Islam lahir pada awal abad ke-7 Masehi di Makkah, dan segera mengalami ekspansi yang sangat cepat pada masa-masa selanjutnya. Tokoh utama yang memainkan peranan sangat penting dalam proses penyiaran dan penyebaran Islam adalah Nabi Muhammad SAW yang mendapat dukungan penuh dari para sahabatnya yang setia dan terpercaya. Nabi Muhammad mempersembahkan seluruh komitmen dan pengabdiannya kepada agama Islam yang dibawanya selama 23 tahun: 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.

Proses islamisasi di seluruh kawasan jazirah Arab telah usai sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW (di tahun 632 M) pada usia 63 tahun. Suku Quraisy di Makkah, suku yang sangat terpandang dari mana Nabi Muhammad SAW berasal, dan suku-suku Arab lainnya di seluruh kawasan jazirah Arab secara merata telah memeluk Islam. Dalam masa yang sangat singkat, dengan dinamika kekuatan yang luar biasa, Islam selanjutnya menyebar ke luar kawasan jazirah Arab.

Dari sejarah bisa kita pahami bahwa begitu Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira pada usia ke-40, beliau tidak lagi berkunjung ke tempat tersebut untuk selamanya, tetapi langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat yang sudah sekian lama didera kezaliman, ketidakadilan, dan diskriminasi.

Nabi Muhammad SAW segera mengawali upaya-upaya pendidikan dan memandu umat di lingkungan keluarga terdekat, kemudian secara berangsur ke tengah publik. Ajaran Islam yang disemangati misi iqra’ jelas menstimulasi energi umat untuk membaca dan berkarya, sehingga, baik di Makkah maupun di Madinah, Islam selalu bersentuhan dengan kehidupan yang sangat dinamis, kompetitif, dan sangat inspiratif.

Meskipun di masa Nabi Saw belum ada lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah, atau pesantren, tetapi praktik pendidikan telah mapan. M. Alawi Al-Maliki (1984: 5-13) memberi gambaran. Menurutnya, ”Nabi Muhammad SAW tidak memiliki madrasah dan ma’had. Tempat beliau duduk memberikan ceramah di hadapan para sahabat sekaligus sebagai santrinya. Namun, majelis keilmuan beliau luas, umum, dan universal (syamil), laksana hujan turun di setiap tempat, memberikan manfaat kepada orang-orang khusus maupun orang-orang umum. Posisi beliau dalam ketentaraan adalah pelatih dan pemberi nasehat yang mengobarkan hati, memberikan dukungan kepada tentara dengan ucapannya. Posisi beliau saat bepergian adalah guru petunjuk sekaligus penunjuk jalan. Di rumah beliau pendidik keluarganya. Di Masjid beliau pendidik, juru khotbah, qodhi pemutus perkara, pemberi fatwa, dan pengatur. Di jalan ada seseorang yang paling lemah di antara manusia memohonnya berhenti untuk sekadar bertanya tentang urusan agamanya, beliau pun berkenan berhenti”.

Dalam berbagai kesempatan Beliau bukan hanya mendidik, tetapi sekaligus menunjukkan jalan kemaslahatan. Kehidupannya demikian memukau dan inspiratif, sehingga manusia tidak hanya mendapatkan ilmu dan kesadaran darinya, tetapi lebih dari itu, beliau selalu memancarkan nilai-nilai luhur dan kemuliaan. Sejarah kehidupannya (sirah) yang ditulis oleh para sejarawan sejak abad ke-8 Masehi, seperti dilakukan Urwab ibn Zubair ibn Awwam, ‘Amir ibn Syarhabil yang menyusun Kitab Al-Maghāzi, Muhammad ibn Muslim ibn Syihab az-Zuhri, dan salah seorang murid Az-Zuhri, yakni Muhammad ibn Ishaq) adalah penulis-penulis sirah yang karyanya sangat mempesona, menggema dan actual hingga kini. Karena itu, setiap muslim mengakrabinya dan menjadikannya sebagai “a beloved role mode”.

Alquran menegaskan: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad), dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang” (QS. An-Nisa’, 4: 174). Sosok beliau adalah bukti kebenaran yang bersumber dari Allah SWT. Banyak tafsir tentang makna ayat ini, namun yang jelas dan pasti bahwa keterlibatan Allah SWT secara langsung menyangkut sosok itu amat-sangat besar. Semua kegiatannya tidak lahir semata-mata dari kecerdasan atau kegeniusan beliau, tetapi karena bimbingan Allah SWT. Alquran adalah mukjizad dan Nabi Muhammad SAW memperagakan Alquran dalam kehidupan keseharian beliau, sebagaimana penjelasan Aisyah Ra yang melukiskan Nabi Muhammad SAW sebagai “kā khuluquhul-qur’ān”, kepribadian dan tingkah laku beliau adalah cerminan dari  Alquran. Karena itu, tidak keliru jika ketika memahami Sirah Nabi Muhammad SAW tidak bisa melepaskan diri dari sosok beliau yang harus diyakini sebagai Nabi dan sekaligus sebagai bukti kebenaran.