alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Idul Fitri (masih) di Tengah Pandemi

Oleh: Miftah Arifin *)

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADAR JEMBER.ID – Hari ini, 1 Syawal 1442 Hijriyah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri.  Jamak diketahui bahwa momentum Idul Fitri sarat dengan tradisi sosial yang sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Bisa terlihat dengan sangat jelas bagaimana kebiasaan masyarakat  menyambut Idul Fitri ini. Momen Idul Fitri adalah identik dengan silaturahmi. Maka, setiap orang (yang mampu) akan mempersiapkan tempat tinggalnya agar terlihat “pantas” untuk disinggahi. Rumah dan isinya dipersolek supaya terlihat bagus. Tidak lupa makanan atau kue-kue disiapkan dalam rangka menghormat tamu yang datang berkunjung.  Tradisi ini memang menjadi aktifitas sosial yang sangat khas di kalangan masyarakat Indonesia, terutama ketika Idul Fitri tiba. Dan mungkin saja tradisi silaturahmi ini hanya ada di Indonesia dan  belum tentu bisa ditemukan di negara-negara lain.

Namun demikian, silaturahmi di masa Idul Fitri bukan hanya sekedar mengunjungi tetangga, anjangsana ke kerabat dekat ataupun saudara, namun ternyata lebih dari itu. Menjelang Idul Fitri, siapa pun dia seolah-olah merasa ada kewajiban untuk mengunjungi kembali kampung halamannya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya tradisi mudik, yaitu pulang kembali ke kampung halaman. Di samping untuk bertemu dengan kerabat, sahabat dan kolega juga bertujuan untuk melepas rindu terutama kepada saudara dan kedua orang tuanya selagi masih ada. Dan apabila kedua orang tuanya sudah meninggal, maka ia akan mengunjungi makam keduanya.

Oleh karena itu, tradisi mudik tidak hanya berdimensi lahiriah semata yang ditandai dengan pertemuan secara fisik, namun lebih dari itu, tradisi mudik juga berdimensi batini. Ada ruang ruang-ruang psikis yang terdapat di lingkungan tempat ia lahir, tumbuh dan berkembang. Dan hal ini hanya akan dijumpai di kampung halamannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Maka, di samping untuk bersilaturahmi, sungkem kepada kedua orang tua, mudik juga bertujuan untuk mengenang masa-masa kecil. Di saat itulah semua kenangan indah muncul kembali, ketika bertemu dengan teman bermainnya, berjumpa dengan guru mengajinya, atau ketika berada di tempat-tempat dan momen tertentu. Dengan demikian, mudik Idul Fitri tidak sekedar menjadi hari kemenangan setelah melewati puasa Ramadhan. Tradisi mudik sarat dengan aspek-aspek lain, termasuk persoalan emosi atau batini. Melakukan mudik adalah sama dengan melakukan wisata ruhani (spiritual). Ada kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri ketika seseorang bisa melakukan mudik yang hal ini tidak akan dapat tergantikan oleh apapun.

Oleh karenanya, terkadang segala hal akan dilakukan agar bisa melakukan mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, melakukan penyekatan, dan razia bagi pengguna jalan, termasuk sanksi yang cukup berat bagi yang melanggar aturan, namun tetap saja hal ini tidak menyurutkan niat untuk  melakukan mudik, seperti yang terlihat pada Idul Fitri tahun ini. Tentu saja, yang dilakukan pemerintah tidaklah bisa disalahkan. Di samping sosialisasi yang tiada henti, adanya protokol kesehatan, program vaksinasi, pembatasan sosial berskala besar maupun mikro, dan lainnya, dilakukan oleh pemerintah, dengan satu tujuan yakni agar pandemi Covid-19 segera berlalu.

Namun, Idul Fitri tahun 2021 ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Dan jika berkaca dari apa yang terjadi di negara India, maka semuanya patut untuk waspada. Situasi yang terjadi di India semakin memburuk, dengan angka kematian akibat Covid 19 telah menembus angka 4000 dalam 2 hari berturut-turut (Kompas.com,  Minggu, 9 Mei 2021 | 13:42 WIB). Padahal, sebelumnya pemerintah India termasuk salah satu negara yang dianggap mampu mengatasi pandemi. Namun pasca perayaan keagamaan yang dilakukan dan tanpa mematuhi protokol kesehatan secara baik,  tiba-tiba kasus Covid 19 berubah menjadi tidak terkendali.

Tentunya yang menimpa negara India ini, tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Semua berharap bahwa bangsa ini segera bisa keluar dari pandemi Covid 19, dan hal ini harus dikerjakan secara bersama-sama. Harus ada sinergitas antara semua elemen bangsa ini, karena tidak mungkin pemerintah akan mengerjakan sendirian. Tanpa adanya kerjasama dan partisipasi masyarakat yang cukup maka tindakan apapun yang dilakukan akan selalu berakhir dengan sia-sia.

Dan Idul Fitri kali ini masih bernasib sama dengan Idul Fitri di tahun 2020 kemarin. Di tahun lalu, masyarakat banyak yang tidak bisa mudik karena adanya kebijakan larangan mudik. Mereka berharap bahwa di tahun berikutnya (tahun ini) sudah bisa merayakan Idul Fitri sebagaimana biasanya. Akan tetapi, ternyata keadaan tidaklah berubah. Tahun ini pemerintah juga mengeluarkan kebijakan serupa tentang larangan mudik kecuali untuk kepentingan tertentu dan dengan syarat yang ketat.

Dan ternyata meski sudah ada larangan mudik, toh masih terdapat gelombang pemudik dalam jumlah yang besar. Seperti misalnya dalam keterangan tertulisnya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 387.383 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode akhir pekan terakhir sebelum memasuki masa peniadaan mudik. Sebanyak 387.383 kendaraan itu meninggalkan Jabotabek lewat jalan tol pada Jumat, 30 April 2021 sampai Minggu, 2 Mei 2021 (Detik.com, Senin, 03 Mei 2021 13:57 WIB).

- Advertisement -

JEMBER, RADAR JEMBER.ID – Hari ini, 1 Syawal 1442 Hijriyah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri.  Jamak diketahui bahwa momentum Idul Fitri sarat dengan tradisi sosial yang sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Bisa terlihat dengan sangat jelas bagaimana kebiasaan masyarakat  menyambut Idul Fitri ini. Momen Idul Fitri adalah identik dengan silaturahmi. Maka, setiap orang (yang mampu) akan mempersiapkan tempat tinggalnya agar terlihat “pantas” untuk disinggahi. Rumah dan isinya dipersolek supaya terlihat bagus. Tidak lupa makanan atau kue-kue disiapkan dalam rangka menghormat tamu yang datang berkunjung.  Tradisi ini memang menjadi aktifitas sosial yang sangat khas di kalangan masyarakat Indonesia, terutama ketika Idul Fitri tiba. Dan mungkin saja tradisi silaturahmi ini hanya ada di Indonesia dan  belum tentu bisa ditemukan di negara-negara lain.

Namun demikian, silaturahmi di masa Idul Fitri bukan hanya sekedar mengunjungi tetangga, anjangsana ke kerabat dekat ataupun saudara, namun ternyata lebih dari itu. Menjelang Idul Fitri, siapa pun dia seolah-olah merasa ada kewajiban untuk mengunjungi kembali kampung halamannya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya tradisi mudik, yaitu pulang kembali ke kampung halaman. Di samping untuk bertemu dengan kerabat, sahabat dan kolega juga bertujuan untuk melepas rindu terutama kepada saudara dan kedua orang tuanya selagi masih ada. Dan apabila kedua orang tuanya sudah meninggal, maka ia akan mengunjungi makam keduanya.

Oleh karena itu, tradisi mudik tidak hanya berdimensi lahiriah semata yang ditandai dengan pertemuan secara fisik, namun lebih dari itu, tradisi mudik juga berdimensi batini. Ada ruang ruang-ruang psikis yang terdapat di lingkungan tempat ia lahir, tumbuh dan berkembang. Dan hal ini hanya akan dijumpai di kampung halamannya.

Maka, di samping untuk bersilaturahmi, sungkem kepada kedua orang tua, mudik juga bertujuan untuk mengenang masa-masa kecil. Di saat itulah semua kenangan indah muncul kembali, ketika bertemu dengan teman bermainnya, berjumpa dengan guru mengajinya, atau ketika berada di tempat-tempat dan momen tertentu. Dengan demikian, mudik Idul Fitri tidak sekedar menjadi hari kemenangan setelah melewati puasa Ramadhan. Tradisi mudik sarat dengan aspek-aspek lain, termasuk persoalan emosi atau batini. Melakukan mudik adalah sama dengan melakukan wisata ruhani (spiritual). Ada kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri ketika seseorang bisa melakukan mudik yang hal ini tidak akan dapat tergantikan oleh apapun.

Oleh karenanya, terkadang segala hal akan dilakukan agar bisa melakukan mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, melakukan penyekatan, dan razia bagi pengguna jalan, termasuk sanksi yang cukup berat bagi yang melanggar aturan, namun tetap saja hal ini tidak menyurutkan niat untuk  melakukan mudik, seperti yang terlihat pada Idul Fitri tahun ini. Tentu saja, yang dilakukan pemerintah tidaklah bisa disalahkan. Di samping sosialisasi yang tiada henti, adanya protokol kesehatan, program vaksinasi, pembatasan sosial berskala besar maupun mikro, dan lainnya, dilakukan oleh pemerintah, dengan satu tujuan yakni agar pandemi Covid-19 segera berlalu.

Namun, Idul Fitri tahun 2021 ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Dan jika berkaca dari apa yang terjadi di negara India, maka semuanya patut untuk waspada. Situasi yang terjadi di India semakin memburuk, dengan angka kematian akibat Covid 19 telah menembus angka 4000 dalam 2 hari berturut-turut (Kompas.com,  Minggu, 9 Mei 2021 | 13:42 WIB). Padahal, sebelumnya pemerintah India termasuk salah satu negara yang dianggap mampu mengatasi pandemi. Namun pasca perayaan keagamaan yang dilakukan dan tanpa mematuhi protokol kesehatan secara baik,  tiba-tiba kasus Covid 19 berubah menjadi tidak terkendali.

Tentunya yang menimpa negara India ini, tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Semua berharap bahwa bangsa ini segera bisa keluar dari pandemi Covid 19, dan hal ini harus dikerjakan secara bersama-sama. Harus ada sinergitas antara semua elemen bangsa ini, karena tidak mungkin pemerintah akan mengerjakan sendirian. Tanpa adanya kerjasama dan partisipasi masyarakat yang cukup maka tindakan apapun yang dilakukan akan selalu berakhir dengan sia-sia.

Dan Idul Fitri kali ini masih bernasib sama dengan Idul Fitri di tahun 2020 kemarin. Di tahun lalu, masyarakat banyak yang tidak bisa mudik karena adanya kebijakan larangan mudik. Mereka berharap bahwa di tahun berikutnya (tahun ini) sudah bisa merayakan Idul Fitri sebagaimana biasanya. Akan tetapi, ternyata keadaan tidaklah berubah. Tahun ini pemerintah juga mengeluarkan kebijakan serupa tentang larangan mudik kecuali untuk kepentingan tertentu dan dengan syarat yang ketat.

Dan ternyata meski sudah ada larangan mudik, toh masih terdapat gelombang pemudik dalam jumlah yang besar. Seperti misalnya dalam keterangan tertulisnya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 387.383 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode akhir pekan terakhir sebelum memasuki masa peniadaan mudik. Sebanyak 387.383 kendaraan itu meninggalkan Jabotabek lewat jalan tol pada Jumat, 30 April 2021 sampai Minggu, 2 Mei 2021 (Detik.com, Senin, 03 Mei 2021 13:57 WIB).

JEMBER, RADAR JEMBER.ID – Hari ini, 1 Syawal 1442 Hijriyah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri.  Jamak diketahui bahwa momentum Idul Fitri sarat dengan tradisi sosial yang sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Bisa terlihat dengan sangat jelas bagaimana kebiasaan masyarakat  menyambut Idul Fitri ini. Momen Idul Fitri adalah identik dengan silaturahmi. Maka, setiap orang (yang mampu) akan mempersiapkan tempat tinggalnya agar terlihat “pantas” untuk disinggahi. Rumah dan isinya dipersolek supaya terlihat bagus. Tidak lupa makanan atau kue-kue disiapkan dalam rangka menghormat tamu yang datang berkunjung.  Tradisi ini memang menjadi aktifitas sosial yang sangat khas di kalangan masyarakat Indonesia, terutama ketika Idul Fitri tiba. Dan mungkin saja tradisi silaturahmi ini hanya ada di Indonesia dan  belum tentu bisa ditemukan di negara-negara lain.

Namun demikian, silaturahmi di masa Idul Fitri bukan hanya sekedar mengunjungi tetangga, anjangsana ke kerabat dekat ataupun saudara, namun ternyata lebih dari itu. Menjelang Idul Fitri, siapa pun dia seolah-olah merasa ada kewajiban untuk mengunjungi kembali kampung halamannya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya tradisi mudik, yaitu pulang kembali ke kampung halaman. Di samping untuk bertemu dengan kerabat, sahabat dan kolega juga bertujuan untuk melepas rindu terutama kepada saudara dan kedua orang tuanya selagi masih ada. Dan apabila kedua orang tuanya sudah meninggal, maka ia akan mengunjungi makam keduanya.

Oleh karena itu, tradisi mudik tidak hanya berdimensi lahiriah semata yang ditandai dengan pertemuan secara fisik, namun lebih dari itu, tradisi mudik juga berdimensi batini. Ada ruang ruang-ruang psikis yang terdapat di lingkungan tempat ia lahir, tumbuh dan berkembang. Dan hal ini hanya akan dijumpai di kampung halamannya.

Maka, di samping untuk bersilaturahmi, sungkem kepada kedua orang tua, mudik juga bertujuan untuk mengenang masa-masa kecil. Di saat itulah semua kenangan indah muncul kembali, ketika bertemu dengan teman bermainnya, berjumpa dengan guru mengajinya, atau ketika berada di tempat-tempat dan momen tertentu. Dengan demikian, mudik Idul Fitri tidak sekedar menjadi hari kemenangan setelah melewati puasa Ramadhan. Tradisi mudik sarat dengan aspek-aspek lain, termasuk persoalan emosi atau batini. Melakukan mudik adalah sama dengan melakukan wisata ruhani (spiritual). Ada kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri ketika seseorang bisa melakukan mudik yang hal ini tidak akan dapat tergantikan oleh apapun.

Oleh karenanya, terkadang segala hal akan dilakukan agar bisa melakukan mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, melakukan penyekatan, dan razia bagi pengguna jalan, termasuk sanksi yang cukup berat bagi yang melanggar aturan, namun tetap saja hal ini tidak menyurutkan niat untuk  melakukan mudik, seperti yang terlihat pada Idul Fitri tahun ini. Tentu saja, yang dilakukan pemerintah tidaklah bisa disalahkan. Di samping sosialisasi yang tiada henti, adanya protokol kesehatan, program vaksinasi, pembatasan sosial berskala besar maupun mikro, dan lainnya, dilakukan oleh pemerintah, dengan satu tujuan yakni agar pandemi Covid-19 segera berlalu.

Namun, Idul Fitri tahun 2021 ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Dan jika berkaca dari apa yang terjadi di negara India, maka semuanya patut untuk waspada. Situasi yang terjadi di India semakin memburuk, dengan angka kematian akibat Covid 19 telah menembus angka 4000 dalam 2 hari berturut-turut (Kompas.com,  Minggu, 9 Mei 2021 | 13:42 WIB). Padahal, sebelumnya pemerintah India termasuk salah satu negara yang dianggap mampu mengatasi pandemi. Namun pasca perayaan keagamaan yang dilakukan dan tanpa mematuhi protokol kesehatan secara baik,  tiba-tiba kasus Covid 19 berubah menjadi tidak terkendali.

Tentunya yang menimpa negara India ini, tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Semua berharap bahwa bangsa ini segera bisa keluar dari pandemi Covid 19, dan hal ini harus dikerjakan secara bersama-sama. Harus ada sinergitas antara semua elemen bangsa ini, karena tidak mungkin pemerintah akan mengerjakan sendirian. Tanpa adanya kerjasama dan partisipasi masyarakat yang cukup maka tindakan apapun yang dilakukan akan selalu berakhir dengan sia-sia.

Dan Idul Fitri kali ini masih bernasib sama dengan Idul Fitri di tahun 2020 kemarin. Di tahun lalu, masyarakat banyak yang tidak bisa mudik karena adanya kebijakan larangan mudik. Mereka berharap bahwa di tahun berikutnya (tahun ini) sudah bisa merayakan Idul Fitri sebagaimana biasanya. Akan tetapi, ternyata keadaan tidaklah berubah. Tahun ini pemerintah juga mengeluarkan kebijakan serupa tentang larangan mudik kecuali untuk kepentingan tertentu dan dengan syarat yang ketat.

Dan ternyata meski sudah ada larangan mudik, toh masih terdapat gelombang pemudik dalam jumlah yang besar. Seperti misalnya dalam keterangan tertulisnya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 387.383 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode akhir pekan terakhir sebelum memasuki masa peniadaan mudik. Sebanyak 387.383 kendaraan itu meninggalkan Jabotabek lewat jalan tol pada Jumat, 30 April 2021 sampai Minggu, 2 Mei 2021 (Detik.com, Senin, 03 Mei 2021 13:57 WIB).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/