alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Quo Vadis Paradigma Keilmuan UIN KHAS Jember?

Mobile_AP_Rectangle 1

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih visi keilmuan “pendidikan tinggi integratif dalam memadukan sains dan Islam.” UIN Walisongo Semarang mengusung “kesatuan ilmu-ilmu”. Bagaimana dengan visi keilmuan UIN KHAS Jember?

Divine Spring of Knowledge dan Penguatan Landasan Aksiologis

Berbagai mazhab epistemologis dan ideologi besar dunia yang lahir dari rahim peradaban Barat, sejak abad ke-15, seperti renaissance (kebangkitan kembali), aufklarung (pencerahan), rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan lain sebagainya, telah menahbiskan suatu episteme atau pandangan dunia (worldview) keilmuan sekularistik-dikotomistik, yang mempertentangkan iman, wahyu dan agama di satu sisi dengan akal, rasio dan emperia di sisi lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Paradigma keilmuan yang sekularistik-dikotomistik ini juga merasuk ke dalam peradaban ilmu di dunia Islam. Menyadari hal itu sebagai ancaman, maka pada 1970-an sejumlah ilmuwan dan intelektual Muslim menawarkan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai solusi untuk mengembalikan paradigma keilmuan Islam yang sejati yang memandang iman, wahyu, agama, akal (rasio), emperia (pengalaman) sebagai kesatuan integral.

Dalam dua dekade terakhir, terma “Islamisasi ilmu-ilmu” mulai digeser oleh terma “integrasi ilmu-ilmu”, karena di balik ide “Islamisasi ilmu-ilmu” tersirat suatu dikotomi antar ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum. Di dalam sejarah pemikiran Islam, para filosof Muslim klasik, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Thufayl, dan lain sebagainya, tidak mempertentangkan antara wahyu (Al-Quran) dan akal, karena potensi iman dan akal yang dimiliki manusia, keduanya berasal dari satu sumber yang sama, yaitu dari Dzat Yang Maha Esa.

Dalam karyanya, Fashl al-maqal fima bayn al-hikmah wa al-syari’ah min al-ittishal, Ibn Rusyd menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran rasio manusia. Jika di dalam wahyu terdapat hal-hal yang tidak dipahami oleh akal, sehingga tampak bertentangan dengan akal, maka akal bisa melakukan penafsiran secara alegoris karena wahyu memang memuat hal-hal misterius yang tidak bisa dijangkau oleh akal.

Dengan pijakan filosofis dan teologis yang tegas bahwa wahyu dan akal bersumber dari Dzat Yang Esa, maka hal ini memberikan suatu perspektif yang terang benderang bahwa hanya ada satu mata sumber ilmu, dan sumber ilmu bersifat ilahi. Dalam kaitan inilah maka simbol dari visi keilmuan UIN KHAS Jember yang akan mengusung ide tentang integrasi ilmu-ilmu, sejatinya bukan hanya bersifat “Wellspring of Knowledge”, tetapi ia adalah “Divine Spring of Knowledge.”

Ketika berbagai perguruan tinggi di lingkungan PTKIN mengarah pada suatu visi keilmuan yang sama, maka ini menjadi peluang bagi UIN KHAS Jember untuk memasuki celah yang lebih khusus dan unik. UIN KHAS Jember perlu memberikan perhatian yang lebih istimewa pada bagaimana menerjemahkan dan membangun landasan aksiologis keilmuan yang ditegakkan atas prinsip-prinsip etika Islam yang bersifat harmonis dan sejalan dengan semangat kemanusiaan yang universal.

Penguatan pada landasan aksiologis ini dirasa sangat penting mengingat bahwa sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan dan kemudahan bagi manusia, namun di sisi lain ia juga menimbulkan bermacam krisis yang memprihatinkan dalam peradaban umat manusia: krisis moral, krisis ekologi, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan memberikan porsi perhatian dan dedikasi yang lebih besar pada dimensi-dimensi aksiologis dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini, maka UIN KHAS Jember akan dirasa dan dipandang sebagai institusi pendidikan Islam negeri yang memang khas.

*) Aslam Saad, Ph.D., Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember.

- Advertisement -

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih visi keilmuan “pendidikan tinggi integratif dalam memadukan sains dan Islam.” UIN Walisongo Semarang mengusung “kesatuan ilmu-ilmu”. Bagaimana dengan visi keilmuan UIN KHAS Jember?

Divine Spring of Knowledge dan Penguatan Landasan Aksiologis

Berbagai mazhab epistemologis dan ideologi besar dunia yang lahir dari rahim peradaban Barat, sejak abad ke-15, seperti renaissance (kebangkitan kembali), aufklarung (pencerahan), rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan lain sebagainya, telah menahbiskan suatu episteme atau pandangan dunia (worldview) keilmuan sekularistik-dikotomistik, yang mempertentangkan iman, wahyu dan agama di satu sisi dengan akal, rasio dan emperia di sisi lain.

Paradigma keilmuan yang sekularistik-dikotomistik ini juga merasuk ke dalam peradaban ilmu di dunia Islam. Menyadari hal itu sebagai ancaman, maka pada 1970-an sejumlah ilmuwan dan intelektual Muslim menawarkan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai solusi untuk mengembalikan paradigma keilmuan Islam yang sejati yang memandang iman, wahyu, agama, akal (rasio), emperia (pengalaman) sebagai kesatuan integral.

Dalam dua dekade terakhir, terma “Islamisasi ilmu-ilmu” mulai digeser oleh terma “integrasi ilmu-ilmu”, karena di balik ide “Islamisasi ilmu-ilmu” tersirat suatu dikotomi antar ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum. Di dalam sejarah pemikiran Islam, para filosof Muslim klasik, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Thufayl, dan lain sebagainya, tidak mempertentangkan antara wahyu (Al-Quran) dan akal, karena potensi iman dan akal yang dimiliki manusia, keduanya berasal dari satu sumber yang sama, yaitu dari Dzat Yang Maha Esa.

Dalam karyanya, Fashl al-maqal fima bayn al-hikmah wa al-syari’ah min al-ittishal, Ibn Rusyd menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran rasio manusia. Jika di dalam wahyu terdapat hal-hal yang tidak dipahami oleh akal, sehingga tampak bertentangan dengan akal, maka akal bisa melakukan penafsiran secara alegoris karena wahyu memang memuat hal-hal misterius yang tidak bisa dijangkau oleh akal.

Dengan pijakan filosofis dan teologis yang tegas bahwa wahyu dan akal bersumber dari Dzat Yang Esa, maka hal ini memberikan suatu perspektif yang terang benderang bahwa hanya ada satu mata sumber ilmu, dan sumber ilmu bersifat ilahi. Dalam kaitan inilah maka simbol dari visi keilmuan UIN KHAS Jember yang akan mengusung ide tentang integrasi ilmu-ilmu, sejatinya bukan hanya bersifat “Wellspring of Knowledge”, tetapi ia adalah “Divine Spring of Knowledge.”

Ketika berbagai perguruan tinggi di lingkungan PTKIN mengarah pada suatu visi keilmuan yang sama, maka ini menjadi peluang bagi UIN KHAS Jember untuk memasuki celah yang lebih khusus dan unik. UIN KHAS Jember perlu memberikan perhatian yang lebih istimewa pada bagaimana menerjemahkan dan membangun landasan aksiologis keilmuan yang ditegakkan atas prinsip-prinsip etika Islam yang bersifat harmonis dan sejalan dengan semangat kemanusiaan yang universal.

Penguatan pada landasan aksiologis ini dirasa sangat penting mengingat bahwa sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan dan kemudahan bagi manusia, namun di sisi lain ia juga menimbulkan bermacam krisis yang memprihatinkan dalam peradaban umat manusia: krisis moral, krisis ekologi, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan memberikan porsi perhatian dan dedikasi yang lebih besar pada dimensi-dimensi aksiologis dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini, maka UIN KHAS Jember akan dirasa dan dipandang sebagai institusi pendidikan Islam negeri yang memang khas.

*) Aslam Saad, Ph.D., Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih visi keilmuan “pendidikan tinggi integratif dalam memadukan sains dan Islam.” UIN Walisongo Semarang mengusung “kesatuan ilmu-ilmu”. Bagaimana dengan visi keilmuan UIN KHAS Jember?

Divine Spring of Knowledge dan Penguatan Landasan Aksiologis

Berbagai mazhab epistemologis dan ideologi besar dunia yang lahir dari rahim peradaban Barat, sejak abad ke-15, seperti renaissance (kebangkitan kembali), aufklarung (pencerahan), rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan lain sebagainya, telah menahbiskan suatu episteme atau pandangan dunia (worldview) keilmuan sekularistik-dikotomistik, yang mempertentangkan iman, wahyu dan agama di satu sisi dengan akal, rasio dan emperia di sisi lain.

Paradigma keilmuan yang sekularistik-dikotomistik ini juga merasuk ke dalam peradaban ilmu di dunia Islam. Menyadari hal itu sebagai ancaman, maka pada 1970-an sejumlah ilmuwan dan intelektual Muslim menawarkan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai solusi untuk mengembalikan paradigma keilmuan Islam yang sejati yang memandang iman, wahyu, agama, akal (rasio), emperia (pengalaman) sebagai kesatuan integral.

Dalam dua dekade terakhir, terma “Islamisasi ilmu-ilmu” mulai digeser oleh terma “integrasi ilmu-ilmu”, karena di balik ide “Islamisasi ilmu-ilmu” tersirat suatu dikotomi antar ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum. Di dalam sejarah pemikiran Islam, para filosof Muslim klasik, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Thufayl, dan lain sebagainya, tidak mempertentangkan antara wahyu (Al-Quran) dan akal, karena potensi iman dan akal yang dimiliki manusia, keduanya berasal dari satu sumber yang sama, yaitu dari Dzat Yang Maha Esa.

Dalam karyanya, Fashl al-maqal fima bayn al-hikmah wa al-syari’ah min al-ittishal, Ibn Rusyd menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran rasio manusia. Jika di dalam wahyu terdapat hal-hal yang tidak dipahami oleh akal, sehingga tampak bertentangan dengan akal, maka akal bisa melakukan penafsiran secara alegoris karena wahyu memang memuat hal-hal misterius yang tidak bisa dijangkau oleh akal.

Dengan pijakan filosofis dan teologis yang tegas bahwa wahyu dan akal bersumber dari Dzat Yang Esa, maka hal ini memberikan suatu perspektif yang terang benderang bahwa hanya ada satu mata sumber ilmu, dan sumber ilmu bersifat ilahi. Dalam kaitan inilah maka simbol dari visi keilmuan UIN KHAS Jember yang akan mengusung ide tentang integrasi ilmu-ilmu, sejatinya bukan hanya bersifat “Wellspring of Knowledge”, tetapi ia adalah “Divine Spring of Knowledge.”

Ketika berbagai perguruan tinggi di lingkungan PTKIN mengarah pada suatu visi keilmuan yang sama, maka ini menjadi peluang bagi UIN KHAS Jember untuk memasuki celah yang lebih khusus dan unik. UIN KHAS Jember perlu memberikan perhatian yang lebih istimewa pada bagaimana menerjemahkan dan membangun landasan aksiologis keilmuan yang ditegakkan atas prinsip-prinsip etika Islam yang bersifat harmonis dan sejalan dengan semangat kemanusiaan yang universal.

Penguatan pada landasan aksiologis ini dirasa sangat penting mengingat bahwa sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan dan kemudahan bagi manusia, namun di sisi lain ia juga menimbulkan bermacam krisis yang memprihatinkan dalam peradaban umat manusia: krisis moral, krisis ekologi, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan memberikan porsi perhatian dan dedikasi yang lebih besar pada dimensi-dimensi aksiologis dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini, maka UIN KHAS Jember akan dirasa dan dipandang sebagai institusi pendidikan Islam negeri yang memang khas.

*) Aslam Saad, Ph.D., Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/