Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini rasanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sampai hari ini gema HSN belum terasa, salah satu alasannya mungkin karena wabah Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang dari muka bumi, sehingga menghindari kerumunan menjadi pilihan utama demi menjaga kesehatan sekaligus mencegah penyebaran Covid-19. Meskipun HSN penting, tetapi menjaga kesehatan dan keselamatan lebih penting. Pilihan ini tentu akan menginspirasi kita agar HSN tahun ini tetap diselenggarakan meski desainnya berbeda, karena HSN memberikan banyak pelajaran berharga (‘ibrah), di mana para kiai mewariskan semangat perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, para kiai telah mengeluarkan fatwa “Perang Suci/Resolusi Jihad”, melawan Inggris dan Belanda. Fatwa tersebutlah yang mendorong rakyat Surabaya pada khususnya, dan Jawa pada umumnya, untuk terlibat dalam Perang 10 November 1945. Martin van Bruinessen menyatakan, tidak dapat diingkari, bahwa Resolusi Jihad berdampak besar dalam mengobarkan semangat 10 November 1945, namun sayangnya, menurut Bruinessen, Resolusi Jihad ini tidak memperoleh perhatian yang layak dari para sejarawan.

Padahal peran para kiai dalam masa perjuangan nasional sangat besar. Kontribusi para kiai tersebut pantaslah jika ditulis dengan tinta emas. Sangat wajar, jika tanggal 22 Oktober 2015 telah ditetapkan oleh Presiden RI sebagai Hari Santri Nasional (HSN) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Mengapa penetapan HSN mengambil momentum Resolusi Jihad, apanya yang istimewa? Bagaimana rasional pengusulan HSN?

Pertama, yang istimewa dari Resolusi Jihad, dalam dokumen PBNU, ada teks asli sebagai berikut: “Resolusi NU tentang Djihad Fi Sabilillah”; Bismillahirrochmanir Rochim; Resolusi: Rapat besar wakil-wakil Daerah (konsul 2) Perhimpunan Nahdlatoel Oelama seluruh Djawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaja.

Mendengar: bahwa di tiap-tiap Daerah di seluruh Djawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat Ummat Islam dan Alim Oelama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang: a. bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam, b. bahwa di Indonesia ini warga negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Umat Islam.