alexametrics
23.7 C
Jember
Wednesday, 1 December 2021

Konstruksi Media Komunikasi Pesantren 

Mobile_AP_Rectangle 1

Perbincangan mengenai media komunikasi pesantren terus menjadi perhatian publik. Pertama, jumlah pondok pesantren di Indonesia yang mencapai 34.632 buah, 4.766.394 santri, 385.941 pengajar dan tenaga kependidikan (Data Kementerian Agama RI, 2019) sebagian  besar memiliki media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan/ informasi secara massif di ruang publik. Kedua, pesantren memiliki karakteristik dalam mengelola media komunikasinya sesuai dengan visi dan misinya pesantrennya sehingga melahirkan ragam wacana yang “menguasai” ruang publik, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. Ketiga, produk media komunikasi pesantren mampu melahirkan ragam jurnalisme baru, yakni jurnalisme pesantren, yakni sebuah laporan jurnalistik bergaya “khas” pesantren. 

Untuk yang terakhir, fenomena jurnalisme pesantren sudah dimulai pesantren-pesantren “sepuh” jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebut saja, misalnya di pesantren Sidogiri Pasuruan yang berdiri tahun 1745 M  memiliki lembaga jurnalistik yang disebut Badan Pers Pesantren (BPP), pondok Tremas Pacitan yang berdiri tahun 1830 juga mengembangkan media online pondoktremas.com, dan sebagaianya. Pengembangan media komunikasi pesantren, khususnya media online kini berkembang dengan sangat pesat. 

Dalam Workshop Pendampingan Peningkatan Mutu Jurnalistik Media Pesantren sebagai bentuk Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Program Studi S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) pada Sabtu, 13 November 2021 lalu,  terungkap bahwa Pondok Pesantren Ash-Shiddiq Puteri (Ashri) Jember yang berdiri tahun 1931  juga sudah mengembangkan jurnalisme pesantren. Pengasuh Ponpes Ashri Jember, KH. MA. Syaiful Rijal AS.,mengisahkan bahwa KH Abdul Chalim Shiddiq yang mendirikan Ponpes Ashri Jember saat itu menjadikan media komunikasi Radio sebagai saluran (channel) komunikasi publik dalam menyampaikan dakwahnya. Tujuannya, agar dakwah Islam rahmatan lil alamin yang lebih banyak menyentuh kalangan. Radio dengan gelombang AM itu didirikan sebelum pecahnya Gerakan 30 September 1965 dan dirasakan memiliki pengaruh yang kuat saat itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini, spirit KH. Abdul Chalim Shiddiq itu  dilanjutkan oleh puteranya KH. M.A. Syaiful Rijal AS (Gus Syaif) dengan menampilkan media online xposfile.com (https://www.xposfile.com/sekilas-xposfile/) yang diterbitkan dibawah naungan PT. Ashria sebagai media komunikasi “khas” pesantren. Tagline yang diusung adalah “Warta Kebenaran” sebagai visi utama dengan memfokuskan pada berita politik pemerintahan, keagamaan, pendidikan, pariwisata, sejarah budaya, peluang usaha, hobi dan sebagainya.  Selain itu, legenda radio “komunitas” pesantren Ashri juga dikembangkan melalui Radio ASHRIA  106,1 FM sebagai  media komunikasi pesantren. 

Karakteristik Media Komunikasi Pesantren

Berdasarkan hasil diskusi selama kegiatan pengabdian masyarakat itu berlangsung, media komunikasi pesantren memiliki karakteristik yang “khas” dibandingkan dengan produk jurnalistik pada umumnya. Pertama, prinsip kebenaran. Sebagai media dakwah, produk jurnalistik pesantren memegang prinsip kebenaran dalam pemberitaan.  “Prinsip media itu harus menyuarakan kebenaran, sesuai dengan fakta dan data. Bukan hoax,” tegas Gus Syaif dalam pengantar workshop di depan peserta. 

Kebenaran jurnalistik pesantren ini diperoleh melalui sumber informasi yang layak dipertanggungjawabkan. Misalnya, ketika memberitakan mengenai kasus yang terjadi di pemerintahan Kabupaten Jember, Xposfile.com meyakini sumber dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sebagai informan yang layak di percaya karena lembaga resmi negara. Untuk itu, menurut  pemimpin redaksi Xposfile Kustiono Musri, satu sumber sudah bisa mewakili realitas yang ditampilkan di media online. “Kapasitas sumber dari BPK kami anggap layak mewakili, sehingga bisa langsung kita ekspos di Xposfile,” katanya sebagaimana juga diberitakan dalam media xposfile.com (https://www.xposfile.com/media-pesantren-harus-memberitakan-kebenaran/).  

Kedua, prinsip bahasa lugas. Berita yang disajikan media pesantren xposfile tidak bertele-tele, ringkas, padat, dan mudah dipahami. Karena menyajika fakta yang diyakini oleh redaksi sebagai kebenaran, maka bahasa yang digunakan apa adanya. Yang terpenting, publik dapat memahami maksud tulisan/ berita tersebut.  Dalam rangka mendukung narasi teks ini pula, Kustiono Musri juga menggunakan platform Youtube untuk mengekpos suatu kegiatan yang digelar oleh Xposfile. Diantaranya, kegiatan workshop peningkatan mutu jurnalistik pesantren itu bisa dengan mudah diakses melalui kanal Youtube Perserikatan Wartawan Jember (PWJ) Asyik Jember (https://www.youtube.com/watch?v=N0IV6CQ8K-w) sehingga dapat diketahui secara utuh peristiwa/ kejadian yang diunggah.  Untuk mendapatkan kualitas gambar dan suara yang berkelas agar tidak kalah dengan yang lain, Tim media Ashri Jember juga menyiapkan perangkat yang memadai dan mampu menghasilkan kualitas audiovisual yang layak. 

- Advertisement -

Perbincangan mengenai media komunikasi pesantren terus menjadi perhatian publik. Pertama, jumlah pondok pesantren di Indonesia yang mencapai 34.632 buah, 4.766.394 santri, 385.941 pengajar dan tenaga kependidikan (Data Kementerian Agama RI, 2019) sebagian  besar memiliki media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan/ informasi secara massif di ruang publik. Kedua, pesantren memiliki karakteristik dalam mengelola media komunikasinya sesuai dengan visi dan misinya pesantrennya sehingga melahirkan ragam wacana yang “menguasai” ruang publik, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. Ketiga, produk media komunikasi pesantren mampu melahirkan ragam jurnalisme baru, yakni jurnalisme pesantren, yakni sebuah laporan jurnalistik bergaya “khas” pesantren. 

Untuk yang terakhir, fenomena jurnalisme pesantren sudah dimulai pesantren-pesantren “sepuh” jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebut saja, misalnya di pesantren Sidogiri Pasuruan yang berdiri tahun 1745 M  memiliki lembaga jurnalistik yang disebut Badan Pers Pesantren (BPP), pondok Tremas Pacitan yang berdiri tahun 1830 juga mengembangkan media online pondoktremas.com, dan sebagaianya. Pengembangan media komunikasi pesantren, khususnya media online kini berkembang dengan sangat pesat. 

Dalam Workshop Pendampingan Peningkatan Mutu Jurnalistik Media Pesantren sebagai bentuk Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Program Studi S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) pada Sabtu, 13 November 2021 lalu,  terungkap bahwa Pondok Pesantren Ash-Shiddiq Puteri (Ashri) Jember yang berdiri tahun 1931  juga sudah mengembangkan jurnalisme pesantren. Pengasuh Ponpes Ashri Jember, KH. MA. Syaiful Rijal AS.,mengisahkan bahwa KH Abdul Chalim Shiddiq yang mendirikan Ponpes Ashri Jember saat itu menjadikan media komunikasi Radio sebagai saluran (channel) komunikasi publik dalam menyampaikan dakwahnya. Tujuannya, agar dakwah Islam rahmatan lil alamin yang lebih banyak menyentuh kalangan. Radio dengan gelombang AM itu didirikan sebelum pecahnya Gerakan 30 September 1965 dan dirasakan memiliki pengaruh yang kuat saat itu.

Kini, spirit KH. Abdul Chalim Shiddiq itu  dilanjutkan oleh puteranya KH. M.A. Syaiful Rijal AS (Gus Syaif) dengan menampilkan media online xposfile.com (https://www.xposfile.com/sekilas-xposfile/) yang diterbitkan dibawah naungan PT. Ashria sebagai media komunikasi “khas” pesantren. Tagline yang diusung adalah “Warta Kebenaran” sebagai visi utama dengan memfokuskan pada berita politik pemerintahan, keagamaan, pendidikan, pariwisata, sejarah budaya, peluang usaha, hobi dan sebagainya.  Selain itu, legenda radio “komunitas” pesantren Ashri juga dikembangkan melalui Radio ASHRIA  106,1 FM sebagai  media komunikasi pesantren. 

Karakteristik Media Komunikasi Pesantren

Berdasarkan hasil diskusi selama kegiatan pengabdian masyarakat itu berlangsung, media komunikasi pesantren memiliki karakteristik yang “khas” dibandingkan dengan produk jurnalistik pada umumnya. Pertama, prinsip kebenaran. Sebagai media dakwah, produk jurnalistik pesantren memegang prinsip kebenaran dalam pemberitaan.  “Prinsip media itu harus menyuarakan kebenaran, sesuai dengan fakta dan data. Bukan hoax,” tegas Gus Syaif dalam pengantar workshop di depan peserta. 

Kebenaran jurnalistik pesantren ini diperoleh melalui sumber informasi yang layak dipertanggungjawabkan. Misalnya, ketika memberitakan mengenai kasus yang terjadi di pemerintahan Kabupaten Jember, Xposfile.com meyakini sumber dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sebagai informan yang layak di percaya karena lembaga resmi negara. Untuk itu, menurut  pemimpin redaksi Xposfile Kustiono Musri, satu sumber sudah bisa mewakili realitas yang ditampilkan di media online. “Kapasitas sumber dari BPK kami anggap layak mewakili, sehingga bisa langsung kita ekspos di Xposfile,” katanya sebagaimana juga diberitakan dalam media xposfile.com (https://www.xposfile.com/media-pesantren-harus-memberitakan-kebenaran/).  

Kedua, prinsip bahasa lugas. Berita yang disajikan media pesantren xposfile tidak bertele-tele, ringkas, padat, dan mudah dipahami. Karena menyajika fakta yang diyakini oleh redaksi sebagai kebenaran, maka bahasa yang digunakan apa adanya. Yang terpenting, publik dapat memahami maksud tulisan/ berita tersebut.  Dalam rangka mendukung narasi teks ini pula, Kustiono Musri juga menggunakan platform Youtube untuk mengekpos suatu kegiatan yang digelar oleh Xposfile. Diantaranya, kegiatan workshop peningkatan mutu jurnalistik pesantren itu bisa dengan mudah diakses melalui kanal Youtube Perserikatan Wartawan Jember (PWJ) Asyik Jember (https://www.youtube.com/watch?v=N0IV6CQ8K-w) sehingga dapat diketahui secara utuh peristiwa/ kejadian yang diunggah.  Untuk mendapatkan kualitas gambar dan suara yang berkelas agar tidak kalah dengan yang lain, Tim media Ashri Jember juga menyiapkan perangkat yang memadai dan mampu menghasilkan kualitas audiovisual yang layak. 

Perbincangan mengenai media komunikasi pesantren terus menjadi perhatian publik. Pertama, jumlah pondok pesantren di Indonesia yang mencapai 34.632 buah, 4.766.394 santri, 385.941 pengajar dan tenaga kependidikan (Data Kementerian Agama RI, 2019) sebagian  besar memiliki media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan/ informasi secara massif di ruang publik. Kedua, pesantren memiliki karakteristik dalam mengelola media komunikasinya sesuai dengan visi dan misinya pesantrennya sehingga melahirkan ragam wacana yang “menguasai” ruang publik, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. Ketiga, produk media komunikasi pesantren mampu melahirkan ragam jurnalisme baru, yakni jurnalisme pesantren, yakni sebuah laporan jurnalistik bergaya “khas” pesantren. 

Untuk yang terakhir, fenomena jurnalisme pesantren sudah dimulai pesantren-pesantren “sepuh” jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebut saja, misalnya di pesantren Sidogiri Pasuruan yang berdiri tahun 1745 M  memiliki lembaga jurnalistik yang disebut Badan Pers Pesantren (BPP), pondok Tremas Pacitan yang berdiri tahun 1830 juga mengembangkan media online pondoktremas.com, dan sebagaianya. Pengembangan media komunikasi pesantren, khususnya media online kini berkembang dengan sangat pesat. 

Dalam Workshop Pendampingan Peningkatan Mutu Jurnalistik Media Pesantren sebagai bentuk Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Program Studi S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) pada Sabtu, 13 November 2021 lalu,  terungkap bahwa Pondok Pesantren Ash-Shiddiq Puteri (Ashri) Jember yang berdiri tahun 1931  juga sudah mengembangkan jurnalisme pesantren. Pengasuh Ponpes Ashri Jember, KH. MA. Syaiful Rijal AS.,mengisahkan bahwa KH Abdul Chalim Shiddiq yang mendirikan Ponpes Ashri Jember saat itu menjadikan media komunikasi Radio sebagai saluran (channel) komunikasi publik dalam menyampaikan dakwahnya. Tujuannya, agar dakwah Islam rahmatan lil alamin yang lebih banyak menyentuh kalangan. Radio dengan gelombang AM itu didirikan sebelum pecahnya Gerakan 30 September 1965 dan dirasakan memiliki pengaruh yang kuat saat itu.

Kini, spirit KH. Abdul Chalim Shiddiq itu  dilanjutkan oleh puteranya KH. M.A. Syaiful Rijal AS (Gus Syaif) dengan menampilkan media online xposfile.com (https://www.xposfile.com/sekilas-xposfile/) yang diterbitkan dibawah naungan PT. Ashria sebagai media komunikasi “khas” pesantren. Tagline yang diusung adalah “Warta Kebenaran” sebagai visi utama dengan memfokuskan pada berita politik pemerintahan, keagamaan, pendidikan, pariwisata, sejarah budaya, peluang usaha, hobi dan sebagainya.  Selain itu, legenda radio “komunitas” pesantren Ashri juga dikembangkan melalui Radio ASHRIA  106,1 FM sebagai  media komunikasi pesantren. 

Karakteristik Media Komunikasi Pesantren

Berdasarkan hasil diskusi selama kegiatan pengabdian masyarakat itu berlangsung, media komunikasi pesantren memiliki karakteristik yang “khas” dibandingkan dengan produk jurnalistik pada umumnya. Pertama, prinsip kebenaran. Sebagai media dakwah, produk jurnalistik pesantren memegang prinsip kebenaran dalam pemberitaan.  “Prinsip media itu harus menyuarakan kebenaran, sesuai dengan fakta dan data. Bukan hoax,” tegas Gus Syaif dalam pengantar workshop di depan peserta. 

Kebenaran jurnalistik pesantren ini diperoleh melalui sumber informasi yang layak dipertanggungjawabkan. Misalnya, ketika memberitakan mengenai kasus yang terjadi di pemerintahan Kabupaten Jember, Xposfile.com meyakini sumber dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sebagai informan yang layak di percaya karena lembaga resmi negara. Untuk itu, menurut  pemimpin redaksi Xposfile Kustiono Musri, satu sumber sudah bisa mewakili realitas yang ditampilkan di media online. “Kapasitas sumber dari BPK kami anggap layak mewakili, sehingga bisa langsung kita ekspos di Xposfile,” katanya sebagaimana juga diberitakan dalam media xposfile.com (https://www.xposfile.com/media-pesantren-harus-memberitakan-kebenaran/).  

Kedua, prinsip bahasa lugas. Berita yang disajikan media pesantren xposfile tidak bertele-tele, ringkas, padat, dan mudah dipahami. Karena menyajika fakta yang diyakini oleh redaksi sebagai kebenaran, maka bahasa yang digunakan apa adanya. Yang terpenting, publik dapat memahami maksud tulisan/ berita tersebut.  Dalam rangka mendukung narasi teks ini pula, Kustiono Musri juga menggunakan platform Youtube untuk mengekpos suatu kegiatan yang digelar oleh Xposfile. Diantaranya, kegiatan workshop peningkatan mutu jurnalistik pesantren itu bisa dengan mudah diakses melalui kanal Youtube Perserikatan Wartawan Jember (PWJ) Asyik Jember (https://www.youtube.com/watch?v=N0IV6CQ8K-w) sehingga dapat diketahui secara utuh peristiwa/ kejadian yang diunggah.  Untuk mendapatkan kualitas gambar dan suara yang berkelas agar tidak kalah dengan yang lain, Tim media Ashri Jember juga menyiapkan perangkat yang memadai dan mampu menghasilkan kualitas audiovisual yang layak. 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca