Ahad, 13 September 2020 saya bersama istri (Dr. Hj. Hamdanah Utsman) menghadiri undangan adik (Prof. Dr. Moh. Fadli, SH., MH.) yang sedang menyelenggarakan tasyakuran terbatas khusus keluarga dan beberapa teman Remas At-Taqwa di Tangsil Kulon Bondowoso. Tasyakuran dikemas sederhana, sebagai perwujudan mensyukuri karunia Allah Swt, karena adik saya, terhitung sejak 1 April 2020 dinaikkan jabatannya menjadi Profesor atau Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya Malang. Alhamdulillah, sudah ada tiga profesor bersaudara di Keluarga Tangsil Kulon, yaitu Prof Dr H Moh. Erfan Soebahar M Ag (Semarang, 2005), Prof Dr H Abd. Halim Soebahar MA (Jember, 2009), dan Prof Dr Moh. Fadli Soebahar SH MH (Malang, 2020). Semoga kami bertiga bisa istiqamah mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan.

Saya yang diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan mewakili keluarga, hanya bisa menyampaikan kesan singkat tentang “impian ayah saya” yang ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Ikhtiar ayah saya luar biasa dalam mewujudkan impian tersebut. Ketika saya masih di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, saya memahami ayah saya menjalankan multi peran: sebagai seorang kiai, sebagai petani, sebagai pegawai dan sekaligus sebagai guru. Waktu-waktu harian ayah dihabiskan untuk itu. Setiap waktu salat ashar sampai shubuh selalu ngimami salat berjamaah, setiap bakda maghrib dan bakda shubuh selalu aktif membimbing pengajian kitab, setiap pagi menyempatkan ke sawah, lalu berangkat ke kantor melaksanakan tugas sebagai pegawai. Sepulang dari kantor langsung ngajar di madrasah ibtidaiyah sampai sore.

Sejak tahun 1942 ayah merintis madrasah diniyah. Ayah sebagai kepala dan sekaligus gurunya, ayah tidak menerima gaji, justru ayah yang menggaji para guru yang membantunya. Gaji para guru diambilkan dari hasil pertanian di sawah, sehingga hasil pertanian sebagian besar memang diperuntukkan untuk pengembangan pendidikan yang berbasis pesantren. Namun demikian, ketersediaan sumberdaya manusia di Tangsil Kulon sangat terbatas.

Sampai tahun 1976 belum ada seorangpun yang sarjana di Desa Tangsil Kulon, sedang kakak saya (Moh. Erfan Soebahar) sudah kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kala itu se-Kecamatan Tenggarang hanya ada seorang yang bergelar sarjana muda (bachelor of arts/BA) yang bermukim di Tenggarang, ayah kemudian bersahabat. Akhirnya saling bersilaturahmi dan berkunjung. Ayah bermaksud berguru agar pendidikan anak-anak lancar. Kemudian ayah menjalin silaturahmi yang lebih luas, dengan para tokoh/sarjana yang ada di Kota/Kabupaten Bondowoso, sehingga membulatkan tekad ayah untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya setinggi mungkin. Tentu ini memberi pelajaran berharga bagi kita, seorang ayah yang hanya tamatan klas IV, ingin pendidikan anak-anaknya setinggi mungkin, tidak tahu bagaimana caranya, akhir mencari tahu cara dengan banyak silaturahmi, bertanya dan akhirnya ayah-ibu berikhtiar lahir batin.

Ayah pendidikannya hanya sampai kelas IV di Madrasah Diniyah Sukorejo, kelas tertinggi ketika itu (tahun 1941), tetapi ayah dikenal sebagai tokoh yang ahli fikih, ahli baca Alquran. Karena intensnya silaturahmi dengan para tokoh akhirnya diminta menjadi Hakim Anggota di Pengadilan Agama Bondowoso, dan setiap Jum’at diberi kepercayaan membina Pengajian Kitab Ihya’ Ulumuddin yang diikuti para hakim dan karyawan Pengadilan Agama Bondowoso. Saya akhirnya sering diajak menyertai ayah silaturahmi dan diskusi dengan teman-teman ayah yang sarjana, sehingga kami berdua memperoleh banyak masukan dan pencerahan. Komitmen ayah untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya semakin kuat. Ikhtiar lahir batin terus dilakukan oleh ayah ibu secara istiqamah.

Oleh karena itu, kisah sukses mencapai jabatan guru besar segera mengingatkan saya pada impian ayah, almarhum KH. Moehammad Soebahar (KH. Bahrul Ulum) sesaat menjelang saya menamatkan S-1 di IAIN Jember. Ayah secara spontan menyatakan: “andaikata saya kaya, anak-anak saya kuliahkan sampai mencapai gelar profesor”. Ungkapan ini secara ilmiah tidak sepenuhnya benar, karena profesor bukan gelar, melainkan jabatan. Selain itu, profesor juga bukan jenjang pendidikan, melainkan jenjang kepangkatan, sehingga ungkapan ayah saya maknai sebagai impian dan cita-cita yang sangat tinggi akan kelangsungan generasinya. Saya sendiri menyadari bahwa jabatan profesor atau guru besar adalah semata-mata karunia dari Allah SWT yang dapat melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi pecinta ilmu dan pengabdi ilmu untuk kemaslahatan.