alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Antara Orientalisme, Studi Islam, dan Dakwah di Barat

Dr. Aminullah Elhady, M.Ag.

Mobile_AP_Rectangle 1

Ada relasi antara orientalisme dan studi Islam, baik yang dilakukan di Barat maupun di negara-negara Muslim. Demikian juga ada keterkaitan antara pengkajian dan pengenalan pada Islam dengan perkembangan dakwah Islam di negara-negara Barat di mana Muslim sebagai penduduk minoritas. Di sini disajikan bagaimana orientalisme dalam pandangan orang-orang Muslim, bagaimana orientalisme berkontribusi pada studi Islam, serta bagaimana dakwah Islam dapat berkembang di negara-negara Barat.

Orientalisme

Di mata sebagian muslim orientalisme dinilai hanya bermuatan hal-hal yang negatif, atau setidaknya mereka mencurigainya karena kajian yang dilakukan oleh sarjana Non-Muslim itu memandang Islam dengan pandangan “miring”, tidak tegak dan objektif. Demikianlah pandangan dan kesan umum terhadap orientalisme dan kaum orientalis. Meskipun demikian, ada juga sebagian dari kalangan terpelajar Muslim yang menemukan ada manfaat dari orientalisme untuk pengembangan studi Islam, atau dengan perkataan lain pandangan ini menyatakan bahwa gerakan dan kajian itu tidak hanya merugikan sebagaimana dikatakan oleh sebagian lainnya, melainkan juga berkontribusi bagi pengembangan studi-studi keislaman, baik di Barat maupun di Timur.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pandangan kategori pertama itu tentu saja tidak salah jika dihubungkan dengan sikap kaum orientalis dan tujuan orientalisme sebelum abad ke-20. Hal itu disebabkan orientalisme didesain untuk menampakkan citra negatif atau yang tidak baik tentang Islam, yang menurut sebagian sumber hal itu sebagai akibat dari Perang Salib yang berlangsung selama dua abad itu, mulai dari Perang Salib I sampai VIII (tahun 1095-1291). Sedangkan pandangan kedua itu tentu saja memiliki latar belakang, baik karena pengalaman nyata atau karena jejak sebagian orientalis melalui karya-karya mereka.

Pada abad ke-20 memang telah muncul pandangan yang berbeda pada sikap orientalis dan tujuan orientalisme. Mereka tidak lagi melihat Islam semata dengan kebencian dan semangat permusuhan sebagaimana sebelumnya sebagai akibat dari Perang Salib yang sudah disebutkan di atas. Penampilan orientalisme menjadi  lebih simpatik pada Islam. Karena adanya perubahan itu, sikap kaum orientalis dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu: pertama mereka yang masih belum  berubah dari sikap lama memandang dengan citra negatif, prasangka, dan mispersepsi baik kepada Islam maupun Muslim. Islam dipandang sebagai musuh dan ancaman bagi dominasi Barat. Itulah yang dikritik oleh Edward Wadi Said melalui bukunya Orientalism: Western Conceptions of the Orient yang menggugat hegemoni Barat yang selama itu menjadikan Timur sebagai objek.

Kedua, mereka yang menampilkan sikap simpatik terhadap Islam, karena agama ini telah lama disalahmengertikan oleh Barat. Mereka bersikap netral dalam memandang Islam. Ada sejumlah nama yang dapat disebutkan termasuk kelompok kedua ini, antara lain Louis Massignon, William Montgomery Watt, Bernard Lewis, Annemarie Schimmel.

Perubahan pandangan itu disebabkan mereka melihat Islam tidak semata dari sudut pandang politik dan teologi sebagaimana sebelumnya. Kini mereka melihat Islam secara lebih komprehensif, dari berbagai dimensi. Sebagaimana realitas yang mereka rasakan, bahwa Islam telah menjadi sumber dan inspirasi bengkitnya kemanusiaan, melalui ilmu dan peradaban. Seorang orientalis, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, pernah menyatakan Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization”. Itu menggambarkan bahwa ia melihat Islam sebagai hal yang penting untuk kehidupan dan kemanusiaan.

 

Kontribusi pada Studi Islam

Mesti  diakui bahwa orientalisme telah berkontribusi pada perkembangan  kajian keislaman, termasuk di Dunia  Islam. Orientalisme menjadikan Islam  sebagai  objek  kajian  historis  dan  sosiologis, tanpa masuk ke dalam keyakinan, yang karenanya ia dapat dikatakan tidak mengganggu keyakinan penganut Islam. Di abad ke-20 tampak tegas bahwa orientalisme mengembangkan kajian Islam historis dan sosiologis, bukan teologis.

Sejumlah orientalis menghasilkan karya yang  memperkaya literatur Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, karya mengenai studi keislaman yang dihasilkan oleh orientalis berjumlah ratusan, dan dari sisi kualitas, mereka menyajikan kajian keislaman dengan metode kajian Barat, jadilah kajian itu menarik perhatian kaum terpelajar Muslim, sehingga dengan demikian turut memperkaya khazanah studi keislaman.

- Advertisement -

Ada relasi antara orientalisme dan studi Islam, baik yang dilakukan di Barat maupun di negara-negara Muslim. Demikian juga ada keterkaitan antara pengkajian dan pengenalan pada Islam dengan perkembangan dakwah Islam di negara-negara Barat di mana Muslim sebagai penduduk minoritas. Di sini disajikan bagaimana orientalisme dalam pandangan orang-orang Muslim, bagaimana orientalisme berkontribusi pada studi Islam, serta bagaimana dakwah Islam dapat berkembang di negara-negara Barat.

Orientalisme

Di mata sebagian muslim orientalisme dinilai hanya bermuatan hal-hal yang negatif, atau setidaknya mereka mencurigainya karena kajian yang dilakukan oleh sarjana Non-Muslim itu memandang Islam dengan pandangan “miring”, tidak tegak dan objektif. Demikianlah pandangan dan kesan umum terhadap orientalisme dan kaum orientalis. Meskipun demikian, ada juga sebagian dari kalangan terpelajar Muslim yang menemukan ada manfaat dari orientalisme untuk pengembangan studi Islam, atau dengan perkataan lain pandangan ini menyatakan bahwa gerakan dan kajian itu tidak hanya merugikan sebagaimana dikatakan oleh sebagian lainnya, melainkan juga berkontribusi bagi pengembangan studi-studi keislaman, baik di Barat maupun di Timur.

Pandangan kategori pertama itu tentu saja tidak salah jika dihubungkan dengan sikap kaum orientalis dan tujuan orientalisme sebelum abad ke-20. Hal itu disebabkan orientalisme didesain untuk menampakkan citra negatif atau yang tidak baik tentang Islam, yang menurut sebagian sumber hal itu sebagai akibat dari Perang Salib yang berlangsung selama dua abad itu, mulai dari Perang Salib I sampai VIII (tahun 1095-1291). Sedangkan pandangan kedua itu tentu saja memiliki latar belakang, baik karena pengalaman nyata atau karena jejak sebagian orientalis melalui karya-karya mereka.

Pada abad ke-20 memang telah muncul pandangan yang berbeda pada sikap orientalis dan tujuan orientalisme. Mereka tidak lagi melihat Islam semata dengan kebencian dan semangat permusuhan sebagaimana sebelumnya sebagai akibat dari Perang Salib yang sudah disebutkan di atas. Penampilan orientalisme menjadi  lebih simpatik pada Islam. Karena adanya perubahan itu, sikap kaum orientalis dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu: pertama mereka yang masih belum  berubah dari sikap lama memandang dengan citra negatif, prasangka, dan mispersepsi baik kepada Islam maupun Muslim. Islam dipandang sebagai musuh dan ancaman bagi dominasi Barat. Itulah yang dikritik oleh Edward Wadi Said melalui bukunya Orientalism: Western Conceptions of the Orient yang menggugat hegemoni Barat yang selama itu menjadikan Timur sebagai objek.

Kedua, mereka yang menampilkan sikap simpatik terhadap Islam, karena agama ini telah lama disalahmengertikan oleh Barat. Mereka bersikap netral dalam memandang Islam. Ada sejumlah nama yang dapat disebutkan termasuk kelompok kedua ini, antara lain Louis Massignon, William Montgomery Watt, Bernard Lewis, Annemarie Schimmel.

Perubahan pandangan itu disebabkan mereka melihat Islam tidak semata dari sudut pandang politik dan teologi sebagaimana sebelumnya. Kini mereka melihat Islam secara lebih komprehensif, dari berbagai dimensi. Sebagaimana realitas yang mereka rasakan, bahwa Islam telah menjadi sumber dan inspirasi bengkitnya kemanusiaan, melalui ilmu dan peradaban. Seorang orientalis, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, pernah menyatakan Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization”. Itu menggambarkan bahwa ia melihat Islam sebagai hal yang penting untuk kehidupan dan kemanusiaan.

 

Kontribusi pada Studi Islam

Mesti  diakui bahwa orientalisme telah berkontribusi pada perkembangan  kajian keislaman, termasuk di Dunia  Islam. Orientalisme menjadikan Islam  sebagai  objek  kajian  historis  dan  sosiologis, tanpa masuk ke dalam keyakinan, yang karenanya ia dapat dikatakan tidak mengganggu keyakinan penganut Islam. Di abad ke-20 tampak tegas bahwa orientalisme mengembangkan kajian Islam historis dan sosiologis, bukan teologis.

Sejumlah orientalis menghasilkan karya yang  memperkaya literatur Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, karya mengenai studi keislaman yang dihasilkan oleh orientalis berjumlah ratusan, dan dari sisi kualitas, mereka menyajikan kajian keislaman dengan metode kajian Barat, jadilah kajian itu menarik perhatian kaum terpelajar Muslim, sehingga dengan demikian turut memperkaya khazanah studi keislaman.

Ada relasi antara orientalisme dan studi Islam, baik yang dilakukan di Barat maupun di negara-negara Muslim. Demikian juga ada keterkaitan antara pengkajian dan pengenalan pada Islam dengan perkembangan dakwah Islam di negara-negara Barat di mana Muslim sebagai penduduk minoritas. Di sini disajikan bagaimana orientalisme dalam pandangan orang-orang Muslim, bagaimana orientalisme berkontribusi pada studi Islam, serta bagaimana dakwah Islam dapat berkembang di negara-negara Barat.

Orientalisme

Di mata sebagian muslim orientalisme dinilai hanya bermuatan hal-hal yang negatif, atau setidaknya mereka mencurigainya karena kajian yang dilakukan oleh sarjana Non-Muslim itu memandang Islam dengan pandangan “miring”, tidak tegak dan objektif. Demikianlah pandangan dan kesan umum terhadap orientalisme dan kaum orientalis. Meskipun demikian, ada juga sebagian dari kalangan terpelajar Muslim yang menemukan ada manfaat dari orientalisme untuk pengembangan studi Islam, atau dengan perkataan lain pandangan ini menyatakan bahwa gerakan dan kajian itu tidak hanya merugikan sebagaimana dikatakan oleh sebagian lainnya, melainkan juga berkontribusi bagi pengembangan studi-studi keislaman, baik di Barat maupun di Timur.

Pandangan kategori pertama itu tentu saja tidak salah jika dihubungkan dengan sikap kaum orientalis dan tujuan orientalisme sebelum abad ke-20. Hal itu disebabkan orientalisme didesain untuk menampakkan citra negatif atau yang tidak baik tentang Islam, yang menurut sebagian sumber hal itu sebagai akibat dari Perang Salib yang berlangsung selama dua abad itu, mulai dari Perang Salib I sampai VIII (tahun 1095-1291). Sedangkan pandangan kedua itu tentu saja memiliki latar belakang, baik karena pengalaman nyata atau karena jejak sebagian orientalis melalui karya-karya mereka.

Pada abad ke-20 memang telah muncul pandangan yang berbeda pada sikap orientalis dan tujuan orientalisme. Mereka tidak lagi melihat Islam semata dengan kebencian dan semangat permusuhan sebagaimana sebelumnya sebagai akibat dari Perang Salib yang sudah disebutkan di atas. Penampilan orientalisme menjadi  lebih simpatik pada Islam. Karena adanya perubahan itu, sikap kaum orientalis dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu: pertama mereka yang masih belum  berubah dari sikap lama memandang dengan citra negatif, prasangka, dan mispersepsi baik kepada Islam maupun Muslim. Islam dipandang sebagai musuh dan ancaman bagi dominasi Barat. Itulah yang dikritik oleh Edward Wadi Said melalui bukunya Orientalism: Western Conceptions of the Orient yang menggugat hegemoni Barat yang selama itu menjadikan Timur sebagai objek.

Kedua, mereka yang menampilkan sikap simpatik terhadap Islam, karena agama ini telah lama disalahmengertikan oleh Barat. Mereka bersikap netral dalam memandang Islam. Ada sejumlah nama yang dapat disebutkan termasuk kelompok kedua ini, antara lain Louis Massignon, William Montgomery Watt, Bernard Lewis, Annemarie Schimmel.

Perubahan pandangan itu disebabkan mereka melihat Islam tidak semata dari sudut pandang politik dan teologi sebagaimana sebelumnya. Kini mereka melihat Islam secara lebih komprehensif, dari berbagai dimensi. Sebagaimana realitas yang mereka rasakan, bahwa Islam telah menjadi sumber dan inspirasi bengkitnya kemanusiaan, melalui ilmu dan peradaban. Seorang orientalis, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, pernah menyatakan Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization”. Itu menggambarkan bahwa ia melihat Islam sebagai hal yang penting untuk kehidupan dan kemanusiaan.

 

Kontribusi pada Studi Islam

Mesti  diakui bahwa orientalisme telah berkontribusi pada perkembangan  kajian keislaman, termasuk di Dunia  Islam. Orientalisme menjadikan Islam  sebagai  objek  kajian  historis  dan  sosiologis, tanpa masuk ke dalam keyakinan, yang karenanya ia dapat dikatakan tidak mengganggu keyakinan penganut Islam. Di abad ke-20 tampak tegas bahwa orientalisme mengembangkan kajian Islam historis dan sosiologis, bukan teologis.

Sejumlah orientalis menghasilkan karya yang  memperkaya literatur Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, karya mengenai studi keislaman yang dihasilkan oleh orientalis berjumlah ratusan, dan dari sisi kualitas, mereka menyajikan kajian keislaman dengan metode kajian Barat, jadilah kajian itu menarik perhatian kaum terpelajar Muslim, sehingga dengan demikian turut memperkaya khazanah studi keislaman.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca