Diakui atau tidak, saat ini kita sedang mengalami disrupsi otentitas sumber pengetahuan agama Islam. Tanpa disadari kita telah mengabaikan  prinsip mendasar dalam setiap momen pembelajaran dan kajian keislaman kita di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI); yaitu prinsip otentitas dan otoritas  sumber pengetahuan agama Islam. Saya yakin, semua orang  bersepakat bahwa penggunaan sumber yang tidak autentik akan menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam memahami  agama Islam. Karena PTKI perpanjangan dari pondok pesantren, maka tugas pokoknya adalah mempertahankan otentitas ilmu keislaman, selebihnya adalah mengembangannya melalui berbagai perspektif dan pendekatan, bukan sebaliknya.

Dengan segala kekurangan yang dimiliki, kita sebenarnya perlu meniru konsistensi Pesantren dalam menerapkan  prinsip keilmuan dalam tradisi akademiknya yang dikenal dengan tradisi  “ittisholus sanad”. Sudah saatnya unsur-unsur penting dalam tradisi ini untuk disinergikan dengan tradisi intelektual kita di PTKI.  Unsur yang dimaksud adalah; 1) unsur validitas informasi, serta 2) unsur otoritas keilmuan agama.

Unsur validitas informasi dalam tradisi  “ittisholus sanad” merupakan unsur yang sangat ditekankan.  Terbangunnya tradisi ini tidak lain kecuali untuk memastikan bahwa validitas informasi pemahaman agama yang dibawa seseorang harus melewati uji ketersambungan mata-rantai  si pembawa ilmu dengan  para guru dan  para ulama serta mujtahid sebelumnya  sampai pada Nabi SAW. “Ketersambungan  sanad keilmuan” adalah kata kunci  untuk menentukan  bahwa informasi tentang pemahaman agama Islam yang mereka dapat adalah valid/shohih dan dijamin originalitasnya dari Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemilik otoritas yang sebenarnya. Pemahaman agama bagi Pesantren harus original melalui data autentik (dapat dipercaya) karena agama bukan hanya untuk dikaji, tetapi untuk diamalkan  yang meniscayakan adanya keyakinan tentang validitasnya.

Walaupun tidak persis sebagaimana diterapkan dalam ilmu hadist, namun tradisi ini juga bisa mengantarkan para pengkaji memperoleh keshohehan sebuah informasi ajaran Islam karena  didalamnya terdapat persyaratan unsur kejujuran dan keadilan  bagi si pembawa ilmu dalam setiap jenjang tingkatan.   Pada sisi lain,  aspek otoritas keilmuan, juga sangat ditekankan dalam tradisi ini. Karena, syarat ketersambungan sanad antara sang murid dan para guru juga dipersyaratkan untuk bermuara pada ulama yang berkualifikasi mujtahid (punya otoritas ijtihad). Sanad keilmuan bisa dikatakan ittishol manakala salah satu jenjang sanadnya bersambung pada imam mujtahid yang diakui otoritasnya.

Jika  pemahaman agama yang dibawa seseorang  telah  ittisholus sanad, maka tradisi Pesantren akan memposisikannya sebagai  khabar ṣādiq  (informasi yang benar). Penerimanan khabar ṣādiq  sebagai sumber ilmu pengetahuan ternyata bukan hanya diterima oleh kalangan pesantran, tetapi juga oleh masyarakat ilmiah pada umumnya. Termasuk untuk  menelusuri kebenaran informasi  ke-Islaman yang orisinil dari Nabi SAW dimasa silam.   Karena alasan ini, Pesantren kemudian menganggap “al kutub al-Mu’tabarah” sebagai rekaman informasi Islam original dari para mujtahid (sang pemilik otoritas). Itulah sebabnya, Kutub al-Mu’tabarah kemudian dijadikan sebagai media- sekaligus menjadi keharusan untuk terus  ditransmisikan secara kontinyu pada generasi muslim berikutnya melaui sanad yang tersambung. Sebab bertahannya agama menurut tradisi Pesantren adalah karena kebersinambungan mata-rantai periwayatan (sanad) keilmuan Islam hingga ke Rasulullah.

Itulah yang membedakan tradisi keilmuan Pesantren dengan PTKI. Hanya saja- karena target originalitas Islam lebih dominan, maka pertimbangan nilai relatifitas  ijtihad menjadi terkesampingkan dalam tradisi ini. Akibatnya, kutub al mu’tabarah  menjadi  “haram” untuk ditafsir. Pada ranah ini  nalar bayani-tekstual menjadi  dominan, bahkan doktrinisasi  pemikiran  Islam abad pertengahan sering terjadi di dunia akademik Pesantren.

Terlepas dari kelemahan yang dimiliki, penerapan kedua unsur dalam tradisi Pesantren tersebut penting untuk kita disinergiskan dengan tradisi inteletual di PTKI. Sebab, pelacakan sumber informasi  keilmuan islam yang kita implementasikan di PTKI masih belum menjamin adanya validitas informasi, apalagi dimensi otoritas keilmuannya. Karena penyebutan  sumber primernya, baik dalam  ranah pembelajaran maupun dalam  penelitian belum menyajikan rentetan sanad keilmuan berikut kualifikasi otoritas  sang pentransfer ilmu. Sampai saat ini kita masih mengandalkan referensi karya paten melalui mekanisme sitasi dan trianggulasi. Kalaupun  karya paten sudah melalui proses review yang berjenjang, namun karya paten tetap belum menjamin standar originalitas versi Pesanren karena  tidak menjelaskan ketersambungan sanad keilmuannya sampai pada Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan kualifikasi otoritas keilmuannya. Sementara fungsi sitasi sendiri masih sebatas untuk mengarahkan pembaca pada sumber asli yang dikutip penulis. Pada level ini, posisi karya paten dalam konteks pemahaman agama Islam belum bisa dianggap representatif sebagai sumber ilmu pengetahuan agama yang original dan otoritatif versi Pesantren.

Tentu  kita tidak harus meniru total tradisi ini karena adanya kesulitan untuk berguru langsung pada sejumlah pentransfer ilmu keislaman dari sekian fak keilmuan.  Akan tetapi dalam kerangka mengembalikan “marwah keilmuan Islam, kita perlu mengkonstruk ilmu thobaqatul al Fuqaha dan memetakan keilmuan Islam.  Pemetaan menjadi penting karena secara garis besar keilmuan Islam yang diajarkan dan yang dikaji di PTKI mengarah pada dua kategori keilmuan yaitu; pertama, ilmu keIslaman yang peruntukannya lebih dominan untuk keperluan riset/ pengembangan, seperti pemikiran tokoh mengenai konsep dan teori ke-Islaman berikut dinamikanya. Maka, makna “original” yang dituntut dalam kategori ini  adalah pemikiran ke-Islaman yang secara otentik berasal dari si penulis, bukan yang bermakna “dengan sanad”  yang tersambung sampai kepada  Nabi SAW.  Kedua, adalah ilmu ke-Islaman yang tujuannya untuk dipahami, kemudian dipraktikkan dan transmisikan kegenerasi berikutnya, semisal ilmu furudul al-‘ainiyah.