Hikmah ketiga, berkaitan dengan pengalaman Nabi selama Isra’ Mi’raj untuk berdialog dengan Nabi terdahulu, sebagai upaya review sejarah. Kegagalan yang pernah dialami Nabi Muhammad, membuat perlunya menengok sejarah para nabi terdahulu membandingkan liku–liku, kegagalan dan keberhasilan, mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa dan Nabi Isa. Dalam Isra’ Mi’raj resume perjuangan para nabi dipaparkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai bahan masukan untuk perjuangan panjang selanjutnya. Seperti terbukti kemudian, misi Nabi Muhammad Saw  berhasil dan mencapai puncak kejayaannya setelah hijrah ke Madinah, sekitar setahun setelah Isra’ Mi’raj. Semua orang menilai, bahwa keputusan berhijrah ke Madinah adalah keputusan besar. Jarak antara Makah dan Madinah sekitar 460 km, tetapi memindahkan suatu komunitas ke tempat sejauh itu dengan alat transportasi dan perlengkapan logistik yang sangat terbatas, jelas suatu keputusan besar dan beresiko.

Hikmah keempat dan terakhir, diberinya program mutlak untuk pembinaan manusia seutuhnya melalui shalat lima waktu. Setiap Muslim mendapat kesempatan bermi’raj dengan melakukan shalat lima waktu. Intisari Isra’ Mi’raj, tertuang dalam shalat (Ash-shalaatu mi’raaju kulli mukminiin). Sudah tentu nilai Isra’ Mi’raj ummat (shalat) itu tidak sama dengan nilai Isra’ Mi’raj Nabi. Bahkan nilai shalat seorang muslim tidak selalu sama dengan lainnya, tergantung kepada: apakah dia melakukan shalat hanya secara fisik, ataukah dia melakukan sepenuhnya (seutuhnya) dengan gerakan, ucapan dan hatinya, sebagai mana makna ihsan, anta’budallahu ka annaka taraahu fainlam takun taraahu fainnahu yaraaka.

Masalahnya, kenapa shalat disebut mi’raj bagi orang–orang mukmin? Karena shalat yang dilakukan secara benar dan khusyu’ merupakan sarana untuk berdialog langsung dengan Allah Swt, sebagaimana dialog langsung yang dialami Nabi Muhammad Saw. ketika Mi’raj. Kalau Nabi Muhammad Saw telah melakukan perjalanan bersejarah untuk mendapatkan tugas shalat dan menentukan strategi baru dalam misinya, maka kita sebagai umatnya juga perlu melakukan perjalanan bersejarah dalam kehidupan kita, yakni memelihara amanah shalat itu dengan sebaik-baiknya sehingga melahirkan semangat dan suasana baru dalam kehidupan kita, yakni semangat dan suasana kehidupan yang bisa mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah Swt. Karena perjalanan kita, sejatinya, adalah perjalanan menuju ke hadlirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam…!

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah  Direktur Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember