Hingga saat ini pandemi Covid-19 masih berlanjut dan tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Wabah ini secara tidak langsung berdampak pada segi-segi kehidupan, baik aspek ekonomi, sosial, kesehatan, kebudayaan, pariwisata, pendidikan, dan lain-lain. Pada aspek pendidikan dampak tersebut salah satunya dirasakan dengan tidak dapatnya pembelajaran di kelas dengan tatap muka dan interaksi guru dengan siswa, sehingga memaksa guru untuk kreatif menggunakan media pembelajaran dengan metode jarak jauh (daring).

Selama ini, sebelum Covid-19, tidak terbayangkan guru akan melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menggunakan metode pembelajaran jarak jauh (daring) dengan media aplikasi online seperti zoom meeting, Microsoft teams, Google meet, Google classroom, Google duo zoom, learning management system dan lain-lain. Selama ini metode pembelajaran jarak jauh hanya sebatas pembahasan teori dan konsep semata kalaupun ada yang sudah mempraktikkan dalam pembelajaran masih sangat sedikit jumlahnya, namun dengan pandemi Covid-19 semuanya dipaksakan untuk menggunakan media aplikasi online yang diharapkan pembelajaran dapat berjalan secara baik dengan tetap menjaga proses dan kualitasnya.

Memang dirasakan oleh para guru, pembelajaran metode jarak jauh tersebut terkadang kurang efektif karena berbagai faktor, seperti netware (komponen jaringan komputer; alasan sinyal lemah), dataware (komponen sumber daya data; biaya paket internet mahal/terutama dirasakan oleh siswa), brainware (komponen sumber daya manusia; beberapa guru yang kurang menguasai teknologi informasi dan komputer), hardware (komponen perangkat keras; komputer dan android/HP yang kurang support pada software aplikasi; beberapa siswa juga tidak memiliki android/HP) dan software (komponen perangkat lunak; software aplikasi yang digunakan).

Menyadari bahwa pembelajaran yang ideal dan efektif memang tetap harus ada interaksi langsung (tatap muka) antara guru dengan siswa di kelas, namun karena situasi saat ini adalah masa darurat maka metode pembelajaran jarak jauh adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah bahkan hampir di semua negara pembelajaran di kelas menggunakan media online. Pihak sekolah membuat skenario KBM terhadap validasi kurikulum darurat pandemi Covid-19 dengan menggabungkan tiga aspek yaitu 1) nyata, 2) daring (dalam jaringan), dan 3) luring (luar jaringan).

Pada aspek nyata artinya kegiatan pembelajaran tetap harus dilaksanakan dan terjadi proses interaksi guru dengan siswa. Aspek daring artinya pembelajaran terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya dengan media aplikasi online sebagai sarana yang digunakan dalam pembelajaran. Sedangkan aspek luring diartikan sebagai terputus dari jejaring komputer dalam hal ini pembelajaran dilaksanakan dengan tetap mendatangkan siswa ke sekolah secara terjadwal dan berkala, penugasan pembelajaran langsung dan dibawa pulang ke rumah, kemudian siswa mengumpulkan kembali tugas yang diberikan guru ke sekolah. Untuk siswa pra-sekolah (TK) dan SD/MI dengan skenario pembelajaran berkelompok secara terjadwal, pembelajaran tatap muka dilaksanakan di rumah guru yang ditunjuk oleh pihak sekolah sebagai penyelenggara KBM.

Menurut hemat penulis, ada empat tantangan yang harus bisa diatasi dan dilakukan oleh pihak sekolah pada masa pandemi ini. Pertama; sekolah harus ikut serta melakukan upaya pencegahan Covid-19 dengan menjalankan disiplin protokol kesehatan bagi seluruh warga sekolah dengan disiplin menjaga kebersihan dan kesehatan, menjaga jarak aman, memakai masker. Kedua; pihak sekolah harus tetap sukses melaksanakan proses pembelajaran terhadap validasi kurikulum darurat dengan baik dengan tetap menjaga kualitas pembelajarannya dengan skenario yang sudah ditetapkan oleh masing-masing sekolah.

Ketiga; pihak sekolah harus tetap menjaga interaksi dan komunikasi secara baik dengan siswa, orang tua siswa, komite sekolah, dan masyarakat sehingga keberadaan sekolah tetap mendapatkan dukungan dari pihak-pihak tersebut. Keempat, pihak sekolah harus tetap melaksanakan manajemen sekolah secara profesional, baik manajemen kurikulum (terutama kurikulum darurat pandemi Covid-19), manajemen siswa, sarana-prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, keuangan, kehumasan, pelayanan prima kepada stakeholders sehingga kualitas dan mutu sekolah dapat dipertahankan.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman sebagaimana yang telah dilakukan di banyak negara maju, pendayagunaan internet untuk pendidikan atau pembelajaran bisa dilakukan dalam tiga bentuk (Haughey dalam Saud, 2008), yaitu 1) web course, 2) web centric course, dan 3) web enhanced course.