alexametrics
26 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Tahun Baru Hijriah; Momentum Mempertegas Humanisme Islam

Oleh: Dr. H. Nur Solikin AR., S.Ag., MH

Mobile_AP_Rectangle 1

Tahun baru Hijriah 1443 merupakan momentum yang strategis dalam rangka menyegarkan kembali pola keberagamaan kita. Salah satu wacana yang harus direnungkan bersama bagi umat Islam adalah ide Islam humanis. Ide “Islam Humanis” menjadi penting untuk didiskusikan kembali karena “tamparan” hebat modernitas yang menggerus kepekaan kemanusiaan global. Hal itu disebabkan karena peran agama yang secara negatif telah disalahgunakan oleh penganutnya.

Wacana mengenai Islam dan humanisme menjadi penting untuk diperbincangkan kembali. Apakah Islam cenderung berlawanan dengan ajaran kemanusiaan atau tidak? Bagaimana ada kemungkinan untuk membangun ruang dialog dalam upaya menghubungkan Islam dengan humanisme (ajaran kemanusiaan)?  Upaya ini bertujuan untuk mengembangkan ajaran Islam agar lebih berwajah humanis dan berorientasi pada pemenuhan cita-cita kemanusiaan.

Gerakan Renaisans (Pencerahan) yang muncul Pasca-Abad Pertengahan memberikan angin segar perubahan menuju pencerahan intelektualisme dan rasionalisme. Gereja dan agama yang telah menutup ruang kebebasan bagi manusia yang kemudian diprotes oleh Reformasi Protestan, melapangkan jalan sekularisasi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Renaisans adalah era “kebangkitan kembali” untuk menggali kebudayaan-kebudayaan Yunani dan Romawi, yang telah berabad-abad lamanya dikubur oleh masyarakat abad pertengahan di bawah kekuasaan gereja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada masa inilah gerakan humanisme muncul. Warisan Yunani-Romawi yang dibangkitkan kembali adalah penghargaan atas dunia-sini, penghargaan atas martabat manusia, dan pengakuan atas kemampuan rasio. Gerakan humanisme mempercayai akan kemampuan manusia (sebagai ganti atas kemampuan adikodrati), hasrat intelektual, dan penghargaan atas disiplin intelektual. Pada masa abad pertengahan, segala hal pemikiran yang berbau rasio dan filosofis diharamkan, semua harus mengikuti doktrin agama (Kristian).

Humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia (Ali Syari’ati,1989). Atau humanisme bisa juga diartikan sebagai paham pemikiran dan gerakan kultural yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai subyek yang bebas dan berdaulat dalam menentukan hidupnya (Sudarminta, 2001). Intinya, humanisme ingin meneguhkan kemampuan manusia secara bebas dan berdaulat untuk mengarungi hidupnya sendiri.

Dalam pandangan liberalisme Barat, tercapainya pengembangan potensi-potensi manusia bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan berpikir kepada manusia. Marxisme sebaliknya menyatakan bahwa kemanusiaan bisa ditegakkan apabila persamaan manusia yang tidak mengakui kebebasan-kebebasan tersebut, dan memasungnya ke dalam kepemimpinan diktator tunggal, yang dibantu oleh kelompok dan ideologi tunggal. Sebaliknya, eksistensialisme memberikan justifikasi filosofis bahwa manusia adalah makhluk yang berwujud dengan sendirinya di alam semesta. Yakni, makhluk yang dalam dirinya tidak terdapat bagian atau karakteristik tertentu yang datang dari Tuhan atau alam.

Humanisme yang terdapat pada ketiga aliran di atas berasal dari konsepsi Humanisme Yunani. Konsep ini berasal dari pertarungan antara langit dan bumi. Seluruh perbuatan dan kesadaran manusia dipimpin oleh kekuasaan yang zalim, yaitu para dewa sehingga manusia mencoba untuk membebaskan diri dari cengkeram kekuasaannya. Humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan segala kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkaran atas kekuasaan-Nya.

Ali Syari’ati memasukkan agama (termasuk Islam) sebagai salah satu madhab atau aliran humanisme. John Avery, dalam dialognya dengan Hassan Askari yang terekam dalam buku Towards a Spiritual Humanism: A Muslim Humanist Dialogue (Meed: Seven Mirros,1991), mencatat bahwa kemunculan humanis agamis abad ke-20, seperti John Dewey, Roy Wood Sellars, dan sebagainya dari kubu Universitas Cambridge, menemukan unsur-unsur humanitarian dalam agama. Misalnya, ungkapan Yesus yang selalu mencintai manusia dengan doktrin kasih sayangnya, juga ajaran Islam yang menaruh perhatian terhadap aspek-aspek kemanusiaan. Kelompok humanis agamis berargumen bahwa agama dan kebudayaan manusia membantu atas kesadaran diri yang akan memeliharanya dari keterasingan hidup di dunia.

Agama dan humanisme tidak selamanya berada pada ruang penuh pertentangan. Karena, ajaran agama yang dimaknai secara humanis dan rasional akan melapangkan citra positif bagi peran agama yang apresiatif dengan konteks kemanusiaan. Demikian halnya hubungan antara Islam dan humanisme.

 

Humanisme Dalam Islam

Jika kita perhatikan sebenarnya Islam tidak bertentangan dengan humanisme. Tugas besar Islam, sejatinya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya-budaya dengan nilai-nilai Islam. Kita mengenal trilogi “iman-ilmu-amal” ; artinya iman berujung pada amal/aksi, atau tauhid itu harus diaktualisasikan dalam bentuk pembebasan manusia. Pusat keimanan Islam memang Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. Dalam penyataan Cak Nur (1995), pandangan hidup yang teosentris dapat dilihat dalam kegiatan keseharian yang antroposentris.

Dalam pandangan Kuntowijoyo (1991), Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Humanisme adalah nilai dasar Islam. la memberikan istilah dengan “Humanisme Teosentris”, dengan pengertian “Islam merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan Tuhan, tetapi yang mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia”. Islam sangat menjunjung tinggi rasionalisme.

- Advertisement -

Tahun baru Hijriah 1443 merupakan momentum yang strategis dalam rangka menyegarkan kembali pola keberagamaan kita. Salah satu wacana yang harus direnungkan bersama bagi umat Islam adalah ide Islam humanis. Ide “Islam Humanis” menjadi penting untuk didiskusikan kembali karena “tamparan” hebat modernitas yang menggerus kepekaan kemanusiaan global. Hal itu disebabkan karena peran agama yang secara negatif telah disalahgunakan oleh penganutnya.

Wacana mengenai Islam dan humanisme menjadi penting untuk diperbincangkan kembali. Apakah Islam cenderung berlawanan dengan ajaran kemanusiaan atau tidak? Bagaimana ada kemungkinan untuk membangun ruang dialog dalam upaya menghubungkan Islam dengan humanisme (ajaran kemanusiaan)?  Upaya ini bertujuan untuk mengembangkan ajaran Islam agar lebih berwajah humanis dan berorientasi pada pemenuhan cita-cita kemanusiaan.

Gerakan Renaisans (Pencerahan) yang muncul Pasca-Abad Pertengahan memberikan angin segar perubahan menuju pencerahan intelektualisme dan rasionalisme. Gereja dan agama yang telah menutup ruang kebebasan bagi manusia yang kemudian diprotes oleh Reformasi Protestan, melapangkan jalan sekularisasi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Renaisans adalah era “kebangkitan kembali” untuk menggali kebudayaan-kebudayaan Yunani dan Romawi, yang telah berabad-abad lamanya dikubur oleh masyarakat abad pertengahan di bawah kekuasaan gereja.

Pada masa inilah gerakan humanisme muncul. Warisan Yunani-Romawi yang dibangkitkan kembali adalah penghargaan atas dunia-sini, penghargaan atas martabat manusia, dan pengakuan atas kemampuan rasio. Gerakan humanisme mempercayai akan kemampuan manusia (sebagai ganti atas kemampuan adikodrati), hasrat intelektual, dan penghargaan atas disiplin intelektual. Pada masa abad pertengahan, segala hal pemikiran yang berbau rasio dan filosofis diharamkan, semua harus mengikuti doktrin agama (Kristian).

Humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia (Ali Syari’ati,1989). Atau humanisme bisa juga diartikan sebagai paham pemikiran dan gerakan kultural yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai subyek yang bebas dan berdaulat dalam menentukan hidupnya (Sudarminta, 2001). Intinya, humanisme ingin meneguhkan kemampuan manusia secara bebas dan berdaulat untuk mengarungi hidupnya sendiri.

Dalam pandangan liberalisme Barat, tercapainya pengembangan potensi-potensi manusia bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan berpikir kepada manusia. Marxisme sebaliknya menyatakan bahwa kemanusiaan bisa ditegakkan apabila persamaan manusia yang tidak mengakui kebebasan-kebebasan tersebut, dan memasungnya ke dalam kepemimpinan diktator tunggal, yang dibantu oleh kelompok dan ideologi tunggal. Sebaliknya, eksistensialisme memberikan justifikasi filosofis bahwa manusia adalah makhluk yang berwujud dengan sendirinya di alam semesta. Yakni, makhluk yang dalam dirinya tidak terdapat bagian atau karakteristik tertentu yang datang dari Tuhan atau alam.

Humanisme yang terdapat pada ketiga aliran di atas berasal dari konsepsi Humanisme Yunani. Konsep ini berasal dari pertarungan antara langit dan bumi. Seluruh perbuatan dan kesadaran manusia dipimpin oleh kekuasaan yang zalim, yaitu para dewa sehingga manusia mencoba untuk membebaskan diri dari cengkeram kekuasaannya. Humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan segala kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkaran atas kekuasaan-Nya.

Ali Syari’ati memasukkan agama (termasuk Islam) sebagai salah satu madhab atau aliran humanisme. John Avery, dalam dialognya dengan Hassan Askari yang terekam dalam buku Towards a Spiritual Humanism: A Muslim Humanist Dialogue (Meed: Seven Mirros,1991), mencatat bahwa kemunculan humanis agamis abad ke-20, seperti John Dewey, Roy Wood Sellars, dan sebagainya dari kubu Universitas Cambridge, menemukan unsur-unsur humanitarian dalam agama. Misalnya, ungkapan Yesus yang selalu mencintai manusia dengan doktrin kasih sayangnya, juga ajaran Islam yang menaruh perhatian terhadap aspek-aspek kemanusiaan. Kelompok humanis agamis berargumen bahwa agama dan kebudayaan manusia membantu atas kesadaran diri yang akan memeliharanya dari keterasingan hidup di dunia.

Agama dan humanisme tidak selamanya berada pada ruang penuh pertentangan. Karena, ajaran agama yang dimaknai secara humanis dan rasional akan melapangkan citra positif bagi peran agama yang apresiatif dengan konteks kemanusiaan. Demikian halnya hubungan antara Islam dan humanisme.

 

Humanisme Dalam Islam

Jika kita perhatikan sebenarnya Islam tidak bertentangan dengan humanisme. Tugas besar Islam, sejatinya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya-budaya dengan nilai-nilai Islam. Kita mengenal trilogi “iman-ilmu-amal” ; artinya iman berujung pada amal/aksi, atau tauhid itu harus diaktualisasikan dalam bentuk pembebasan manusia. Pusat keimanan Islam memang Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. Dalam penyataan Cak Nur (1995), pandangan hidup yang teosentris dapat dilihat dalam kegiatan keseharian yang antroposentris.

Dalam pandangan Kuntowijoyo (1991), Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Humanisme adalah nilai dasar Islam. la memberikan istilah dengan “Humanisme Teosentris”, dengan pengertian “Islam merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan Tuhan, tetapi yang mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia”. Islam sangat menjunjung tinggi rasionalisme.

Tahun baru Hijriah 1443 merupakan momentum yang strategis dalam rangka menyegarkan kembali pola keberagamaan kita. Salah satu wacana yang harus direnungkan bersama bagi umat Islam adalah ide Islam humanis. Ide “Islam Humanis” menjadi penting untuk didiskusikan kembali karena “tamparan” hebat modernitas yang menggerus kepekaan kemanusiaan global. Hal itu disebabkan karena peran agama yang secara negatif telah disalahgunakan oleh penganutnya.

Wacana mengenai Islam dan humanisme menjadi penting untuk diperbincangkan kembali. Apakah Islam cenderung berlawanan dengan ajaran kemanusiaan atau tidak? Bagaimana ada kemungkinan untuk membangun ruang dialog dalam upaya menghubungkan Islam dengan humanisme (ajaran kemanusiaan)?  Upaya ini bertujuan untuk mengembangkan ajaran Islam agar lebih berwajah humanis dan berorientasi pada pemenuhan cita-cita kemanusiaan.

Gerakan Renaisans (Pencerahan) yang muncul Pasca-Abad Pertengahan memberikan angin segar perubahan menuju pencerahan intelektualisme dan rasionalisme. Gereja dan agama yang telah menutup ruang kebebasan bagi manusia yang kemudian diprotes oleh Reformasi Protestan, melapangkan jalan sekularisasi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Renaisans adalah era “kebangkitan kembali” untuk menggali kebudayaan-kebudayaan Yunani dan Romawi, yang telah berabad-abad lamanya dikubur oleh masyarakat abad pertengahan di bawah kekuasaan gereja.

Pada masa inilah gerakan humanisme muncul. Warisan Yunani-Romawi yang dibangkitkan kembali adalah penghargaan atas dunia-sini, penghargaan atas martabat manusia, dan pengakuan atas kemampuan rasio. Gerakan humanisme mempercayai akan kemampuan manusia (sebagai ganti atas kemampuan adikodrati), hasrat intelektual, dan penghargaan atas disiplin intelektual. Pada masa abad pertengahan, segala hal pemikiran yang berbau rasio dan filosofis diharamkan, semua harus mengikuti doktrin agama (Kristian).

Humanisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia (Ali Syari’ati,1989). Atau humanisme bisa juga diartikan sebagai paham pemikiran dan gerakan kultural yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai subyek yang bebas dan berdaulat dalam menentukan hidupnya (Sudarminta, 2001). Intinya, humanisme ingin meneguhkan kemampuan manusia secara bebas dan berdaulat untuk mengarungi hidupnya sendiri.

Dalam pandangan liberalisme Barat, tercapainya pengembangan potensi-potensi manusia bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan berpikir kepada manusia. Marxisme sebaliknya menyatakan bahwa kemanusiaan bisa ditegakkan apabila persamaan manusia yang tidak mengakui kebebasan-kebebasan tersebut, dan memasungnya ke dalam kepemimpinan diktator tunggal, yang dibantu oleh kelompok dan ideologi tunggal. Sebaliknya, eksistensialisme memberikan justifikasi filosofis bahwa manusia adalah makhluk yang berwujud dengan sendirinya di alam semesta. Yakni, makhluk yang dalam dirinya tidak terdapat bagian atau karakteristik tertentu yang datang dari Tuhan atau alam.

Humanisme yang terdapat pada ketiga aliran di atas berasal dari konsepsi Humanisme Yunani. Konsep ini berasal dari pertarungan antara langit dan bumi. Seluruh perbuatan dan kesadaran manusia dipimpin oleh kekuasaan yang zalim, yaitu para dewa sehingga manusia mencoba untuk membebaskan diri dari cengkeram kekuasaannya. Humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan segala kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkaran atas kekuasaan-Nya.

Ali Syari’ati memasukkan agama (termasuk Islam) sebagai salah satu madhab atau aliran humanisme. John Avery, dalam dialognya dengan Hassan Askari yang terekam dalam buku Towards a Spiritual Humanism: A Muslim Humanist Dialogue (Meed: Seven Mirros,1991), mencatat bahwa kemunculan humanis agamis abad ke-20, seperti John Dewey, Roy Wood Sellars, dan sebagainya dari kubu Universitas Cambridge, menemukan unsur-unsur humanitarian dalam agama. Misalnya, ungkapan Yesus yang selalu mencintai manusia dengan doktrin kasih sayangnya, juga ajaran Islam yang menaruh perhatian terhadap aspek-aspek kemanusiaan. Kelompok humanis agamis berargumen bahwa agama dan kebudayaan manusia membantu atas kesadaran diri yang akan memeliharanya dari keterasingan hidup di dunia.

Agama dan humanisme tidak selamanya berada pada ruang penuh pertentangan. Karena, ajaran agama yang dimaknai secara humanis dan rasional akan melapangkan citra positif bagi peran agama yang apresiatif dengan konteks kemanusiaan. Demikian halnya hubungan antara Islam dan humanisme.

 

Humanisme Dalam Islam

Jika kita perhatikan sebenarnya Islam tidak bertentangan dengan humanisme. Tugas besar Islam, sejatinya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya-budaya dengan nilai-nilai Islam. Kita mengenal trilogi “iman-ilmu-amal” ; artinya iman berujung pada amal/aksi, atau tauhid itu harus diaktualisasikan dalam bentuk pembebasan manusia. Pusat keimanan Islam memang Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia. Dalam penyataan Cak Nur (1995), pandangan hidup yang teosentris dapat dilihat dalam kegiatan keseharian yang antroposentris.

Dalam pandangan Kuntowijoyo (1991), Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Humanisme adalah nilai dasar Islam. la memberikan istilah dengan “Humanisme Teosentris”, dengan pengertian “Islam merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan Tuhan, tetapi yang mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia”. Islam sangat menjunjung tinggi rasionalisme.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca