alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Kisah Dakwah Seorang Pencuri

Oleh: Dr. Rafid Abbas, MA.*)

Mobile_AP_Rectangle 1

Memahami makna dakwah menurut bahasa: “mengajak atau memanggil,”  menurut istilah: mengajak kepada Islam secara keseluruhan, untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan semua ajarannya. Adapun makna pencuri itu mengambil hak orang lain dengan cara yang bertentangan dengan ajaran Islam, sama halnya dengan korupsi, menodong, merampok, suap dan lain sebagainya. Jika pencuri di zaman sekarang ini banyak dilakukan dengan berbagai macam cara, hanya saja kebanyakan orang kurang teliti dalam menangkap suatu peristiwa dan menyikapinya bahkan sering terlupakan oleh karena profil Islam yang ditampilkan pelakunya.

Hal ini sebagaimana hadis dari kisah pencuri yang berdakwah dengan salah seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah, berikut kisahnya: “Kata Abu Hurairah: suatu ketika aku ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga zakat Ramadhan, kemudian aku didatangi oleh seseorang yang mengambil segenggam makanan hasil dari zakat tersebut, lalu aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya: sungguh kamu akan aku hadapkan kepada Rasulullah SAW, dia berkata: saya sangat membutuhkan makanan untuk diri saya dan keluarga saya. Kata Abu Hurairah: Aku merasa iba sehingga aku lepaskan.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya: Hai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh orang yang kau tangkap tadi malam? Aku menjawab: Ya Rasulullah! dia mengeluh bahwa dia sangat membutuhkan makanan untuk dirinya dan keluarganya, sehingga aku merasa kasihan, dan aku lepaskan dia. Rasulullah SAW bersabda: dia bohong dan dia akan kembali lagi, kata Abu Hurairah: Aku percaya dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa orang itu akan kembali lagi, maka aku bersiap-siap menghadangnya. Dia kemudian datang lagi dan mengambil makanan… (kisahnya ini berulang kali sampai ketiga kalinya, isi riwayatnya sama dengan yang pertama), kemudian Abu Hurairah berkata kepada pencuri tersebut bahwa kamu telah berjanji tidak akan mencuri lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketika pencuri tersebut hendak dibawa kehadapan Rasulullah SAW, dia berkata kepada Abu Hurairah: “Lepaskan saya, maka saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kata yang dengannya Allah akan memberimu pertolongan. Abu Hurairah bertanya: Apa itu? jawab pencuri itu: Apabila kamu akan tidur, bacalah ayat kursi (QS.al-Baqarah: 255), maka Allah akan memberikan penjagaan yang akan melindungimu dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi. Kata Abu Hurairah; Akupun melepasannya.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Apa yang dilakukan oleh orang itu tadi malam? Aku jawab: Ya Rasulullah! dia mengajarkan kepadaku, bahwa Allah akan memberi pertolongan dengan bacaan ayat kursyi (dakwahnya tentang ayat kursyi), Rasulullah SAW bertanya: Apa itu? Aku jawab: pencuri itu mengatakan kepadaku, bacalah ayat kursyi, maka Allah akan menjagamu dari syaitan sampai pagi. Rasulullah SAW bersabda: apa yang dikatakannya itu memang benar, meskipun dia pendusta. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:  Hai Abu Hurairah! tahukah kamu siapa orang yang berbicara kepadamu itu,  jawabnya: tidak. Rasulullah SAW bersabda: Dia itu syaitan”. (HR. Bukhari : 1068).

Melihat kisah di atas, ada tiga hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Pertama, kisah Abu Hurairah sebagai orang kepercayaan Rasulullah SAW diperintah menjaga harta zakat Ramadhan, ketika ada pencuri kemudian ditangkapnya, tetapi dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut, kemudian dilepaskannya. Keesokan harinya Rasulullah SAW mengingatkannya bahwa alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut adalah bohong. Peristiwa ini terjadi sampai tiga kali, yang ketiga kalinya, pencuri berdakwah dengan mengajarkan ayat kursyi. Abu Hurairah sangat haus dengan ilmu dan dengan latar belakang kehidupan yang sangat miskin, Abu Hurairah merasa kasihan dengan pencuri tersebut, bahkan haus ilmu ini sudah diketahui oleh pencuri tersebut, dengan demikian Abu Hurairah sudah tertipu dengan dakwah pencuri tersebut.

- Advertisement -

Memahami makna dakwah menurut bahasa: “mengajak atau memanggil,”  menurut istilah: mengajak kepada Islam secara keseluruhan, untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan semua ajarannya. Adapun makna pencuri itu mengambil hak orang lain dengan cara yang bertentangan dengan ajaran Islam, sama halnya dengan korupsi, menodong, merampok, suap dan lain sebagainya. Jika pencuri di zaman sekarang ini banyak dilakukan dengan berbagai macam cara, hanya saja kebanyakan orang kurang teliti dalam menangkap suatu peristiwa dan menyikapinya bahkan sering terlupakan oleh karena profil Islam yang ditampilkan pelakunya.

Hal ini sebagaimana hadis dari kisah pencuri yang berdakwah dengan salah seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah, berikut kisahnya: “Kata Abu Hurairah: suatu ketika aku ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga zakat Ramadhan, kemudian aku didatangi oleh seseorang yang mengambil segenggam makanan hasil dari zakat tersebut, lalu aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya: sungguh kamu akan aku hadapkan kepada Rasulullah SAW, dia berkata: saya sangat membutuhkan makanan untuk diri saya dan keluarga saya. Kata Abu Hurairah: Aku merasa iba sehingga aku lepaskan.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya: Hai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh orang yang kau tangkap tadi malam? Aku menjawab: Ya Rasulullah! dia mengeluh bahwa dia sangat membutuhkan makanan untuk dirinya dan keluarganya, sehingga aku merasa kasihan, dan aku lepaskan dia. Rasulullah SAW bersabda: dia bohong dan dia akan kembali lagi, kata Abu Hurairah: Aku percaya dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa orang itu akan kembali lagi, maka aku bersiap-siap menghadangnya. Dia kemudian datang lagi dan mengambil makanan… (kisahnya ini berulang kali sampai ketiga kalinya, isi riwayatnya sama dengan yang pertama), kemudian Abu Hurairah berkata kepada pencuri tersebut bahwa kamu telah berjanji tidak akan mencuri lagi.

Ketika pencuri tersebut hendak dibawa kehadapan Rasulullah SAW, dia berkata kepada Abu Hurairah: “Lepaskan saya, maka saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kata yang dengannya Allah akan memberimu pertolongan. Abu Hurairah bertanya: Apa itu? jawab pencuri itu: Apabila kamu akan tidur, bacalah ayat kursi (QS.al-Baqarah: 255), maka Allah akan memberikan penjagaan yang akan melindungimu dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi. Kata Abu Hurairah; Akupun melepasannya.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Apa yang dilakukan oleh orang itu tadi malam? Aku jawab: Ya Rasulullah! dia mengajarkan kepadaku, bahwa Allah akan memberi pertolongan dengan bacaan ayat kursyi (dakwahnya tentang ayat kursyi), Rasulullah SAW bertanya: Apa itu? Aku jawab: pencuri itu mengatakan kepadaku, bacalah ayat kursyi, maka Allah akan menjagamu dari syaitan sampai pagi. Rasulullah SAW bersabda: apa yang dikatakannya itu memang benar, meskipun dia pendusta. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:  Hai Abu Hurairah! tahukah kamu siapa orang yang berbicara kepadamu itu,  jawabnya: tidak. Rasulullah SAW bersabda: Dia itu syaitan”. (HR. Bukhari : 1068).

Melihat kisah di atas, ada tiga hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Pertama, kisah Abu Hurairah sebagai orang kepercayaan Rasulullah SAW diperintah menjaga harta zakat Ramadhan, ketika ada pencuri kemudian ditangkapnya, tetapi dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut, kemudian dilepaskannya. Keesokan harinya Rasulullah SAW mengingatkannya bahwa alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut adalah bohong. Peristiwa ini terjadi sampai tiga kali, yang ketiga kalinya, pencuri berdakwah dengan mengajarkan ayat kursyi. Abu Hurairah sangat haus dengan ilmu dan dengan latar belakang kehidupan yang sangat miskin, Abu Hurairah merasa kasihan dengan pencuri tersebut, bahkan haus ilmu ini sudah diketahui oleh pencuri tersebut, dengan demikian Abu Hurairah sudah tertipu dengan dakwah pencuri tersebut.

Memahami makna dakwah menurut bahasa: “mengajak atau memanggil,”  menurut istilah: mengajak kepada Islam secara keseluruhan, untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan semua ajarannya. Adapun makna pencuri itu mengambil hak orang lain dengan cara yang bertentangan dengan ajaran Islam, sama halnya dengan korupsi, menodong, merampok, suap dan lain sebagainya. Jika pencuri di zaman sekarang ini banyak dilakukan dengan berbagai macam cara, hanya saja kebanyakan orang kurang teliti dalam menangkap suatu peristiwa dan menyikapinya bahkan sering terlupakan oleh karena profil Islam yang ditampilkan pelakunya.

Hal ini sebagaimana hadis dari kisah pencuri yang berdakwah dengan salah seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah, berikut kisahnya: “Kata Abu Hurairah: suatu ketika aku ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga zakat Ramadhan, kemudian aku didatangi oleh seseorang yang mengambil segenggam makanan hasil dari zakat tersebut, lalu aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya: sungguh kamu akan aku hadapkan kepada Rasulullah SAW, dia berkata: saya sangat membutuhkan makanan untuk diri saya dan keluarga saya. Kata Abu Hurairah: Aku merasa iba sehingga aku lepaskan.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya: Hai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh orang yang kau tangkap tadi malam? Aku menjawab: Ya Rasulullah! dia mengeluh bahwa dia sangat membutuhkan makanan untuk dirinya dan keluarganya, sehingga aku merasa kasihan, dan aku lepaskan dia. Rasulullah SAW bersabda: dia bohong dan dia akan kembali lagi, kata Abu Hurairah: Aku percaya dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa orang itu akan kembali lagi, maka aku bersiap-siap menghadangnya. Dia kemudian datang lagi dan mengambil makanan… (kisahnya ini berulang kali sampai ketiga kalinya, isi riwayatnya sama dengan yang pertama), kemudian Abu Hurairah berkata kepada pencuri tersebut bahwa kamu telah berjanji tidak akan mencuri lagi.

Ketika pencuri tersebut hendak dibawa kehadapan Rasulullah SAW, dia berkata kepada Abu Hurairah: “Lepaskan saya, maka saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kata yang dengannya Allah akan memberimu pertolongan. Abu Hurairah bertanya: Apa itu? jawab pencuri itu: Apabila kamu akan tidur, bacalah ayat kursi (QS.al-Baqarah: 255), maka Allah akan memberikan penjagaan yang akan melindungimu dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi. Kata Abu Hurairah; Akupun melepasannya.

Ketika pagi hari, Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Apa yang dilakukan oleh orang itu tadi malam? Aku jawab: Ya Rasulullah! dia mengajarkan kepadaku, bahwa Allah akan memberi pertolongan dengan bacaan ayat kursyi (dakwahnya tentang ayat kursyi), Rasulullah SAW bertanya: Apa itu? Aku jawab: pencuri itu mengatakan kepadaku, bacalah ayat kursyi, maka Allah akan menjagamu dari syaitan sampai pagi. Rasulullah SAW bersabda: apa yang dikatakannya itu memang benar, meskipun dia pendusta. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:  Hai Abu Hurairah! tahukah kamu siapa orang yang berbicara kepadamu itu,  jawabnya: tidak. Rasulullah SAW bersabda: Dia itu syaitan”. (HR. Bukhari : 1068).

Melihat kisah di atas, ada tiga hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Pertama, kisah Abu Hurairah sebagai orang kepercayaan Rasulullah SAW diperintah menjaga harta zakat Ramadhan, ketika ada pencuri kemudian ditangkapnya, tetapi dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut, kemudian dilepaskannya. Keesokan harinya Rasulullah SAW mengingatkannya bahwa alasan yang dikemukakan oleh pencuri tersebut adalah bohong. Peristiwa ini terjadi sampai tiga kali, yang ketiga kalinya, pencuri berdakwah dengan mengajarkan ayat kursyi. Abu Hurairah sangat haus dengan ilmu dan dengan latar belakang kehidupan yang sangat miskin, Abu Hurairah merasa kasihan dengan pencuri tersebut, bahkan haus ilmu ini sudah diketahui oleh pencuri tersebut, dengan demikian Abu Hurairah sudah tertipu dengan dakwah pencuri tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/