alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kecelakaan Terjadi Hampir Tiap Hari

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah kendaraan roda empat hingga roda dua mengantre agar bisa melewati jalan di Desa Mojosari, Kecamatan Puger. Jalanan yang panjangnya 300 meter itu rusak. Bahkan aspal pun tak nampak. Jalan berlubang juga ada di berbagai sisi. Seperti mengepung. Di samping kiri, kanan, bahkan tengah. Jalur ini seolah mewanti-wanti agar pengendara yang lewat harus ekstra hati-hati.

Sudah lima tahun lebih jalanan ini tidak diperbaiki. Persinya, mulai dari jembatan Sungai Besini hingga Pasar Ledokan di Mojosari. Bahkan, jalur yang hanya beberapa ratus meter itu sering memakan korban. Apalagi di saat musim hujan seperti ini. Kecelakaan sering terjadi, hampir saban hari. “Setiap hari itu pasti ada yang jatuh. Makanya, kadang kalau naik sepeda pancal dituntun,” kata Wiwin, 37, warga setempat, kemarin (31/1).

Salah satu kecelakaan baru-baru ini menimpa pedagang yang tengah mengangkut sayur ke pasar. Dia menggunakan motor roda tiga. Kendaraan bermuatan sayur ini terbalik setelah melewati jeglongan yang relatif dalam. Sayur-mayurnya pun berceceran di mana-mana. “Baru beberapa hari kemarin. Tosa-nya glimpang,” tambah pemilik toko yang berada di pinggir jalan tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kecelakaan tunggal juga menimpa seorang lansia, Sabtu (30/1) sore lalu. Kecelakaan disebabkan lantaran kendaraannya terpeleset ketika menghindari jalanan berlubang.

Ifa, warga setempat, juga menuturkan hal serupa. Perempuan 35 tahun ini mengungkapkan, nyaris setiap hari jalanan tersebut memakan korban. Biasanya kecelakaan tunggal. Penyebabnya adalah kendaraan yang tak bisa menghindari lubang jalanan. “Kecelakaannya beragam. Tidak hanya kendaraan bermotor. Kadang juga menimpa pedagang tempe yang menggunakan sepeda,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah desa setempat sudah sering mengajukan perbaikan jalan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga saat ini pengajuan tersebut tidak pernah mendapatkan persetujuan dan pembenahan. Akibatnya, sebagian warga memutuskan menutup lubang jalan dengan dana iuran masyarakat. Penutupan lubang di jalanan sepanjang 300 meter ini dilakukan dengan sederhana. Yakni, hanya ditutupi dengan pasir dan tanah. “Kadang kalau ada sumbangan dikasih batu,” imbuh Wiwin.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah kendaraan roda empat hingga roda dua mengantre agar bisa melewati jalan di Desa Mojosari, Kecamatan Puger. Jalanan yang panjangnya 300 meter itu rusak. Bahkan aspal pun tak nampak. Jalan berlubang juga ada di berbagai sisi. Seperti mengepung. Di samping kiri, kanan, bahkan tengah. Jalur ini seolah mewanti-wanti agar pengendara yang lewat harus ekstra hati-hati.

Sudah lima tahun lebih jalanan ini tidak diperbaiki. Persinya, mulai dari jembatan Sungai Besini hingga Pasar Ledokan di Mojosari. Bahkan, jalur yang hanya beberapa ratus meter itu sering memakan korban. Apalagi di saat musim hujan seperti ini. Kecelakaan sering terjadi, hampir saban hari. “Setiap hari itu pasti ada yang jatuh. Makanya, kadang kalau naik sepeda pancal dituntun,” kata Wiwin, 37, warga setempat, kemarin (31/1).

Salah satu kecelakaan baru-baru ini menimpa pedagang yang tengah mengangkut sayur ke pasar. Dia menggunakan motor roda tiga. Kendaraan bermuatan sayur ini terbalik setelah melewati jeglongan yang relatif dalam. Sayur-mayurnya pun berceceran di mana-mana. “Baru beberapa hari kemarin. Tosa-nya glimpang,” tambah pemilik toko yang berada di pinggir jalan tersebut.

Kecelakaan tunggal juga menimpa seorang lansia, Sabtu (30/1) sore lalu. Kecelakaan disebabkan lantaran kendaraannya terpeleset ketika menghindari jalanan berlubang.

Ifa, warga setempat, juga menuturkan hal serupa. Perempuan 35 tahun ini mengungkapkan, nyaris setiap hari jalanan tersebut memakan korban. Biasanya kecelakaan tunggal. Penyebabnya adalah kendaraan yang tak bisa menghindari lubang jalanan. “Kecelakaannya beragam. Tidak hanya kendaraan bermotor. Kadang juga menimpa pedagang tempe yang menggunakan sepeda,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah desa setempat sudah sering mengajukan perbaikan jalan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga saat ini pengajuan tersebut tidak pernah mendapatkan persetujuan dan pembenahan. Akibatnya, sebagian warga memutuskan menutup lubang jalan dengan dana iuran masyarakat. Penutupan lubang di jalanan sepanjang 300 meter ini dilakukan dengan sederhana. Yakni, hanya ditutupi dengan pasir dan tanah. “Kadang kalau ada sumbangan dikasih batu,” imbuh Wiwin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah kendaraan roda empat hingga roda dua mengantre agar bisa melewati jalan di Desa Mojosari, Kecamatan Puger. Jalanan yang panjangnya 300 meter itu rusak. Bahkan aspal pun tak nampak. Jalan berlubang juga ada di berbagai sisi. Seperti mengepung. Di samping kiri, kanan, bahkan tengah. Jalur ini seolah mewanti-wanti agar pengendara yang lewat harus ekstra hati-hati.

Sudah lima tahun lebih jalanan ini tidak diperbaiki. Persinya, mulai dari jembatan Sungai Besini hingga Pasar Ledokan di Mojosari. Bahkan, jalur yang hanya beberapa ratus meter itu sering memakan korban. Apalagi di saat musim hujan seperti ini. Kecelakaan sering terjadi, hampir saban hari. “Setiap hari itu pasti ada yang jatuh. Makanya, kadang kalau naik sepeda pancal dituntun,” kata Wiwin, 37, warga setempat, kemarin (31/1).

Salah satu kecelakaan baru-baru ini menimpa pedagang yang tengah mengangkut sayur ke pasar. Dia menggunakan motor roda tiga. Kendaraan bermuatan sayur ini terbalik setelah melewati jeglongan yang relatif dalam. Sayur-mayurnya pun berceceran di mana-mana. “Baru beberapa hari kemarin. Tosa-nya glimpang,” tambah pemilik toko yang berada di pinggir jalan tersebut.

Kecelakaan tunggal juga menimpa seorang lansia, Sabtu (30/1) sore lalu. Kecelakaan disebabkan lantaran kendaraannya terpeleset ketika menghindari jalanan berlubang.

Ifa, warga setempat, juga menuturkan hal serupa. Perempuan 35 tahun ini mengungkapkan, nyaris setiap hari jalanan tersebut memakan korban. Biasanya kecelakaan tunggal. Penyebabnya adalah kendaraan yang tak bisa menghindari lubang jalanan. “Kecelakaannya beragam. Tidak hanya kendaraan bermotor. Kadang juga menimpa pedagang tempe yang menggunakan sepeda,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah desa setempat sudah sering mengajukan perbaikan jalan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga saat ini pengajuan tersebut tidak pernah mendapatkan persetujuan dan pembenahan. Akibatnya, sebagian warga memutuskan menutup lubang jalan dengan dana iuran masyarakat. Penutupan lubang di jalanan sepanjang 300 meter ini dilakukan dengan sederhana. Yakni, hanya ditutupi dengan pasir dan tanah. “Kadang kalau ada sumbangan dikasih batu,” imbuh Wiwin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/