alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

 Membidik Pendidikan Karakter Kepribadian dan Kinerja  

Oleh: Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I

Mobile_AP_Rectangle 1

Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan hari Kebangitan Nasional (Harkitnas). Tepatnya pada tanggal 20 Mei 2021 dan menjadi momen bersejarah bagi rakyat Indonesia. Momen tersebut merupakan awal bangkitnya semangat perjuangan, persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang di prakarsai oleh gerakan Boedi Oetomo. Dibalik momen bersejarah tersebut lahirlah sebuah organisasi Boedi Oetomo tepat 37 tahun sebelum Indonesia merdeka. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan, sosial, ekonomi serta kebudayaan. Organisasi ini menjadi pelopor semangat persatuan sebab dari sinilah golongan orang yang berpendidikan mengenal istilah “tanah air”

Sebagai bentuk mengenang semangat perjuangan serta mengabadikan momen teristimewa Hari Kebangkitan Nasional, di sekolah-sekolah pada umumnya melakukan upacara. Di abad 21 ini peringatan hari Kebangkitan Nasional harus kita maknai sebagai momentum sinergi menghadapi dekadensi moral. Realitanya masih banyak kasus yang mencerminkan dekadensi moral di Indonesia, baik itu berupa kasus pembunuhan, kekerasan simbolik, kasus korupsi, dan lain-lain. Tentu saja, keadaan seperti menjadi keprihatinan kita bersama.

Sebagaimana dilansir dari Kumparan.com seorang remaja melakukan aksi  pembunuhan di Cianjur pada tahun 2021. Sebelumnya, residivis ini terlibat  kasus pembunuhan pada tahun 2008 dan  kasus pencurian pada  tahun 2016. Dikanal berita lain news.detik.com memberitakan adanya kekerasan simbolik oleh WNI berupa pembakaran bendera merah putih. Tindakan tersebut menggambarkan bentuk pelecehan kepada negara. Kasus selanjutnya yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bangsa Indonesia adalah  kejahatan para koruptor yang tak kunjung padam hingga kini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut hemat penulis, penanaman karakter sejak dini merupakan salah satu solusi atas problematika tersebut. Karakter yang baik perlu dibangun dan dikembangkan secara sadar melalui proses yang tidak instan karena karakter tidak bisa diwariskan atau baawaan sejak lahir. Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan karakter pendidikan dan karakter kinerja sejak dini. Kedua pendidikan karakter ini, baik yang terkait dengan kepribadian maupun kinerja memiliki peran sangat penting.

Mengapa dua karakter tersebut sangat penting? Sebagai gambaran, percuma memiliki karakter sikap yang jujur, namun pada karakter kinerjanya ia malas. Begitu sebaliknya akan terasa rancu apabila semangat bekerja namun tidak jujur?  Dan hal ini bukan hanya merugikan diri sendiri melainkan juga negara. Seperti yang telah disebutkan diatas yaitu korupsi adalah cerminan tidak melekatnya karakter jujur pada seseorang yang jika dibiarkan akan menggerogoti uang rakyat.

 

 Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yakni pendidikan dan karakter. Pendidikan memiliki berbagai definisi dari berbagai ahli tergantung dari sudut pandang, paradigma, metodologi dan disiplin keilmuan yang digunakan. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Sedangkan pendidikan menurut Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 di definisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan  kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan dipandang sebagai suatu proses humanisasi untuk olah rasa, olah raga, dan olah pikir yang dibutuhkan diri, masyarakat, bangsa dan negara.

- Advertisement -

Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan hari Kebangitan Nasional (Harkitnas). Tepatnya pada tanggal 20 Mei 2021 dan menjadi momen bersejarah bagi rakyat Indonesia. Momen tersebut merupakan awal bangkitnya semangat perjuangan, persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang di prakarsai oleh gerakan Boedi Oetomo. Dibalik momen bersejarah tersebut lahirlah sebuah organisasi Boedi Oetomo tepat 37 tahun sebelum Indonesia merdeka. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan, sosial, ekonomi serta kebudayaan. Organisasi ini menjadi pelopor semangat persatuan sebab dari sinilah golongan orang yang berpendidikan mengenal istilah “tanah air”

Sebagai bentuk mengenang semangat perjuangan serta mengabadikan momen teristimewa Hari Kebangkitan Nasional, di sekolah-sekolah pada umumnya melakukan upacara. Di abad 21 ini peringatan hari Kebangkitan Nasional harus kita maknai sebagai momentum sinergi menghadapi dekadensi moral. Realitanya masih banyak kasus yang mencerminkan dekadensi moral di Indonesia, baik itu berupa kasus pembunuhan, kekerasan simbolik, kasus korupsi, dan lain-lain. Tentu saja, keadaan seperti menjadi keprihatinan kita bersama.

Sebagaimana dilansir dari Kumparan.com seorang remaja melakukan aksi  pembunuhan di Cianjur pada tahun 2021. Sebelumnya, residivis ini terlibat  kasus pembunuhan pada tahun 2008 dan  kasus pencurian pada  tahun 2016. Dikanal berita lain news.detik.com memberitakan adanya kekerasan simbolik oleh WNI berupa pembakaran bendera merah putih. Tindakan tersebut menggambarkan bentuk pelecehan kepada negara. Kasus selanjutnya yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bangsa Indonesia adalah  kejahatan para koruptor yang tak kunjung padam hingga kini.

Menurut hemat penulis, penanaman karakter sejak dini merupakan salah satu solusi atas problematika tersebut. Karakter yang baik perlu dibangun dan dikembangkan secara sadar melalui proses yang tidak instan karena karakter tidak bisa diwariskan atau baawaan sejak lahir. Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan karakter pendidikan dan karakter kinerja sejak dini. Kedua pendidikan karakter ini, baik yang terkait dengan kepribadian maupun kinerja memiliki peran sangat penting.

Mengapa dua karakter tersebut sangat penting? Sebagai gambaran, percuma memiliki karakter sikap yang jujur, namun pada karakter kinerjanya ia malas. Begitu sebaliknya akan terasa rancu apabila semangat bekerja namun tidak jujur?  Dan hal ini bukan hanya merugikan diri sendiri melainkan juga negara. Seperti yang telah disebutkan diatas yaitu korupsi adalah cerminan tidak melekatnya karakter jujur pada seseorang yang jika dibiarkan akan menggerogoti uang rakyat.

 

 Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yakni pendidikan dan karakter. Pendidikan memiliki berbagai definisi dari berbagai ahli tergantung dari sudut pandang, paradigma, metodologi dan disiplin keilmuan yang digunakan. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Sedangkan pendidikan menurut Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 di definisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan  kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan dipandang sebagai suatu proses humanisasi untuk olah rasa, olah raga, dan olah pikir yang dibutuhkan diri, masyarakat, bangsa dan negara.

Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan hari Kebangitan Nasional (Harkitnas). Tepatnya pada tanggal 20 Mei 2021 dan menjadi momen bersejarah bagi rakyat Indonesia. Momen tersebut merupakan awal bangkitnya semangat perjuangan, persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang di prakarsai oleh gerakan Boedi Oetomo. Dibalik momen bersejarah tersebut lahirlah sebuah organisasi Boedi Oetomo tepat 37 tahun sebelum Indonesia merdeka. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan, sosial, ekonomi serta kebudayaan. Organisasi ini menjadi pelopor semangat persatuan sebab dari sinilah golongan orang yang berpendidikan mengenal istilah “tanah air”

Sebagai bentuk mengenang semangat perjuangan serta mengabadikan momen teristimewa Hari Kebangkitan Nasional, di sekolah-sekolah pada umumnya melakukan upacara. Di abad 21 ini peringatan hari Kebangkitan Nasional harus kita maknai sebagai momentum sinergi menghadapi dekadensi moral. Realitanya masih banyak kasus yang mencerminkan dekadensi moral di Indonesia, baik itu berupa kasus pembunuhan, kekerasan simbolik, kasus korupsi, dan lain-lain. Tentu saja, keadaan seperti menjadi keprihatinan kita bersama.

Sebagaimana dilansir dari Kumparan.com seorang remaja melakukan aksi  pembunuhan di Cianjur pada tahun 2021. Sebelumnya, residivis ini terlibat  kasus pembunuhan pada tahun 2008 dan  kasus pencurian pada  tahun 2016. Dikanal berita lain news.detik.com memberitakan adanya kekerasan simbolik oleh WNI berupa pembakaran bendera merah putih. Tindakan tersebut menggambarkan bentuk pelecehan kepada negara. Kasus selanjutnya yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bangsa Indonesia adalah  kejahatan para koruptor yang tak kunjung padam hingga kini.

Menurut hemat penulis, penanaman karakter sejak dini merupakan salah satu solusi atas problematika tersebut. Karakter yang baik perlu dibangun dan dikembangkan secara sadar melalui proses yang tidak instan karena karakter tidak bisa diwariskan atau baawaan sejak lahir. Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan karakter pendidikan dan karakter kinerja sejak dini. Kedua pendidikan karakter ini, baik yang terkait dengan kepribadian maupun kinerja memiliki peran sangat penting.

Mengapa dua karakter tersebut sangat penting? Sebagai gambaran, percuma memiliki karakter sikap yang jujur, namun pada karakter kinerjanya ia malas. Begitu sebaliknya akan terasa rancu apabila semangat bekerja namun tidak jujur?  Dan hal ini bukan hanya merugikan diri sendiri melainkan juga negara. Seperti yang telah disebutkan diatas yaitu korupsi adalah cerminan tidak melekatnya karakter jujur pada seseorang yang jika dibiarkan akan menggerogoti uang rakyat.

 

 Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yakni pendidikan dan karakter. Pendidikan memiliki berbagai definisi dari berbagai ahli tergantung dari sudut pandang, paradigma, metodologi dan disiplin keilmuan yang digunakan. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Sedangkan pendidikan menurut Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 di definisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan  kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan dipandang sebagai suatu proses humanisasi untuk olah rasa, olah raga, dan olah pikir yang dibutuhkan diri, masyarakat, bangsa dan negara.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/