Isra’ mi’raj atau perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-Aqsha (Yerussalem), naik ke Sidrat al-Muntaha –bahkan melampaui– lalu kembali ke Makah dalam waktu yang sangat singkat, merupakan peristiwa kemu’jizatan yang luar biasa, tidak dapat didiskusikan kecuali melalui pendekatan imani. Untuk jarak sejauh 1239 km (Makkah-Yerussalem) itu saja, pada waktu itu secara normal bisa ditempuh sekitar 2 bulan dengan Onta.

Kaum Empiris atau Rasionalis yang melepaskan bimbingan wahyu akan berkata: ”bagaimana mungkin peristiwa tersebut dapat terjadi, bukankah ia tidak sesuai dengan hukum alam, tidak dapat dibuktikan dengan patokan logika, bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya dapat terjadi pada seseorang?”.

Karena itu, jika peristiwa Isra’ Mi’raj hanya dijelaskan menurut akal manusia semata justru akan menjadi mustahil. Pertama, menurut teori Einstein, suatu benda termasuk jasad manusia, seperti jasad Nabi, tidak mungkin berjalan secepat cahaya, kecepatan cahaya disebut kecepatan mutlak, dan jika benda berjalan secepat cahaya maka benda itu akan berurai atau “hancur” menjadi energi. Kedua kalau toh Nabi ketika Isra’ Mi’raj dapat berjalan secepat cahaya, maka menurut perhitungan ilmiah, beliau akan tembus batas langit pertama setelah sekitar 11 milyar tahun. Belum lagi Sidrat al-Muntaha yang berada di atas langit ketujuh, berdekatan dengan Arasy Tuhan.

Pengetahuan manusia menjadi nampak terbatas. Hasil temuan ilmiah yang diperoleh melalui usaha coba–coba (trial and error) atau melakukan pengamatan terhadap gejala–gejala alam yang dapat dilakukan oleh siapa, kapan dan dimanapun, tetapi peristiwa Isra’ Mi’raj hanya terjadi sekali sehingga tidak dapat diamati atau dilakukan terhadapnya suatu percobaan. Jika demikian, maka setiap usaha untuk membuktikannya secara ilmiah menjadi tidak ilmiah lagi. Mengapa? Kata asraa dalam ayat di atas berarti menjalankan, maksudnya, Allah telah memperjalankan Nabi Muhammad Saw., jadi Nabi Muhammad ber-Isra’ Mi’raj bukan atas kemauannya sendiri, tetapi karena kehendak Allah, Allah made him do the journey, Allah made him make the trip. Sedangkan subhaana, acapkali dipakai dalam Al-Qur’an ketika menyebutkan sesuatu yang mempesona, luar biasa dan merupakan kemu’jizatan. Dengan demikian jika Allah berfirman : “Maha suci Allah yang telah memperjalankan Hamba-Nya….”, ini berarti, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan kehendak Allah, yang berada di atas kekuatan akal untuk difikirkan. Tentang caranya, hanya Allah yang Maha Tahu. Kita hanya dapat membayangkan, bahwa Nabi telah menghadap kehadirat-Nya dengan kendaraan yang kecepatannya tak terhingga dibandingkan dengan kecepatan cahaya, yang katanya sedetik tujuh kali keliling bumi itu.

Karena itu benarlah Abu Bakar, karena imannya membenarkan terjadinya Isra’ Mi’raj dan memang untuk mengokohkan iman itulah salah satu hikmah peristiwa kemu’jizatan itu. Mari kita telusuri hikmah–hikmah berikutnya. Hikmah lain dari Isra’ Mi’raj terletak pada tujuannya itu sendiri, ialah linuriyahu min ayatina, artinya untuk memperlihatkan tanda–tanda kebesaran kami, kata Allah. Kalau begitu, tujuan Isra’ Mi’raj bukan sekedar bertemu dengan Allah, melainkan lebih dari itu. Allah sebenarnya sudah selalu berada dekat kita, bahkan bersama kita.

Ibarat seorang tamu Pemerintah Provinsi, dengan didampingi oleh Gubernur dari wilayah tuan rumah dan protokolnya, sang tamu diantar berkunjung ke berbagai tempat untuk melihat–lihat dari dekat kantor pemerintahan, pusat-pusat layanan, pusat-pusat keunggulan, dan pusat wisata religi umpamanya. Karena Gubernur tuan rumah itu selalu berada bersama Sang Tamu, maka sebenarnya dia keliling/ wilayah itu bukan sekedar untuk menemui Sang Gubernur, tetapi lebih dari itu adalah untuk melihat dari dekat tanda–tanda dalam wilayah kekuasaan Gubernur tersebut. Begitulah dalam Isra’ Mi’raj, kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan tanda–tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Kitapun bisa memperlihatkan tanda–tanda kebesaran Allah Swt dalam hidup dan lingkungan kita, jika kita mau mengamati. Bagi saintis muslim, hukum alam adalah bukti kekuasaan Allah Swt dan karenanya akan menambah keimanannya. Bagi sosiolog muslim, aturan hukum–hukum kemasyarakatan itu adalah juga tanda kekuasaan Allah Swt. Karena itu syukurilah dengan selalu berusaha mendekat dan mengabdi kepada-Nya.

Hikmah ketiga, berkaitan dengan pengalaman Nabi selama Isra’ Mi’raj untuk berdialog dengan Nabi terdahulu, sebagai upaya review sejarah. Kegagalan yang pernah dialami Nabi Muhammad, membuat perlunya menengok sejarah para nabi terdahulu membandingkan liku–liku, kegagalan dan keberhasilan, mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa dan Nabi Isa. Dalam Isra’ Mi’raj resume perjuangan para nabi dipaparkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai bahan masukan untuk perjuangan panjang selanjutnya. Seperti terbukti kemudian, misi Nabi Muhammad Saw berhasil dan mencapai puncak kejayaannya setelah hijrah ke Madinah, sekitar setahun setelah Isra’ Mi’raj. Semua orang menilai, bahwa keputusan berhijrah ke Madinah adalah keputusan besar. Jarak antara Makah dan Madinah sekitar 460 km, tetapi memindahkan suatu komunitas ke tempat sejauh itu dengan alat transportasi dan perlengkapan logistik yang sangat terbatas, jelas suatu keputusan besar dan beresiko.

Hikmah keempat dan terakhir, diberinya program mutlak untuk pembinaan manusia seutuhnya melalui shalat lima waktu. Setiap Muslim mendapat kesempatan bermi’raj dengan melakukan shalat lima waktu. Intisari Isra’ Mi’raj, tertuang dalam shalat (Ash-shalaatu mi’raaju kulli mukminiin). Sudah tentu nilai Isra’ Mi’raj ummat (shalat) itu tidak sama dengan nilai Isra’ Mi’raj Nabi. Bahkan nilai shalat seorang muslim tidak selalu sama dengan lainnya, tergantung kepada: apakah dia melakukan shalat hanya secara fisik, ataukah dia melakukan sepenuhnya (seutuhnya) dengan gerakan, ucapan dan hatinya, sebagai mana makna ihsan, anta’budallahu ka annaka taraahu fainlam takun taraahu fainnahu yaraaka.

Masalahnya, kenapa shalat disebut mi’raj bagi orang–orang mukmin? Karena shalat yang dilakukan secara benar dan khusyu’ merupakan sarana untuk berdialog langsung dengan Allah Swt, sebagaimana dialog langsung yang dialami Nabi Muhammad Saw. ketika Mi’raj. Kalau Nabi Muhammad Saw telah melakukan perjalanan bersejarah untuk mendapatkan tugas shalat dan menentukan strategi baru dalam misinya, maka kita sebagai umatnya juga perlu melakukan perjalanan bersejarah dalam kehidupan kita, yakni memelihara amanah shalat itu dengan sebaik-baiknya sehingga melahirkan semangat dan suasana baru dalam kehidupan kita, yakni semangat dan suasana kehidupan yang bisa mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah Swt. Karena perjalanan kita, sejatinya, adalah perjalanan menuju ke hadlirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam…!

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Direktur Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember