alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Kuasa Fatwa Kiai Medsos dan Gagal Fokus Fikih Kaum Milenial

Mobile_AP_Rectangle 1

Gagalnya Fokus Komunikasi Fikih Kaum milenia
Gagal fokus fikih merupakan bentuk kesalahan pemahaman kaum melinia terhadap substansi pesan komunikasi fatwa. Substansi pesan fatwa tidak lain adalah keyakinan atau keraguan terhadap fatwa dari kasus yang pertanyakan. Keyakinan atau keraguan akan muncul setelah mustafti melakukan perenungan terhadap kerja ijtihad dari sang mufti, materi fatwa dan relasinya dengan tujuan hukum penanya. Tentu keyakinan atau keraguan bisa muncul jika si penanya mempunyai kemampuan yang cukup untuk menfilter kualitas dan kecocokan fatwa. Persyaratan ini tentu masih jauh panggang dari api. Karena hampir 54% kaum milenia mendahulukan mencari jawaban di internet, dengan membuka web Islam atau lembaga-lembaga keislaman. Hanya sekitar sekitar 14% yang bertanya kepada ustad atau kiai atau dosen dan orang-orang yang dianggap dapat memberikan jawaban. Sementara 32% mencari jawaban dengan membaca buku (termasuk majalah, koran, dan leaflet).
Fenomena Literasi fatwa di medsos tentu perlu disikapi secara khusus karena otoritas keagamaan online memiliki potensi untuk mengubah aspek pemahaman dan ekspresi keagamaan kaum milenia. Fenomena ini menjadi semakin berbahaya jika fatwa yang tidak memiliki kelayakan dijadikan rujukan dan dilakukan pengutipan secara berjenjang di lingkungan akdemik, berbahaya karena melahirkan anggapan kebenaran, bahkan sebuah dogma baru yang merugikan keberagaan yang kondusif.
Pentingnya Wasit Fatwa di Medsos
Di abad budaya kebebasan berfatwa seperti sekarang ini, dibutuhkan minimal dua hal Pertama, kehadiran wasit yang mampu menyemprit sengkarut kelompok “mufti-mufti dadakan” agar fenomena gagal pahamnya komunikasi fatwa kaum milenial bisa ditekan. Tugas utamnaya adalah mengajak warganet senantiasa bergandengan tangan guna membangun kesepahaman bersama saat menjalankan proses komunikasi fatwa di medsos. Hal itu wajib dilakukan agar antar warganet kaum milenia yang terbelenggu belitan kuasa tangan gurita sosok mufti bayangan kembali pada jalan yang benar. Mengapa tidak, karena medsos telah memengaruhi peran pendidikan kaum milenial. Saat ini, mereka sedang mengalami kelabilan beragama akibat hibridasi identitas keberagamaan karena tidak adanya sandaran yang meyakinkan. Jika tidak, berarti kita mulai melakukan bunuh diri massal terhadap penerus bangsa dan agama.
Kedua, pentingnya etika dan sikap ber-ifta di medsos. Diantara yang perlu dikembangkan adalah sikap tasamuh, toleransi satu sama lain, sambil mengurangi kecenderungan dominatif dan hegemonif di antara ragam otoritas tersebut. Lebih dari itu, mengembangkan dan membiasakan sikap intelektual yang jujur dan sinergis. Ini penting karena dalam ruang keberagamaan baru, yang mana fatwa online menjadi salah satu sandaran otoritas- segenap fatwa harus siap untuk diperiksa dengan teliti dan dipertaruhkan secara kompetitif dan terbuka.

*) Dr. Ishaq, M.Ag, Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).

 

- Advertisement -

Gagalnya Fokus Komunikasi Fikih Kaum milenia
Gagal fokus fikih merupakan bentuk kesalahan pemahaman kaum melinia terhadap substansi pesan komunikasi fatwa. Substansi pesan fatwa tidak lain adalah keyakinan atau keraguan terhadap fatwa dari kasus yang pertanyakan. Keyakinan atau keraguan akan muncul setelah mustafti melakukan perenungan terhadap kerja ijtihad dari sang mufti, materi fatwa dan relasinya dengan tujuan hukum penanya. Tentu keyakinan atau keraguan bisa muncul jika si penanya mempunyai kemampuan yang cukup untuk menfilter kualitas dan kecocokan fatwa. Persyaratan ini tentu masih jauh panggang dari api. Karena hampir 54% kaum milenia mendahulukan mencari jawaban di internet, dengan membuka web Islam atau lembaga-lembaga keislaman. Hanya sekitar sekitar 14% yang bertanya kepada ustad atau kiai atau dosen dan orang-orang yang dianggap dapat memberikan jawaban. Sementara 32% mencari jawaban dengan membaca buku (termasuk majalah, koran, dan leaflet).
Fenomena Literasi fatwa di medsos tentu perlu disikapi secara khusus karena otoritas keagamaan online memiliki potensi untuk mengubah aspek pemahaman dan ekspresi keagamaan kaum milenia. Fenomena ini menjadi semakin berbahaya jika fatwa yang tidak memiliki kelayakan dijadikan rujukan dan dilakukan pengutipan secara berjenjang di lingkungan akdemik, berbahaya karena melahirkan anggapan kebenaran, bahkan sebuah dogma baru yang merugikan keberagaan yang kondusif.
Pentingnya Wasit Fatwa di Medsos
Di abad budaya kebebasan berfatwa seperti sekarang ini, dibutuhkan minimal dua hal Pertama, kehadiran wasit yang mampu menyemprit sengkarut kelompok “mufti-mufti dadakan” agar fenomena gagal pahamnya komunikasi fatwa kaum milenial bisa ditekan. Tugas utamnaya adalah mengajak warganet senantiasa bergandengan tangan guna membangun kesepahaman bersama saat menjalankan proses komunikasi fatwa di medsos. Hal itu wajib dilakukan agar antar warganet kaum milenia yang terbelenggu belitan kuasa tangan gurita sosok mufti bayangan kembali pada jalan yang benar. Mengapa tidak, karena medsos telah memengaruhi peran pendidikan kaum milenial. Saat ini, mereka sedang mengalami kelabilan beragama akibat hibridasi identitas keberagamaan karena tidak adanya sandaran yang meyakinkan. Jika tidak, berarti kita mulai melakukan bunuh diri massal terhadap penerus bangsa dan agama.
Kedua, pentingnya etika dan sikap ber-ifta di medsos. Diantara yang perlu dikembangkan adalah sikap tasamuh, toleransi satu sama lain, sambil mengurangi kecenderungan dominatif dan hegemonif di antara ragam otoritas tersebut. Lebih dari itu, mengembangkan dan membiasakan sikap intelektual yang jujur dan sinergis. Ini penting karena dalam ruang keberagamaan baru, yang mana fatwa online menjadi salah satu sandaran otoritas- segenap fatwa harus siap untuk diperiksa dengan teliti dan dipertaruhkan secara kompetitif dan terbuka.

*) Dr. Ishaq, M.Ag, Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).

 

Gagalnya Fokus Komunikasi Fikih Kaum milenia
Gagal fokus fikih merupakan bentuk kesalahan pemahaman kaum melinia terhadap substansi pesan komunikasi fatwa. Substansi pesan fatwa tidak lain adalah keyakinan atau keraguan terhadap fatwa dari kasus yang pertanyakan. Keyakinan atau keraguan akan muncul setelah mustafti melakukan perenungan terhadap kerja ijtihad dari sang mufti, materi fatwa dan relasinya dengan tujuan hukum penanya. Tentu keyakinan atau keraguan bisa muncul jika si penanya mempunyai kemampuan yang cukup untuk menfilter kualitas dan kecocokan fatwa. Persyaratan ini tentu masih jauh panggang dari api. Karena hampir 54% kaum milenia mendahulukan mencari jawaban di internet, dengan membuka web Islam atau lembaga-lembaga keislaman. Hanya sekitar sekitar 14% yang bertanya kepada ustad atau kiai atau dosen dan orang-orang yang dianggap dapat memberikan jawaban. Sementara 32% mencari jawaban dengan membaca buku (termasuk majalah, koran, dan leaflet).
Fenomena Literasi fatwa di medsos tentu perlu disikapi secara khusus karena otoritas keagamaan online memiliki potensi untuk mengubah aspek pemahaman dan ekspresi keagamaan kaum milenia. Fenomena ini menjadi semakin berbahaya jika fatwa yang tidak memiliki kelayakan dijadikan rujukan dan dilakukan pengutipan secara berjenjang di lingkungan akdemik, berbahaya karena melahirkan anggapan kebenaran, bahkan sebuah dogma baru yang merugikan keberagaan yang kondusif.
Pentingnya Wasit Fatwa di Medsos
Di abad budaya kebebasan berfatwa seperti sekarang ini, dibutuhkan minimal dua hal Pertama, kehadiran wasit yang mampu menyemprit sengkarut kelompok “mufti-mufti dadakan” agar fenomena gagal pahamnya komunikasi fatwa kaum milenial bisa ditekan. Tugas utamnaya adalah mengajak warganet senantiasa bergandengan tangan guna membangun kesepahaman bersama saat menjalankan proses komunikasi fatwa di medsos. Hal itu wajib dilakukan agar antar warganet kaum milenia yang terbelenggu belitan kuasa tangan gurita sosok mufti bayangan kembali pada jalan yang benar. Mengapa tidak, karena medsos telah memengaruhi peran pendidikan kaum milenial. Saat ini, mereka sedang mengalami kelabilan beragama akibat hibridasi identitas keberagamaan karena tidak adanya sandaran yang meyakinkan. Jika tidak, berarti kita mulai melakukan bunuh diri massal terhadap penerus bangsa dan agama.
Kedua, pentingnya etika dan sikap ber-ifta di medsos. Diantara yang perlu dikembangkan adalah sikap tasamuh, toleransi satu sama lain, sambil mengurangi kecenderungan dominatif dan hegemonif di antara ragam otoritas tersebut. Lebih dari itu, mengembangkan dan membiasakan sikap intelektual yang jujur dan sinergis. Ini penting karena dalam ruang keberagamaan baru, yang mana fatwa online menjadi salah satu sandaran otoritas- segenap fatwa harus siap untuk diperiksa dengan teliti dan dipertaruhkan secara kompetitif dan terbuka.

*) Dr. Ishaq, M.Ag, Ketua Program Studi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember).

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/