alexametrics
22.8C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Signifikansi OBE dalam Membangun Mutu Pendidikan dan Mobilitas Global

Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi dengan ujung tombak Covid-19 sampai saat ini nampaknya belum ada sinyal berakhir. Merujuk kepada release Gugus Tugas Covid-19 Nasional dan Daerah secara statistik grafik kasusnya masih cenderung meningkat. Bersyukurlah pemerintah bersama masyarakat bersatupadu tanpa kenal lelah terus berjuang dalam percepatan penanganan wabah global ini. Sebagai bangsa Indonesia yang mewarisi elan vita nenek moyang pejuang, tidak pantas kita frustasi menghadapi Covid-19 ini. Sangat tepat jika, jika krisis ekonomi dan kemanusiaan saat ini kita jadi pemicu dan pemacu kreatifitas untuk melanjutkan pembangunan nasional bangsa Indonesia tercinta dengan penuh komitmen dan tanggungjawab, termasuk membangun mutu pendidikan global. Secara khusus, para perancang, pengembang, pengelola, dan penyelenggara pendidikan dalam suasana ketidakpastian ini hendaknya tertantang untuk berani menawarkan desain- desain pembelajaran kreatif konstruktif dengan jargon ”Boleh Covid-19 hadir, anak-anak sekolah harus tetap terampil dan mahir.”

 

Pergeseran TES menuju OBE

Tujuan pendidikan secara hakiki adalah menyiapkan siswa/ peserta didik yang mampu survive hidup di masyarakat dan melaksanakan tanggungjawab. Maka, maksud utama Model Pendidikan Berbasis Hasil (Outcome Based Education) disingkat OBE berusaha memfokus pada proses belajar dan hasil akhir sekaligus, juga dengan bekal pengetahuan dan keterampilan. Dengan cara ini, proses pencapaian hasil selama proses belajar dapat berkaitan langsung dengan pencapaian hasil dalam dunia kerja. Pendekatan OBE mensyaratkan pergeseran paradigmatik dalam proses kurikulum dan cara pemberdayaan siswa untuk pencapaian hasil.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yang dimaksud sistem pendidikan tradisional dalam tulisan sederhana ini berupa praktik pembelajaran di Indonesia sebelum mewabah Covid-19. Dari Traditional Education System (TES) menuju OBE. TES dideskripsi sebagai pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered), kurikulum (curriculum centered), dan terasa formal dalam transmisi informasi dari guru ke siswa. Sementara, OBE dapat dipahami sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang kurikulumnya memfokus kepada hasil belajar siswa (outcome) daripada proses pembelajaran, yang harus dia tampilkan pada akhir pelajaran. Hasil ini, mencakup pengetahuan, skil, kemampuan, nilai-nilai, dan sikap.

Diakui atau tidak, hadirnya Covid-19 melahirkan keterkejutan budaya akademik (academic cultural shock) di kalangan stakeholders pendidikan, mulai menteri, guru, murid, dosen, mahasiswa, dan orangtua di semua jenjang pendidikan. Tidak pernah terprediksi bahwa pandemi ini sukses menggeser sistem pendidikan tradisional (traditional education system). Dari belajar secara luring tiba-tiba harus menghadapi kenyataan belajar melalui daring; hal ini, jelas melahirkan dampak domino terhadap efektifitas pembelajaran. Menteri saja dibuat cemas dan panik, apalagi para pelaksana kebijakan menteri di lapangan; ini ekpresi terkait dahsyatnya dampak Covid-19. Secara psikologis mereka dilanda kecemasan, dan secara sosiologis mereka dan bangsa ini terancam kerenggangan sosial (social discohesion) yang kalau dibiarkan menjadi embrio kehancuran NKRI, waspadalah!.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, model OBE, nampaknya tepat diterapkan para guru selama pembelajaran daring. Terbatasnya berinteraksi guru-siswa secara offline bisa maksimalkan tugas-tugas terstruktur terukur, termasuk project-based instruction design. Dengan cara ini dapat diharapkan kompetensi siswa diperoleh secara konstruktif dan akuntabel. Dengan model pembelajaran ini, siswa akan selalu berproses dan memiliki mobilitas belajar yang produktif walau jauh dari guru. Model ini juga memicu para peserta didik secara individual membangun etos dan tabiat belajar yang menguatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mereka.

Secara praktik, sistem pendidikan tradisional sebelum Covid-19 lebih memperhatikan kepada apa yang diajarkan guru (proses), sementara OBE lebih menekankan kepada apa yang akan dicapai siswa dan bagaimana cara mencapainya. OBE mencakup spesifikasi hasil belajar, meliputi: (1) hasil program (program outcomes/PO); (2) hasil program khusus (program specific outcomes /PSO); dan (3) hasil matapelajaran (course outcomes/CO). Untuk memudahkan identifikasi perbedaan model TES dengan OBE, dapat divisualisasi tabel berikut.

TESOBE
Siswa pasifPeserta didik aktif
Pendekatannya fokus ujianPeserta didik diasesmen secara kontinyu
Mendorong mengingat dan hafalan (rote-learning)Mendorong critical thinking, reasoning, refleksi dan tindakan/praktik
Silabusnya content-based dan terbagi ke dalam banyak matapelajaranKonten terintegrasi dan belajar relefan dan konek dengan situasi kehidupan nyata
Belajar textbook atau lembar kerja dan berpusat pada guruBelajar berpusat pada siswa (learner- centered), guru fasilitator, menjadi satu tim dengan dengan membicarakan pendekatan baru
Silabus ketat tidak dapat diubahProgram belajar lebih berupa pedoman untuk diikuti guru secara inovatif dan kreatif dalam merancang program
Guru bertanggungjawab atas kegiatan belajar dan memotivasi siswa berdasar kepribadiannyaSiswa bertanggungjawab atas belajarnya sendiri dan dimotivasi dengan balikan dan dihargai

Sumber: Adaptasi dari Nakkeeran, Babu, Manimaran, dan Gnanasivam, 2018.

Membangun Mutu Pendidikan dan Mobilitas Global

OBE dikenal sebagai komponen pendidikan masyarakat yang sangat penting karena menekankan pada ekonomi pengetahuannya (knowledge- based economy). Melalui pendekatan ini, anak-anak kita dapat terus dibimbing melalui karya nyata. Pendidikan kita saat ini, hendaknya mampu membangun asa putra-putri kita memasuki kompetisi ekonomi global di era teknologi dan peradaban maju. Saya optimis, pembelajaran yang berafiliasi kepada OBE ini, dengan karakteristiknya real life-based instruction, mampu menjawab tantangan masa depan dunia. Pendidikan saat ini hakikatnya adalah konstelasi problem kehidupan masa mendatang. Dapat dimaknai bahwa OBE merupakan salah satu piranti pendidikan untuk menjawab krisis sumber daya manusia berkualitas. Melalui pendekatan OBE, pembelajaran di sekolah dapat dibangun mutu kompetensi dan prestasi anak-anak kita secara utuh (total comptenecies) yang powerful dalam memasuki kompetisi dan mobilitas global. Pada gilirannya, capaian ini akan menumbuhkan rasa percaya diri di dunia internasional dan bangga sebagai bangsa Indonesia.

Mencermati signifikansi OBE dalam penyiapan sumberdaya manusia yang kompetitif, saatnya anak-anak kita sekarang dibekali pengetahuan dan skil secara fleksibel melalui pendekatan pemberdayaan (empowerment-oriented approach) dalam belajar. Tidak cukup dibekali dengan hard skills, tetapi harus pula diintensifkan pembelajaran soft skills untuk menanamkan nilai-nilai unggul. Sesuai tuntutan global, sejak dini guru hendaknya secara kreatif berinisiatif membangun kompetensi- kompetensi yang responsif masa depan. Guru berinisiatif memberi ruang dan kesempatan kepada siswanya untuk praktik problem solving, dan mendorong mereka untuk terus belajar kepada siapapun dari sumber apapun yang benar. Guru tidak segan-segannya mendorong siswa mengembangkan kreatifitas diikuti suport yang tinggi. Dalam merespon kemajuan globalisasi, guru terus berusaha agar siswanya memiliki skil komunikasi di atas rata-rata, sesuai dengan perkembangan teknologi media sosial (medsos) secara fleksibel. Begitu pula, sesuai dengan porsi dan proporsinya siswa secara kondisional diberi ruang partisipasi dalam proses manajemen dan dapat dilibatkan dalam decision-making dan kerja tim.

Secara prinsipil, OBE bertujuan meningkatkan pengetahuan dan skil siswa. Pendekatan ini sangat relevan untuk membekali pembelajaran siswa dengan pengetahuan, kompetensi dan orientasi dalam rangka sukses belajar setelah mereka meninggalkan almamaternya. Dalam perspektif OBE, sukses belajar di sekolah akan terbatas manakala siswa tidak dibekali keterampilan mentransfer sukses akademik ke dalam kehidupan kompleks, menantang, dan high-technology di masa depan.

Cara sederhanamengimplementasikanpendekatan OBE dalam
pembelajaran dapatdilihat dari dua ciridistingtifnya: fokus dan
kemanfaatan. OBEdilaksanakan denganmenjawab seperangkat

pertanyaan panduan, yaitu: Apa yang kita inginkan dari murid agar dia sanggup atau mampu melaksanakan? Bagaimana kita dapat membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara terbaik? Bagaimana kita mengetahuai siswa telah mencapainya? Dan bagaimana kita dapat mendampingi siswa melakukan perbaikan secara kontinyu (Continuous Quality Improvement/CQI))?. Sementara itu, OBE dipandang memiliki nilai kemanfaatan (benefits) secara sistematik konstuktif. Kemanfaatan itu, mencakup (1) kurikulumnya direktif dan koheren; (2) lulusannya relevan dengan dengan industri dan stakholders lain; dan (3) selalu melakukan perbaikan secara terus menerus.

Akhirnya, dapat saya tegaskan sajian ini secara terbatas memberi wawasan tentang karakteristik kunci OBE dan sedikit aplikasinya berbagai konteks. Sebagai “oase” dunia pendidikan di tengah pandemi, pendekatan ini berdasar kepada asas-asas pendidikan yang kuat sekaligus memberi kerangka kerja kepada siswa menemukan cara menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya dengan praktik. Secara bijak, para guru diharapkan tetap melanjutkan pemahamannya tentang OBE secara konstruktif untuk menguasai sistem OBE. Diharapkan pula kepada mereka—dalam situasi pandemi ini—para pendidik melakukan perubahan atau perbaikan cara mengajar dan memperluas akses kerja siswanya. Semoga tuliasan ini, menjadi alarm bagi para pengelola pendidikan untuk membangun semangat melahirkan lulusan produktif, kompetitif, dan sumberdaya pembangunan nasional hebat, amin. Semoga bermanfaat.

*) Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd., Ketua Prodi S3 Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember, Dewan Pakar Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam (Permapendis), Guru Besar Manajemen Pendidikan.

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi dengan ujung tombak Covid-19 sampai saat ini nampaknya belum ada sinyal berakhir. Merujuk kepada release Gugus Tugas Covid-19 Nasional dan Daerah secara statistik grafik kasusnya masih cenderung meningkat. Bersyukurlah pemerintah bersama masyarakat bersatupadu tanpa kenal lelah terus berjuang dalam percepatan penanganan wabah global ini. Sebagai bangsa Indonesia yang mewarisi elan vita nenek moyang pejuang, tidak pantas kita frustasi menghadapi Covid-19 ini. Sangat tepat jika, jika krisis ekonomi dan kemanusiaan saat ini kita jadi pemicu dan pemacu kreatifitas untuk melanjutkan pembangunan nasional bangsa Indonesia tercinta dengan penuh komitmen dan tanggungjawab, termasuk membangun mutu pendidikan global. Secara khusus, para perancang, pengembang, pengelola, dan penyelenggara pendidikan dalam suasana ketidakpastian ini hendaknya tertantang untuk berani menawarkan desain- desain pembelajaran kreatif konstruktif dengan jargon ”Boleh Covid-19 hadir, anak-anak sekolah harus tetap terampil dan mahir.”

 

Pergeseran TES menuju OBE

Tujuan pendidikan secara hakiki adalah menyiapkan siswa/ peserta didik yang mampu survive hidup di masyarakat dan melaksanakan tanggungjawab. Maka, maksud utama Model Pendidikan Berbasis Hasil (Outcome Based Education) disingkat OBE berusaha memfokus pada proses belajar dan hasil akhir sekaligus, juga dengan bekal pengetahuan dan keterampilan. Dengan cara ini, proses pencapaian hasil selama proses belajar dapat berkaitan langsung dengan pencapaian hasil dalam dunia kerja. Pendekatan OBE mensyaratkan pergeseran paradigmatik dalam proses kurikulum dan cara pemberdayaan siswa untuk pencapaian hasil.

Mobile_AP_Half Page

Yang dimaksud sistem pendidikan tradisional dalam tulisan sederhana ini berupa praktik pembelajaran di Indonesia sebelum mewabah Covid-19. Dari Traditional Education System (TES) menuju OBE. TES dideskripsi sebagai pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered), kurikulum (curriculum centered), dan terasa formal dalam transmisi informasi dari guru ke siswa. Sementara, OBE dapat dipahami sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang kurikulumnya memfokus kepada hasil belajar siswa (outcome) daripada proses pembelajaran, yang harus dia tampilkan pada akhir pelajaran. Hasil ini, mencakup pengetahuan, skil, kemampuan, nilai-nilai, dan sikap.

Diakui atau tidak, hadirnya Covid-19 melahirkan keterkejutan budaya akademik (academic cultural shock) di kalangan stakeholders pendidikan, mulai menteri, guru, murid, dosen, mahasiswa, dan orangtua di semua jenjang pendidikan. Tidak pernah terprediksi bahwa pandemi ini sukses menggeser sistem pendidikan tradisional (traditional education system). Dari belajar secara luring tiba-tiba harus menghadapi kenyataan belajar melalui daring; hal ini, jelas melahirkan dampak domino terhadap efektifitas pembelajaran. Menteri saja dibuat cemas dan panik, apalagi para pelaksana kebijakan menteri di lapangan; ini ekpresi terkait dahsyatnya dampak Covid-19. Secara psikologis mereka dilanda kecemasan, dan secara sosiologis mereka dan bangsa ini terancam kerenggangan sosial (social discohesion) yang kalau dibiarkan menjadi embrio kehancuran NKRI, waspadalah!.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, model OBE, nampaknya tepat diterapkan para guru selama pembelajaran daring. Terbatasnya berinteraksi guru-siswa secara offline bisa maksimalkan tugas-tugas terstruktur terukur, termasuk project-based instruction design. Dengan cara ini dapat diharapkan kompetensi siswa diperoleh secara konstruktif dan akuntabel. Dengan model pembelajaran ini, siswa akan selalu berproses dan memiliki mobilitas belajar yang produktif walau jauh dari guru. Model ini juga memicu para peserta didik secara individual membangun etos dan tabiat belajar yang menguatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mereka.

Secara praktik, sistem pendidikan tradisional sebelum Covid-19 lebih memperhatikan kepada apa yang diajarkan guru (proses), sementara OBE lebih menekankan kepada apa yang akan dicapai siswa dan bagaimana cara mencapainya. OBE mencakup spesifikasi hasil belajar, meliputi: (1) hasil program (program outcomes/PO); (2) hasil program khusus (program specific outcomes /PSO); dan (3) hasil matapelajaran (course outcomes/CO). Untuk memudahkan identifikasi perbedaan model TES dengan OBE, dapat divisualisasi tabel berikut.

TESOBE
Siswa pasifPeserta didik aktif
Pendekatannya fokus ujianPeserta didik diasesmen secara kontinyu
Mendorong mengingat dan hafalan (rote-learning)Mendorong critical thinking, reasoning, refleksi dan tindakan/praktik
Silabusnya content-based dan terbagi ke dalam banyak matapelajaranKonten terintegrasi dan belajar relefan dan konek dengan situasi kehidupan nyata
Belajar textbook atau lembar kerja dan berpusat pada guruBelajar berpusat pada siswa (learner- centered), guru fasilitator, menjadi satu tim dengan dengan membicarakan pendekatan baru
Silabus ketat tidak dapat diubahProgram belajar lebih berupa pedoman untuk diikuti guru secara inovatif dan kreatif dalam merancang program
Guru bertanggungjawab atas kegiatan belajar dan memotivasi siswa berdasar kepribadiannyaSiswa bertanggungjawab atas belajarnya sendiri dan dimotivasi dengan balikan dan dihargai

Sumber: Adaptasi dari Nakkeeran, Babu, Manimaran, dan Gnanasivam, 2018.

Membangun Mutu Pendidikan dan Mobilitas Global

OBE dikenal sebagai komponen pendidikan masyarakat yang sangat penting karena menekankan pada ekonomi pengetahuannya (knowledge- based economy). Melalui pendekatan ini, anak-anak kita dapat terus dibimbing melalui karya nyata. Pendidikan kita saat ini, hendaknya mampu membangun asa putra-putri kita memasuki kompetisi ekonomi global di era teknologi dan peradaban maju. Saya optimis, pembelajaran yang berafiliasi kepada OBE ini, dengan karakteristiknya real life-based instruction, mampu menjawab tantangan masa depan dunia. Pendidikan saat ini hakikatnya adalah konstelasi problem kehidupan masa mendatang. Dapat dimaknai bahwa OBE merupakan salah satu piranti pendidikan untuk menjawab krisis sumber daya manusia berkualitas. Melalui pendekatan OBE, pembelajaran di sekolah dapat dibangun mutu kompetensi dan prestasi anak-anak kita secara utuh (total comptenecies) yang powerful dalam memasuki kompetisi dan mobilitas global. Pada gilirannya, capaian ini akan menumbuhkan rasa percaya diri di dunia internasional dan bangga sebagai bangsa Indonesia.

Mencermati signifikansi OBE dalam penyiapan sumberdaya manusia yang kompetitif, saatnya anak-anak kita sekarang dibekali pengetahuan dan skil secara fleksibel melalui pendekatan pemberdayaan (empowerment-oriented approach) dalam belajar. Tidak cukup dibekali dengan hard skills, tetapi harus pula diintensifkan pembelajaran soft skills untuk menanamkan nilai-nilai unggul. Sesuai tuntutan global, sejak dini guru hendaknya secara kreatif berinisiatif membangun kompetensi- kompetensi yang responsif masa depan. Guru berinisiatif memberi ruang dan kesempatan kepada siswanya untuk praktik problem solving, dan mendorong mereka untuk terus belajar kepada siapapun dari sumber apapun yang benar. Guru tidak segan-segannya mendorong siswa mengembangkan kreatifitas diikuti suport yang tinggi. Dalam merespon kemajuan globalisasi, guru terus berusaha agar siswanya memiliki skil komunikasi di atas rata-rata, sesuai dengan perkembangan teknologi media sosial (medsos) secara fleksibel. Begitu pula, sesuai dengan porsi dan proporsinya siswa secara kondisional diberi ruang partisipasi dalam proses manajemen dan dapat dilibatkan dalam decision-making dan kerja tim.

Secara prinsipil, OBE bertujuan meningkatkan pengetahuan dan skil siswa. Pendekatan ini sangat relevan untuk membekali pembelajaran siswa dengan pengetahuan, kompetensi dan orientasi dalam rangka sukses belajar setelah mereka meninggalkan almamaternya. Dalam perspektif OBE, sukses belajar di sekolah akan terbatas manakala siswa tidak dibekali keterampilan mentransfer sukses akademik ke dalam kehidupan kompleks, menantang, dan high-technology di masa depan.

Cara sederhanamengimplementasikanpendekatan OBE dalam
pembelajaran dapatdilihat dari dua ciridistingtifnya: fokus dan
kemanfaatan. OBEdilaksanakan denganmenjawab seperangkat

pertanyaan panduan, yaitu: Apa yang kita inginkan dari murid agar dia sanggup atau mampu melaksanakan? Bagaimana kita dapat membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara terbaik? Bagaimana kita mengetahuai siswa telah mencapainya? Dan bagaimana kita dapat mendampingi siswa melakukan perbaikan secara kontinyu (Continuous Quality Improvement/CQI))?. Sementara itu, OBE dipandang memiliki nilai kemanfaatan (benefits) secara sistematik konstuktif. Kemanfaatan itu, mencakup (1) kurikulumnya direktif dan koheren; (2) lulusannya relevan dengan dengan industri dan stakholders lain; dan (3) selalu melakukan perbaikan secara terus menerus.

Akhirnya, dapat saya tegaskan sajian ini secara terbatas memberi wawasan tentang karakteristik kunci OBE dan sedikit aplikasinya berbagai konteks. Sebagai “oase” dunia pendidikan di tengah pandemi, pendekatan ini berdasar kepada asas-asas pendidikan yang kuat sekaligus memberi kerangka kerja kepada siswa menemukan cara menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya dengan praktik. Secara bijak, para guru diharapkan tetap melanjutkan pemahamannya tentang OBE secara konstruktif untuk menguasai sistem OBE. Diharapkan pula kepada mereka—dalam situasi pandemi ini—para pendidik melakukan perubahan atau perbaikan cara mengajar dan memperluas akses kerja siswanya. Semoga tuliasan ini, menjadi alarm bagi para pengelola pendidikan untuk membangun semangat melahirkan lulusan produktif, kompetitif, dan sumberdaya pembangunan nasional hebat, amin. Semoga bermanfaat.

*) Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd., Ketua Prodi S3 Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember, Dewan Pakar Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam (Permapendis), Guru Besar Manajemen Pendidikan.

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dampak pandemi dengan ujung tombak Covid-19 sampai saat ini nampaknya belum ada sinyal berakhir. Merujuk kepada release Gugus Tugas Covid-19 Nasional dan Daerah secara statistik grafik kasusnya masih cenderung meningkat. Bersyukurlah pemerintah bersama masyarakat bersatupadu tanpa kenal lelah terus berjuang dalam percepatan penanganan wabah global ini. Sebagai bangsa Indonesia yang mewarisi elan vita nenek moyang pejuang, tidak pantas kita frustasi menghadapi Covid-19 ini. Sangat tepat jika, jika krisis ekonomi dan kemanusiaan saat ini kita jadi pemicu dan pemacu kreatifitas untuk melanjutkan pembangunan nasional bangsa Indonesia tercinta dengan penuh komitmen dan tanggungjawab, termasuk membangun mutu pendidikan global. Secara khusus, para perancang, pengembang, pengelola, dan penyelenggara pendidikan dalam suasana ketidakpastian ini hendaknya tertantang untuk berani menawarkan desain- desain pembelajaran kreatif konstruktif dengan jargon ”Boleh Covid-19 hadir, anak-anak sekolah harus tetap terampil dan mahir.”

 

Pergeseran TES menuju OBE

Tujuan pendidikan secara hakiki adalah menyiapkan siswa/ peserta didik yang mampu survive hidup di masyarakat dan melaksanakan tanggungjawab. Maka, maksud utama Model Pendidikan Berbasis Hasil (Outcome Based Education) disingkat OBE berusaha memfokus pada proses belajar dan hasil akhir sekaligus, juga dengan bekal pengetahuan dan keterampilan. Dengan cara ini, proses pencapaian hasil selama proses belajar dapat berkaitan langsung dengan pencapaian hasil dalam dunia kerja. Pendekatan OBE mensyaratkan pergeseran paradigmatik dalam proses kurikulum dan cara pemberdayaan siswa untuk pencapaian hasil.

Yang dimaksud sistem pendidikan tradisional dalam tulisan sederhana ini berupa praktik pembelajaran di Indonesia sebelum mewabah Covid-19. Dari Traditional Education System (TES) menuju OBE. TES dideskripsi sebagai pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered), kurikulum (curriculum centered), dan terasa formal dalam transmisi informasi dari guru ke siswa. Sementara, OBE dapat dipahami sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang kurikulumnya memfokus kepada hasil belajar siswa (outcome) daripada proses pembelajaran, yang harus dia tampilkan pada akhir pelajaran. Hasil ini, mencakup pengetahuan, skil, kemampuan, nilai-nilai, dan sikap.

Diakui atau tidak, hadirnya Covid-19 melahirkan keterkejutan budaya akademik (academic cultural shock) di kalangan stakeholders pendidikan, mulai menteri, guru, murid, dosen, mahasiswa, dan orangtua di semua jenjang pendidikan. Tidak pernah terprediksi bahwa pandemi ini sukses menggeser sistem pendidikan tradisional (traditional education system). Dari belajar secara luring tiba-tiba harus menghadapi kenyataan belajar melalui daring; hal ini, jelas melahirkan dampak domino terhadap efektifitas pembelajaran. Menteri saja dibuat cemas dan panik, apalagi para pelaksana kebijakan menteri di lapangan; ini ekpresi terkait dahsyatnya dampak Covid-19. Secara psikologis mereka dilanda kecemasan, dan secara sosiologis mereka dan bangsa ini terancam kerenggangan sosial (social discohesion) yang kalau dibiarkan menjadi embrio kehancuran NKRI, waspadalah!.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, model OBE, nampaknya tepat diterapkan para guru selama pembelajaran daring. Terbatasnya berinteraksi guru-siswa secara offline bisa maksimalkan tugas-tugas terstruktur terukur, termasuk project-based instruction design. Dengan cara ini dapat diharapkan kompetensi siswa diperoleh secara konstruktif dan akuntabel. Dengan model pembelajaran ini, siswa akan selalu berproses dan memiliki mobilitas belajar yang produktif walau jauh dari guru. Model ini juga memicu para peserta didik secara individual membangun etos dan tabiat belajar yang menguatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mereka.

Secara praktik, sistem pendidikan tradisional sebelum Covid-19 lebih memperhatikan kepada apa yang diajarkan guru (proses), sementara OBE lebih menekankan kepada apa yang akan dicapai siswa dan bagaimana cara mencapainya. OBE mencakup spesifikasi hasil belajar, meliputi: (1) hasil program (program outcomes/PO); (2) hasil program khusus (program specific outcomes /PSO); dan (3) hasil matapelajaran (course outcomes/CO). Untuk memudahkan identifikasi perbedaan model TES dengan OBE, dapat divisualisasi tabel berikut.

TESOBE
Siswa pasifPeserta didik aktif
Pendekatannya fokus ujianPeserta didik diasesmen secara kontinyu
Mendorong mengingat dan hafalan (rote-learning)Mendorong critical thinking, reasoning, refleksi dan tindakan/praktik
Silabusnya content-based dan terbagi ke dalam banyak matapelajaranKonten terintegrasi dan belajar relefan dan konek dengan situasi kehidupan nyata
Belajar textbook atau lembar kerja dan berpusat pada guruBelajar berpusat pada siswa (learner- centered), guru fasilitator, menjadi satu tim dengan dengan membicarakan pendekatan baru
Silabus ketat tidak dapat diubahProgram belajar lebih berupa pedoman untuk diikuti guru secara inovatif dan kreatif dalam merancang program
Guru bertanggungjawab atas kegiatan belajar dan memotivasi siswa berdasar kepribadiannyaSiswa bertanggungjawab atas belajarnya sendiri dan dimotivasi dengan balikan dan dihargai

Sumber: Adaptasi dari Nakkeeran, Babu, Manimaran, dan Gnanasivam, 2018.

Membangun Mutu Pendidikan dan Mobilitas Global

OBE dikenal sebagai komponen pendidikan masyarakat yang sangat penting karena menekankan pada ekonomi pengetahuannya (knowledge- based economy). Melalui pendekatan ini, anak-anak kita dapat terus dibimbing melalui karya nyata. Pendidikan kita saat ini, hendaknya mampu membangun asa putra-putri kita memasuki kompetisi ekonomi global di era teknologi dan peradaban maju. Saya optimis, pembelajaran yang berafiliasi kepada OBE ini, dengan karakteristiknya real life-based instruction, mampu menjawab tantangan masa depan dunia. Pendidikan saat ini hakikatnya adalah konstelasi problem kehidupan masa mendatang. Dapat dimaknai bahwa OBE merupakan salah satu piranti pendidikan untuk menjawab krisis sumber daya manusia berkualitas. Melalui pendekatan OBE, pembelajaran di sekolah dapat dibangun mutu kompetensi dan prestasi anak-anak kita secara utuh (total comptenecies) yang powerful dalam memasuki kompetisi dan mobilitas global. Pada gilirannya, capaian ini akan menumbuhkan rasa percaya diri di dunia internasional dan bangga sebagai bangsa Indonesia.

Mencermati signifikansi OBE dalam penyiapan sumberdaya manusia yang kompetitif, saatnya anak-anak kita sekarang dibekali pengetahuan dan skil secara fleksibel melalui pendekatan pemberdayaan (empowerment-oriented approach) dalam belajar. Tidak cukup dibekali dengan hard skills, tetapi harus pula diintensifkan pembelajaran soft skills untuk menanamkan nilai-nilai unggul. Sesuai tuntutan global, sejak dini guru hendaknya secara kreatif berinisiatif membangun kompetensi- kompetensi yang responsif masa depan. Guru berinisiatif memberi ruang dan kesempatan kepada siswanya untuk praktik problem solving, dan mendorong mereka untuk terus belajar kepada siapapun dari sumber apapun yang benar. Guru tidak segan-segannya mendorong siswa mengembangkan kreatifitas diikuti suport yang tinggi. Dalam merespon kemajuan globalisasi, guru terus berusaha agar siswanya memiliki skil komunikasi di atas rata-rata, sesuai dengan perkembangan teknologi media sosial (medsos) secara fleksibel. Begitu pula, sesuai dengan porsi dan proporsinya siswa secara kondisional diberi ruang partisipasi dalam proses manajemen dan dapat dilibatkan dalam decision-making dan kerja tim.

Secara prinsipil, OBE bertujuan meningkatkan pengetahuan dan skil siswa. Pendekatan ini sangat relevan untuk membekali pembelajaran siswa dengan pengetahuan, kompetensi dan orientasi dalam rangka sukses belajar setelah mereka meninggalkan almamaternya. Dalam perspektif OBE, sukses belajar di sekolah akan terbatas manakala siswa tidak dibekali keterampilan mentransfer sukses akademik ke dalam kehidupan kompleks, menantang, dan high-technology di masa depan.

Cara sederhanamengimplementasikanpendekatan OBE dalam
pembelajaran dapatdilihat dari dua ciridistingtifnya: fokus dan
kemanfaatan. OBEdilaksanakan denganmenjawab seperangkat

pertanyaan panduan, yaitu: Apa yang kita inginkan dari murid agar dia sanggup atau mampu melaksanakan? Bagaimana kita dapat membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara terbaik? Bagaimana kita mengetahuai siswa telah mencapainya? Dan bagaimana kita dapat mendampingi siswa melakukan perbaikan secara kontinyu (Continuous Quality Improvement/CQI))?. Sementara itu, OBE dipandang memiliki nilai kemanfaatan (benefits) secara sistematik konstuktif. Kemanfaatan itu, mencakup (1) kurikulumnya direktif dan koheren; (2) lulusannya relevan dengan dengan industri dan stakholders lain; dan (3) selalu melakukan perbaikan secara terus menerus.

Akhirnya, dapat saya tegaskan sajian ini secara terbatas memberi wawasan tentang karakteristik kunci OBE dan sedikit aplikasinya berbagai konteks. Sebagai “oase” dunia pendidikan di tengah pandemi, pendekatan ini berdasar kepada asas-asas pendidikan yang kuat sekaligus memberi kerangka kerja kepada siswa menemukan cara menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya dengan praktik. Secara bijak, para guru diharapkan tetap melanjutkan pemahamannya tentang OBE secara konstruktif untuk menguasai sistem OBE. Diharapkan pula kepada mereka—dalam situasi pandemi ini—para pendidik melakukan perubahan atau perbaikan cara mengajar dan memperluas akses kerja siswanya. Semoga tuliasan ini, menjadi alarm bagi para pengelola pendidikan untuk membangun semangat melahirkan lulusan produktif, kompetitif, dan sumberdaya pembangunan nasional hebat, amin. Semoga bermanfaat.

*) Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd., Ketua Prodi S3 Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Jember, Dewan Pakar Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam (Permapendis), Guru Besar Manajemen Pendidikan.

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2