alexametrics
32.5 C
Jember
Friday, 22 October 2021

Antara Orientalisme, Studi Islam, dan Dakwah di Barat

Dr. Aminullah Elhady, M.Ag.

Mobile_AP_Rectangle 1

Karya para pemikir dan ilmuwan Muslim abad pertengahan menjadi magnit yang manarik perhatian para sarjana Barat itu. Mereka antara lain Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi,  Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Mawardi, Ibn Khaldun adalah tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sejumlah sarjana Barat mengakui pengaruh tokoh-tokoh Muslim itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban bagi dunia, yang untuk masa tertentu diklaim oleh sebagian orang sebagai kemajuan yang dihasilkan oleh Barat. Thomas Arnold dan Alfred Gullaum menulis buku The Legacy of Islam, di mana mereka menggambarkan sumbangan Islam kepada kemajuan Barat dan Dunia.

 

Dakwah Islam di Barat

Mobile_AP_Rectangle 2

Relasi gerakan orientalisme di Barat serta pengkajian Islam yang dilakukan oleh sarjana Barat tidak selalu menghasilkan citra buruk dan negatif. Masyarakat Barat secara umum memiliki sikap rasional dalam menghadapi sesuatu sebagai konsekuensi dari pandangan “disini kini” mereka sehingga tidak ada yang absolut, termasuk juga opini publik yang berkembang tentang Islam. Setiap waktu bisa saja berubah.

Peta dakwah Islam di negara-negara Barat berkembang mengiringi dinamika dan kondisi sosial politiknya. Sebagai contoh, di Amerika setelah terjadi peristiwa WTC 9/11 Islam dan orang-orang Muslim di negara-negara non-Muslim mendapat sorotan dengan kebencian, sinisme, kecurigaan, sinisme, dan permusuhan. Keadaan demikian disebabkan citra yang dibangun oleh kekuatan politik dengan dukungan media yang mengidentikkan Islam dan penganutnya dengan kekerasan dan terorisme. Karena citra yang dibangun sedemikian itu, maka tidak sedikit Muslim di negara-negara Non-Muslim itu mendapat perlakuan tidak adil dan diskriminatif. Jadilah peristiwa itu melengkapi atau memperkuat resistensi masyarakat Barat terhadap Islam, yang selanjutnya berkembang menjadi sikap Islamophobia, kebencian karena ketakutan akan kebangkitan Islam di Dunia.

Dari sisi dakwah, terjadi suatu keajaiban sejarah karena peristiwa tersebut, sebab realitasnya Islam berkembang lebih cepat dari sebelumnya. Bahwa realitas menunjukkan bahwa Islam berhasil berjalan di luar nalar manusia, meskipun dengan logika akal sehat. Nalar yang dimaksud di sini adalah ketika Islam dan pengikutnya dikecam dan dicemooh, karena dicitrakan berkait dengan tragedi tersebut, sehingga dapat dilogikakan bahwa Islam dan Muslim itu berkait dengan kekerasan dan terorisme, serta nir-kemanusiaan dan peradaban. Akan tetapi pada saat bersamaan, tidak sedikit dari kalangan cerdik-cendekia yang menyangsikan kebenaran peristiwa yang dianggap tragedi itu. Logika seperti terbalik-balik, dari satu sisi orang bisa percaya Islam mengajarkan “jihad” yang dalam bahasa Barat sering disebut sebagai holy war (perang suci), tetapi dari sisi lain ada yang tidak yakin kalau ada agama mengajarkan tindakan destruktif terhadap peradaban dan kemanusiaan, kecuali agama yang diselewengkan.

Ternyata memang benar “ada hikmah di balik petaka”, sebab tidak lama setelah tragedi itu, bukan rahasia bahwa ada ratusan atau bahkan ribuan orang menyatakan diri berkonversi masuk Islam dan kemudian menyatakan mengalami kedamaian sejak itu. Artinya, ada kekuatan adikodrati yang terlibat dengan terjadinya blessing in disguise karena peristiwa tersebut. Di sinilah dakwah yang digerakkan oleh tangan Tuhan itu mencapai hasilnya, di mana karena peristiwa WTC 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam dan umatnya, maka banyak anggota masyarakat Amerika terpanggil untuk tahu, timbul curiousity mereka untuk mengetahui hakikat Islam lebih dalam dan lebih jauh.

Media dakwah Islam bukan hanya Islamic  Center di beberapa kota di negara-negara Barat, melainkan kampus-kampus, tentu saja bukan kampus lembaga pendidikan Islam, pun menjadi jembatan untuk tersebarnya informasi tentang Islam, di mana sering diselenggarakan forum-forum interfaith dialogue, atau dialog antar-keyakinan. Banyak forum menyelenggarakan konferensi tentang agama dan kekerasan, dengan menghadirkan akademisi dan tokoh agama sebagai narasumber. Forum-forum itu menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat sekaligus menjadi media penerangan tentang Islam.

Diskursus mengenai gerakan dan kajian Barat atas Islam merupakan sebagian dari tema dalam Islamic Studies, tidak hanya disajikan pada institusi pendidikan tinggi di Barat, melainkan juga di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Karena itu pula, Universitas Islam Negeri  UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS  Jember) mulai tahun akademik 2021/2022  ini menyelenggarakan pendidikan dalam bidang Studi Islam (Dirasat Islamiyah atau Islamic Studies) pada Program Doktor, yang dua tahun sebelumnya diawali dengan penyelenggaraan pendidikan dalam bidang tersebut pada jenjang Program Magister.

 

 

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember.

- Advertisement -

Karya para pemikir dan ilmuwan Muslim abad pertengahan menjadi magnit yang manarik perhatian para sarjana Barat itu. Mereka antara lain Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi,  Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Mawardi, Ibn Khaldun adalah tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sejumlah sarjana Barat mengakui pengaruh tokoh-tokoh Muslim itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban bagi dunia, yang untuk masa tertentu diklaim oleh sebagian orang sebagai kemajuan yang dihasilkan oleh Barat. Thomas Arnold dan Alfred Gullaum menulis buku The Legacy of Islam, di mana mereka menggambarkan sumbangan Islam kepada kemajuan Barat dan Dunia.

 

Dakwah Islam di Barat

Relasi gerakan orientalisme di Barat serta pengkajian Islam yang dilakukan oleh sarjana Barat tidak selalu menghasilkan citra buruk dan negatif. Masyarakat Barat secara umum memiliki sikap rasional dalam menghadapi sesuatu sebagai konsekuensi dari pandangan “disini kini” mereka sehingga tidak ada yang absolut, termasuk juga opini publik yang berkembang tentang Islam. Setiap waktu bisa saja berubah.

Peta dakwah Islam di negara-negara Barat berkembang mengiringi dinamika dan kondisi sosial politiknya. Sebagai contoh, di Amerika setelah terjadi peristiwa WTC 9/11 Islam dan orang-orang Muslim di negara-negara non-Muslim mendapat sorotan dengan kebencian, sinisme, kecurigaan, sinisme, dan permusuhan. Keadaan demikian disebabkan citra yang dibangun oleh kekuatan politik dengan dukungan media yang mengidentikkan Islam dan penganutnya dengan kekerasan dan terorisme. Karena citra yang dibangun sedemikian itu, maka tidak sedikit Muslim di negara-negara Non-Muslim itu mendapat perlakuan tidak adil dan diskriminatif. Jadilah peristiwa itu melengkapi atau memperkuat resistensi masyarakat Barat terhadap Islam, yang selanjutnya berkembang menjadi sikap Islamophobia, kebencian karena ketakutan akan kebangkitan Islam di Dunia.

Dari sisi dakwah, terjadi suatu keajaiban sejarah karena peristiwa tersebut, sebab realitasnya Islam berkembang lebih cepat dari sebelumnya. Bahwa realitas menunjukkan bahwa Islam berhasil berjalan di luar nalar manusia, meskipun dengan logika akal sehat. Nalar yang dimaksud di sini adalah ketika Islam dan pengikutnya dikecam dan dicemooh, karena dicitrakan berkait dengan tragedi tersebut, sehingga dapat dilogikakan bahwa Islam dan Muslim itu berkait dengan kekerasan dan terorisme, serta nir-kemanusiaan dan peradaban. Akan tetapi pada saat bersamaan, tidak sedikit dari kalangan cerdik-cendekia yang menyangsikan kebenaran peristiwa yang dianggap tragedi itu. Logika seperti terbalik-balik, dari satu sisi orang bisa percaya Islam mengajarkan “jihad” yang dalam bahasa Barat sering disebut sebagai holy war (perang suci), tetapi dari sisi lain ada yang tidak yakin kalau ada agama mengajarkan tindakan destruktif terhadap peradaban dan kemanusiaan, kecuali agama yang diselewengkan.

Ternyata memang benar “ada hikmah di balik petaka”, sebab tidak lama setelah tragedi itu, bukan rahasia bahwa ada ratusan atau bahkan ribuan orang menyatakan diri berkonversi masuk Islam dan kemudian menyatakan mengalami kedamaian sejak itu. Artinya, ada kekuatan adikodrati yang terlibat dengan terjadinya blessing in disguise karena peristiwa tersebut. Di sinilah dakwah yang digerakkan oleh tangan Tuhan itu mencapai hasilnya, di mana karena peristiwa WTC 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam dan umatnya, maka banyak anggota masyarakat Amerika terpanggil untuk tahu, timbul curiousity mereka untuk mengetahui hakikat Islam lebih dalam dan lebih jauh.

Media dakwah Islam bukan hanya Islamic  Center di beberapa kota di negara-negara Barat, melainkan kampus-kampus, tentu saja bukan kampus lembaga pendidikan Islam, pun menjadi jembatan untuk tersebarnya informasi tentang Islam, di mana sering diselenggarakan forum-forum interfaith dialogue, atau dialog antar-keyakinan. Banyak forum menyelenggarakan konferensi tentang agama dan kekerasan, dengan menghadirkan akademisi dan tokoh agama sebagai narasumber. Forum-forum itu menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat sekaligus menjadi media penerangan tentang Islam.

Diskursus mengenai gerakan dan kajian Barat atas Islam merupakan sebagian dari tema dalam Islamic Studies, tidak hanya disajikan pada institusi pendidikan tinggi di Barat, melainkan juga di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Karena itu pula, Universitas Islam Negeri  UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS  Jember) mulai tahun akademik 2021/2022  ini menyelenggarakan pendidikan dalam bidang Studi Islam (Dirasat Islamiyah atau Islamic Studies) pada Program Doktor, yang dua tahun sebelumnya diawali dengan penyelenggaraan pendidikan dalam bidang tersebut pada jenjang Program Magister.

 

 

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember.

Karya para pemikir dan ilmuwan Muslim abad pertengahan menjadi magnit yang manarik perhatian para sarjana Barat itu. Mereka antara lain Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi,  Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Mawardi, Ibn Khaldun adalah tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sejumlah sarjana Barat mengakui pengaruh tokoh-tokoh Muslim itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban bagi dunia, yang untuk masa tertentu diklaim oleh sebagian orang sebagai kemajuan yang dihasilkan oleh Barat. Thomas Arnold dan Alfred Gullaum menulis buku The Legacy of Islam, di mana mereka menggambarkan sumbangan Islam kepada kemajuan Barat dan Dunia.

 

Dakwah Islam di Barat

Relasi gerakan orientalisme di Barat serta pengkajian Islam yang dilakukan oleh sarjana Barat tidak selalu menghasilkan citra buruk dan negatif. Masyarakat Barat secara umum memiliki sikap rasional dalam menghadapi sesuatu sebagai konsekuensi dari pandangan “disini kini” mereka sehingga tidak ada yang absolut, termasuk juga opini publik yang berkembang tentang Islam. Setiap waktu bisa saja berubah.

Peta dakwah Islam di negara-negara Barat berkembang mengiringi dinamika dan kondisi sosial politiknya. Sebagai contoh, di Amerika setelah terjadi peristiwa WTC 9/11 Islam dan orang-orang Muslim di negara-negara non-Muslim mendapat sorotan dengan kebencian, sinisme, kecurigaan, sinisme, dan permusuhan. Keadaan demikian disebabkan citra yang dibangun oleh kekuatan politik dengan dukungan media yang mengidentikkan Islam dan penganutnya dengan kekerasan dan terorisme. Karena citra yang dibangun sedemikian itu, maka tidak sedikit Muslim di negara-negara Non-Muslim itu mendapat perlakuan tidak adil dan diskriminatif. Jadilah peristiwa itu melengkapi atau memperkuat resistensi masyarakat Barat terhadap Islam, yang selanjutnya berkembang menjadi sikap Islamophobia, kebencian karena ketakutan akan kebangkitan Islam di Dunia.

Dari sisi dakwah, terjadi suatu keajaiban sejarah karena peristiwa tersebut, sebab realitasnya Islam berkembang lebih cepat dari sebelumnya. Bahwa realitas menunjukkan bahwa Islam berhasil berjalan di luar nalar manusia, meskipun dengan logika akal sehat. Nalar yang dimaksud di sini adalah ketika Islam dan pengikutnya dikecam dan dicemooh, karena dicitrakan berkait dengan tragedi tersebut, sehingga dapat dilogikakan bahwa Islam dan Muslim itu berkait dengan kekerasan dan terorisme, serta nir-kemanusiaan dan peradaban. Akan tetapi pada saat bersamaan, tidak sedikit dari kalangan cerdik-cendekia yang menyangsikan kebenaran peristiwa yang dianggap tragedi itu. Logika seperti terbalik-balik, dari satu sisi orang bisa percaya Islam mengajarkan “jihad” yang dalam bahasa Barat sering disebut sebagai holy war (perang suci), tetapi dari sisi lain ada yang tidak yakin kalau ada agama mengajarkan tindakan destruktif terhadap peradaban dan kemanusiaan, kecuali agama yang diselewengkan.

Ternyata memang benar “ada hikmah di balik petaka”, sebab tidak lama setelah tragedi itu, bukan rahasia bahwa ada ratusan atau bahkan ribuan orang menyatakan diri berkonversi masuk Islam dan kemudian menyatakan mengalami kedamaian sejak itu. Artinya, ada kekuatan adikodrati yang terlibat dengan terjadinya blessing in disguise karena peristiwa tersebut. Di sinilah dakwah yang digerakkan oleh tangan Tuhan itu mencapai hasilnya, di mana karena peristiwa WTC 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam dan umatnya, maka banyak anggota masyarakat Amerika terpanggil untuk tahu, timbul curiousity mereka untuk mengetahui hakikat Islam lebih dalam dan lebih jauh.

Media dakwah Islam bukan hanya Islamic  Center di beberapa kota di negara-negara Barat, melainkan kampus-kampus, tentu saja bukan kampus lembaga pendidikan Islam, pun menjadi jembatan untuk tersebarnya informasi tentang Islam, di mana sering diselenggarakan forum-forum interfaith dialogue, atau dialog antar-keyakinan. Banyak forum menyelenggarakan konferensi tentang agama dan kekerasan, dengan menghadirkan akademisi dan tokoh agama sebagai narasumber. Forum-forum itu menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat sekaligus menjadi media penerangan tentang Islam.

Diskursus mengenai gerakan dan kajian Barat atas Islam merupakan sebagian dari tema dalam Islamic Studies, tidak hanya disajikan pada institusi pendidikan tinggi di Barat, melainkan juga di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Karena itu pula, Universitas Islam Negeri  UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS  Jember) mulai tahun akademik 2021/2022  ini menyelenggarakan pendidikan dalam bidang Studi Islam (Dirasat Islamiyah atau Islamic Studies) pada Program Doktor, yang dua tahun sebelumnya diawali dengan penyelenggaraan pendidikan dalam bidang tersebut pada jenjang Program Magister.

 

 

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca