alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Terapi Mental dengan Menulis, Mungkinkah?

Oleh: Dr. Bambang Irawan, Lc. M.Ed

Mobile_AP_Rectangle 1

Pandemi Covid-19 masih mendera kita. Ia tidak saja memberikan efek berupa krisis ekonomi tapi juga bisa mengarah kepada timbulnya depresi mental. Interaksi yang sangat intens di dalam keluarga yang bahkan nyaris 24 jam selalu bersama di dalam rumah. Ditambah dengan himpitan ekonomi, menyempitnya lapangan kerja dan ruang usaha akibat virus corona. Hal tersebut tentu saja memicu munculnya depresi mental yang berkepanjangan. Sepanjang dan selama Covid-19 masih bersama kita.

Untuk itu, berbagai upaya dilakukan untuk “melawan” depresi mental ini. Beberapa ahli menemukan fakta bahwa menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi depresi mental. Menurut James W. Pennebaker dari Universitas Texas, saat seseorang diberi kesempatan untuk menulis tentang gejolak emosionalnya, mereka cenderung jarang sakit serta mengalami perubahan fungsi kekebalan tubuh.

Namun tentu saja tidak semua jenis tulisan dan gaya menulis dapat menjadi terapi jiwa. Saya dulu bahkan hampir depresi saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Banyak cara menulis yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang sedang mengalami depresi. Salah satu caranya adalah memilih jenis tulisan yang disukai sebagai media menyalurkan perasaannya. Jika seseorang menyukai fiksi seperti puisi atau cerita, ia bisa mengungkapkannya melalui fiksi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapula yang menyukai menulis bergaya buku harian (diary). Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu ritual bagi diri sendiri. Seseorang dapat menetapkan sendiri komitmennya untuk menuliskan berapa kalimat atau kata setiap hari dalam mengungkapkan perasaannya. Ia juga dapat menggunakannya sebagai media interaksi dengan diri sendiri. Hal ini penting dilakukan agar seseorang dapat menganalisis keadaan pikirannya, mengevaluasi, serta mengatur strategi untuk hidup selanjutnya dengan baik.

Menulis Meluapkan Emosi Terpendam

Menulis gaya buku harian (diary) mungkin bisa menjadi salah satu alternatif menulis untuk meluapkan emosi yang terpendam. Ini bisa menjadi sarana yang cukup efektif di saat kita berada pada puncak emosi dan kita tidak tahu harus ke mana menceritakan apa yang kita rasakan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan jika kita ingin membiasakan menulis buku harian.

Pertama, letakkan buku harian di tempat yang mudah kita lihat, namun aman dari jangkauan dan penglihatan orang lain. Seperti di atas meja belajar atau meja rias di kamar kita. Ada beberapa orang yang bahkan membawa buku hariannya di dalam tas yang ia bawa kemana-mana. Tujuannya agar jika sewaktu waktu ingin menulis sesuatu tentang apa yang dialaminya, akan lebih mudah. Jadi, meskipun buku harian itu bersifat pribadi namun bukan berarti harus kita simpan di brankas yang terkunci rapat di kolong tempat tidur kita dipojokkan paling ujung. Nanti justru akan menyulitkan kita ketika ingin menulis sesuatu. Kurang praktis.

Kedua, jadikan buku harian itu sahabat terbaik kita, yang tidak akan pernah berkhianat. Karena rahasia apa pun yang kita tulis, maka selamanya akan tersimpan rapi dan tidak akan pernah terbongkar. Kecuali ada pihak ketiga yang terlibat. Atau kita sendiri yang menceritakannya kepada orang lain jika waktunya sudah tepat.

Ketiga, buat buku harian kita bermanfaat. Bukan berarti menulis buku harian hanya sebagai curahan hati saat sedang galau atau depresi saja. Pada kondisi normal pun kita tetap bisa menjadikan buku harian kita menjadi bermanfaat. Kita bisa menuliskan ide-ide atau inspirasi yang terlintas namun belum menemukan bentuk yang utuh. Nah, pada saatnya nanti, boleh jadi ketika kita sedang dikejar dead line penulisan artikel, misalnya. Coretan-coretan ide yang kita buat sambil lalu itu bisa menjadi sumber inspirasi.

Keempat, buatlah suatu kebiasaan untuk sesering mungkin membuka buku harian. Karena terkadang, sekadar melihat sampul merah muda buku harian saja, dapat merangsang munculnya gairah untuk menulis apa yang kita rasakan. Nah, kalau setiap hari lintasan pikiran dan gumpalan perasaan itu mengalir bersama goresan pena di buku harian kita. Tidak mengendap. Maka itu menjadikan mental kita menjadi lebih sehat. Pikiran terang dan jiwa jadi jernih dan tenang. Bukankah air yang tergenang diam hanya akan mendatangkan penyakit. Maka alirkanlah pikiran dan jiwamu seperti air mengalir yang bukan saja sehat tapi juga mendatangkan manfaat. Saya jadi teringat sebuah ungkapan “Bergeraklah, karena diam itu mematikan”.

Kelima, menulis dengan jiwa yang bebas dan merdeka. Jangan perdulikan aturan dalam penulisan. Buku harian kita adalah ruang pribadi kita. Dia bisa menerima diri kita apa adanya. Buku harian kita bisa menerima yang bahkan orang tua kita tidak siap untuk mendengarnya. Maka di saat itulah, kita akan bisa merasakan kelapangan jiwa. Lega. Karena kita bisa menumpahkan apa pun dan menceritakannya pada buku sahabat kita.

- Advertisement -

Pandemi Covid-19 masih mendera kita. Ia tidak saja memberikan efek berupa krisis ekonomi tapi juga bisa mengarah kepada timbulnya depresi mental. Interaksi yang sangat intens di dalam keluarga yang bahkan nyaris 24 jam selalu bersama di dalam rumah. Ditambah dengan himpitan ekonomi, menyempitnya lapangan kerja dan ruang usaha akibat virus corona. Hal tersebut tentu saja memicu munculnya depresi mental yang berkepanjangan. Sepanjang dan selama Covid-19 masih bersama kita.

Untuk itu, berbagai upaya dilakukan untuk “melawan” depresi mental ini. Beberapa ahli menemukan fakta bahwa menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi depresi mental. Menurut James W. Pennebaker dari Universitas Texas, saat seseorang diberi kesempatan untuk menulis tentang gejolak emosionalnya, mereka cenderung jarang sakit serta mengalami perubahan fungsi kekebalan tubuh.

Namun tentu saja tidak semua jenis tulisan dan gaya menulis dapat menjadi terapi jiwa. Saya dulu bahkan hampir depresi saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Banyak cara menulis yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang sedang mengalami depresi. Salah satu caranya adalah memilih jenis tulisan yang disukai sebagai media menyalurkan perasaannya. Jika seseorang menyukai fiksi seperti puisi atau cerita, ia bisa mengungkapkannya melalui fiksi.

Adapula yang menyukai menulis bergaya buku harian (diary). Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu ritual bagi diri sendiri. Seseorang dapat menetapkan sendiri komitmennya untuk menuliskan berapa kalimat atau kata setiap hari dalam mengungkapkan perasaannya. Ia juga dapat menggunakannya sebagai media interaksi dengan diri sendiri. Hal ini penting dilakukan agar seseorang dapat menganalisis keadaan pikirannya, mengevaluasi, serta mengatur strategi untuk hidup selanjutnya dengan baik.

Menulis Meluapkan Emosi Terpendam

Menulis gaya buku harian (diary) mungkin bisa menjadi salah satu alternatif menulis untuk meluapkan emosi yang terpendam. Ini bisa menjadi sarana yang cukup efektif di saat kita berada pada puncak emosi dan kita tidak tahu harus ke mana menceritakan apa yang kita rasakan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan jika kita ingin membiasakan menulis buku harian.

Pertama, letakkan buku harian di tempat yang mudah kita lihat, namun aman dari jangkauan dan penglihatan orang lain. Seperti di atas meja belajar atau meja rias di kamar kita. Ada beberapa orang yang bahkan membawa buku hariannya di dalam tas yang ia bawa kemana-mana. Tujuannya agar jika sewaktu waktu ingin menulis sesuatu tentang apa yang dialaminya, akan lebih mudah. Jadi, meskipun buku harian itu bersifat pribadi namun bukan berarti harus kita simpan di brankas yang terkunci rapat di kolong tempat tidur kita dipojokkan paling ujung. Nanti justru akan menyulitkan kita ketika ingin menulis sesuatu. Kurang praktis.

Kedua, jadikan buku harian itu sahabat terbaik kita, yang tidak akan pernah berkhianat. Karena rahasia apa pun yang kita tulis, maka selamanya akan tersimpan rapi dan tidak akan pernah terbongkar. Kecuali ada pihak ketiga yang terlibat. Atau kita sendiri yang menceritakannya kepada orang lain jika waktunya sudah tepat.

Ketiga, buat buku harian kita bermanfaat. Bukan berarti menulis buku harian hanya sebagai curahan hati saat sedang galau atau depresi saja. Pada kondisi normal pun kita tetap bisa menjadikan buku harian kita menjadi bermanfaat. Kita bisa menuliskan ide-ide atau inspirasi yang terlintas namun belum menemukan bentuk yang utuh. Nah, pada saatnya nanti, boleh jadi ketika kita sedang dikejar dead line penulisan artikel, misalnya. Coretan-coretan ide yang kita buat sambil lalu itu bisa menjadi sumber inspirasi.

Keempat, buatlah suatu kebiasaan untuk sesering mungkin membuka buku harian. Karena terkadang, sekadar melihat sampul merah muda buku harian saja, dapat merangsang munculnya gairah untuk menulis apa yang kita rasakan. Nah, kalau setiap hari lintasan pikiran dan gumpalan perasaan itu mengalir bersama goresan pena di buku harian kita. Tidak mengendap. Maka itu menjadikan mental kita menjadi lebih sehat. Pikiran terang dan jiwa jadi jernih dan tenang. Bukankah air yang tergenang diam hanya akan mendatangkan penyakit. Maka alirkanlah pikiran dan jiwamu seperti air mengalir yang bukan saja sehat tapi juga mendatangkan manfaat. Saya jadi teringat sebuah ungkapan “Bergeraklah, karena diam itu mematikan”.

Kelima, menulis dengan jiwa yang bebas dan merdeka. Jangan perdulikan aturan dalam penulisan. Buku harian kita adalah ruang pribadi kita. Dia bisa menerima diri kita apa adanya. Buku harian kita bisa menerima yang bahkan orang tua kita tidak siap untuk mendengarnya. Maka di saat itulah, kita akan bisa merasakan kelapangan jiwa. Lega. Karena kita bisa menumpahkan apa pun dan menceritakannya pada buku sahabat kita.

Pandemi Covid-19 masih mendera kita. Ia tidak saja memberikan efek berupa krisis ekonomi tapi juga bisa mengarah kepada timbulnya depresi mental. Interaksi yang sangat intens di dalam keluarga yang bahkan nyaris 24 jam selalu bersama di dalam rumah. Ditambah dengan himpitan ekonomi, menyempitnya lapangan kerja dan ruang usaha akibat virus corona. Hal tersebut tentu saja memicu munculnya depresi mental yang berkepanjangan. Sepanjang dan selama Covid-19 masih bersama kita.

Untuk itu, berbagai upaya dilakukan untuk “melawan” depresi mental ini. Beberapa ahli menemukan fakta bahwa menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi depresi mental. Menurut James W. Pennebaker dari Universitas Texas, saat seseorang diberi kesempatan untuk menulis tentang gejolak emosionalnya, mereka cenderung jarang sakit serta mengalami perubahan fungsi kekebalan tubuh.

Namun tentu saja tidak semua jenis tulisan dan gaya menulis dapat menjadi terapi jiwa. Saya dulu bahkan hampir depresi saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Banyak cara menulis yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang sedang mengalami depresi. Salah satu caranya adalah memilih jenis tulisan yang disukai sebagai media menyalurkan perasaannya. Jika seseorang menyukai fiksi seperti puisi atau cerita, ia bisa mengungkapkannya melalui fiksi.

Adapula yang menyukai menulis bergaya buku harian (diary). Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu ritual bagi diri sendiri. Seseorang dapat menetapkan sendiri komitmennya untuk menuliskan berapa kalimat atau kata setiap hari dalam mengungkapkan perasaannya. Ia juga dapat menggunakannya sebagai media interaksi dengan diri sendiri. Hal ini penting dilakukan agar seseorang dapat menganalisis keadaan pikirannya, mengevaluasi, serta mengatur strategi untuk hidup selanjutnya dengan baik.

Menulis Meluapkan Emosi Terpendam

Menulis gaya buku harian (diary) mungkin bisa menjadi salah satu alternatif menulis untuk meluapkan emosi yang terpendam. Ini bisa menjadi sarana yang cukup efektif di saat kita berada pada puncak emosi dan kita tidak tahu harus ke mana menceritakan apa yang kita rasakan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan jika kita ingin membiasakan menulis buku harian.

Pertama, letakkan buku harian di tempat yang mudah kita lihat, namun aman dari jangkauan dan penglihatan orang lain. Seperti di atas meja belajar atau meja rias di kamar kita. Ada beberapa orang yang bahkan membawa buku hariannya di dalam tas yang ia bawa kemana-mana. Tujuannya agar jika sewaktu waktu ingin menulis sesuatu tentang apa yang dialaminya, akan lebih mudah. Jadi, meskipun buku harian itu bersifat pribadi namun bukan berarti harus kita simpan di brankas yang terkunci rapat di kolong tempat tidur kita dipojokkan paling ujung. Nanti justru akan menyulitkan kita ketika ingin menulis sesuatu. Kurang praktis.

Kedua, jadikan buku harian itu sahabat terbaik kita, yang tidak akan pernah berkhianat. Karena rahasia apa pun yang kita tulis, maka selamanya akan tersimpan rapi dan tidak akan pernah terbongkar. Kecuali ada pihak ketiga yang terlibat. Atau kita sendiri yang menceritakannya kepada orang lain jika waktunya sudah tepat.

Ketiga, buat buku harian kita bermanfaat. Bukan berarti menulis buku harian hanya sebagai curahan hati saat sedang galau atau depresi saja. Pada kondisi normal pun kita tetap bisa menjadikan buku harian kita menjadi bermanfaat. Kita bisa menuliskan ide-ide atau inspirasi yang terlintas namun belum menemukan bentuk yang utuh. Nah, pada saatnya nanti, boleh jadi ketika kita sedang dikejar dead line penulisan artikel, misalnya. Coretan-coretan ide yang kita buat sambil lalu itu bisa menjadi sumber inspirasi.

Keempat, buatlah suatu kebiasaan untuk sesering mungkin membuka buku harian. Karena terkadang, sekadar melihat sampul merah muda buku harian saja, dapat merangsang munculnya gairah untuk menulis apa yang kita rasakan. Nah, kalau setiap hari lintasan pikiran dan gumpalan perasaan itu mengalir bersama goresan pena di buku harian kita. Tidak mengendap. Maka itu menjadikan mental kita menjadi lebih sehat. Pikiran terang dan jiwa jadi jernih dan tenang. Bukankah air yang tergenang diam hanya akan mendatangkan penyakit. Maka alirkanlah pikiran dan jiwamu seperti air mengalir yang bukan saja sehat tapi juga mendatangkan manfaat. Saya jadi teringat sebuah ungkapan “Bergeraklah, karena diam itu mematikan”.

Kelima, menulis dengan jiwa yang bebas dan merdeka. Jangan perdulikan aturan dalam penulisan. Buku harian kita adalah ruang pribadi kita. Dia bisa menerima diri kita apa adanya. Buku harian kita bisa menerima yang bahkan orang tua kita tidak siap untuk mendengarnya. Maka di saat itulah, kita akan bisa merasakan kelapangan jiwa. Lega. Karena kita bisa menumpahkan apa pun dan menceritakannya pada buku sahabat kita.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/