Nah, untuk kepentingan kategori pertama, maka referensi kajian kita cukup merujuk pada  sumber primer, yang dalam hal ini adalah karya paten melalui mekanisme sitasi dan trianggulasi tanpa harus mengkonfirmasi sanad keilmuannya, apalagi sampai kepada Rasulullah.  Karena melalui sitasi ini, kita cukup menelusuri validitas dan originalitas sebuah pemikiran  berikut kualifikasi otoritasnya. Akan tetapi, untuk kategori keilmuan Islam yang kedua, penerapan konsep ittisholu al-sanad menjadi penting.  Karena keilmuan Islam untuk kategori kedua bukan hanya  untuk dikembangkan, tetapi untuk diamalkan oleh masyarakat kampus, masyarakat umum bahkan masyarakat  Pesantren wa akhwatuha. Nah, pada level ini terciptanya keyakinan  pembaca mengenai otentitas dan originalitas keIslaman  menjadi hal yang menentukan. Disinilah peran penting penerapan konsep Ittisolu al sanad. Pada level ini, kita perlu mengkonstruk semacam kitab  Thobaqatul al Fuqaha yang menjelaskan rentetan sanad seluruh norma dan konsep keilmuan Islam kategori kedua. Pada level ini, setiap mahasiswa dan dosen harus menambah sumber rujukannya berupa  kitab  Thobaqatul al Fuqaha  dalam setiap kutipannya disamping juga harus merujuk/ mengutip sumber primer yang berstatus karya paten melalui cara sitasi .

 

*Dr. Ishaq, M.Ag., Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Jember

.