alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Islam Wasatiyah sebagai Mandat Transformasi Kelembagaan 

Mobile_AP_Rectangle 1

Transformasi kelembagaan perguruan tinggi keagamaan Islam sejatinya memiliki argumentasi filosofis. Perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat, utamanya tentang pembukaan program studi umum. 

Dalam konteks itu, transformasi IAIN Jember menjadi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2021 tanggal 11 Mei 2021 juga meniscayakan untuk membuka program studi umum. Sudah barang tentu, transformasi kelembagaan dimaksudkan sebagai perwujudan integrasi agama dan sains yang menjadi salah satu mandat dalam peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi keagamaan terus mengalami perubahan seiring tuntutan dan dinamika perkembangan zaman. Dalam perjalanan sejarahnya, perguruan tinggi keagamaan Islam, yang dikenal dengan IAIN, lebih fokus pada lembaga dakwah yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Saat ini, hal itu tidak berkurang, namun diperluas dengan memantapkan kelembagaannya sebagai wadah yang bertanggung jawab secara akademis-ilmiah. Perguruan tinggi keagamaan Islam ini kemudian memikul tanggung jawab sebagai meeting pot dan melting pot pelbagai pendekatan studi Islam. Aneka pendekatan studi keislaman kemudian tidak hanya diwujudkan dalam pendalaman program studi keagamaan an sich, melainkan penyediaan program studi umum, sebagaimana di perguruan tinggi umum negeri lainnya. Sekedar ambil contoh, program studi sains dan teknologi, pertanian, kedokteran, dan lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

 

Pekerjaan Besar 

Seiring dengan dibukanya program studi umum sebagai konsekuensi logis dari transformasi kelembagaan di perguruan tinggi keagamaan Islam, maka pekerjaan besar dari hal tersebut adalah komitmen untuk menjaga dan merawat pelbagai pandangan dan argumen yang berkembang dalam titik pijak Islam yang moderat. Selain itu, perkembangan pesat yang terjadi di lingkungan UIN, menuntut untuk menggunakan pelbagai pendekatan dalam memahami keislaman dengan analisis yang mendalam. Kajian yang harus dikembangkan adalah pemaduan antara problem kontemporer dengan basis-basis teks klasik tetap harus dilestarikan, termasuk dalam kajian-kajian yang nantinya dikembangkan dalam program studi umum.

Lahirnya program studi umum tidak kemudian mengenyampingkan kajian keislaman yang bernafaskan Islam wasatiyah di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Momentum transformasi kelembagaan justru menjadi rumah baru untuk dikuatkan dalam pembumian Islam rahmatan lil alamin melalui kajian-kajian yang memberi dampak pada pemahaman yang plural terhadap kekayaan dan keragaman tradisi intelektual Islam, yang selama ini menjadi core business IAIN dan UIN. Pemahaman yang beragam, yang tidak hanya berkutat pada satu pandangan eksklusif, akan mengantarkan pada munculnya an Islam based on tolerance and inclusiveness di Indonesia. 

- Advertisement -

Transformasi kelembagaan perguruan tinggi keagamaan Islam sejatinya memiliki argumentasi filosofis. Perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat, utamanya tentang pembukaan program studi umum. 

Dalam konteks itu, transformasi IAIN Jember menjadi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2021 tanggal 11 Mei 2021 juga meniscayakan untuk membuka program studi umum. Sudah barang tentu, transformasi kelembagaan dimaksudkan sebagai perwujudan integrasi agama dan sains yang menjadi salah satu mandat dalam peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi keagamaan terus mengalami perubahan seiring tuntutan dan dinamika perkembangan zaman. Dalam perjalanan sejarahnya, perguruan tinggi keagamaan Islam, yang dikenal dengan IAIN, lebih fokus pada lembaga dakwah yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Saat ini, hal itu tidak berkurang, namun diperluas dengan memantapkan kelembagaannya sebagai wadah yang bertanggung jawab secara akademis-ilmiah. Perguruan tinggi keagamaan Islam ini kemudian memikul tanggung jawab sebagai meeting pot dan melting pot pelbagai pendekatan studi Islam. Aneka pendekatan studi keislaman kemudian tidak hanya diwujudkan dalam pendalaman program studi keagamaan an sich, melainkan penyediaan program studi umum, sebagaimana di perguruan tinggi umum negeri lainnya. Sekedar ambil contoh, program studi sains dan teknologi, pertanian, kedokteran, dan lainnya.

 

Pekerjaan Besar 

Seiring dengan dibukanya program studi umum sebagai konsekuensi logis dari transformasi kelembagaan di perguruan tinggi keagamaan Islam, maka pekerjaan besar dari hal tersebut adalah komitmen untuk menjaga dan merawat pelbagai pandangan dan argumen yang berkembang dalam titik pijak Islam yang moderat. Selain itu, perkembangan pesat yang terjadi di lingkungan UIN, menuntut untuk menggunakan pelbagai pendekatan dalam memahami keislaman dengan analisis yang mendalam. Kajian yang harus dikembangkan adalah pemaduan antara problem kontemporer dengan basis-basis teks klasik tetap harus dilestarikan, termasuk dalam kajian-kajian yang nantinya dikembangkan dalam program studi umum.

Lahirnya program studi umum tidak kemudian mengenyampingkan kajian keislaman yang bernafaskan Islam wasatiyah di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Momentum transformasi kelembagaan justru menjadi rumah baru untuk dikuatkan dalam pembumian Islam rahmatan lil alamin melalui kajian-kajian yang memberi dampak pada pemahaman yang plural terhadap kekayaan dan keragaman tradisi intelektual Islam, yang selama ini menjadi core business IAIN dan UIN. Pemahaman yang beragam, yang tidak hanya berkutat pada satu pandangan eksklusif, akan mengantarkan pada munculnya an Islam based on tolerance and inclusiveness di Indonesia. 

Transformasi kelembagaan perguruan tinggi keagamaan Islam sejatinya memiliki argumentasi filosofis. Perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat, utamanya tentang pembukaan program studi umum. 

Dalam konteks itu, transformasi IAIN Jember menjadi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2021 tanggal 11 Mei 2021 juga meniscayakan untuk membuka program studi umum. Sudah barang tentu, transformasi kelembagaan dimaksudkan sebagai perwujudan integrasi agama dan sains yang menjadi salah satu mandat dalam peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi keagamaan terus mengalami perubahan seiring tuntutan dan dinamika perkembangan zaman. Dalam perjalanan sejarahnya, perguruan tinggi keagamaan Islam, yang dikenal dengan IAIN, lebih fokus pada lembaga dakwah yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Saat ini, hal itu tidak berkurang, namun diperluas dengan memantapkan kelembagaannya sebagai wadah yang bertanggung jawab secara akademis-ilmiah. Perguruan tinggi keagamaan Islam ini kemudian memikul tanggung jawab sebagai meeting pot dan melting pot pelbagai pendekatan studi Islam. Aneka pendekatan studi keislaman kemudian tidak hanya diwujudkan dalam pendalaman program studi keagamaan an sich, melainkan penyediaan program studi umum, sebagaimana di perguruan tinggi umum negeri lainnya. Sekedar ambil contoh, program studi sains dan teknologi, pertanian, kedokteran, dan lainnya.

 

Pekerjaan Besar 

Seiring dengan dibukanya program studi umum sebagai konsekuensi logis dari transformasi kelembagaan di perguruan tinggi keagamaan Islam, maka pekerjaan besar dari hal tersebut adalah komitmen untuk menjaga dan merawat pelbagai pandangan dan argumen yang berkembang dalam titik pijak Islam yang moderat. Selain itu, perkembangan pesat yang terjadi di lingkungan UIN, menuntut untuk menggunakan pelbagai pendekatan dalam memahami keislaman dengan analisis yang mendalam. Kajian yang harus dikembangkan adalah pemaduan antara problem kontemporer dengan basis-basis teks klasik tetap harus dilestarikan, termasuk dalam kajian-kajian yang nantinya dikembangkan dalam program studi umum.

Lahirnya program studi umum tidak kemudian mengenyampingkan kajian keislaman yang bernafaskan Islam wasatiyah di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Momentum transformasi kelembagaan justru menjadi rumah baru untuk dikuatkan dalam pembumian Islam rahmatan lil alamin melalui kajian-kajian yang memberi dampak pada pemahaman yang plural terhadap kekayaan dan keragaman tradisi intelektual Islam, yang selama ini menjadi core business IAIN dan UIN. Pemahaman yang beragam, yang tidak hanya berkutat pada satu pandangan eksklusif, akan mengantarkan pada munculnya an Islam based on tolerance and inclusiveness di Indonesia. 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/