Pendidikan adalah kunci sebuah peradaban. Kemajuan pendidikan, khususnya pendidikan Islam akan berpengaruh signifikan terhadap kemajuan peradaban bangsa, khususnya Indonesia. Akhir-akhir ini, perdebatan wacana tentang “Pergeseran Paradigma Pendidikan Islam di Indonesia” telah menjadi tema sentral. Banyak argumen yang dikemukakan, salah satunya karena pendidikan Islam selalu bersentuhan dengan umat Islam yang di Indonesia jumlahnya melebihi 200 juta jiwa, dan tentu merupakan jumlah umat Islam terbesar di dunia.

Tema ini sengaja ditawarkan sebagai bahan diskusi para pakar dan pegiat pendidikan Islam. Keberadaan ahli yang saya menjadi “think tank” tersebut berpengaruh strategis terhadap pengembangan pendidikan Islam seperti telah dicontohkan pada awal gerakan reformasi 1998. Salah satu tuntutannya ialah perlunya reformasi dalam bidang pendidikan. Reformasi dimaksud akhirnya terwujud melalui Amandemen IV UUD 1945 (10 Agustus 2002) dan disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (11 Juni 2003).

Dalam perkembangannya, reformasi ternyata membawa gagasan perlunya paradigma baru, meskipun istilah itu sudah tidak persis lagi dengan konsep aslinya. Istilah paradigma baru, mula-mula dikenal dalam ilmu sosial, dengan tokoh utamanya Thomas S. Kuhn. Dalam The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago: The University of Chicago Press, 1970) Kuhn menjelaskan bahwa perkembangan ilmu sosial sangat berbeda dengan perkembangan ilmu alam. Jika ilmu alam berkembang secara evolusi dan akumulatif, maka ilmu sosial berkembang secara revolusi dan tidak akumulatif. Dalam menjelaskan perbedaan perkembangan itulah, Kuhn menggunakan konsep paradigma. Kuhn menjelaskan bahwa pada dasarnya realitas sosial itu dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang pada gilirannya akan menghasilkan mode of knowing tertentu pula, sehingga ilmu-ilmu yang sudah ada dan menjadi sebuah paradigma (yang disebut normal science) telah mengalami krisis, lalu timbullah revolusi ilmu. Kemudian ilmu yang memberontak itu menjadi normal science baru, menjadi sebuah paradigma baru.

Pergeseran paradigma, adalah perubahan mendasar dan sistemik. Banyak ahli menyatakan, bahwa pergeseran terjadi karena tiga faktor, yaitu: pengaruh perubahan, pengaruh kebijakan dan pengaruh tuntutan masyarakat. Perubahan pasti terus bergulir, kajian futuristik mempercepat proses tersebut, sehingga kajian baru pendidikan Islam intens dilakukan. Alvin Toffler, John Naisbitt, dan Patricia Aburdene termasuk futurolog papan atas dan relatif terkenal di Indonesia. Ketika masih tahun 1970, Toffler mempublikasikan sebuah buku berjudul Future Shock (New York: Random House, 1970) yang terbukti menjadi bestseller untuk beberapa waktu. Buku ini tidak saja berceritera tentang kejutan-kejutan masa depan, tetapi penerbitannya sendiri merupakan kejutan bagi banyak pembaca. Artinya, pada saat itu masih banyak orang yang tidak membayangkan bahwa masa depan membawa sedemikian banyak perubahan mengejutkan.

Pada intinya Toffler mengidentifikasi tiga fase (wave, gelombang) perkembangan peradaban manusia. Pertama, fase pertanian, adalah fase dimana pertanian menjadi sentral kehidupan. Keberhasilan dan kekuasaan secara dekat berkaitan dengan pertanian dan tanah, sehingga penguasa berpengaruh adalah tuan tanah. Kedua, fase industri, adalah fase dimana industri menjadi poros dan sumber pengaruh dan kekuasaan, sehingga dominasi atas kehidupan berpihak pada penguasa industria, para konglomerat dan pemilik modal. Ketiga, fase informasi, adalah fase dimana informasi menjadi primadona serta penentu sukses dan pengaruh. Kekuasaan tidak lagi ditentukan oleh kekayaan materi seperti pada fase sebelumnya. Rumus sederhananya adalah: “siapa yg menguasai informasi ialah yang menguasai kehidupan”. Memiliki tanah yang luas dan modal yang besar telah bergeser relevansinya oleh penguasaan informasi. Kini, kita telah memasuki era industri 4.0 yang memiliki karakteristik dan implikasi berbeda dengan era sebelumnya.

Kebijakan baru yang mendasar dan sistemik, pasti bereffect terhadap pergeseran paradigm, khususnya paradigma pendidikan Islam. Para era reformasi, seperti dibahas sebelumnya perubahan paradigma pendidikan Islam terjadi sejak amandemen IV UUD 1945 pasal 31 yang berefek terjadinya perubahan kebijakan secara mendasar dan sistemik. Kenapa?, karena UUD 1945 (yang penuh nuansa pendidikan Islam) adalah rujukan tertinggi dalam struktur perundang-undangan di Indonesia, semua aturan dibawahnya (undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan sebagainya) tidak boleh bertentangan. Contoh aktual adalah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas 2003, 11 Juni 2003) setelah Amandemen IV UUD 1945 (10 Agustus 2002) selanjutnya diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren (UU Pesantren, 16 Oktober 2019).