Sejak pandemi covid-19 merebak di Indonesia, kegiatan pendidikan terpaksa sebagian besar dirumahkan serta di-online-kan. Sebagian agenda kegiatan pendidikan dibatalkan, diganti dan atau disederhanakan. Ketercapaian tujuan akademik dan nonakademik harus disesuaikan. Kecuali aspek akademik, sekolah/madrasah berjibaku mencari alternatif agar kegiatan-kegiatan pendukung, baik fasilitas sarana/prasarana maupun fasilitas personal serta penerimaan peserta didik baru (PPDB) tetap berjalan. Pada aspek lainnya, semangat berkreasi supaya tetap digelorakan, pandemi ini menuntut manajemen sekolah/madrasah dan para tenaga pendidik untuk mencari, mencoba, dan menjalankan berbagai model pembelajaran, sampai dengan yang boleh jadi sebelumnya tak lazim, kecuali bagi mereka yang bermotivasi rendah atau mudah menyerah.

Pandemi Covid-19 ini semestinya menjadi kesempatan bagi pendidik dan tenaga kependidikan lebih kreatif dan inovatif. Sekolah/madrasah dan pendidik/guru yang sebelumnya nyaris berorientasi pada target-target kurikulum dalam arti sempit diajak untuk mengalihkan sebagian perhatian, yakni dari pembelajaran yang berbasis konten menjadi pembelajaran yang juga mementingkan proses yang pada gilirannya kurikulum tersembunyi (Hidden Curriculum) menemukan signifikansinya. Demikian halnya, pendidikan yang sebelumnya bertumpu pada sistem persekolahan yang cenderung terasing dari keseharian peserta didik di rumah dan lingkungan sosial, dipaksa adanya home-learning menjadi berbasis rumahan. Orang tua, yang sebelumnya seperti menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan ke sekolah/ madrasah, kini terpaksa terlibat lebih intens dalam mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah.

Sejatinya proses pendidikan itu memang harus holistik di mana model pendidikan yang memandang bahwa proses pendidikan harus menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan individu secara utuh dan seimbang. Kedirian manusia terjadi dari tiga bagian tidak terpisahkan, yang kita kenal sebagai tubuh, pikiran dan jiwa (body, mind and soul). Pemahaman ini menjadi titik tolak pendidikan holistik, di mana segala upaya pendidikan (di rumah dan di sekolah/madrasah) berorientasi menumbuhkembangkan manusia-manusia muda–anak-anak kita menjadi manusia dewasa yang utuh dan seimbang.

Berpijak pada aspek spiritualitas, kita meyakini bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini memiliki makna. Tidak ada satupun peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Demikian juga saat kita refleksikan bagaimana Tuhan Sang Pencipta menitipkan individualitas yang begitu unik kepada setiap kita. Tidak ada dua individu yang sama dari sekian banyak manusia yang lahir di muka bumi ini. Demikian besar kekuasaan Sang Pencipta, dan kita yakini bahwa hal tersebut pasti memiliki makna dan tujuan tertentu. Tuhan tentunya punya maksud saat ia menitipkan minat, sifat, bakat yang beragam pada setiap manusia.

Kecerdasan (intelligence) manusia tidak hanya satu – seperti dulu kita pahami. Setidaknya sekarang ini dikenal 9 jenis kecerdasan manusia seperti dijabarkan oleh Dr. Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligence. Ada anak-anak yang memang cerdas secara matematis, atau cerdas berbahasa. Ada juga anak yang memiliki kecerdasan interpersonal dan sebaliknya intrapersonal. Ada yang kuat dalam musikalitasnya atau hal-hal yang sifatnya visual. Dalam prosesnya menjadi dewasa, anak perlu dibantu (difasilitasi) untuk menemukan kekuatan /potensi dirinya atau yang umum dikenal sebagai bakat alamiahnya.

Pada saat yang sama, untuk mengoptimalkan bakat atau potensi dirinya tersebut, anak harus bertumbuh secara utuh dan seimbang (holistik), agar potensinya dirinya tersebut dapat membawa manfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain dan alam lingkungannya, sebagai pertanggungjawaban hidupnya kepada Sang Pencipta. Dalam praktiknya, pendidikan holistik melalui kegiatan pembelajaran tematik dan aktif. Pembelajaran tematik memungkinkan keterpaduan antar segala bidang keilmuan yang kita kenal. Hal ini ditujukan agar anak belajar bahwa segala sesuatu di alam semesta ini adalah pada dasarnya saling terkait (interconnected) dan pada hakikatnya, kita semua, segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu (we are all one).

Pembelajaran aktif menekankan bahwa proses belajar adalah proses penemuan diri, proses mengenal diri sendiri. Hal ini dapat berjalan saat anak-anak memang berproses secara aktif dalam menemukan kepingan-kepingan pemahaman, pengalaman dan kesadarannya sendiri. Dalam proses ini para pendidik (guru dan orang tua) menggali, menemukan potensi anak-anak kita, mereka bukanlah kertas kosong, tapi sejak lahir di dunia ini mereka sudah membawa potensi/ fitrah di dalam dirinya.

Di era pandemi sebenarnya pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh siswa di rumah selama ini tidaklah sepenuhnya menjadi buruk, bahwa ada sikap karakter positif siswa yang mungkin bisa tumbuh di dalam dirinya selama pembelajaran jarak jauh dari rumah salah satunya yaitu kemandirian. Karakter merupakan hal yang hakiki dimiliki oleh setiap orang, bahkan karakter membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.