alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Belajar Tanpa Batas di Tengah Pandemi Covid-19 yang Membatasi

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam dunia pendidikan dikenal seorang tokoh bernama John Dewey (1859-1952), seorang filsuf dari Amerika Serikat yang bermazhab Pragmatisme. Beliau juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan. Beliau pernah menuturkan bahwa “educational process has no end beyond it self in its own and end”. Bahwa pendidikan terus berlangsung, tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas ruang dan waktu sudah dikenal sejak lama, dan relevan dengan prinsip long life education. Begitu pula proses pembelajaran —sebagai bagian dari proses pendidikan— juga tidak pernah ada batasnya. Inilah subtansi pendidikan dan pembelajaran dalam pengertian yang luas. Namun dalam pengertian yang sempit, tidak dapat dinafikan bahwa pendidikan dan pembelajaran sering dialamatkan kepada para siswa yang sedang berposes menuju dewasa yang dibatasi oleh waktu tertentu, usia tertentu dan tempat tertentu. 

Lahirlah istilah anak usia sekolah prasekolah, PAUD, TK/RA, SD/MI, SLTP/Mts/MA, dan PT) dan usia dewasa, yang eksistensinya disandingkan dengan lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Islam mengenalnya dengan konsep belajar sejak usia dini, sejak masih dalam buaian sang Ibu yang dikenal dengan “madrasatul ulaa”, hingga meninggal dunia atau masuk liang lahat yang dikenal dengan “talqiin”. Belajar tanpa batas di tengah pandemi Covid-19 ini pada akhirnya mengkondisikan semua pihak untuk bersentuhan dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mewujudkan proses pembelajaran tatap muka (luring, offline) maupun proses pembelajaran tatap maya (daring, online).

 

Mobile_AP_Rectangle 2

Nikmatnya Pembelajaran Tatap Maya

Ketika awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masuk di Indonesia (awal Maret 2020), pemerintah segera mengambil sikap dan menginstruksikan pembelajaran secara maya dan bekerja dari rumah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid- 19. Kehadiran SE ini, membuat hampir semua pihak terkaget-kaget, tampak gamang dan belum atau kurang adanya kesiapan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap maya (daring, online) dan Bekerja Dari Rumah (BDR). Mulai dari HP yang tidak support, aplikasi yang belum familier, data yang tidak cukup, hingga signal yang kurang mendukung alias timbul tenggelam dan naik turun. 

Namun karena situasi dan kondisi hanya memungkinkan proses pembelajaran secara tatap maya, maka secara bertahap, pelan tetapi pasti, semua pihak mulai berbenah diri dan membekali diri dengan kemampuan di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemerintah mengeluarkan regulasi pembelajaran secara daring, menyediakan paket quota data dan aplikasi, sementara pendidik dan peserta didik mulai belajar memanfaatkan gadget sebagai media utama yang memiliki fungsi tertentu, canggih, dan baru. Mereka mengupgrade kemampuan diri dan mengembangkan literasi digital, dari sekedar memanfaatkan personal computer (PC) dan LapTop secara offline menuju ke arah networking yang terkoneksikan dengan internet maupun gadget berbasis data maupun wifi. 

Setelah proses pembelajaran tatap maya berjalan + 4 (empat) semester (pertengahan semester genap 2019/2020 – semester ganjil 2021/2022), tersibaklah sejumlah kemudahan yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulannya, terutama dari aspek fleksibelitas dan aspek ekonomisnya. 

Fleksibel, karena proses pembelajaran tatap maya dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja tanpa terikat dan dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu, tidak lagi harus menyediakan ruang kelas (gedung) tertentu sesuai jadwal; dan tidak lagi harus izin karena pergi ke luar kota atau sakit, karena dari luar kota proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakan, dan dalam kondisi sakit tertentu proses pembelajaran tatap maya juga masih tetap bisa dilaksanakan, baik secara sinkronous maupun asinkronous. 

Ekonomis, karena kegiatan akademik maupun nonakademik semisal pembelajaran, workshop, pelatihan, webinar, tutorial webinar, dan perlombaan, tetap dapat dilaksanakan dengan biaya yang minim sekalipun. Biaya transportasi dapat di-cancel, biaya narasumber dapat ditransfer, living cost (sewa kamar atau rumah dan makan minum, dan lain-lain) tidak dibutuhkan lagi bagi yang rumahnya jauh, dan biaya penyediaan kertas juga dapat diminimalisir karena mayoritas administrasi dan data sudah cukup disediakan dalam bentuk softcopy (files). Memang, sejumlah kegiatan akademik dan nonakademik di atas tetap membutuhkan dana untuk pengadaan media (gadged, quota, zoom, camera digital, wifi) serta kebutuhan lain yang tidak terduga, namun dana yang dibutuhkan masih relatif rendah dibandingkan dengan dana yang dibutuhkan saat pelaksanaan secara ofline, tatap muka. Sehingga melalui dunia maya berbasis internet, banyak sekali kegiatan akademik dan nonakademik yang dapat diselenggarakan, baik skala lokal, nasional, maunpun internasional. Pendek kata, transformation of knowledge or informations dapat berjalan lebih mudah dan efektif.

Kemudahan dan kelebihan ini sangat dirasakan oleh berbagai pihak baik pendidik maupun peserta didik, terutama kalangan akademisi perguruan tinggi. Hal ini membuat mereka enggan move on dari pembelajaran tatap maya ke pembelajaran tatap muka. Sekalipun demikian, bukan berarti pembelajaran tatap maya tidak memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling tampak adalah kekurangan dari aspek infrastruktur, sumber daya manusia, dan transformation of values. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki ketersediaan listrik, quota data, dan signal yang kuat, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari jangkauan listrik dan signal. Kalau saja infrastruktur sudah cukup memadai, belum tentu SDM yang ada benar-benar kompeten di bidang literasi TIK. 

Aspek lain yang menjadi sumber kelemahan pembelajaran tatap maya adalah aspek kondisi alam, seperti listrik padam, atau signal yang tidak stabil, dan aspek keterpisahan tempat yang membuat transformation of values dan kontrol moral menjadi kurang maksimal. Kelemahan ini diasumsikan menjadi sumber kehadiran learning loss yang sangat dikhawatirkan oleh berbagai pihak dalam proses pembelajaran tatap maya. Kondisi semacam inilah yang membuat sebagian akademisi, pendidik dan peserta didik merindukan pembelajaran tatap muka.

 

Rindu Pembelajaran Tatap Muka

- Advertisement -

Dalam dunia pendidikan dikenal seorang tokoh bernama John Dewey (1859-1952), seorang filsuf dari Amerika Serikat yang bermazhab Pragmatisme. Beliau juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan. Beliau pernah menuturkan bahwa “educational process has no end beyond it self in its own and end”. Bahwa pendidikan terus berlangsung, tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas ruang dan waktu sudah dikenal sejak lama, dan relevan dengan prinsip long life education. Begitu pula proses pembelajaran —sebagai bagian dari proses pendidikan— juga tidak pernah ada batasnya. Inilah subtansi pendidikan dan pembelajaran dalam pengertian yang luas. Namun dalam pengertian yang sempit, tidak dapat dinafikan bahwa pendidikan dan pembelajaran sering dialamatkan kepada para siswa yang sedang berposes menuju dewasa yang dibatasi oleh waktu tertentu, usia tertentu dan tempat tertentu. 

Lahirlah istilah anak usia sekolah prasekolah, PAUD, TK/RA, SD/MI, SLTP/Mts/MA, dan PT) dan usia dewasa, yang eksistensinya disandingkan dengan lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Islam mengenalnya dengan konsep belajar sejak usia dini, sejak masih dalam buaian sang Ibu yang dikenal dengan “madrasatul ulaa”, hingga meninggal dunia atau masuk liang lahat yang dikenal dengan “talqiin”. Belajar tanpa batas di tengah pandemi Covid-19 ini pada akhirnya mengkondisikan semua pihak untuk bersentuhan dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mewujudkan proses pembelajaran tatap muka (luring, offline) maupun proses pembelajaran tatap maya (daring, online).

 

Nikmatnya Pembelajaran Tatap Maya

Ketika awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masuk di Indonesia (awal Maret 2020), pemerintah segera mengambil sikap dan menginstruksikan pembelajaran secara maya dan bekerja dari rumah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid- 19. Kehadiran SE ini, membuat hampir semua pihak terkaget-kaget, tampak gamang dan belum atau kurang adanya kesiapan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap maya (daring, online) dan Bekerja Dari Rumah (BDR). Mulai dari HP yang tidak support, aplikasi yang belum familier, data yang tidak cukup, hingga signal yang kurang mendukung alias timbul tenggelam dan naik turun. 

Namun karena situasi dan kondisi hanya memungkinkan proses pembelajaran secara tatap maya, maka secara bertahap, pelan tetapi pasti, semua pihak mulai berbenah diri dan membekali diri dengan kemampuan di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemerintah mengeluarkan regulasi pembelajaran secara daring, menyediakan paket quota data dan aplikasi, sementara pendidik dan peserta didik mulai belajar memanfaatkan gadget sebagai media utama yang memiliki fungsi tertentu, canggih, dan baru. Mereka mengupgrade kemampuan diri dan mengembangkan literasi digital, dari sekedar memanfaatkan personal computer (PC) dan LapTop secara offline menuju ke arah networking yang terkoneksikan dengan internet maupun gadget berbasis data maupun wifi. 

Setelah proses pembelajaran tatap maya berjalan + 4 (empat) semester (pertengahan semester genap 2019/2020 – semester ganjil 2021/2022), tersibaklah sejumlah kemudahan yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulannya, terutama dari aspek fleksibelitas dan aspek ekonomisnya. 

Fleksibel, karena proses pembelajaran tatap maya dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja tanpa terikat dan dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu, tidak lagi harus menyediakan ruang kelas (gedung) tertentu sesuai jadwal; dan tidak lagi harus izin karena pergi ke luar kota atau sakit, karena dari luar kota proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakan, dan dalam kondisi sakit tertentu proses pembelajaran tatap maya juga masih tetap bisa dilaksanakan, baik secara sinkronous maupun asinkronous. 

Ekonomis, karena kegiatan akademik maupun nonakademik semisal pembelajaran, workshop, pelatihan, webinar, tutorial webinar, dan perlombaan, tetap dapat dilaksanakan dengan biaya yang minim sekalipun. Biaya transportasi dapat di-cancel, biaya narasumber dapat ditransfer, living cost (sewa kamar atau rumah dan makan minum, dan lain-lain) tidak dibutuhkan lagi bagi yang rumahnya jauh, dan biaya penyediaan kertas juga dapat diminimalisir karena mayoritas administrasi dan data sudah cukup disediakan dalam bentuk softcopy (files). Memang, sejumlah kegiatan akademik dan nonakademik di atas tetap membutuhkan dana untuk pengadaan media (gadged, quota, zoom, camera digital, wifi) serta kebutuhan lain yang tidak terduga, namun dana yang dibutuhkan masih relatif rendah dibandingkan dengan dana yang dibutuhkan saat pelaksanaan secara ofline, tatap muka. Sehingga melalui dunia maya berbasis internet, banyak sekali kegiatan akademik dan nonakademik yang dapat diselenggarakan, baik skala lokal, nasional, maunpun internasional. Pendek kata, transformation of knowledge or informations dapat berjalan lebih mudah dan efektif.

Kemudahan dan kelebihan ini sangat dirasakan oleh berbagai pihak baik pendidik maupun peserta didik, terutama kalangan akademisi perguruan tinggi. Hal ini membuat mereka enggan move on dari pembelajaran tatap maya ke pembelajaran tatap muka. Sekalipun demikian, bukan berarti pembelajaran tatap maya tidak memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling tampak adalah kekurangan dari aspek infrastruktur, sumber daya manusia, dan transformation of values. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki ketersediaan listrik, quota data, dan signal yang kuat, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari jangkauan listrik dan signal. Kalau saja infrastruktur sudah cukup memadai, belum tentu SDM yang ada benar-benar kompeten di bidang literasi TIK. 

Aspek lain yang menjadi sumber kelemahan pembelajaran tatap maya adalah aspek kondisi alam, seperti listrik padam, atau signal yang tidak stabil, dan aspek keterpisahan tempat yang membuat transformation of values dan kontrol moral menjadi kurang maksimal. Kelemahan ini diasumsikan menjadi sumber kehadiran learning loss yang sangat dikhawatirkan oleh berbagai pihak dalam proses pembelajaran tatap maya. Kondisi semacam inilah yang membuat sebagian akademisi, pendidik dan peserta didik merindukan pembelajaran tatap muka.

 

Rindu Pembelajaran Tatap Muka

Dalam dunia pendidikan dikenal seorang tokoh bernama John Dewey (1859-1952), seorang filsuf dari Amerika Serikat yang bermazhab Pragmatisme. Beliau juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan. Beliau pernah menuturkan bahwa “educational process has no end beyond it self in its own and end”. Bahwa pendidikan terus berlangsung, tidak pernah berhenti dan tidak mengenal batas ruang dan waktu sudah dikenal sejak lama, dan relevan dengan prinsip long life education. Begitu pula proses pembelajaran —sebagai bagian dari proses pendidikan— juga tidak pernah ada batasnya. Inilah subtansi pendidikan dan pembelajaran dalam pengertian yang luas. Namun dalam pengertian yang sempit, tidak dapat dinafikan bahwa pendidikan dan pembelajaran sering dialamatkan kepada para siswa yang sedang berposes menuju dewasa yang dibatasi oleh waktu tertentu, usia tertentu dan tempat tertentu. 

Lahirlah istilah anak usia sekolah prasekolah, PAUD, TK/RA, SD/MI, SLTP/Mts/MA, dan PT) dan usia dewasa, yang eksistensinya disandingkan dengan lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Islam mengenalnya dengan konsep belajar sejak usia dini, sejak masih dalam buaian sang Ibu yang dikenal dengan “madrasatul ulaa”, hingga meninggal dunia atau masuk liang lahat yang dikenal dengan “talqiin”. Belajar tanpa batas di tengah pandemi Covid-19 ini pada akhirnya mengkondisikan semua pihak untuk bersentuhan dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mewujudkan proses pembelajaran tatap muka (luring, offline) maupun proses pembelajaran tatap maya (daring, online).

 

Nikmatnya Pembelajaran Tatap Maya

Ketika awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masuk di Indonesia (awal Maret 2020), pemerintah segera mengambil sikap dan menginstruksikan pembelajaran secara maya dan bekerja dari rumah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid- 19. Kehadiran SE ini, membuat hampir semua pihak terkaget-kaget, tampak gamang dan belum atau kurang adanya kesiapan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap maya (daring, online) dan Bekerja Dari Rumah (BDR). Mulai dari HP yang tidak support, aplikasi yang belum familier, data yang tidak cukup, hingga signal yang kurang mendukung alias timbul tenggelam dan naik turun. 

Namun karena situasi dan kondisi hanya memungkinkan proses pembelajaran secara tatap maya, maka secara bertahap, pelan tetapi pasti, semua pihak mulai berbenah diri dan membekali diri dengan kemampuan di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemerintah mengeluarkan regulasi pembelajaran secara daring, menyediakan paket quota data dan aplikasi, sementara pendidik dan peserta didik mulai belajar memanfaatkan gadget sebagai media utama yang memiliki fungsi tertentu, canggih, dan baru. Mereka mengupgrade kemampuan diri dan mengembangkan literasi digital, dari sekedar memanfaatkan personal computer (PC) dan LapTop secara offline menuju ke arah networking yang terkoneksikan dengan internet maupun gadget berbasis data maupun wifi. 

Setelah proses pembelajaran tatap maya berjalan + 4 (empat) semester (pertengahan semester genap 2019/2020 – semester ganjil 2021/2022), tersibaklah sejumlah kemudahan yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulannya, terutama dari aspek fleksibelitas dan aspek ekonomisnya. 

Fleksibel, karena proses pembelajaran tatap maya dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja tanpa terikat dan dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu, tidak lagi harus menyediakan ruang kelas (gedung) tertentu sesuai jadwal; dan tidak lagi harus izin karena pergi ke luar kota atau sakit, karena dari luar kota proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakan, dan dalam kondisi sakit tertentu proses pembelajaran tatap maya juga masih tetap bisa dilaksanakan, baik secara sinkronous maupun asinkronous. 

Ekonomis, karena kegiatan akademik maupun nonakademik semisal pembelajaran, workshop, pelatihan, webinar, tutorial webinar, dan perlombaan, tetap dapat dilaksanakan dengan biaya yang minim sekalipun. Biaya transportasi dapat di-cancel, biaya narasumber dapat ditransfer, living cost (sewa kamar atau rumah dan makan minum, dan lain-lain) tidak dibutuhkan lagi bagi yang rumahnya jauh, dan biaya penyediaan kertas juga dapat diminimalisir karena mayoritas administrasi dan data sudah cukup disediakan dalam bentuk softcopy (files). Memang, sejumlah kegiatan akademik dan nonakademik di atas tetap membutuhkan dana untuk pengadaan media (gadged, quota, zoom, camera digital, wifi) serta kebutuhan lain yang tidak terduga, namun dana yang dibutuhkan masih relatif rendah dibandingkan dengan dana yang dibutuhkan saat pelaksanaan secara ofline, tatap muka. Sehingga melalui dunia maya berbasis internet, banyak sekali kegiatan akademik dan nonakademik yang dapat diselenggarakan, baik skala lokal, nasional, maunpun internasional. Pendek kata, transformation of knowledge or informations dapat berjalan lebih mudah dan efektif.

Kemudahan dan kelebihan ini sangat dirasakan oleh berbagai pihak baik pendidik maupun peserta didik, terutama kalangan akademisi perguruan tinggi. Hal ini membuat mereka enggan move on dari pembelajaran tatap maya ke pembelajaran tatap muka. Sekalipun demikian, bukan berarti pembelajaran tatap maya tidak memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling tampak adalah kekurangan dari aspek infrastruktur, sumber daya manusia, dan transformation of values. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki ketersediaan listrik, quota data, dan signal yang kuat, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari jangkauan listrik dan signal. Kalau saja infrastruktur sudah cukup memadai, belum tentu SDM yang ada benar-benar kompeten di bidang literasi TIK. 

Aspek lain yang menjadi sumber kelemahan pembelajaran tatap maya adalah aspek kondisi alam, seperti listrik padam, atau signal yang tidak stabil, dan aspek keterpisahan tempat yang membuat transformation of values dan kontrol moral menjadi kurang maksimal. Kelemahan ini diasumsikan menjadi sumber kehadiran learning loss yang sangat dikhawatirkan oleh berbagai pihak dalam proses pembelajaran tatap maya. Kondisi semacam inilah yang membuat sebagian akademisi, pendidik dan peserta didik merindukan pembelajaran tatap muka.

 

Rindu Pembelajaran Tatap Muka

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/