Islam adalah agama tauhid, artinya: bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Prinsip ini tidak hanya berkaitan dengan keyakinan personal terhadap keesaan Tuhan yang transendental, melainkan juga harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata di dunia. Dengan menyatakan dirinya sebagai agama tauhid, maka kemahaagungan, kemahabesaran, dan kemahatinggian hanya milik Allah semata.

Semua orang beriman mengakui bahwa Tuhan yang diimani adalah zat Yang Mahakuasa. Di antara tanda-tanda kekuasaan Tuhan adalah penciptaan makhluk hidup dengan perbedaan gender, sebagaimana adanya manusia laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Namun keduanya menjadi mitra sejajar, saling mengisi dalam hidup bersama menjadi suami istri dalam rumah tangga.

Dengan pendidikan, perempuan memiliki peran dan kesempatan yang setara dengan laki-laki. Tetapi sebagian mereka lupa akan peran lain sebagai ibu, istri, dan anggota masyarakat sehingga keluarga kehilangan ruhnya sebagai keluarga yang maslahat, dan keluarga yang harmonis. Harmoni dalam keluarga muslim tetap bertumpu pada kehidupan riil manusia yang dinamis dan penuh pergolakan. Bukan ”kehidupan harmonis ala malaikat” yang monoton karena ketaatannya kepada Allah.

 

Konsep Harmoni

Harmoni dalam keluarga merujuk pada adanya keserasian, kehangatan, keterpaduan, dan kerukunan yang mendalam dengan sepenuh jiwa melibatkan aspek fisik dan psikis sekaligus. Boleh jadi seseorang terlihat atau memperlihatkan adanya keharmonian lahir terhadap seseorang, tapi dalam batinnya ada pertentangan dan pertikaian di antara mereka. Hal ini bukan hakikat harmoni. Harmoni sebenarnya merujuk pada keselarasan lahir batin yang ada pada diri individu dan sosial. Manajemen harmoni dalam kelurga muslim selalu merujuk pada keselarasan lahir batin antara suami, istri, anak serta anggota keluarga yang lain.

Kehidupan ideal bagi siapa pun adalah kemampuan menciptakan sebuah budaya dan tradisi hidup yang harmonis secara fisik-psikis dalam berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa dengan dinamika hidup yang tinggi untuk menggapai keluhuran peradaban dan kemanusiaan. Cita-cita demikian menjadi dambaan setiap individu, keluarga dan komunitas sosial. Di antaranya adalah masyarakat Jawa yang memiliki filosofi rukun agawe santoso, kerukunan dan keharmonisan akan membuat kehidupan dalam kesantosaan atau kebahagiaan, meskipun antara idealitas-normatif dengan realitas-historis belum tentu sejalan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Harmoni keluarga muslim secara riil berada pada pluralitas manusia yang bergerak dinamis sesuai dengan daya kemampuan dan persepsinya, tetapi tetap menunjukkan irama yang serasi, selaras, indah, dan damai. Perbedaan pendapat, aspirasi dan keragaman dalam strategi dan pola hidup merupakan hiasan indah kehidupan yang tetap harus dijaga dan dibingkai dalam keharmonisan yang menyatu dalam ruh tauhid melalui manajemen harmoni dalam keluarga muslim (Moh. Roqib: 2007).

 

Pola Komunikasi Harmoni

Secara umum, menikah bertujuan untuk beribadah ammah (umum), mencari rida Allah SWT. Sedangkan secara khusus, tujuan menikah adalah mewujudkan keluarga yang tenteram dan damai (sakinah) yang dilandasi oleh rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (warahmah) seperti ditunjukkan oleh QS. Al-Rum ayat 21.

Tujuan pernikahan bagi orang muslim ada 2 yaitu (1) untuk menyalurkan hasrat biologis (2) untuk mendapatkan atau melestarikan keturunan. Sedangkan untuk keluarga muslim tujuan pernikahan adalah (1) untuk menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah SWT, (2) karena taat kepada Allah dan takut melakukan perbuatan yang dilarang Allah, (3) untuk memperbanyak umat Nabi Muhammad SAW.