alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

MENGGAPAI TINGKAT KETAQWAAN DI BULAN SUCI

Oleh: Dr. Khotibul Umam, M.A

Mobile_AP_Rectangle 1

Syukur alhamdulillah tahun ini Kita bisa bertemu kembali bulan suci ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan dan rahmat bagi kaum muslimin di seluruh dunia, bahkan bulan rahmat bagi seluruh alam semesta karena di bulan itu diturunkan kitab suci Al-Qur`an yang menjadi petunjuk kehidupan bagi seluruh manusia. Bagi para Salafus Saleh, bulan ramadhan adalah bulan training dan pendidikan karena di dalamnya terjadi suatu proses di mana seorang muslim dituntut untuk lebih baik daripada bulan-bulan lainnya. Para ulama salaf menjadikan bulan puasa sebagai bulan penempaan dan pembekalan diri untuk menghadapi hari-hari di luar ramadhan.

Ibadah puasa ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas Kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Kamu agar Kamu bertakwa”. Berdasarkan ayat tersebut, Kita bisa mengambil pelajaran bahwa ibadah puasa dapat mengantarkan manusia kepada ketaqwaan. Kata takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Orang yang bertakwa artinya orang yang mau menjaga dan memelihara dirinya dari api neraka dengan selalu menjalankan perintah Rabb-nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Q.S At-Tahrim: 6). Di samping itu, puasa yang pada hakikatnya terkandung dalam ayat tersebut adalah sebagai wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim. Oleh karena itu, takwa sebagaimana disebutkan dalam definisi tersebut adalah merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kuat yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah SWT) takut terhadap murka dan azab Allah SWT serta selalu mengharapkan limpahan karunia dan ampunan dari-Nya.

Melalui ibadah puasa inilah dilakukan pembongkaran terhadap penjara hawa nafsu yang selama ini mengungkung. Dengan ibadah puasa ini diharapkan yang kemudian muncul adalah insan yang selain bertaqwa juga tercerahkan. Itulah sebabnya mengapa di bulan suci ramadhan ini sebagai bulan pembangkaran dosa, bulan pelebur dosa sehingga orang yang dengan sempurna menyelesaikan puasanya akan suci bersih dirinya dari dosa dan noda bagaikan bayi yang baru saja lahir dari kandungan ibunya

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama bulan ramadhan inilah manusia dididik untuk melakukan ibadah yang sepenuhnya ditujukan kepada Allah SWT. Sang Maha Penciptalah yang akan memberikan balasan atas ibadah yang sepenuhnya tidak terkait dengan urusan manusia, karena sifatnya langsung antara hamba Allah dan khaliqnya. Berpulang kepada manusialah pilihan apakah ia akan menjadikan puasanya berkualitas dan pantas mendapatkan pahala atau hanya sekedar berbuah pada rasa lapar dan dahaga. Hadis Nabi SAW yang artinya;“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala apapun kecuali hanya lapar dan haus”. Sementara balasan telah dijanjikan oleh Allah SWT sendiri, penyempurnaan ibadah yang juga sering disebut sebagai olah jiwa tahunan ini mengandung pula dimensi horizontal kemanusiaan. Dimensi ini sendiri tentu saja semakin penting, justru ketika suasana yang ada di sekitar semakin menuntut kualitas yang dimilki oleh insan taqwa yang penuh kasih sayang terhadap sesama. Kita yakin, proses untuk mendapatkan ridha Allah SWT melalui jalan taqwa erat berkaitan dengan perilaku sehari-hari terhadap sesama. Dimensi vertikal sering berkaitan dengan nilai 5-K (kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, ketawadhu`an, kesehatan) sedangkan dimensi horizontal berkaitan dengan nilai 1-K (ketaqwaan). Dengan kata lain, aspek vertikal ibadah tidak bisa dilepaskan dari aspek horizontalnya, sehingga dengan bekal tersebut seseorang yang menjalani ibadah puasa dengan iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah SWT semata) akan memperoleh balasan pahala sesuai dengan hadis Nabi SAW yang artinya; “Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Di samping itu, ibadah puasa ramadhan juga sebagai pembentuk jasmani dan rohani yang sehat. Hal ini karena terdapat tiga unsur yang melengkapi diri manusia sehingga dapat hidup sebagai pribadi. Ketiga unsur itu menentukan hidup dan kehidupan manusia lebih lanjut. Ketiganya adalah otak (akal), hati dan jasmani.

Pertama; Otak manusia. Otak (akal) mampu menciptakan konsep-konsep atau keinginan-keinginan untuk mencapai sesuatu. Otak  berperan sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun sistem saraf pusat. Sistem saraf inilah yang kemudian bekerja sama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, seperti berjalan, berbicara, bernapas, hingga makan dan minum.

Kedua; Hati manusia berperan untuk menyaring apa yang patut atau tidak patut dikerjakan. Kalau hati seseorang baik (bersih) tentu dapat memberi arah apa yang seharusnya otak ciptakan. Tetapi kalau hatinya tidak bersih, maka dapat saja otak tersebut bekerja semaunya, menciptakan apa saja yang tidak dikehendakinya, tidak peduli apakah baik atau tidak, apakah akan membinasakan atau menyelamatkan umat manusia.

- Advertisement -

Syukur alhamdulillah tahun ini Kita bisa bertemu kembali bulan suci ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan dan rahmat bagi kaum muslimin di seluruh dunia, bahkan bulan rahmat bagi seluruh alam semesta karena di bulan itu diturunkan kitab suci Al-Qur`an yang menjadi petunjuk kehidupan bagi seluruh manusia. Bagi para Salafus Saleh, bulan ramadhan adalah bulan training dan pendidikan karena di dalamnya terjadi suatu proses di mana seorang muslim dituntut untuk lebih baik daripada bulan-bulan lainnya. Para ulama salaf menjadikan bulan puasa sebagai bulan penempaan dan pembekalan diri untuk menghadapi hari-hari di luar ramadhan.

Ibadah puasa ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas Kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Kamu agar Kamu bertakwa”. Berdasarkan ayat tersebut, Kita bisa mengambil pelajaran bahwa ibadah puasa dapat mengantarkan manusia kepada ketaqwaan. Kata takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Orang yang bertakwa artinya orang yang mau menjaga dan memelihara dirinya dari api neraka dengan selalu menjalankan perintah Rabb-nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Q.S At-Tahrim: 6). Di samping itu, puasa yang pada hakikatnya terkandung dalam ayat tersebut adalah sebagai wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim. Oleh karena itu, takwa sebagaimana disebutkan dalam definisi tersebut adalah merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kuat yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah SWT) takut terhadap murka dan azab Allah SWT serta selalu mengharapkan limpahan karunia dan ampunan dari-Nya.

Melalui ibadah puasa inilah dilakukan pembongkaran terhadap penjara hawa nafsu yang selama ini mengungkung. Dengan ibadah puasa ini diharapkan yang kemudian muncul adalah insan yang selain bertaqwa juga tercerahkan. Itulah sebabnya mengapa di bulan suci ramadhan ini sebagai bulan pembangkaran dosa, bulan pelebur dosa sehingga orang yang dengan sempurna menyelesaikan puasanya akan suci bersih dirinya dari dosa dan noda bagaikan bayi yang baru saja lahir dari kandungan ibunya

Selama bulan ramadhan inilah manusia dididik untuk melakukan ibadah yang sepenuhnya ditujukan kepada Allah SWT. Sang Maha Penciptalah yang akan memberikan balasan atas ibadah yang sepenuhnya tidak terkait dengan urusan manusia, karena sifatnya langsung antara hamba Allah dan khaliqnya. Berpulang kepada manusialah pilihan apakah ia akan menjadikan puasanya berkualitas dan pantas mendapatkan pahala atau hanya sekedar berbuah pada rasa lapar dan dahaga. Hadis Nabi SAW yang artinya;“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala apapun kecuali hanya lapar dan haus”. Sementara balasan telah dijanjikan oleh Allah SWT sendiri, penyempurnaan ibadah yang juga sering disebut sebagai olah jiwa tahunan ini mengandung pula dimensi horizontal kemanusiaan. Dimensi ini sendiri tentu saja semakin penting, justru ketika suasana yang ada di sekitar semakin menuntut kualitas yang dimilki oleh insan taqwa yang penuh kasih sayang terhadap sesama. Kita yakin, proses untuk mendapatkan ridha Allah SWT melalui jalan taqwa erat berkaitan dengan perilaku sehari-hari terhadap sesama. Dimensi vertikal sering berkaitan dengan nilai 5-K (kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, ketawadhu`an, kesehatan) sedangkan dimensi horizontal berkaitan dengan nilai 1-K (ketaqwaan). Dengan kata lain, aspek vertikal ibadah tidak bisa dilepaskan dari aspek horizontalnya, sehingga dengan bekal tersebut seseorang yang menjalani ibadah puasa dengan iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah SWT semata) akan memperoleh balasan pahala sesuai dengan hadis Nabi SAW yang artinya; “Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Di samping itu, ibadah puasa ramadhan juga sebagai pembentuk jasmani dan rohani yang sehat. Hal ini karena terdapat tiga unsur yang melengkapi diri manusia sehingga dapat hidup sebagai pribadi. Ketiga unsur itu menentukan hidup dan kehidupan manusia lebih lanjut. Ketiganya adalah otak (akal), hati dan jasmani.

Pertama; Otak manusia. Otak (akal) mampu menciptakan konsep-konsep atau keinginan-keinginan untuk mencapai sesuatu. Otak  berperan sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun sistem saraf pusat. Sistem saraf inilah yang kemudian bekerja sama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, seperti berjalan, berbicara, bernapas, hingga makan dan minum.

Kedua; Hati manusia berperan untuk menyaring apa yang patut atau tidak patut dikerjakan. Kalau hati seseorang baik (bersih) tentu dapat memberi arah apa yang seharusnya otak ciptakan. Tetapi kalau hatinya tidak bersih, maka dapat saja otak tersebut bekerja semaunya, menciptakan apa saja yang tidak dikehendakinya, tidak peduli apakah baik atau tidak, apakah akan membinasakan atau menyelamatkan umat manusia.

Syukur alhamdulillah tahun ini Kita bisa bertemu kembali bulan suci ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan dan rahmat bagi kaum muslimin di seluruh dunia, bahkan bulan rahmat bagi seluruh alam semesta karena di bulan itu diturunkan kitab suci Al-Qur`an yang menjadi petunjuk kehidupan bagi seluruh manusia. Bagi para Salafus Saleh, bulan ramadhan adalah bulan training dan pendidikan karena di dalamnya terjadi suatu proses di mana seorang muslim dituntut untuk lebih baik daripada bulan-bulan lainnya. Para ulama salaf menjadikan bulan puasa sebagai bulan penempaan dan pembekalan diri untuk menghadapi hari-hari di luar ramadhan.

Ibadah puasa ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas Kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Kamu agar Kamu bertakwa”. Berdasarkan ayat tersebut, Kita bisa mengambil pelajaran bahwa ibadah puasa dapat mengantarkan manusia kepada ketaqwaan. Kata takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Orang yang bertakwa artinya orang yang mau menjaga dan memelihara dirinya dari api neraka dengan selalu menjalankan perintah Rabb-nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Q.S At-Tahrim: 6). Di samping itu, puasa yang pada hakikatnya terkandung dalam ayat tersebut adalah sebagai wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim. Oleh karena itu, takwa sebagaimana disebutkan dalam definisi tersebut adalah merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kuat yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah SWT) takut terhadap murka dan azab Allah SWT serta selalu mengharapkan limpahan karunia dan ampunan dari-Nya.

Melalui ibadah puasa inilah dilakukan pembongkaran terhadap penjara hawa nafsu yang selama ini mengungkung. Dengan ibadah puasa ini diharapkan yang kemudian muncul adalah insan yang selain bertaqwa juga tercerahkan. Itulah sebabnya mengapa di bulan suci ramadhan ini sebagai bulan pembangkaran dosa, bulan pelebur dosa sehingga orang yang dengan sempurna menyelesaikan puasanya akan suci bersih dirinya dari dosa dan noda bagaikan bayi yang baru saja lahir dari kandungan ibunya

Selama bulan ramadhan inilah manusia dididik untuk melakukan ibadah yang sepenuhnya ditujukan kepada Allah SWT. Sang Maha Penciptalah yang akan memberikan balasan atas ibadah yang sepenuhnya tidak terkait dengan urusan manusia, karena sifatnya langsung antara hamba Allah dan khaliqnya. Berpulang kepada manusialah pilihan apakah ia akan menjadikan puasanya berkualitas dan pantas mendapatkan pahala atau hanya sekedar berbuah pada rasa lapar dan dahaga. Hadis Nabi SAW yang artinya;“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala apapun kecuali hanya lapar dan haus”. Sementara balasan telah dijanjikan oleh Allah SWT sendiri, penyempurnaan ibadah yang juga sering disebut sebagai olah jiwa tahunan ini mengandung pula dimensi horizontal kemanusiaan. Dimensi ini sendiri tentu saja semakin penting, justru ketika suasana yang ada di sekitar semakin menuntut kualitas yang dimilki oleh insan taqwa yang penuh kasih sayang terhadap sesama. Kita yakin, proses untuk mendapatkan ridha Allah SWT melalui jalan taqwa erat berkaitan dengan perilaku sehari-hari terhadap sesama. Dimensi vertikal sering berkaitan dengan nilai 5-K (kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, ketawadhu`an, kesehatan) sedangkan dimensi horizontal berkaitan dengan nilai 1-K (ketaqwaan). Dengan kata lain, aspek vertikal ibadah tidak bisa dilepaskan dari aspek horizontalnya, sehingga dengan bekal tersebut seseorang yang menjalani ibadah puasa dengan iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah SWT semata) akan memperoleh balasan pahala sesuai dengan hadis Nabi SAW yang artinya; “Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Di samping itu, ibadah puasa ramadhan juga sebagai pembentuk jasmani dan rohani yang sehat. Hal ini karena terdapat tiga unsur yang melengkapi diri manusia sehingga dapat hidup sebagai pribadi. Ketiga unsur itu menentukan hidup dan kehidupan manusia lebih lanjut. Ketiganya adalah otak (akal), hati dan jasmani.

Pertama; Otak manusia. Otak (akal) mampu menciptakan konsep-konsep atau keinginan-keinginan untuk mencapai sesuatu. Otak  berperan sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun sistem saraf pusat. Sistem saraf inilah yang kemudian bekerja sama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, seperti berjalan, berbicara, bernapas, hingga makan dan minum.

Kedua; Hati manusia berperan untuk menyaring apa yang patut atau tidak patut dikerjakan. Kalau hati seseorang baik (bersih) tentu dapat memberi arah apa yang seharusnya otak ciptakan. Tetapi kalau hatinya tidak bersih, maka dapat saja otak tersebut bekerja semaunya, menciptakan apa saja yang tidak dikehendakinya, tidak peduli apakah baik atau tidak, apakah akan membinasakan atau menyelamatkan umat manusia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/