alexametrics
24 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Quo Vadis Paradigma Keilmuan UIN KHAS Jember?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada awal 2021 status yang disandang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 142/2014, telah beralih menjadi universitas. Peralihan status dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri K.H. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berdasarkan Perpres Nomer 44/2021, merupakan hadiah indah bagi sivitas akademika IAIN Jember.

Universitas yang popular dengan akronim UIN KHAS Jember ini adalah salah satu ikon kebanggaan warga Jember. Kebanggaan ini akan lebih sejati, jika UIN KHAS Jember berhasil bertransformasi menjadi institusi pendidikan bermutu unggul yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di level nasional, regional dan internasional.

Setidaknya ada dua hal yang akan melempangkan jalan UIN KHAS Jember dalam meraih taraf unggul. Pertama, sejauh mana institusi ini memiliki keunggulan dalam hal visi, misi dan tata kelola layanan pendidikan. Kedua, sejauh mana insitusi ini konsisten (isitiqomah) dalam menciptakan iklim akademik yang progresif untuk mencetak sarjana, akademisi, ilmuwan dan cendekiawan yang kompeten, berkualitas dan berintegritas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terkait dengan keunggulan visi dan misi universitas, UIN KHAS Jember perlu merekonstruksi paradigma keilmuan yang akan diusungnya. Dengan paradigma keilmuan itu, UIN KHAS Jember diharapkan bisa menawarkan daya tarik yang unik dan istimewa di tengah kontestasinya dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain.

Paradigma Keilmuan PTKIN: Konteks Historis

Sebelum beralih menjadi UIN KHAS Jember, IAIN Jember mengusung visi keilmuan sebagai “Pusat Kajian dan Pengembangan Islam Nusantara.” Visi ini relevan dengan cakupan keilmuan (area of studies) di IAIN yang masih terbatas pada fakultas-fakultas berbasis studi keislaman (Islamic Studies), seperti Syariah, Ushuluddin, Tarbiyah, Adab dan Dakwah.

Namun, jika ditarik ke dalam konteks UIN KHAS Jember, visi tersebut perlu ditinjau dan direformulasi mengingat cakupan keilmuan di universitas yang lebih luas. Dengan status yang baru ini, UIN KHAS Jember akan memayungi fakultas-fakultas baru, seperti kedokteran, psikologi, sosial politik, sains-teknologi, ilmu budaya, kehutanan, kelautan, dan lain sebagainya, yang tidak memiliki korelasi dan afiliasi langsung dengan kajian keislaman.

Dalam wawancara dengan sebuah media massa, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., menegaskan bahwa institusi pendidikan yang dinakhodainya memang dituntut untuk merekonstruksi visi keilmuannya. Untuk itu, Prof. Babun mengungkapkan bahwa paradigma integrasi antara ilmu-ilmu keislaman di satu sisi dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi di sisi lain bisa dijadikan sebagai visi keilmuan UIN KHAS. Pada gilirannya, diharapkan pemikiran KH. Achmad Siddiq akan terefleksi secara nyata dalam visi keilmuan tersebut.

Sesungguhnya paradigma integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi modern tidaklah baru. Secara historis, gagasan tentang paradigma integrasi tersebut pernah dikemukakan Muhammad Hatta (mantan Wakil Presiden RI pertama) dalam ceramahnya (yang dikenal dengan Memorandum Hatta) pada pembukaan tahun akademik di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 10 Maret 1948. UII juga merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang dikenal sebagai PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri).

Dalam ceramahnya, Hatta berbicara tentang pentingnya kolaborasi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, dan filsafat. Ini membuktikan bahwa ide tentang integrasi, interkoneksi, serta kesatuan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi, bukan gagasan baru. Gagasan tersebut memiliki jejak yang lama dalam sejarah perkembangan pendidikan tinggi Islam negeri di Indonesia.

Beberapa pendidikan tinggi Islam di bawah PTKIN mengajukan paradigma integrasi, interkoneksi dan kesatuan ilmu-ilmu sebagai visi keilmuan, dengan berbagai variasi dan nuansanya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengusung “integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajukan “Pemaduan dan Pengembangan Keislaman dan Keilmuan bagi Peradaban” (dengan simbol jaring laba-laba). UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan “keunggulan dalam kajian ilmu-ilmu keislaman interdisipliner dan transdisipliner yang berdaya saing internasional” (dengan simbol dua menara kembar, “twin tower”).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada awal 2021 status yang disandang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 142/2014, telah beralih menjadi universitas. Peralihan status dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri K.H. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berdasarkan Perpres Nomer 44/2021, merupakan hadiah indah bagi sivitas akademika IAIN Jember.

Universitas yang popular dengan akronim UIN KHAS Jember ini adalah salah satu ikon kebanggaan warga Jember. Kebanggaan ini akan lebih sejati, jika UIN KHAS Jember berhasil bertransformasi menjadi institusi pendidikan bermutu unggul yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di level nasional, regional dan internasional.

Setidaknya ada dua hal yang akan melempangkan jalan UIN KHAS Jember dalam meraih taraf unggul. Pertama, sejauh mana institusi ini memiliki keunggulan dalam hal visi, misi dan tata kelola layanan pendidikan. Kedua, sejauh mana insitusi ini konsisten (isitiqomah) dalam menciptakan iklim akademik yang progresif untuk mencetak sarjana, akademisi, ilmuwan dan cendekiawan yang kompeten, berkualitas dan berintegritas.

Terkait dengan keunggulan visi dan misi universitas, UIN KHAS Jember perlu merekonstruksi paradigma keilmuan yang akan diusungnya. Dengan paradigma keilmuan itu, UIN KHAS Jember diharapkan bisa menawarkan daya tarik yang unik dan istimewa di tengah kontestasinya dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain.

Paradigma Keilmuan PTKIN: Konteks Historis

Sebelum beralih menjadi UIN KHAS Jember, IAIN Jember mengusung visi keilmuan sebagai “Pusat Kajian dan Pengembangan Islam Nusantara.” Visi ini relevan dengan cakupan keilmuan (area of studies) di IAIN yang masih terbatas pada fakultas-fakultas berbasis studi keislaman (Islamic Studies), seperti Syariah, Ushuluddin, Tarbiyah, Adab dan Dakwah.

Namun, jika ditarik ke dalam konteks UIN KHAS Jember, visi tersebut perlu ditinjau dan direformulasi mengingat cakupan keilmuan di universitas yang lebih luas. Dengan status yang baru ini, UIN KHAS Jember akan memayungi fakultas-fakultas baru, seperti kedokteran, psikologi, sosial politik, sains-teknologi, ilmu budaya, kehutanan, kelautan, dan lain sebagainya, yang tidak memiliki korelasi dan afiliasi langsung dengan kajian keislaman.

Dalam wawancara dengan sebuah media massa, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., menegaskan bahwa institusi pendidikan yang dinakhodainya memang dituntut untuk merekonstruksi visi keilmuannya. Untuk itu, Prof. Babun mengungkapkan bahwa paradigma integrasi antara ilmu-ilmu keislaman di satu sisi dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi di sisi lain bisa dijadikan sebagai visi keilmuan UIN KHAS. Pada gilirannya, diharapkan pemikiran KH. Achmad Siddiq akan terefleksi secara nyata dalam visi keilmuan tersebut.

Sesungguhnya paradigma integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi modern tidaklah baru. Secara historis, gagasan tentang paradigma integrasi tersebut pernah dikemukakan Muhammad Hatta (mantan Wakil Presiden RI pertama) dalam ceramahnya (yang dikenal dengan Memorandum Hatta) pada pembukaan tahun akademik di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 10 Maret 1948. UII juga merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang dikenal sebagai PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri).

Dalam ceramahnya, Hatta berbicara tentang pentingnya kolaborasi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, dan filsafat. Ini membuktikan bahwa ide tentang integrasi, interkoneksi, serta kesatuan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi, bukan gagasan baru. Gagasan tersebut memiliki jejak yang lama dalam sejarah perkembangan pendidikan tinggi Islam negeri di Indonesia.

Beberapa pendidikan tinggi Islam di bawah PTKIN mengajukan paradigma integrasi, interkoneksi dan kesatuan ilmu-ilmu sebagai visi keilmuan, dengan berbagai variasi dan nuansanya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengusung “integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajukan “Pemaduan dan Pengembangan Keislaman dan Keilmuan bagi Peradaban” (dengan simbol jaring laba-laba). UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan “keunggulan dalam kajian ilmu-ilmu keislaman interdisipliner dan transdisipliner yang berdaya saing internasional” (dengan simbol dua menara kembar, “twin tower”).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada awal 2021 status yang disandang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 142/2014, telah beralih menjadi universitas. Peralihan status dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri K.H. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berdasarkan Perpres Nomer 44/2021, merupakan hadiah indah bagi sivitas akademika IAIN Jember.

Universitas yang popular dengan akronim UIN KHAS Jember ini adalah salah satu ikon kebanggaan warga Jember. Kebanggaan ini akan lebih sejati, jika UIN KHAS Jember berhasil bertransformasi menjadi institusi pendidikan bermutu unggul yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di level nasional, regional dan internasional.

Setidaknya ada dua hal yang akan melempangkan jalan UIN KHAS Jember dalam meraih taraf unggul. Pertama, sejauh mana institusi ini memiliki keunggulan dalam hal visi, misi dan tata kelola layanan pendidikan. Kedua, sejauh mana insitusi ini konsisten (isitiqomah) dalam menciptakan iklim akademik yang progresif untuk mencetak sarjana, akademisi, ilmuwan dan cendekiawan yang kompeten, berkualitas dan berintegritas.

Terkait dengan keunggulan visi dan misi universitas, UIN KHAS Jember perlu merekonstruksi paradigma keilmuan yang akan diusungnya. Dengan paradigma keilmuan itu, UIN KHAS Jember diharapkan bisa menawarkan daya tarik yang unik dan istimewa di tengah kontestasinya dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain.

Paradigma Keilmuan PTKIN: Konteks Historis

Sebelum beralih menjadi UIN KHAS Jember, IAIN Jember mengusung visi keilmuan sebagai “Pusat Kajian dan Pengembangan Islam Nusantara.” Visi ini relevan dengan cakupan keilmuan (area of studies) di IAIN yang masih terbatas pada fakultas-fakultas berbasis studi keislaman (Islamic Studies), seperti Syariah, Ushuluddin, Tarbiyah, Adab dan Dakwah.

Namun, jika ditarik ke dalam konteks UIN KHAS Jember, visi tersebut perlu ditinjau dan direformulasi mengingat cakupan keilmuan di universitas yang lebih luas. Dengan status yang baru ini, UIN KHAS Jember akan memayungi fakultas-fakultas baru, seperti kedokteran, psikologi, sosial politik, sains-teknologi, ilmu budaya, kehutanan, kelautan, dan lain sebagainya, yang tidak memiliki korelasi dan afiliasi langsung dengan kajian keislaman.

Dalam wawancara dengan sebuah media massa, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., menegaskan bahwa institusi pendidikan yang dinakhodainya memang dituntut untuk merekonstruksi visi keilmuannya. Untuk itu, Prof. Babun mengungkapkan bahwa paradigma integrasi antara ilmu-ilmu keislaman di satu sisi dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi di sisi lain bisa dijadikan sebagai visi keilmuan UIN KHAS. Pada gilirannya, diharapkan pemikiran KH. Achmad Siddiq akan terefleksi secara nyata dalam visi keilmuan tersebut.

Sesungguhnya paradigma integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi modern tidaklah baru. Secara historis, gagasan tentang paradigma integrasi tersebut pernah dikemukakan Muhammad Hatta (mantan Wakil Presiden RI pertama) dalam ceramahnya (yang dikenal dengan Memorandum Hatta) pada pembukaan tahun akademik di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 10 Maret 1948. UII juga merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang dikenal sebagai PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri).

Dalam ceramahnya, Hatta berbicara tentang pentingnya kolaborasi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, dan filsafat. Ini membuktikan bahwa ide tentang integrasi, interkoneksi, serta kesatuan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi, bukan gagasan baru. Gagasan tersebut memiliki jejak yang lama dalam sejarah perkembangan pendidikan tinggi Islam negeri di Indonesia.

Beberapa pendidikan tinggi Islam di bawah PTKIN mengajukan paradigma integrasi, interkoneksi dan kesatuan ilmu-ilmu sebagai visi keilmuan, dengan berbagai variasi dan nuansanya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengusung “integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajukan “Pemaduan dan Pengembangan Keislaman dan Keilmuan bagi Peradaban” (dengan simbol jaring laba-laba). UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan “keunggulan dalam kajian ilmu-ilmu keislaman interdisipliner dan transdisipliner yang berdaya saing internasional” (dengan simbol dua menara kembar, “twin tower”).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/