alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Strategi LKSM di Masa Pandemi Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebagaimana diketahui, pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 merupakan menyebarnya penyakit koronavirus 2019  untuk semua negara di seluruh dunia.  Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus sindrom pernafasan akut berat 2 (SARS-COV2), yang wabahnya pertama kali di deteksi di Kota Wuhan, Hubei Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Bahkan, ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 (wikipedia.org).

Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 pertama kali di deteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Dampaknya, banyak korban berjatuhan dalam kurun waktu 1,5 tahun sampai saat ini yang menyebabkan banyak sekali kebijakan yang dibuat.

Virus corona memberikan dampak yang cukup luas terhadap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya pada kegiatan perekonomian pada lembaga keuangan baik konvensional maupun syariah. Pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang nyata bagi dunia usaha termasuk  lembaga keuangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lembaga jasa keuangan syariah di Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Ketua Dewan Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Wimboh Santoso mengatakan hal itu tergambar dari terus naiknya aset keuangan syariah dan tingginya kinerja dan pertumbuhan lembaga jasa keuangan syariah.

Berdasarkan data OJK aset lembaga keuangan syariah pada 2020 tumbuh 13,11%, sedangkan lembaga keuangan nasional hanya 7,12% dan lembaga keuangan konvensional sebesar 6,73%. Sementara pertumbuhan kredit syariah tumbuh 8,08%, dan lembaga keuangan nasional dan konvensional justru mengalami penurunan (detik.com).

Lembaga Keuangan Syariah Mikro (LKSM) merupakan suatu lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah yang harus terhindar dari unsur riba, gharar, maisir dan akad yang bathil.  Tujuan utama pendirian LKSM adalah untuk menunaikan perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam.

Kita bisa melihat salah satu LKSM, yaitu Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan (KSPP) Syariah Baitul Maal wa At-Tamwil Nuansa Umat (BMT NU) yang mengalami peningkatan pada aspek lending sebesar 37,34%. Hal tersebut berdasarkan pada hasil quartal II yang dilaksanakan pada hari Jum’at 10-09-2021 yang dilaporkan oleh Deni Firdaus sebagai Direktur bisnis di BMT NU tersebut (sumber https://bmtnujatim.com/blog/ ).

Salah satu sebab mengapa hal ini terjadi, karena berdasarkan pengamatan di lapangan  para karyawan di BMT NU sangat menjunjung tinggi etos kerja Islam selama melaksanakan pekerjaannya. Motivasi semacan ini sering disampaikan oleh para kepala kantor cabang BMT NU di berbagai daerah dengan tujuan semangat kerja yang sangat tinggi pada setiap karyawannya. Mereka tidak terpengaruh adanya Covid-19.

BMT NU memiliki menjadi daya tarik tersendiri pada setiap individu saat menjadi nasabah tetap di BMT NU tersebut. Selain itu juga BMT NU memberikan solusi yang cukup solutip dalam setiap permasalahan pada nasabah yang bermasalah pada pembiayaan sehingga pada setiap nasabah memiliki rasa empati yang menyebabkan para nasabah tidak lagi bermasalah dalam pembiayaannya.

Dalam strateginya, LKSM  menerapkan beberapa prinsip syariah diantaranya: 1). Keadilan. yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko masing-masing pihak; 2). Kemitraan. yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan; 3). Transparansi. lembaga keuangan Syariah mikro akan memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat mengetahui kondisi dananya; 4) Universal. yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Didasarkan pada sifat keadilan, syariah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber serangkaian kriteria untuk membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang buruk (batil). Dengan menggunakan syariah, bukan hanya membawa individu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga menfasilitasi terbentuknya masyarakat yang adil, yang di dalamnya individu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan diperuntukkan bagi semua.

- Advertisement -

Sebagaimana diketahui, pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 merupakan menyebarnya penyakit koronavirus 2019  untuk semua negara di seluruh dunia.  Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus sindrom pernafasan akut berat 2 (SARS-COV2), yang wabahnya pertama kali di deteksi di Kota Wuhan, Hubei Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Bahkan, ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 (wikipedia.org).

Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 pertama kali di deteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Dampaknya, banyak korban berjatuhan dalam kurun waktu 1,5 tahun sampai saat ini yang menyebabkan banyak sekali kebijakan yang dibuat.

Virus corona memberikan dampak yang cukup luas terhadap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya pada kegiatan perekonomian pada lembaga keuangan baik konvensional maupun syariah. Pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang nyata bagi dunia usaha termasuk  lembaga keuangan.

Lembaga jasa keuangan syariah di Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Ketua Dewan Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Wimboh Santoso mengatakan hal itu tergambar dari terus naiknya aset keuangan syariah dan tingginya kinerja dan pertumbuhan lembaga jasa keuangan syariah.

Berdasarkan data OJK aset lembaga keuangan syariah pada 2020 tumbuh 13,11%, sedangkan lembaga keuangan nasional hanya 7,12% dan lembaga keuangan konvensional sebesar 6,73%. Sementara pertumbuhan kredit syariah tumbuh 8,08%, dan lembaga keuangan nasional dan konvensional justru mengalami penurunan (detik.com).

Lembaga Keuangan Syariah Mikro (LKSM) merupakan suatu lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah yang harus terhindar dari unsur riba, gharar, maisir dan akad yang bathil.  Tujuan utama pendirian LKSM adalah untuk menunaikan perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam.

Kita bisa melihat salah satu LKSM, yaitu Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan (KSPP) Syariah Baitul Maal wa At-Tamwil Nuansa Umat (BMT NU) yang mengalami peningkatan pada aspek lending sebesar 37,34%. Hal tersebut berdasarkan pada hasil quartal II yang dilaksanakan pada hari Jum’at 10-09-2021 yang dilaporkan oleh Deni Firdaus sebagai Direktur bisnis di BMT NU tersebut (sumber https://bmtnujatim.com/blog/ ).

Salah satu sebab mengapa hal ini terjadi, karena berdasarkan pengamatan di lapangan  para karyawan di BMT NU sangat menjunjung tinggi etos kerja Islam selama melaksanakan pekerjaannya. Motivasi semacan ini sering disampaikan oleh para kepala kantor cabang BMT NU di berbagai daerah dengan tujuan semangat kerja yang sangat tinggi pada setiap karyawannya. Mereka tidak terpengaruh adanya Covid-19.

BMT NU memiliki menjadi daya tarik tersendiri pada setiap individu saat menjadi nasabah tetap di BMT NU tersebut. Selain itu juga BMT NU memberikan solusi yang cukup solutip dalam setiap permasalahan pada nasabah yang bermasalah pada pembiayaan sehingga pada setiap nasabah memiliki rasa empati yang menyebabkan para nasabah tidak lagi bermasalah dalam pembiayaannya.

Dalam strateginya, LKSM  menerapkan beberapa prinsip syariah diantaranya: 1). Keadilan. yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko masing-masing pihak; 2). Kemitraan. yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan; 3). Transparansi. lembaga keuangan Syariah mikro akan memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat mengetahui kondisi dananya; 4) Universal. yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Didasarkan pada sifat keadilan, syariah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber serangkaian kriteria untuk membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang buruk (batil). Dengan menggunakan syariah, bukan hanya membawa individu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga menfasilitasi terbentuknya masyarakat yang adil, yang di dalamnya individu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan diperuntukkan bagi semua.

Sebagaimana diketahui, pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 merupakan menyebarnya penyakit koronavirus 2019  untuk semua negara di seluruh dunia.  Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus sindrom pernafasan akut berat 2 (SARS-COV2), yang wabahnya pertama kali di deteksi di Kota Wuhan, Hubei Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Bahkan, ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 (wikipedia.org).

Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 pertama kali di deteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Dampaknya, banyak korban berjatuhan dalam kurun waktu 1,5 tahun sampai saat ini yang menyebabkan banyak sekali kebijakan yang dibuat.

Virus corona memberikan dampak yang cukup luas terhadap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya pada kegiatan perekonomian pada lembaga keuangan baik konvensional maupun syariah. Pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang nyata bagi dunia usaha termasuk  lembaga keuangan.

Lembaga jasa keuangan syariah di Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Ketua Dewan Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Wimboh Santoso mengatakan hal itu tergambar dari terus naiknya aset keuangan syariah dan tingginya kinerja dan pertumbuhan lembaga jasa keuangan syariah.

Berdasarkan data OJK aset lembaga keuangan syariah pada 2020 tumbuh 13,11%, sedangkan lembaga keuangan nasional hanya 7,12% dan lembaga keuangan konvensional sebesar 6,73%. Sementara pertumbuhan kredit syariah tumbuh 8,08%, dan lembaga keuangan nasional dan konvensional justru mengalami penurunan (detik.com).

Lembaga Keuangan Syariah Mikro (LKSM) merupakan suatu lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah yang harus terhindar dari unsur riba, gharar, maisir dan akad yang bathil.  Tujuan utama pendirian LKSM adalah untuk menunaikan perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam.

Kita bisa melihat salah satu LKSM, yaitu Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan (KSPP) Syariah Baitul Maal wa At-Tamwil Nuansa Umat (BMT NU) yang mengalami peningkatan pada aspek lending sebesar 37,34%. Hal tersebut berdasarkan pada hasil quartal II yang dilaksanakan pada hari Jum’at 10-09-2021 yang dilaporkan oleh Deni Firdaus sebagai Direktur bisnis di BMT NU tersebut (sumber https://bmtnujatim.com/blog/ ).

Salah satu sebab mengapa hal ini terjadi, karena berdasarkan pengamatan di lapangan  para karyawan di BMT NU sangat menjunjung tinggi etos kerja Islam selama melaksanakan pekerjaannya. Motivasi semacan ini sering disampaikan oleh para kepala kantor cabang BMT NU di berbagai daerah dengan tujuan semangat kerja yang sangat tinggi pada setiap karyawannya. Mereka tidak terpengaruh adanya Covid-19.

BMT NU memiliki menjadi daya tarik tersendiri pada setiap individu saat menjadi nasabah tetap di BMT NU tersebut. Selain itu juga BMT NU memberikan solusi yang cukup solutip dalam setiap permasalahan pada nasabah yang bermasalah pada pembiayaan sehingga pada setiap nasabah memiliki rasa empati yang menyebabkan para nasabah tidak lagi bermasalah dalam pembiayaannya.

Dalam strateginya, LKSM  menerapkan beberapa prinsip syariah diantaranya: 1). Keadilan. yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko masing-masing pihak; 2). Kemitraan. yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan; 3). Transparansi. lembaga keuangan Syariah mikro akan memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat mengetahui kondisi dananya; 4) Universal. yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Didasarkan pada sifat keadilan, syariah bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber serangkaian kriteria untuk membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang buruk (batil). Dengan menggunakan syariah, bukan hanya membawa individu lebih dekat dengan Tuhan, tetapi juga menfasilitasi terbentuknya masyarakat yang adil, yang di dalamnya individu merealisasikan potensinya dan kesejahteraan diperuntukkan bagi semua.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca