hari perempuan 52 tahun itu selalu menyetel musik BTS. “Suami berangkat, musik mulai hidup,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Jl Tidar, Perumahan Greenland Cluster, Sumbersari.

Dewi telah menyukai musik K-Pop sejak lama. Yakni bermula dari kesukaannya menikmati tontonan drama Korea, Boy Over Flowers pada 2009. Dari sekadar menyukai drama, Dewi pun merambah menggemari berbagai boy band Korea. Misalnya Shinee, Super Junior, Exo, dan BTS. Bagi nenek satu cucu itu, menyukai Korean Pop atau K-Pop, dapat menghibur diri untuk menghilangkan stres. Apalagi jika didalami lirik pada setiap musiknya, dirasakannya dapat memberikan makna dan motivasi.

Usianya memang tidak muda lagi. Namun, selera musiknya masih layaknya anak muda. Tak hanya menikmati seni musiknya. Namun, bagi perempuan 52 tahun ini, K-Pop menjadi salah satu media menyembuh penyakit yang dia derita.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dewi terserang tiga penyakit ganas sejak 2017 lalu. Ketiga penyakit tersebut adalah kista, batu empedu, dan kelainan darah merah. Untuk melawan penyakitnya ini, dokter memvonis Dewi sebagai manusia obat. Hidupnya tidak bisa lepas dari obat. Dewi pun dijadwalkan menjalani cuci darah setiap tiga bulan sekali. “Aku harus minum obat seumur hidup. Dokter menyarankan aku harus operasi batu empedu. Tapi, ada kista dan kelainan. Jadi, kalau pengobatan harus tiga-tiganya,” ungkapnya.

Sejatinya, Dewi akan menjalani operasi pada 2020. Namun, tahun 2019, sejak dirinya kenal dan menyelami BTS, dia merasakan penyakitnya mereda secara perlahan. Tubuhnya tak lagi sering mual. Dia pun mulai bisa mengurangi ketergantungan obat. “Setahun setengah ini, aku tidak merasa sampai parah. Pokoknya nggak harus transfusi. Aku merasa nyaman dan lebih happy. Aku pikir, obat bukan nomor satu,” katanya.

Terlepas dari itu semua, bisa dibilang Dewi merupakan satu-satunya nenek yang masih menggemari K-Pop di Jember. Tidak sedikit yang memandang Dewi negatif atas kegemarannya itu. Namun, Dewi tak menanggapinya serius. “Its oke. I don’t care with others people saying,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lagu Boy with Love yang dinyanyikan oleh boy band asal Korea, BTS, menjadikan rumah Dewi Irani cukup riuh. Rupanya, setiap hari perempuan 52 tahun itu selalu menyetel musik BTS. “Suami berangkat, musik mulai hidup,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Jl Tidar, Perumahan Greenland Cluster, Sumbersari.

Dewi telah menyukai musik K-Pop sejak lama. Yakni bermula dari kesukaannya menikmati tontonan drama Korea, Boy Over Flowers pada 2009. Dari sekadar menyukai drama, Dewi pun merambah menggemari berbagai boy band Korea. Misalnya Shinee, Super Junior, Exo, dan BTS. Bagi nenek satu cucu itu, menyukai Korean Pop atau K-Pop, dapat menghibur diri untuk menghilangkan stres. Apalagi jika didalami lirik pada setiap musiknya, dirasakannya dapat memberikan makna dan motivasi.

Usianya memang tidak muda lagi. Namun, selera musiknya masih layaknya anak muda. Tak hanya menikmati seni musiknya. Namun, bagi perempuan 52 tahun ini, K-Pop menjadi salah satu media menyembuh penyakit yang dia derita.

Dewi terserang tiga penyakit ganas sejak 2017 lalu. Ketiga penyakit tersebut adalah kista, batu empedu, dan kelainan darah merah. Untuk melawan penyakitnya ini, dokter memvonis Dewi sebagai manusia obat. Hidupnya tidak bisa lepas dari obat. Dewi pun dijadwalkan menjalani cuci darah setiap tiga bulan sekali. “Aku harus minum obat seumur hidup. Dokter menyarankan aku harus operasi batu empedu. Tapi, ada kista dan kelainan. Jadi, kalau pengobatan harus tiga-tiganya,” ungkapnya.

Sejatinya, Dewi akan menjalani operasi pada 2020. Namun, tahun 2019, sejak dirinya kenal dan menyelami BTS, dia merasakan penyakitnya mereda secara perlahan. Tubuhnya tak lagi sering mual. Dia pun mulai bisa mengurangi ketergantungan obat. “Setahun setengah ini, aku tidak merasa sampai parah. Pokoknya nggak harus transfusi. Aku merasa nyaman dan lebih happy. Aku pikir, obat bukan nomor satu,” katanya.

Terlepas dari itu semua, bisa dibilang Dewi merupakan satu-satunya nenek yang masih menggemari K-Pop di Jember. Tidak sedikit yang memandang Dewi negatif atas kegemarannya itu. Namun, Dewi tak menanggapinya serius. “Its oke. I don’t care with others people saying,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lagu Boy with Love yang dinyanyikan oleh boy band asal Korea, BTS, menjadikan rumah Dewi Irani cukup riuh. Rupanya, setiap hari perempuan 52 tahun itu selalu menyetel musik BTS. “Suami berangkat, musik mulai hidup,” katanya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Jl Tidar, Perumahan Greenland Cluster, Sumbersari.

Dewi telah menyukai musik K-Pop sejak lama. Yakni bermula dari kesukaannya menikmati tontonan drama Korea, Boy Over Flowers pada 2009. Dari sekadar menyukai drama, Dewi pun merambah menggemari berbagai boy band Korea. Misalnya Shinee, Super Junior, Exo, dan BTS. Bagi nenek satu cucu itu, menyukai Korean Pop atau K-Pop, dapat menghibur diri untuk menghilangkan stres. Apalagi jika didalami lirik pada setiap musiknya, dirasakannya dapat memberikan makna dan motivasi.

Usianya memang tidak muda lagi. Namun, selera musiknya masih layaknya anak muda. Tak hanya menikmati seni musiknya. Namun, bagi perempuan 52 tahun ini, K-Pop menjadi salah satu media menyembuh penyakit yang dia derita.

Dewi terserang tiga penyakit ganas sejak 2017 lalu. Ketiga penyakit tersebut adalah kista, batu empedu, dan kelainan darah merah. Untuk melawan penyakitnya ini, dokter memvonis Dewi sebagai manusia obat. Hidupnya tidak bisa lepas dari obat. Dewi pun dijadwalkan menjalani cuci darah setiap tiga bulan sekali. “Aku harus minum obat seumur hidup. Dokter menyarankan aku harus operasi batu empedu. Tapi, ada kista dan kelainan. Jadi, kalau pengobatan harus tiga-tiganya,” ungkapnya.

Sejatinya, Dewi akan menjalani operasi pada 2020. Namun, tahun 2019, sejak dirinya kenal dan menyelami BTS, dia merasakan penyakitnya mereda secara perlahan. Tubuhnya tak lagi sering mual. Dia pun mulai bisa mengurangi ketergantungan obat. “Setahun setengah ini, aku tidak merasa sampai parah. Pokoknya nggak harus transfusi. Aku merasa nyaman dan lebih happy. Aku pikir, obat bukan nomor satu,” katanya.

Terlepas dari itu semua, bisa dibilang Dewi merupakan satu-satunya nenek yang masih menggemari K-Pop di Jember. Tidak sedikit yang memandang Dewi negatif atas kegemarannya itu. Namun, Dewi tak menanggapinya serius. “Its oke. I don’t care with others people saying,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/