alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Altruisme Wasatiyah dalam Panggung Intelektualisme

Oleh: Dr. Wildani Hefni, M.A.

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam konteks mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan di tengah masyarakat, pendekatan altruisme wasatiyah menjadi pijakan sebagai jembatan nilai fundamental keberagamaan yang bersifat altruistic, taqdiim al-ghair. Kata altruisme pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte. Comte mengartikan altruisme dengan living for others, yang dalam bahasa Perancis ditulis vivre pour autrui. Sebagaimana yang diungkap Robertus Robet, altruisme ditengarai berasal dari bahasa Perancis, autrui, bahasa yang digunakan Comte.  Merujuk pada kutipan yang ditulis Robet, Comte menulis, It follows that happiness and worth, as well in individuals as in societies, depend on adequate ascendancy of the sympathetic instincts. Thus the expression, living for others, is the simplest summary of the whole moral code of positivism. Kebahagiaan dan nilai, baik dalam individu maupun dalam masyarakat, bergantung pada dorongan naluri simpatik yang memadai. Jadi, ungkapan bahwa hidup untuk orang lain adalah ringkasan paling sederhana dari keseluruhan jangkar moral positivisme.

Pendekatan altruisme wasatiyah menjadi penting sejalan dengan jantung penguatan moderasi beragama untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang dapat menggerogoti koeksistensi damai dan mengancam keamanan kelompok minoritas yang rentan. Setidaknya ada dua komponen penting dalam altruisme, yaitu loving others (mencintai orang lain), dan making sure that they are appreciated (penghargaan terhadap orang lain).

Berkaitan dengan yang pertama, altruisme wasatiyah dalam keberagamaan muncul secara otentik akan simpati, empati, dan memiliki kepekaan terhadap nasib orang lain. Kepekaan yang diwujudkan dengan kasih sayang inilah yang pada akhirnya dapat menghilangkan sekat fanatisme perbedaan yang kerapkali melahirkan pertikaian. Yang ada, hanyalah ikatan persaudaraan dalam balutan ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah sebagai manifestasi solidaritas kemanusiaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara yang kedua, pendekatan wasatiyah atau istilah yang sering saya gunakan samaha cum-maslaha, dalam pengertian teoritisnya tidak sekedar mengedepankan aspek kemaslahatan, tapi juga memperhatikan aspek penghargaan terhadap kelompok, orang, serta pendapat yang lain (others). Dua komponen itulah yang dapat menjaga tesis Hofmann di atas, bahwa untuk membangun peradaban (bina al-tsaqafah) dalam panggung intelektualisme Islam, pengakuan atas keragaman yang menjadi turunan konseptual moderasi beragama harus diposisikan sebagai komponen peyangga dasar.

Penggunaan prinsip evidentalism (data dan fakta) sebagai sebuah realitas majemuk menjadi bukti kuat intensitas dan ekstensifitas perjumpaan antar kelompok, etnis, komunitas, ras, agama, yang kesemuanya dapat berjalan beriringan tanpa menyisakan konflik dan derita berkepanjangan. Hal itu dapat dilihat dalam altar intelektualisme Islam yang mengajarkan kita semua untuk menerima keragaman pendapat, sebagaimana kita temui dalam keragaman mazhab fikih, teologi, tasawuf, dan filsafat.

Dr. Wildani Hefni, M.A. Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember

- Advertisement -

Dalam konteks mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan di tengah masyarakat, pendekatan altruisme wasatiyah menjadi pijakan sebagai jembatan nilai fundamental keberagamaan yang bersifat altruistic, taqdiim al-ghair. Kata altruisme pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte. Comte mengartikan altruisme dengan living for others, yang dalam bahasa Perancis ditulis vivre pour autrui. Sebagaimana yang diungkap Robertus Robet, altruisme ditengarai berasal dari bahasa Perancis, autrui, bahasa yang digunakan Comte.  Merujuk pada kutipan yang ditulis Robet, Comte menulis, It follows that happiness and worth, as well in individuals as in societies, depend on adequate ascendancy of the sympathetic instincts. Thus the expression, living for others, is the simplest summary of the whole moral code of positivism. Kebahagiaan dan nilai, baik dalam individu maupun dalam masyarakat, bergantung pada dorongan naluri simpatik yang memadai. Jadi, ungkapan bahwa hidup untuk orang lain adalah ringkasan paling sederhana dari keseluruhan jangkar moral positivisme.

Pendekatan altruisme wasatiyah menjadi penting sejalan dengan jantung penguatan moderasi beragama untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang dapat menggerogoti koeksistensi damai dan mengancam keamanan kelompok minoritas yang rentan. Setidaknya ada dua komponen penting dalam altruisme, yaitu loving others (mencintai orang lain), dan making sure that they are appreciated (penghargaan terhadap orang lain).

Berkaitan dengan yang pertama, altruisme wasatiyah dalam keberagamaan muncul secara otentik akan simpati, empati, dan memiliki kepekaan terhadap nasib orang lain. Kepekaan yang diwujudkan dengan kasih sayang inilah yang pada akhirnya dapat menghilangkan sekat fanatisme perbedaan yang kerapkali melahirkan pertikaian. Yang ada, hanyalah ikatan persaudaraan dalam balutan ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah sebagai manifestasi solidaritas kemanusiaan.

Sementara yang kedua, pendekatan wasatiyah atau istilah yang sering saya gunakan samaha cum-maslaha, dalam pengertian teoritisnya tidak sekedar mengedepankan aspek kemaslahatan, tapi juga memperhatikan aspek penghargaan terhadap kelompok, orang, serta pendapat yang lain (others). Dua komponen itulah yang dapat menjaga tesis Hofmann di atas, bahwa untuk membangun peradaban (bina al-tsaqafah) dalam panggung intelektualisme Islam, pengakuan atas keragaman yang menjadi turunan konseptual moderasi beragama harus diposisikan sebagai komponen peyangga dasar.

Penggunaan prinsip evidentalism (data dan fakta) sebagai sebuah realitas majemuk menjadi bukti kuat intensitas dan ekstensifitas perjumpaan antar kelompok, etnis, komunitas, ras, agama, yang kesemuanya dapat berjalan beriringan tanpa menyisakan konflik dan derita berkepanjangan. Hal itu dapat dilihat dalam altar intelektualisme Islam yang mengajarkan kita semua untuk menerima keragaman pendapat, sebagaimana kita temui dalam keragaman mazhab fikih, teologi, tasawuf, dan filsafat.

Dr. Wildani Hefni, M.A. Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember

Dalam konteks mengelola keragaman tafsir keagamaan dengan mencerdaskan kehidupan keberagamaan di tengah masyarakat, pendekatan altruisme wasatiyah menjadi pijakan sebagai jembatan nilai fundamental keberagamaan yang bersifat altruistic, taqdiim al-ghair. Kata altruisme pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte. Comte mengartikan altruisme dengan living for others, yang dalam bahasa Perancis ditulis vivre pour autrui. Sebagaimana yang diungkap Robertus Robet, altruisme ditengarai berasal dari bahasa Perancis, autrui, bahasa yang digunakan Comte.  Merujuk pada kutipan yang ditulis Robet, Comte menulis, It follows that happiness and worth, as well in individuals as in societies, depend on adequate ascendancy of the sympathetic instincts. Thus the expression, living for others, is the simplest summary of the whole moral code of positivism. Kebahagiaan dan nilai, baik dalam individu maupun dalam masyarakat, bergantung pada dorongan naluri simpatik yang memadai. Jadi, ungkapan bahwa hidup untuk orang lain adalah ringkasan paling sederhana dari keseluruhan jangkar moral positivisme.

Pendekatan altruisme wasatiyah menjadi penting sejalan dengan jantung penguatan moderasi beragama untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang dapat menggerogoti koeksistensi damai dan mengancam keamanan kelompok minoritas yang rentan. Setidaknya ada dua komponen penting dalam altruisme, yaitu loving others (mencintai orang lain), dan making sure that they are appreciated (penghargaan terhadap orang lain).

Berkaitan dengan yang pertama, altruisme wasatiyah dalam keberagamaan muncul secara otentik akan simpati, empati, dan memiliki kepekaan terhadap nasib orang lain. Kepekaan yang diwujudkan dengan kasih sayang inilah yang pada akhirnya dapat menghilangkan sekat fanatisme perbedaan yang kerapkali melahirkan pertikaian. Yang ada, hanyalah ikatan persaudaraan dalam balutan ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah sebagai manifestasi solidaritas kemanusiaan.

Sementara yang kedua, pendekatan wasatiyah atau istilah yang sering saya gunakan samaha cum-maslaha, dalam pengertian teoritisnya tidak sekedar mengedepankan aspek kemaslahatan, tapi juga memperhatikan aspek penghargaan terhadap kelompok, orang, serta pendapat yang lain (others). Dua komponen itulah yang dapat menjaga tesis Hofmann di atas, bahwa untuk membangun peradaban (bina al-tsaqafah) dalam panggung intelektualisme Islam, pengakuan atas keragaman yang menjadi turunan konseptual moderasi beragama harus diposisikan sebagai komponen peyangga dasar.

Penggunaan prinsip evidentalism (data dan fakta) sebagai sebuah realitas majemuk menjadi bukti kuat intensitas dan ekstensifitas perjumpaan antar kelompok, etnis, komunitas, ras, agama, yang kesemuanya dapat berjalan beriringan tanpa menyisakan konflik dan derita berkepanjangan. Hal itu dapat dilihat dalam altar intelektualisme Islam yang mengajarkan kita semua untuk menerima keragaman pendapat, sebagaimana kita temui dalam keragaman mazhab fikih, teologi, tasawuf, dan filsafat.

Dr. Wildani Hefni, M.A. Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/