Alih status terus bergerak dinamis. Minggu kemarin, hari Jumat sampai Minggu, 29-31 Januari 2021, pimpinan IAIN Jember menghadiri rapat dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dalam rangka harmonisasi penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) tentang enam Universitas Islam Negeri (UIN) yang berubah bentuk dari sebelumnya IAIN menjadi UIN. Alhamdulillah, keinginan untuk bertransformasi secara kelembagaan dari IAIN Jember menjadi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (disingkat UIN KHAS Jember) tidak lama lagi akan terwujud secara resmi dengan terbitnya Perpres tersebut.

Sebagaimana diketahui bersama, dalam transformasi kelembagaan, perubahan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, dan kemudian menjadi UIN, tentu saja telah mengalami pelbagai perkembangan yang cukup signifikan. Ikhtiar transformasi kelembagaan menjadi UIN KHAS Jember dengan mandat institusi integrasi Islam dan sains, sudah sangatlah tepat, di tengah tingginya animo masyarakat Indonesia untuk memiliki generasi yang moderat serta menguasai ilmu-ilmu umum.

Terkait dengan dinamika alih status yang menggembirakan ini pula, pada Rapat Kerja Pimpinan IAIN Jember pada 5-7 Februari 2021 lalu, ditegaskan kembali bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia telah menempatkan penguatan moderasi beragama sebagai kata kunci. Maka, pada tataran implementasinya, termasuk di IAIN Jember, moderasi beragama menjadi konstruk pengembangan keilmuan untuk menyebarkan sensitivitas civitas akademika pada nalar perbedaan, juga sebagai strategi penguatan intelektualisme moderat agar tidak mudah menyalahkan pendapat yang berbeda.

Moderasi beragama yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah membawa masyarakat dalam pemahaman yang moderat, tidak ekstrim dalam beragama, dan juga tidak mendewakan rasio yang berpikir bebas tanpa batas. Moderasi beragama menjadi penting dan menemukan relevansinya untuk digaungkan sebagai “framing” dalam mengelola kehidupan masyarakat Indonesia yang mutikultural. Kebutuhan terhadap narasi keagamaan yang moderat tidak hanya menjadi kebutuhan personal atau kelembagaan, melainkan secara umum bagi warga dunia, terutama di tengah perkembangan teknologi informasi dalam menghadapi kapitalisme global dan politik percepatan yang disebut dengan era digital.

Sekali lagi, Islam di Indonesia, sebagaimana dianut oleh organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, dan juga perguruan tinggi keagamaan Islam, adalah Islam wasathiyah atau Islam jalan tengah. Dengan kata lain, perguruan tinggi keagamaan menjadi basis utama pengejewantahan moderasi beragama dalam iklim akademik yang toleran, terbuka, dan menghargai pendapat yang berbeda. Perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi laboratorium pluralisme untuk bersatu mewujudkan harmoni.

Dalam konteks ini pula, kehadiran UIN KHAS Jember kedepan menegaskan agar seluruh program dan kegiatan akademik kampus selaras dengan penguatan moderasi beragama. Misalnya, pengarusutamaan moderasi beragama diimplementasikan dalam segala turunan kebijakan dan diwujudkan dengan pengembangan kajian dan tradisi akademik yang kritis dan menghargai kelompok atau pendapat lain. Selain itu, kita dituntut untuk mengembangkan literasi keagamaan dan pendidikan lintas iman.

Sebagai gambaran implementasi moderasi beragama itu, UIN KHAS Jember misalnya dapat mengembangkan program studi ilmu perbandingan agama (studi agama-agama) dengan pendekatan holistik terhadap agama-agama dengan mencoba menelisik dan memahami secara komprehensif fenomena agama melalui program studi baru di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH). Dari pendekatan inilah, dialog antar-agama akan dimulai dan pada akhirnya dapat mendorong terciptanya pemahaman dan toleransi antar umat-beragama.

Melalui wajah baru UIN KHAS Jember, civitas akademika harus menjadi agen yang menyuarakan komitmen moderasi beragama dengan kajian, riset, publikasi, serta pendampingan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan kerukunan dan toleransi itu perlu terus-menerus dilakukan, terutama melalui sosialisasi pemahaman keagamaan yang moderat dan menekankan pentingnya toleransi dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Di samping upaya-upaya tersebut, perlu dilakukan pula strategi pencegahan konflik melalui peningkatan dialog antarumat beragama dengan melibatkan para akademisi perguruan tinggi.

Sebagai penjaga harmoni kebangsaan dan peradaban Indonesia di masa mendatang, seluruh civitas akademika UIN KHAS Jember juga dituntut untuk memainkan peran strategis dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Tentu harapan yang disematkan sangat tinggi yaitu agar seluruh civitas akademika menjadi bagian yang senantiasa melantunkan dan mengajarkan Islam moderat di tengah-tengah kehidupan yang kompleks ini. Suara lantang seluruh civitas akademika untuk turut membumikan Islam moderat merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual publik saat ini.

Dalam konteks itu, maka peran pimpinan UIN KHAS Jember, baik para Dekan, Wakil Dekan, Kepala Lembaga, dan Kaprodi menjadi sangat penting dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di Fakultas yang diarahkan pada pembumian nilai-nilai keislaman, ikut mengawal transisi demokrasi dengan menjelaskan bagaimana hubungan Islam dan negara, demokrasi dan konsep-konsep lainnya, serta merealisasikan ajaran agama Islam yang membawa misi rahmat bagi dunia, yakni Islam rahmatan lil alamin.

Dalam mewujudkan harmoni sosial melalui moderasi beragama ini, maka seluruh civitas akademika harus memiliki komitmen bersama untuk menjadikan kampus UIN KHAS Jember sebagai lembaga yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan global, yakni kuat derasnya arus trans-ideologi, ancaman paham radikalisme dan terorisme. Semuanya harus menguatkan para mahasiswa dan alumni untuk berani tampil di depan menjelaskan wawasan keIslaman secara komprehensif, holistik, dan moderat. Islam bukan radikalisme, apalagi terorisme. Narasi-narasi yang mencoba mendistorsi Islam menyemaikan radikalisme dan terorisme harus dikikis melalui narasi intelektual. Dan, dari perspektif keilmuan Keislaman, dengan core competency dalam bidang-bidang ilmu-ilmu keislaman (Islamic studies) yang diajarkan dengan cara yang lebih terbuka serta kontekstual, dapat menjadi bekal untuk tampil lebih bijaksana dalam menyikapi isu-isu keagamaan kontemporer.

*) Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., MM., Rektor IAIN Jember, Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Guru Besar Ilmu Manajemen, Inisiator UIN KHAS Jember.